Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Asap tebal beraroma belerang dan besi berkarat menggulung di atas puncak-puncak bergerigi Pegunungan Gagak Hitam. Di tempat ini, langit jarang sekali berwarna biru; ia selalu tertutup oleh awan kelabu pekat yang memantulkan kilatan petir hijau sesekali. Puncak tertinggi dari pegunungan itu dipahat menyerupai tengkorak burung gagak raksasa yang sedang membuka paruhnya—markas besar Sekte Gagak Hitam, rival abadi Sekte Awan Mengalir.
Di dalam Aula Jeritan Tulang, udara terasa sedingin es dan seberat timah. Obor-obor yang menempel di dinding batu hitam tidak memancarkan api biasa, melainkan lidah api berwarna hijau zamrud yang meliuk-liuk tanpa suara, memberikan pencahayaan yang membuat bayangan setiap benda terlihat seperti cakar yang memanjang.
Di ujung aula, duduk di atas singgasana yang tersusun dari tulang belulang monster tingkat tinggi, adalah Master Sekte Gagak Hitam, Gui Jue. Pria itu mengenakan jubah sutra hitam legam yang menyerap cahaya. Wajahnya tersembunyi di balik topeng perunggu berbentuk paruh gagak, menyisakan sepasang mata merah darah yang menatap tajam ke bawah.
Tangan kanan Gui Jue yang dibalut sarung tangan besi berukir naga iblis mencengkeram erat sandaran singgasananya. Urat-urat menonjol di punggung tangannya, dan logam di bawah cengkeramannya itu perlahan bengkok, mengeluarkan bunyi derit pelan yang menyayat telinga.
Di tengah aula, Han Ye—pembunuh elit tingkat Pendirian Fondasi yang selalu dibanggakan sekte—sedang bersujud. Namun, ia tidak bersujud dengan postur seorang prajurit. Tubuhnya melingkar seperti udang rebus. Bahunya bergetar hebat tak terkendali. Ia memeluk dirinya sendiri, sementara giginya terus bergemeretak menghasilkan bunyi *tak-tak-tak* yang bergema di ruangan sunyi itu.
"Jadi..." Suara Gui Jue terdengar seperti dua lempeng batu nisan yang digesekkan bersamaan, serak dan penuh gema. "Kau pergi menyusup ke Dapur Luar Sekte Awan Mengalir untuk membunuh seorang target yang diduga hanya pelayan biasa. Dan kau kembali... dalam keadaan seperti anjing yang dilempari batu ke dalam sungai es?"
Han Ye tersentak keras saat mendengar suara Master Sektenya. Ia mengangkat wajahnya dengan susah payah. Kulitnya yang dulu sewarna tembaga kini pucat pasi membiru. Di sudut bibirnya, ada sisa darah beku berwarna kehitaman.
"M-Master..." suara Han Ye parau, napasnya keluar dalam bentuk kabut putih beku. Matanya yang merah melirik liar ke sekeliling aula, seolah takut ada kursi goyang yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan. "Dia... dia bukan pelayan. Sekte Awan Mengalir telah menipu seluruh benua! Mereka telah membangunkan leluhur kuno yang sedang berhibernasi!"
Mata merah Gui Jue menyipit. Hawa membunuh meledak dari singgasananya, memadamkan beberapa obor api hijau di sekitarnya.
"Leluhur kuno? Omong kosong!" raung Gui Jue, suaranya menciptakan gelombang kejut yang membuat debu dari langit-langit berjatuhan. Ia berdiri, jubah hitamnya berkibar menutupi seluruh singgasana. "Jika Sekte Awan Mengalir memiliki leluhur tingkat tinggi yang bangkit, mata-mata kita di Puncak Utama pasti sudah merasakannya! Dan mengapa seorang monster tua bersembunyi di tempat sebau dapur?!"
"I-itu adalah pusat dari Formasi Penelan Surga, Master!" Han Ye merangkak maju satu langkah, tangannya yang bergetar mencengkeram lantai marmer. "Master harus percaya padaku! Aku menggunakan teknik Napas Hampa hingga ke tingkat maksimal. Aku menempel di atap, siap melepaskan Jarum Layu Jiwa. Tapi... tapi monster itu... dia mengalahkanku tanpa membuka mata!"
Gui Jue terdiam. Langkahnya terhenti di anak tangga singgasana. Ia menatap Han Ye dengan kerutan tajam di balik topengnya. "Tanpa membuka mata? Jelaskan!"
Air mata ketakutan mengalir dari mata Han Ye, langsung membeku di pipinya. "Dia sedang tidur di atas kursi rotan. Di bawah tumit kakinya... demi langit, dia menjadikan Batu Giok Api-Es Yin Yang sebagai ganjalan kakinya! Saat aku mengeluarkan niat membunuh sekecil ujung jarum, auranya bereaksi otomatis. Udara membeku! Lalu... dia hanya mengibaskan tangannya pelan, seolah sedang mengusir nyamuk. Dan ruang di sekitarku terlipat!"
Han Ye merobek jubah bagian dadanya, memperlihatkan kulitnya. Tepat di tengah dadanya, terdapat sebuah cetakan telapak tangan transparan yang menceung ke dalam. Warna kulit di sekitar cetakan itu ungu gelap, memancarkan hawa es yang berbenturan dengan energi murni tingkat tinggi.
Gui Jue melesat dari singgasananya. Dalam sekejap mata, ia sudah berjongkok di depan Han Ye. Tangan besi Gui Jue melayang beberapa inci di atas luka tersebut.
Begitu ia merasakan sisa energi dari luka itu, tubuh Gui Jue sendiri tanpa sadar mundur setengah langkah. Pupil mata merahnya mengecil sebesar lubang jarum.
*Energi ini... sangat murni! Sangat kosong!* batin Gui Jue menjerit, napasnya tertahan. *Luka ini tidak disebabkan oleh dorongan Qi kasar, melainkan oleh tekanan udara yang dipadatkan hingga melampaui batas ruang! Dan ada jejak Yin Yang surgawi di dalamnya! Orang fana tidak mungkin melakukan ini tanpa menghancurkan Dantian mereka sendiri!*
Gui Jue berdiri kembali. Wajah di balik topengnya kini seputih salju. Ia memutar tubuhnya, berjalan mondar-mandir dengan langkah berat.
"Kau benar, Han Ye," gumam Gui Jue, suaranya tidak lagi menggelegar, melainkan dipenuhi perhitungan yang dingin. "Menjadikan Batu Giok Yin Yang sebagai ganjalan kaki... Mengalahkan ahli Pendirian Fondasi dalam tidur... Ini bukan sekadar kebetulan. Sekte Awan Mengalir menempatkannya di dapur bukan tanpa alasan."
Gui Jue menatap tajam ke arah dinding aula. Otaknya yang licik mulai merangkai teori konspirasi yang sangat, sangat rumit.
"Dapur adalah elemen Api dan Kayu. Tempat di mana nyawa binatang buas dipotong (Logam) dan dicuci (Air), berdiri di atas tanah (Bumi). Itu adalah titik pusat Lima Elemen dari sekte tersebut!" analisis Gui Jue dengan penuh keyakinan. "Pria tua itu sedang menggunakan Dapur Luar sebagai Kuali Raksasa! Dia menyerap karma dari seluruh sekte saat mereka makan, dan dia memurnikannya dalam tidurnya! Itulah sebabnya auranya kosong! Dia sedang mempraktikkan 'Seni Menelan Dunia'!"
Han Ye mengangguk patah-patah, sangat setuju dengan teori apa pun yang membenarkan ketakutannya. "B-benar, Master! Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang. Jika monster itu terbangun seutuhnya, Pegunungan Gagak Hitam akan diratakan dengan tanah dalam semalam!"
"Tentu saja kita tidak akan menyerang secara langsung, dasar bodoh!" desis Gui Jue. Ia memutar cincin tengkorak di jarinya dengan cepat. "Kekuatan kasar tidak akan mempan melawan monster yang membelah ruang dalam tidurnya. Kita harus mencari kelemahannya dari dalam. Kita harus menghancurkan fondasi Dao-nya sebelum dia menyelesaikan transformasinya!"
Gui Jue mengangkat tangannya, menjentikkan jarinya ke udara.
Dari balik bayang-bayang pilar di sudut ruangan, sesosok tubuh ramping melangkah keluar tanpa suara sedikit pun. Sosok itu adalah seorang wanita muda yang mengenakan jubah pelayan abu-abu kusam. Wajahnya biasa saja, tidak cantik namun tidak buruk rupa, tipe wajah yang akan langsung dilupakan orang begitu mereka memalingkan pandangan. Namun, mata hitamnya sedalam jurang maut, memancarkan ketiadaan emosi absolut.
"Bai Ling," panggil Gui Jue, suaranya melunak sedikit saat memanggil agen infiltrasi terbaik sektenya, yang dijuluki 'Viper Tak Terlihat'. "Kau telah mendengarnya. Target kita bukanlah Pemimpin Sekte Linghu, melainkan monster kuno yang menyamar menjadi pemalas di Dapur Luar."
Wanita bernama Bai Ling itu menundukkan kepalanya dalam. "Perintah Anda adalah takdir saya, Master Sekte."
"Mulai besok, kau akan menyusup ke Sekte Awan Mengalir. Gunakan identitas pelayan rendahan yang melarikan diri dari desa perbatasan," instruksi Gui Jue, menyerahkan sebuah medali kayu kecil kepadanya. "Tujuan utamamu adalah masuk ke Dapur Luar. Jaga jarakmu darinya. Jangan pernah melepaskan niat membunuh. Jadilah debu. Jadilah bayangan. Amati kebiasaannya, catat setiap hela napasnya, dan cari tahu... apa yang bisa merusak ketenangan absolutnya!"
"Akan kulaksanakan, Master," Bai Ling membalikkan tubuhnya, dan dalam sekejap mata, wujudnya seolah meleleh ke dalam bayang-bayang lantai dan menghilang sepenuhnya.
Gui Jue menatap tempat Bai Ling menghilang. Bibirnya di balik topeng menyeringai kejam. *Sekte Awan Mengalir... kalian pikir kalian bisa menyembunyikan kartu as kalian di tempat paling kumuh? Tidak ada rahasia yang tidak bisa ditembus oleh Gagak Hitam!*