NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Galang berdiri di dekat jendela apartemennya, punggungnya menghadap Clara. Cahaya senja menyusup di sela tirai, membelah ruangan menjadi dua warna: terang dan bayangan. Clara masih duduk di tepi ranjang, tubuhnya terbungkus seprai, wajahnya pucat, matanya sembab. Udara di antara mereka terasa berat, dipenuhi kata-kata yang belum selesai dan perasaan yang tak pernah benar-benar diakui.

“Aku ingin kamu paham satu hal,” ucap Galang akhirnya, suaranya datar, tanpa emosi. “Sejak awal, kita tidak pernah punya hubungan apa pun.”

Clara mengangkat wajahnya perlahan. Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dadanya, berulang kali, tanpa ampun.

“Hubungan kita,” lanjut Galang, masih membelakangi Clara, “hanya sebatas saling memuaskan hasrat. Tidak lebih. Tidak ada komitmen, tidak ada janji, tidak ada masa depan.”

Setiap kalimat terasa seperti pisau yang menguliti perlahan. Clara membuka mulut, ingin membantah, ingin berteriak bahwa itu tidak benar—bahwa malam-malam yang mereka habiskan, percakapan larut, sentuhan-sentuhan yang terasa nyata, tidak mungkin hanya sekadar hasrat. Namun suaranya tertahan di tenggorokan.

“Kalau salah satu dari kita bosan,” Galang menambahkan, kini menoleh sekilas dengan tatapan dingin, “yang lain tidak boleh merasa keberatan. Anggap saja kita teman kerja. Setelah itu, kita bisa lanjutkan hidup masing-masing seperti biasa.”

Teman kerja.

Dua kata itu menggema di kepala Clara. Ia tersenyum getir. Sejak kapan perasaannya direduksi menjadi istilah sedingin itu? Ia mengangguk pelan, bukan karena setuju, melainkan karena tidak punya kekuatan untuk menolak. Diamnya Clara bukan tanda penerimaan, melainkan kelelahan—kelelahan mempertahankan sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Namun di dalam hatinya, ketakutan tumbuh subur. Jika suatu hari Galang benar-benar bosan, benar-benar tidak lagi mencarinya, apa yang harus ia lakukan? Hidup Clara sudah terlalu lama berputar di sekitar laki-laki itu. Galang adalah sosok yang selalu ada—yang menemaninya makan, mengajaknya berbicara, membuatnya merasa diinginkan, meski dengan cara yang salah. Tanpa disadari, Clara telah jatuh terlalu dalam.

Galang melangkah mendekat, meraih bajunya yang tergeletak sembarangan. “Oh ya,” katanya ringan, seolah membicarakan hal remeh, “jangan lupa minum pil kontrasepsi.”

Clara terhenyak.

“Aku tidak ingin punya anak,” lanjut Galang tanpa menoleh, “terutama dari wanita malam sepertimu.”

Kata-kata itu menghantam Clara lebih keras dari sebelumnya. Wanita malam. Ia menunduk, jemarinya mencengkeram seprai hingga ruas-ruasnya memutih. Dadanya terasa sesak, napasnya tercekat. Ironis—ia ingin dinikahi oleh laki-laki yang bahkan tidak menganggapnya layak menjadi ibu dari anaknya.

Tanpa menunggu respons, Galang melangkah menuju kamar mandi. Pintu tertutup, menyisakan Clara sendirian dengan pikirannya. Suara air mengalir terdengar samar, kontras dengan keheningan di dalam dadanya.

Clara menatap pintu kamar mandi itu lama sekali. Bayangan masa depan yang ia impikan perlahan runtuh. Jika suatu hari Galang bosan, jika laki-laki itu meninggalkannya tanpa menoleh, apa yang akan tersisa? Ia tahu jawabannya: tidak ada.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dalam keheningan itu, sebuah pikiran tiba-tiba menyusup, dingin dan tajam—tentang pil kontrasepsi.

Pil itu sudah habis.

Sudah sebulan lebih.

Clara menegakkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang. Ia teringat kesibukannya, hari-hari yang berantakan, alasan-alasan kecil yang membuatnya menunda membeli pil itu. Ia meraih ponselnya, membuka kalender. Matanya membulat ketika menghitung ulang.

Tiga minggu.

Tiga minggu ia tidak datang bulan.

Tangan Clara gemetar. Napasnya memburu, antara panik dan harapan yang terlarang. Jika ia hamil… apakah Galang akan menerimanya? Apakah kehadiran seorang anak akan mengubah posisi dirinya di mata laki-laki itu?

Perlahan, sebuah tekad gelap tumbuh di hatinya.

Ia harus hamil.

Hanya dengan cara itu, ia bisa memastikan Galang tetap di sisinya.

---

Sementara itu, hujan turun rintik-rintik di luar kamar kos Nadia. Malam sudah larut, dan suasana di dalam kamar kecil itu terasa sunyi. Nadia sedang melipat pakaian, mencoba menata pikirannya yang sejak sore kacau. Kepalanya dipenuhi wajah Galang, kata-kata yang tak sempat terucap, dan kenyataan pahit tentang pernikahannya.

Suara ketukan pintu membuatnya menoleh.

Nadia berhenti bergerak. Ada sesuatu dalam ketukan itu—pelan, ragu—yang terasa familiar. Ia meletakkan pakaian di tangannya, melangkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, jantungnya berdegup lebih kencang.

Galang berdiri di sana.

Wajahnya tampak seperti biasa—senyum manis yang dulu selalu membuat Nadia merasa aman. Namun kini, senyum itu justru membuat hatinya perih.

“Kamu mencariku?” tanya Galang lembut.

Nadia mengangguk. Lidahnya terasa kelu, kata-kata yang telah ia siapkan sejak kemarin tiba-tiba menguap. Galang tersenyum lagi, lebih lebar.

“Kamu sibuk?” tanyanya.

“Tidak,” jawab Nadia pelan.

Galang mengerutkan kening, memperhatikan wajah Nadia lebih saksama. “Hey, sayang… kamu baik-baik saja?” panggilnya ketika melihat tatapan Nadia yang berbeda, kosong dan rapuh.

Panggilan itu—sayang—membuat dada Nadia sesak. Dalam sekejap, ia lupa tujuan kedatangannya, lupa pada keberanian yang ia kumpulkan. Yang tersisa hanya perasaan lelah dan bingung.

Tanpa berkata apa-apa, Nadia meraih tangan Galang, menariknya menjauh dari pintu kamar kos. Galang terkejut, langkahnya terseret mengikuti Nadia.

“Nad, ada apa?” tanyanya heran. “Kamu kenapa?”

Nadia berhenti beberapa langkah dari kamar kos. Ia menatap Galang, lalu tiba-tiba air matanya jatuh. Satu tetes, lalu dua, lalu pecah menjadi tangisan yang tidak bisa ia tahan lagi. Semua kebingungan, ketakutan, dan luka yang ia simpan akhirnya tumpah.

Galang panik. “Nadia? Hei, kenapa kamu menangis?” Ia mencoba memegang bahu Nadia, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. “Ada yang salah? Ceritakan padaku.”

Namun Nadia tidak menjawab. Tangisannya justru semakin deras, tubuhnya bergetar. Galang menghela napas panjang, lalu tanpa ragu menarik Nadia ke dalam pelukannya.

“Tidak apa-apa,” bisiknya, menepuk punggung Nadia perlahan. “Aku di sini.”

Pelukan itu terasa hangat, familiar. Nadia membenamkan wajahnya di dada Galang, membiarkan dirinya larut. Namun di balik kenyamanan itu, ada perasaan asing yang menyusup. Aroma tubuh Galang tiba-tiba bercampur dengan ingatan lain—aroma Arya, sentuhan dingin namun protektif, tatapan tajam yang menyimpan luka.

Konflik di dadanya semakin menjadi. Dua laki-laki, dua dunia, dua takdir yang menariknya ke arah berlawanan.

Dari kejauhan, di bawah cahaya lampu jalan yang redup, sebuah ikatan bunga terlepas dari genggaman seseorang. Bunga-bunga itu jatuh ke atas aspal basah, kelopaknya tercerai-berai.

Seorang laki-laki berdiri terpaku beberapa meter dari sana.

Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke arah sepasang tubuh yang sedang berpelukan. Setiap detik yang ia saksikan terasa seperti pengkhianatan yang menghantam harga dirinya.

Emosi yang selama ini ia tekan perlahan naik ke permukaan—marah, cemburu, kecewa, dan rasa kehilangan yang belum sempat ia akui. Hujan rintik membasahi bahunya, namun ia tidak bergeming.

Di hadapannya, takdir sedang mempermainkan semua orang.

Dan malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa pilihan-pilihan

kecil yang mereka buat akan membawa konsekuensi besar—lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!