Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Harga Sebuah Petir
Malam masih bergetar oleh sisa kehancuran.
Di antara puing-puing bangunan yang runtuh, Wang Jianhong berdiri—tidak… lebih tepatnya, berusaha tetap berdiri.
Tubuhnya gemetar hebat.
Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya.
Napasnya berat.
Pendek.
Tidak beraturan.
Pedangnya tertancap di tanah, menjadi satu-satunya penopang tubuhnya yang hampir roboh.
Namun—
Yang paling mengerikan bukanlah luka.
Bukan pula kelelahan.
Melainkan—
Sesuatu di belakangnya.
Niat membunuh itu…
Masih ada.
Masih menekan, semakin dekat.
Dan Wang Jianhong—
Tidak berani menoleh.
Bukan tidak bisa.
Tapi—
Tidak berani.
Instingnya menjerit.
Jangan lihat.
Jika kau melihat… kau akan mati.
Tangannya mencengkeram gagang pedang semakin erat.
Namun pada akhirnya—
Tubuhnya tidak kuat lagi.
Ia jatuh berlutut.
Thud.
Tanah bergetar pelan.
Kepalanya menunduk.
Napasnya tersengal.
Lalu—
Dengan suara yang hampir tidak terdengar—
“Senior… yang berada di belakang junior rendahan ini…”
Suaranya serak.
Penuh kehati-hatian.
“…tolong redakan amarah anda.”
Ia menelan ludah dengan susah payah.
“Junior ini… tidak memiliki permusuhan dengan senior…”
Sunyi.
Hanya suara angin malam yang tersisa.
Namun—
Sebuah suara terdengar.
Datar.
Dingin.
Menusuk.
“...Kau tidak tahu apa yang telah kau lakukan?”
Tubuh Wang Jianhong bergetar lebih hebat.
Tekanan itu—
Meningkat.
Seolah satu kata saja bisa membunuhnya.
“Maafkan saya, senior…”
Ia menunduk lebih dalam.
“Mohon… berikan penjelasan pada saya yang bodoh ini…”
Beberapa detik sunyi.
Lalu—
Suara itu kembali terdengar.
Lebih dingin.
“Apakah kau yang bermain petir tadi?”
Wang Jianhong langsung menjawab.
Tanpa ragu.
“Iya, senior!”
Napasnya terengah.
“Junior ini terpaksa mengeluarkan seluruh kekuatan untuk melawan kultus iblis…”
Ia menggertakkan gigi.
“Maaf… jika mengganggu waktu istirahat senior…”
Langkah terdengar.
Pelan.
Namun setiap langkah—
Seperti palu yang menghantam jantungnya.
Dan dalam sekejap—
Sosok itu sudah tepat di belakangnya.
“...Kau tidak merasa bahwa tindakanmu itu…”
Nada suaranya berubah.
Lebih berat.
“…membuat kerugian pada orang yang tidak ikut dalam masalah ini?”
Wang Jianhong membeku.
Matanya melebar.
Seketika—
Ia menghantamkan dahinya ke tanah.
DUK!
“Junior bersalah!”
Suaranya bergetar.
“Klan Wang… akan menanggung seluruh kerugian akibat pertarungan ini!”
Ia menunduk lebih dalam.
“Mohon… maafkan tindakan junior kali ini saja!”
Namun—
Jawaban yang datang…
Tidak seperti yang ia harapkan.
“...Apakah kau akan terus berbicara pada udara kosong?”
Nada itu—
Tidak senang.
“Apakah kau tidak diajari tata krama oleh klanmu itu?”
Tekanan itu meningkat lagi.
Wang Jianhong hampir tidak bisa bernapas.
Ia menelan ludah.
Susah payah.
“Maafkan ketidaksopanan junior…”
Tangannya gemetar.
Perlahan—
Sangat perlahan—
Ia mulai berbalik.
Setiap gerakan terasa berat.
Seolah ada beban gunung di pundaknya.
Ini…
Hari paling buruk sepanjang hidupku…
Pikirannya kacau.
Tak kusangka aku menyinggung seorang ahli…
Yang seharusnya aku perlakukan dengan penuh hormat…
Napasnya tercekat.
Niat awalku… sudah melenceng jauh…
Matanya mulai mengabur.
Aku hanya berharap… ahli ini bisa melepaskanku…
Akhirnya—
Ia berbalik.
Masih berlutut.
Masih menunduk.
Namun—
Sosok itu sudah terlihat.
Seorang pria.
Pakaian sederhana.
Tidak mencolok.
Tidak menunjukkan aura apapun.
Namun—
Justru itu yang membuatnya mengerikan.
“Jika orang sedang berbicara…”
Suara itu terdengar lagi.
“…tatap mata orang itu.”
Wang Jianhong menegang.
Perlahan—
Ia mengangkat kepalanya.
Matanya—
Bertemu dengan pria itu, dia melihat wajah familiar yang tenang dan berwibawa itu.
Dan dalam satu detik—
Ia tertegun.
Tubuhnya membeku.
“…A… anda…”
Suaranya gemetar.
“…bukankah… anda pemilik restoran itu…?”
Zhao menatapnya.
Datar.
Dingin.
“Kau benar.”
Jawabannya singkat.
Tanpa emosi.
“Dan sekarang…”
Tatapannya sedikit menyipit.
“…karena ulahmu, aku mendapatkan masalah besar.”
Nada suaranya tidak meninggi.
Namun—
Lebih menekan dari teriakan.
Wang Jianhong menunduk lagi.
Keringatnya semakin deras.
Namun sebelum Zhao melanjutkan—
BOOOOOOM!!!
Ledakan besar terdengar dari luar kota.
Lebih keras dari sebelumnya.
Lebih dekat.
Mata Wang Jianhong langsung melebar.
Ia menoleh refleks.
Jantungnya berdegup kencang.
Yihan…!
Zhenyu…!
Tanpa sadar—
Ia menghantamkan dahinya ke tanah lagi.
DUK!
“Senior…!”
Suaranya pecah.
Penuh keputusasaan.
“…tidak! Tuan Immortal!”
Tangannya mencengkeram tanah.
“Mohon…”
Suaranya bergetar hebat.
“Junior yang rendahan ini memohon padamu…”
Napasnya terputus.
“…tolong selamatkan cucu dan muridku…”
Ia menggertakkan gigi.
“Saya akan membayar hutang budi ini seumur hidup saya!”
Sunyi.
Zhao terdiam.
Menatap pria tua di depannya.
Lalu—
“Kenapa aku harus membantumu?”
Nada suaranya datar.
Seolah tidak peduli.
“Aku ke sini untuk meminta ganti rugi.”
Tatapannya dingin.
“Bukan menjadi pahlawan kesiangan.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan—
“Terlebih… hidupmu tidak bernilai bagiku.”
Kata-kata itu—
Seperti pisau.
Menusuk tanpa ampun.
Wang Jianhong tertegun.
Tubuhnya gemetar.
Harapannya—
Runtuh.
Tangannya mengepal.
Kukunya menancap ke tanah.
“…jika saja…”
Suaranya pelan.
Hampir tidak terdengar.
“…aku sedikit lebih kuat…”
Matanya berkaca-kaca.
“…mungkin aku masih punya tenaga…”
“…untuk menyelamatkan kalian…”
Ia menggigit bibir.
Darah mengalir.
“…maafkan orang tua yang tak berguna ini…”
Dalam hatinya—
Serangan terakhir itu…
Menguras segalanya…
Aku bahkan tidak bisa berdiri…
Pandangannya mulai kabur.
Apa yang harus kulakukan…
Senior juga tidak akan membantu…
Ia menoleh ke arah luar kota.
Tatapannya kosong.
Apakah…
Pada akhirnya…
Aku akan kehilangan mereka juga…?
Sunyi.
Zhao menatapnya.
Diam.
Lalu—
Perlahan—
Ia juga menoleh ke arah yang sama.
Angin malam berhembus.
Membawa sisa-sisa darah dan debu.
Zhao menghela napas pelan.
Dalam hati.
Hah…
Aku paling benci orang yang mudah putus asa…
Ia menunduk.
Mengambil beberapa batu kecil di tanah lalu menggenggamnya.
Wang Jianhong melihat itu.
Bingung.
Tidak mengerti.
Zhao berbicara tanpa menoleh.
“Aku cuma ingin bilang satu hal.”
Nada suaranya kembali dingin.
“Tutup mulutmu.”
Ia menggenggam batu itu lebih erat.
“Atas semua yang kau lihat sekarang.”
Aura samar mulai muncul.
“…anggap saja kau tidak pernah melihatnya.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan—
“Dan yang paling penting…”
Nada suaranya berubah.
Sedikit… lebih serius.
“…rahasiakan dari istriku.”
Wang Jianhong terdiam.
Tidak mengerti.
Namun—
Saat itu—
Qi muncul.
Tidak besar.
Tidak megah.
Namun—
Sangat murni.
Sangat tajam.
Menyelimuti batu-batu itu.
Mata Wang Jianhong melebar.
Tubuhnya gemetar.
Apa ini…
Qi seperti ini…
Ia bahkan tidak bisa memahami.
Tidak bisa mengukur.
Tidak bisa—
Membayangkan.
Mata Zhao berkilat sesaat.
Lalu—
Ia melempar.
SWOOSH!
Batu-batu itu melesat.
Bukan seperti lemparan biasa.
Namun—
Seperti peluru yang menembus ruang.
Menghilang dalam sekejap.
Menuju—
Medan pertempuran di luar kota.
—
Di sana.
Di tengah dataran gersang.
Wang Yihan dan Wang Zhenyu—
Sudah di ambang batas.
Napas mereka berat.
Luka di tubuh mereka semakin banyak.
Darah menetes ke tanah kering.
Pedang Yihan—
Hampir tidak bisa ia angkat lagi.
Tangannya gemetar.
Zhenyu berdiri di depan.
Melindungi.
Namun tubuhnya juga sudah goyah.
“Nona ketiga…”
Suaranya pelan.
Namun tegas.
“…tolong lari dari sini.”
Ia mengencangkan genggaman pedangnya.
“Aku akan menahan mereka.”
Namun—
“Tidak!”
Yihan memotong.
Matanya menyala.
Meski tubuhnya gemetar.
“Aku akan bertarung!”
Ia memaksa mengangkat pedangnya.
Meski berat dan kesakitan.
“Meski harus mati sekalipun!”
Zhenyu terdiam.
Lalu—
Tersenyum tipis.
Kaku.
“Ha…”
Ia menghela napas.
“…masih keras kepala ya…”
Di depan mereka—
Guo Liang berjalan maju.
Tenang.
Senyumnya tipis.
Di belakangnya—
Pasukan pembunuh.
Tanpa jiwa.
Tanpa rasa takut.
Semakin mendekat.
Langkah demi langkah.
Menutup jarak.
Menutup harapan.
Angin berhenti.
Malam menahan napas.
Dan tepat saat jarak itu—
Hanya tinggal beberapa langkah—
Sesuatu—
Melesat dari langit.