Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pikap milik Mas Gendut perlahan memasuki halaman mess yang masih tampak sibuk dengan aktivitas pagi para teknisi.
Begitu mesin dimatikan, Abraham dan Prita turun dari kabin depan. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat dua sosok yang sudah berdiri menunggu di teras.
Ternyata, Deddy tidak sendirian. Di sampingnya berdiri Prames, kakak kandung Prita, yang wajahnya tampak antara cemas dan gemas melihat adiknya pulang dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan jaket pinjaman yang kebesaran.
"Walah! Akhirnya komandan lapangan pulang juga bawa tawanan!" seru Deddy sambil tertawa lebar, mencoba mencairkan suasana.
Prames melangkah maju, berkacak pinggang di depan Prita.
Ia menghela napas panjang, menatap adiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu ini, Dik. Senang banget pergi dari rumah tanpa pamit," ucap Prames dengan nada bicara yang khas seorang kakak—tegas namun penuh kasih sayang.
"Semalam aku hampir tidak bisa tidur kepikiran kamu. Untung Bram terus kasih kabar tadi subuh kalau kalian di tempat Mas Gendut."
Prita menunduk, merasa sangat malu. Ia mengeratkan pelukannya pada bungkusan jagung manis dan susu sapi pemberian istri Mas Gendut.
"Maaf, Mbak Prames. Prita cuma lagi kalut saja kemarin."
"Kalut ya kalut, tapi jangan bikin seisi mess dan keluarga jantungan, Prita," lanjut Prames sambil mengelus kepala adiknya.
"Untung suamimu ini sabarnya seluas samudra. Kalau orang lain, mungkin sudah dibiarkan kamu kedinginan di gunung."
Abraham hanya tersenyum tipis sambil menyalami Prames dan Mas Gendut.
"Sudah, Mbak. Yang penting Pritanya sudah tenang sekarang. Terima kasih ya sudah mau mampir ke sini."
"Iya, tadi aku sengaja ke sini sekalian mau antar titipan makanan dari rumah buat kalian. Eh, malah disambut kamar kosong," sahut Prames.
Mas Gendut dibantu Deddy mulai menurunkan motor Abraham dari bak pikap.
Suasana mess yang tadinya tegang kini berubah menjadi hangat dengan kehadiran Prames dan Mas Gendut.
"Ayo, masuk dulu, Mbak, Mas. Kita makan jagung sama ketela ini bareng-bareng di dalam," ajak Prita sambil menarik lengan kakaknya.
Namun, di balik keceriaan itu, Abraham sempat melirik ke arah jendela kamar mereka yang tertutup rapat.
Ia tahu, di dalam sana, di balik pintu lemari kayu mereka, ada bungkusan uang sepuluh juta yang ditinggalkan Prita—sebuah "bom waktu" dari ibu tirinya yang belum sempat ia selesaikan.
Setelah Prames berpamitan untuk segera meluncur ke kantornya di pusat Kota Malang dan Mas Gendut juga undur diri, suasana mess kembali tenang.
Abraham dan Prita masuk ke dalam kamar mereka yang sempat ditinggalkan dalam keadaan kacau kemarin sore.
Prita melangkah menuju lemari kayu, membuka pintunya perlahan, dan mengambil bungkusan plastik hitam berisi tumpukan uang sepuluh juta yang masih utuh di sana.
Ia menyodorkannya kepada Abraham dengan tatapan ragu.
"Mas, uang ini apa nggak Mas kembalikan saja ke Ibu?" tanya Prita pelan.
"Prita nggak mau uang ini jadi beban atau alasan Ibu buat menginjak-injak kita lagi."
Abraham menerima bungkusan itu, menimbangnya sebentar di tangan, lalu menggelengkan kepalanya dengan mantap.
Senyum jahil yang tadi sempat hilang kini muncul kembali di wajahnya yang mulai segar.
"Nggak, Dik. Mas masukkan ke tabungan Mas saja," jawab Abraham santai sembari berjalan menuju laci meja kerjanya yang terkunci.
Prita terbelalak. "Lho, kok gitu, Mas? Nanti kalau Ibu tanya bagaimana?"
Abraham tertawa kecil sambil memasukkan uang itu ke dalam amplop cokelat.
"Salah sendiri ngasih kamu sepuluh juta cuma buat nyuruh kamu pergi. Dia pikir harga istri Mas ini cuma segini? Murah sekali."
Ia menghampiri Prita, lalu merangkul bahu istrinya erat-erat.
"Anggap saja ini uang 'ganti rugi' karena dia sudah bikin kamu nangis dan kabur ke gunung. Lagipula, uang ini bisa buat siap-siap untuk biaya persalinan calon kesebelasan kita nanti, kan? Butuh banyak susu dan popok buat dua belas anak."
"Issshh! Mas Ham!" Prita mencubit lengan Abraham, namun kali ini ia tidak bisa menahan tawa.
"Mas ini benar-benar ya, uang pemberian Ibu malah dipakai buat rencana tim sepak bola."
"Daripada dikembalikan, nanti malah dipakai Ibu buat bayar orang foto-foto Mas lagi di lapangan. Lebih baik buat investasi masa depan kita, kan?" goda Abraham lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Prita akhirnya menghela napas lega. Ia melihat Abraham sudah tidak lagi terbebani oleh ulah ibu tirinya.
Uang yang tadinya dianggap sebagai penghinaan, di tangan suaminya justru berubah menjadi bahan bercandaan yang menguatkan rencana masa depan mereka.
"Ya sudah, terserah Mas saja. Yang penting Mas janji, uang ini nggak boleh bikin Mas jadi merasa berutang budi sama Ibu," ucap Prita sungguh-sungguh.
"Janji, Sayang. Ini murni 'bonus' karena Mas punya istri yang cantik tapi hobi main petak umpet sampai ke Kawi," sahut Abraham sembari mengecup puncak kepala Prita.
Setelah memastikan Prita sudah benar-benar tenang dan kenyang menyantap jagung manis dari Gunung Kawi, Abraham mulai bersiap-siap.
Ia mengenakan kembali seragam teknisinya yang sudah kering dan rapi, lalu menyampirkan tas peralatan yang berisi tang, obeng, dan perangkat pengukur sinyal.
Melihat Abraham sudah siap di depan pintu, Prita sempat menatap suaminya dengan tatapan yang sedikit berat.
Perasaan trauma akibat kejadian kemarin masih menyisakan sedikit rasa was-was di hatinya.
Abraham yang menangkap sorot mata itu segera menghampiri Prita.
Ia menggenggam kedua tangan istrinya, memberikan kehangatan yang meyakinkan.
"Jangan ke mana-mana ya, Dik. Mas kerja dulu sebentar ke lapangan. Hari ini Mas harus selesaikan penyambungan kabel yang tertunda kemarin," ucap Abraham dengan nada lembut namun penuh semangat.
Prita terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa pakai helmnya yang benar."
Abraham tersenyum lebar, ia mencium kening Prita dengan penuh kasih sayang.
"Nah, gitu dong. Penurut sekali istri Mas ini. Sebagai hadiah karena kamu sudah jadi anak baik dan tidak kabur lagi, nanti Mas bawakan burger kesukaan kamu pas pulang kerja. Yang dagingnya dobel, ya?"
Mendengar janji itu, binar di mata Prita kembali muncul.
Burger di kedai dekat kantor pusat memang selalu menjadi makanan penghibur favoritnya setiap kali ia merasa jenuh di mess.
Prita menganggukkan kepalanya perlahan, kali ini dengan senyum manis yang tulus.
"Janji ya, Mas? Jangan sampai lupa."
"Janji! Kalau Mas lupa, kamu boleh cubit Mas sepuasnya," goda Abraham sambil tertawa kecil.
Ia kemudian melangkah keluar kamar dengan langkah yang jauh lebih ringan dari kemarin. Di halaman mess, Deddy sudah menunggu di atas motor sambil memanaskan mesin.
"Waduh, pengantin baru semangatnya beda ya pagi ini!" teriak Deddy saat melihat Abraham keluar dengan wajah berseri-seri.
"Semangat dong, Ded! Ada target baru buat beli popok kesebelasan!" sahut Abraham yang langsung disambut tawa terbahak-bahak oleh Deddy.
Prita berdiri di ambang pintu, melambaikan tangannya sampai motor Abraham hilang di belokan gerbang mess. Kali ini, ia tidak lagi merasa sendirian. Ia tahu, sejauh apa pun Abraham pergi memanjat tower, hatinya akan selalu pulang ke kamar sederhana ini.