Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Sebuah keyakinan.
Hari itu seperti biasanya Nala sudah sibuk dengan kehidupannya yang sangat padat. Namun kini ia mulai terbiasa dengan ritme hidupnya di Seoul. Tujuh bulan telah berlalu, bahkan proyek film yang diangkat dari novelnya pun sudah hampir setengah jadi. Waktu berjalan begitu cepat hingga terkadang terasa tidak nyata.
Pagi itu ia sedang membereskan apartemennya karena hari tersebut memang hari libur. Dua hari yang benar-benar ia habiskan untuk dirinya sendiri setelah lima hari bekerja tanpa henti di gedung besar itu. Proyek untuk SOLIX juga berjalan cukup lancar dan cepat—setidaknya menurut Nala, karena ia sendiri tidak benar-benar mengerti berapa lama seharusnya sebuah album untuk grup sebesar itu diproduksi.
Saat tengah tenang merapikan barang-barang yang sedikit berserakan, tiba-tiba ponselnya berdering. Nala berjalan menuju kamarnya dan melihat nama pemanggil di layar. Ternyata Alya.
Ia dengan santai menggeser ikon hijau itu, dan panggilan pun tersambung.
"Iya, Alya," ujar Nala sembari melanjutkan beres-beresnya.
Ia sengaja menggunakan earphone bluetooth agar bisa bergerak lebih bebas. Bukan tanpa alasan—sore nanti tutor bahasa Koreanya akan datang. Meskipun sekarang ia sudah cukup bisa berbicara dan mengerti percakapan sehari-hari, Nala tahu ia tidak bisa berhenti sampai di sana. Ia harus terus tetap melanjutkan pelajarannya, meskipun terkadang terasa melelahkan.
"Teh… kapan mau pulang? Ini sudah tujuh bulan," ujar Alya penasaran dari seberang sana.
“Iya, Alya. Teteh usahakan pulang setelah acara itu. Soalnya film yang diadaptasi dari novel teteh sudah hampir selesai tahap post-produksi, dan mereka mau mengadakan semacam launching event di Jakarta dan dia harus hadir,” ujarnya sembari melipat kain selimut yang baru saja ia angkat dari jemuran dalam ruangan.
“Wah, keren sekali! Teh Nala sudah jadi penulis internasional. Nanti kalau teteh pulang, aku mau foto bareng ya, terus upload di story. Biar orang-orang tahu aku adiknya Nala Aleyra!” suara Alya terdengar sangat antusias.
Nala terkekeh pelan mendengar nada bangga dalam suara adiknya.
“Dasar bocah. Yang penting jangan bicara aneh-aneh di depan wartawan nanti,” ujarnya.
“Tenang saja! Tapi, Teh… gimana pekerjaan di sana? Aku sering lihat di internet, gedung tempat teteh kerja itu seperti istana—semuanya modern. Ada idolnya juga kan? Idol teteh itu?” suara Alya berubah menjadi nada menggoda.
Nala terdiam sejenak.
Ia menahan senyum kecil yang tiba-tiba muncul di sudut bibirnya.
“Ada. Tapi teteh tidak bekerja langsung bersama mereka setiap hari. Lagipula teteh sudah biasa, jadi tidak se-wow itu lagi rasanya,” ujarnya diplomatis.
Padahal, tanpa ia sadari, wajahnya sedikit menghangat setiap kali mendengar kata idol.
“Biasa? Ah, bohong. Pasti ada satu orang yang membuat teteh susah tidur, kan?” goda Alya.
Nala langsung tersedak udara.
“Ya ampun, kamu ngomong apa sih—tidak ada! Sudahlah, teteh mau lanjut beres-beres dulu. Nanti sore teteh harus belajar lagi,” seru Nala panik.
Namun senyum kecil tetap tak bisa ia sembunyikan.
“Berarti teteh sekarang sudah bisa bahasa Korea?” tanya Alya lagi.
Nala mengangguk pelan, meskipun jelas tidak ada yang melihatnya dari seberang sana.
“Sedikit,” ujarnya.
Alya langsung tertawa.
“Wah, jangan sampai lupa bahasa Sunda ya, Teh,” katanya.
Nala ikut tertawa pelan, suara tawanya ringan dan hangat.
“Tidak mungkin. Sudahlah… oh iya, tolong sampaikan salamku pada Mama dan Bapak ya. Beritahukan pada mereka aku pulang bulan ini setelah izinku disetujui,” ujar Nala.
“Oke! Tapi janji ya, kalau pulang harus bawa oleh-oleh Korea. Jangan cuma janji manis doang,” ujar Alya.
Nala kembali tertawa kecil.
“Iya, iya. Dasar tukang minta oleh-oleh,” balasnya sembari menekan tombol end call.
Apartemen itu kembali sunyi.
Namun kali ini, keheningan terasa hangat—seperti rumah yang sebentar lagi akan ia datangi kembali.
Setelah panggilan berakhir ruangan kembali hening, hanya terdengar suara lembut pembersih lantai dan angin yang masuk dari jendela.
Namun di balik ketenangan itu, Nala tak bisa membohongi dirinya sendiri—bahwa setiap kali nama Junho terlintas, dadanya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
"Sadarlah Nala, kau di sini bukan untuk jadi fangirl tapi jadi staf," ujar Nala berusaha mengenyahkan bayangan tersebut, dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedikit tertunda.
════ ⋆★⋆ ════
Di tempat lain, malam menurunkan cahaya redup di atas Seoul.
Di sebuah apartemen tinggi dengan pemandangan kota yang berpendar, Junho duduk di ruang kerjanya, kedua tangannya memegang pena yang sedari tadi hanya berputar di antara jari-jarinya. Laptop di depannya masih menyala, menampilkan lembaran lirik yang belum juga selesai ia tulis.
Namun pikirannya melayang entah ke mana.
Dia telah menulis ulang bait yang sama tujuh kali, tapi tidak ada satu pun yang terdengar benar di telinganya. Semuanya terasa datar. Kosong.
Seolah ada sesuatu yang menghalangi aliran kata dari kepala ke hatinya. Ia bersandar di kursi, menarik napas panjang, lalu menatap langit malam dari jendela besar apartemennya.
“Kenapa aku jadi seperti ini?” gumamnya lirih.
Junho bahkan tidak tahu kapan tepatnya perasaan aneh itu mulai muncul. Mungkin sejak hari di mana Nala menatapnya dengan senyum malu saat orientation meeting dulu.
Atau saat gadis itu pertama kalinya datang dan berpidato di acara penghargaan itu—dan ia baru sadar bahwa ia mengingat semua detail kecilnya. Cara Nala menyelipkan rambut ke belakang telinga, suara lembutnya saat membaca naskah, bahkan ekspresi seriusnya saat menulis.
“Gila... aku hanya bingung, bukan... bukan suka kan?” katanya sendiri sambil mengacak rambutnya frustasi.
Namun semakin keras ia mencoba menolak, semakin kuat denyutan di dadanya terasa. Ia bangkit, berjalan ke dapur, membuka kulkas tanpa alasan—kemudian menutupnya lagi tanpa mengambil apapun.
“Kenapa harus dia? Dari semua orang di dunia ini, kenapa harus Nala?” desisnya, nyaris seperti marah pada dirinya sendiri.
Layar laptop masih menampilkan satu baris kosong di bawah judul lagu yang belum selesai. Junho mengetik pelan:
“Sometimes, I hate that you’re the reason my mind can’t rest.”
Dan entah kenapa, kalimat itu terasa paling jujur di antara semua kata yang pernah ia tulis. Malam itu udara Seoul terasa lembap, seperti menyimpan sesuatu yang tidak selesai.
Junho keluar dari apartemennya tanpa benar-benar tahu hendak ke mana. Hoodie hitam menutupi sebagian wajahnya lengkap dengan masker hitam yang selalu jadi andalan untuk menyamarkan diri dari para penggemar.
Langkah kakinya membawa ia ke sebuah kafe kecil di distrik Gangnam — tempat yang jarang dikunjungi publik karena suasananya terlalu tenang untuk seorang idol yang hidupnya selalu dikelilingi kebisingan.
Kafe itu masih buka. Hanya ada tiga pengunjung lain dan suara lembut jazz instrumental yang mengisi ruang hening itu. Junho memilih duduk di pojok, di tempat biasa — kursi kayu dekat jendela. Tak lama kemudian seorang pria masuk dengan senyum lebar dan ekspresi santai.
“Wah, kau datang juga malam-malam begini. Kukira kau sudah tidak punya waktu untuk dunia luar,” ujarnya sambil duduk di hadapan Junho.
“Orang sibuk juga butuh udara segar, Doyun,” balas Junho tenang, meski matanya tampak letih.
Kang Doyun — fotografer terkenal sekaligus sahabat lamanya — hanya terkekeh pelan sambil meletakkan kameranya di meja.
Mereka memilih memesan beberapa menu yang ada sebelum akhirnya berbincang ringan beberapa menit, sampai akhirnya Doyun memiringkan kepala, menatap Junho dengan ekspresi ingin tahu.
“Baiklah, katakan saja. Kau tidak mungkin menelponku malam-malam hanya untuk membicarakan cuaca. Ada sesuatu yang mengganggu kepalamu, bukan?” tanya nya yang membuat Junho menghela napas panjang.
Tangannya memainkan tutup gelas kopi tanpa sadar.
“Doyun… kalau seseorang ingin menyampaikan perasaan pada orang yang… berbeda dunianya, bagaimana caranya agar tidak terlihat berlebihan?” tanya nya ragu yang membuat Doyun menaikkan satu alisnya, menatap Junho dengan tatapan setengah menggoda.
“Berbeda dunia? Kedengarannya serius. Siapa gadisnya?” tanya nya yang membuat Junho tersenyum kaku.
“Bukan aku. Ini tentang temanku. Dia… sedang suka pada seseorang, tapi gadis itu bukan dari lingkaran yang sama. Tidak sepopuler dia, tapi memiliki daya tarik yang... sulit dijelaskan,” ujar nya masih tidak ingin bicara jauh tentang perasaan nya pada Doyun.
“Ah, klasik. Jadi temanmu itu idol?” Doyun menahan tawa, menyandarkan tubuh ke kursi.
Junho berpura-pura tak terpengaruh.
“Bukan idol, hanya seseorang yang… sering dinilai orang karena statusnya. Dan gadis itu sangat sederhana. Murni, bahkan mungkin terlalu tulus untuk memahami permainan dunia kami,” ujar nya.
Doyun terdiam cukup lama seolah sedang menilai jawaban yang akan dia keluarkan di hadapan Junho.
“Hmm,” gumam Doyun, menatap Junho lama-lama. “Kalau begitu, kenapa temanmu itu tidak bicara langsung saja? Kalau perasaannya tulus, dia tidak perlu membuatnya tampak megah. Kadang kesederhanaan justru lebih berharga,” ujar nya yang lagi-lagi membuat Junho menunduk, jarinya mengetuk meja pelan.
“Dia takut… kalau gadis itu menolak. Bukan karena tidak suka, tapi karena takut hubungan itu akan membuat keduanya terluka. Dunia kami tidak mudah, hyung. Kau tahu sendiri—setiap langkah diawasi. Dan perempuan itu… terlalu baik untuk ikut terbakar dalam panasnya cahaya panggung,” ujar nya yang membuat Doyun terdiam sejenak.
Suara denting sendok di gelas menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
“Kau tahu, kadang cinta tidak perlu dijelaskan atau ditunda hanya karena kita takut pada konsekuensinya. Kalau kau terlalu lama menunggu waktu yang tepat, waktu itu justru akan berhenti menunggumu,” ujar nya kemudian.
Junho tersenyum samar, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Jadi menurutmu, bagaimana cara temanku itu mengungkapkannya tanpa berlebihan?” tanya nya yang membuat Doyun tersenyum penuh makna seolah tahu maksud ucapan Junho.
“Dengan jujur,” jawab Doyun singkat.
“Jangan dengan lirik, jangan dengan simbol, jangan dengan bahasa panggung. Kadang kata paling elegan adalah yang paling sederhana—‘Aku menyukaimu’. Tapi hanya jika dia benar-benar siap menerima apa pun jawabannya," lanjut nya yang membuat Junho terdiam.
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia harapkan. Ia menatap keluar jendela, melihat bayangan lampu jalan memantul di kaca, seolah sedang menatap dirinya sendiri dari dunia lain.
“Kalau dia menolak?” bisiknya lirih.
“Berarti dia pernah cukup berarti untuk membuatmu jujur,” jawab Doyun pelan.
Junho mengangkat pandangannya, dan kali ini tatapannya kosong — seperti seseorang yang baru saja menyadari sesuatu yang terlalu besar untuk disangkal.
"Jujur saja... Ini tentang mu kan? Bukan teman mu?" Ujar Doyun yang membuat Junho terdiam sejenak, hingga akhirnya Doyun melanjutkan saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari Junho.
"Kau tidak akan seperduli itu kan pada orang lain sampai menanyakan hal seperti ini padaku? Itu bukan sifat mu Junho. Katakan padaku, siapa wanita itu?" Ujar nya yang membuat Junho terdiam lama, jari nya bergerak gelisah hingga akhirnya dia menghela nafas panjang.
"Dia penulis itu... Penulis yang aku pilih di acara penghargaan itu, yang sekarang berkerja di agency ku sebagai tim kreatif internal," ujar nya yang membuat Doyun tersenyum.
"Mungkin... Itu memang jalan mu Junho, bukan kah selama ini kau memang ingin wanita seperti itu? Itulah jawabannya, itu pilihan paling jujur dari hatimu," ujar nya yang membuat Junho terdiam.
“Lucu, ya, aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku jadi pengecut seperti ini,” katanya akhirnya dengan suara nyaris bergetar, Doyun tersenyum lembut.
“Sejak kau mulai peduli, mungkin. Bukankah itu juga bisa kau jadikan langkah untuk serius? Untuk menunjukkan pada orang tua mu jika kamu bisa memilih apa yang hatimu inginkan selama ini. Cobalah, kalau gagal tidak apa,” ujar nya yang membuat Junho terdiam lagi, menatap meja yang kini tampak begitu hening.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa takut — bukan pada panggung, bukan pada kamera, tapi pada satu hal yang paling manusiawi: kehilangan seseorang sebelum sempat benar-benar dimiliki.
Setelah memutuskan berbincang dengan Doyun akhirnya Junho memutuskan untuk pulang, tapi bukan kerumah nya melainkan kerumah Jihwan. Malam itu udara di kawasan Hannam masih hangat, meski waktu sudah melewati pukul sepuluh.
Dari luar, apartemen Jihwan tampak tenang — hanya satu lampu menyala di balkon, menandakan penghuni di dalamnya masih terjaga. Junho berdiri di depan pintu, menekan bel dua kali sebelum akhirnya suara riang terdengar dari dalam.
“Hyung! Kau benar-benar datang? Kupikir cuma bercanda,” ujar Jihwan sambil membuka pintu lebar-lebar, masih mengenakan kaos putih longgar dan celana santai.
Wajahnya berseri-seri, mungkin karena baru saja menyelesaikan panggilan video dengan kekasihnya.
“Kalau aku bilang mau datang, aku datang,” jawab Junho singkat, melepas sepatu dan masuk.
Apartemen itu wangi — aroma citrus bercampur vanila samar tercium di udara, khas gaya hidup Jihwan yang terkenal perfeksionis.
“Baiklah,” ujar Jihwan sambil berjalan ke dapur. “Mau kopi? Atau teh herbal seperti biasanya? Jangan bilang kau mau air putih, karena itu akan merusak suasana percakapan malam ini,” lanjut nya sembari melihat Junho yang duduk di sofa sembari terkekeh kecil.
“Kopi saja, Ji. Tapi tanpa gula,” ujar nya yang membuat jihwan terkekeh dari arah dapur.
“Begitulah Junho- Hyung yang kutahu, tenang, datar, dan selalu mengontrol dirinya sendiri bahkan pada hal-hal kecil seperti takaran gula,” sahut Jihwan dengan nada menggoda.
Junho hanya tersenyum tipis. Setelah beberapa menit, mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Musik lembut dari soundbar mengisi ruangan — lagu instrumental yang sering mereka dengar saat tur, mengingatkan pada masa-masa sibuk penuh tekanan.
"Jadi ada apa Hyung kesini? Tidak mungkin hanya berkunjung kan?" Tanya nya yang membuat Junho terdiam ragu tapi akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
"Ajari aku ... Bagaimana cara mengungkapkan perasaan pada perempuan," ujar nya yang membuat jihwan terdiam sesaat.
“Jadi, kau bilang ingin menemuiku untuk... belajar cara mengungkapkan perasaan? Aku hampir tidak percaya kau mengucapkan kalimat itu, Hyung,” ujar Jihwan akhirnya, menatap Junho penuh minat.
Junho memijat pelipisnya, menunduk sedikit.
“Kau jangan menertawakanku, Ji. Aku hanya ingin tahu bagaimana caranya... agar tidak ditolak,” ujar nya yang membuat suara tawa Jihwan pecah spontan, membuat Junho menatapnya dengan ekspresi datar khasnya.
“Ya Tuhan, leader agung kita takut ditolak wanita? Astagaa tuhan dia lupa dia siapa, Siapa yang kau suka? Jangan-jangan...” ujarnya di sela tawa.
Tatapan Junho yang tajam tapi tak membantah sudah cukup untuk membuat Jihwan berhenti tertawa.
“Jadi benar, Nala-ssi? Wah aku tidak menyangka kamu serius soal ucapan mu beberapa bulan lalu,” ujarnya pelan.
Junho tak menjawab. Ia hanya menyandarkan tubuh, menghela napas panjang, lalu berkata pelan.
“Aku tidak tahu kenapa, Ji. Tapi sejak beberapa bulan terakhir, pikiranku selalu berputar di sekitarnya. Saat dia bicara, dunia terasa pelan. Saat dia tertawa, aku lupa pada jadwal yang menunggu. Tapi aku juga tidak ingin membuatnya terbebani. Aku... tidak ingin dia terseret dalam kehidupanku yang rumit,” ujar nya yang membuat Jihwan menatapnya lama.
Tatapannya lembut, tapi juga mengandung sedikit gurauan yang tak bisa ia tahan.
“Hyung, kalau kau terus menunggu momen sempurna, kau akan menua sendirian bersama mikrofonmu. Cinta bukan kontrak yang harus dipelajari dulu aturannya. Kadang kau hanya perlu... melompat,” ujar nya yang membuat Junho mendengus pelan.
“Kau bicara seolah semuanya mudah. Kau lupa aku hidup dalam sorotan publik. Satu langkah salah, dan semua yang kumiliki bisa jatuh,” ujar Junho sembari mengambil cangkir kopi di depan nya lalu menyeruput nya sejenak.
“Tapi apakah hidupmu benar-benar berarti jika kau harus menolak satu hal yang membuatmu merasa hidup?” balas Jihwan cepat.
Ia bersandar santai di sofa, menatap Junho penuh arti.
“Kau tahu bagaimana aku menyatakan cinta pada kekasihku? Aku tidak membuatnya rumit. Aku hanya bilang, ‘Aku ingin menjadi orang yang membuatmu merasa aman bahkan di hari terburukmu.’ Itu saja,” lanjut nya yang membuat Junho mengerjap pelan.
“Dan dia menerimamu?” tanya nya antusias seperti orang yang sedang mendengarkan pengalaman pelanggan lain yang sedang mereview produk.
“Tentu saja, perempuan mana yang bisa menolak kalimat seindah itu dari pria sebaik aku?” ujar Jihwan bangga sedangkan Junho hanya mengangkat alis, menahan tawa.
“Kau terlalu percaya diri, Jihwan,” ujar nya yang membuat Jihwan menggeleng cepat.
“Bukan percaya diri, aku hanya tahu kalau perempuan lebih menghargai kejujuran dibanding puisi indah yang kosong makna,” sahut Jihwan cepat.
Hening sesaat. Junho menatap cangkir kopinya, lalu berkata lirih.
“Jadi... aku harus jujur. Langsung saja, tanpa kata-kata berlebihan?” tanya nya .
“Tidak harus tanpa kata-kata indah,” jawab Jihwan bijak. “Kau Junho, bukan orang biasa. Tapi gunakan kata-kata yang jujur, bukan yang diatur oleh lirik atau panggung. Katakan sesuatu yang hanya bisa keluar dari dirimu, bukan dari seorang idol, tapi dari seorang pria yang benar-benar jatuh cinta,” lanjut nya yang membuat Junho terdiam seolah menimbang, dia menatapnya lama.
“Bagaimana kalau aku latihan?” tanya nya yang membuat Jihwan memutar bola matanya, tapi tertawa.
“Latihan? Baiklah, ini akan menarik. Anggap aku Nala, sekarang bayangkan hari itu tiba dan kau siap mengatakan cinta mu padanya. Pokoknya anggap saja yang di hadapan mu itu Nala bukan aku,” ujar jihwan berdiri sembari merapihkan rambutnya siap bermain peran yang mungkin terlalu berlebihan.
“Tidak mungkin.” Junho mendengus.
“Hyung, kalau kau tidak bisa mengatakan ‘Aku menyukaimu’ padaku dalam latihan, bagaimana kau akan mengatakannya pada gadis itu nanti?” ujar Jihwan dengan nada menantang.
Junho terdiam, menatap sahabatnya itu dengan tatapan setengah kesal setengah pasrah. Ia menegakkan tubuh, menarik napas panjang, lalu menatap Jihwan seolah benar-benar di hadapannya kini berdiri Nala.
“Aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengatakan ini,” katanya pelan, suara rendah dan berat, “tapi setiap kali aku melihatmu, ada sesuatu yang membuatku ingin melindungi mu, meskipun dunia menertawakan alasan itu. Aku tidak tahu kapan tepatnya semuanya mulai berubah, tapi... aku menyukaimu. Kau mau jadi kekasih ku?” ujar nya yang mana Junho mengucap kata terakhir nya dengan pelan. Mendengar itu Jihwan menepuk tangannya dengan keras.
“Bravoo! Tapi tolong, jangan gunakan nada itu, nanti Nala pingsan sebelum sempat menjawab,” ujar nya terkekeh geli, sedang Junho menatapnya datar.
“Jihwan!” ujar nya yang membuat Jihwan lantas menggeleng pelan.
“Tapi sungguh, itu bagus,” ujar Jihwan kemudian dengan nada lebih lembut. “Hanya... tambahkan sedikit senyum, sedikit ketulusan yang terlihat dari mata. Kau punya mata yang bisa berbicara gunakan itu,” lanjut nya seperti seorang guru yang berhasil melihat muridnya presentasi.
Junho menghela napas, lalu memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya kembali duduk.
“Terima kasih, Jihwan-ah," ujar nya tulus kini dia seperti memiliki gambaran.
“Sama-sama,” jawab Jihwan dengan senyum lebar.
“Dan Hyung, jangan tunggu waktu yang sempurna. Perasaan yang tulus tidak butuh waktu — hanya keberanian. Aku dengar Nala mengajukan cuti ke kantor untuk kembali ke negara nya sementara waktu,” ujar nya yang membuat Junho terdiam dia tidak tahu akan itu.
"Sungguh?" Tanya nya bingung.
"Aku dengar dari Yoohan Hyung, dia bilang Nala izin karena harus menghadiri semacam launching event untuk film yang di adaptasi dari novel nya," ujar jihwan yang membuat Junho terdiam.
"Kapan dia pulang?" Tanya Junho seketika gelisah.
"Tidak yakin, tapi jika izin nya sudah di ACC maka dia akan pulang, itu sebabnya aku sarankan kau manfaatkan waktu itu," ujar nya yang membuat Junho terdiam.