NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGINTAI

Dua hari sudah sejak kejadian itu, Rani kini lebih perhatian pada kedua anaknya. Terlebih pada Rafna.

Asih menatap lembut Rani yang mulai mau menggendong bayinya.

"'Bi, Rafna udah kasih makanan pendamping kan?" tanyanya perhatian.

"Benar Nyonya. Ini sedang saya buatkan," jawab Asih.

"Bibi ... aku mau dimasakin ayam bakar boleh?" pinta Claudia.

"Tentu boleh Non!" sahut Asih tentu dengan senang hati menuruti apa mau Claudia.

Farhan turun, ia sedikit terkejut melihat istrinya menggendong Rafna.

"Ran?" wanita itu menoleh, tatapan curiga suaminya membuat hatinya sakit.

"Mas ... Biasakan maafkan aku ... Sekali lagi," pintanya lirih.

Farhan menatap istrinya lama, ia pun akhirnya mengangguk. Dia menarik kursi dan duduk, Rani melayaninya.

"Terimakasih sayang," ujar Farhan mesra.

"Sama-sama dan terimakasih atas kesempatannya," ujar Rani penuh haru.

"Alhamdulillah, akhirnya Mama dan Ayah baikan!" seru Claudia bertepuk tangan.

Farhan tersenyum, ia lupa jika ada anak mereka yang melihat semuanya.

Sementara di rumah lain, seorang pria tengah berbaring di ranjangnya terlentang. Ia menatap langit-langit rumah. Ada jejak hitam bekas rembesan air hujan.

"Ini tidak bisa dibiarkan!" serunya kesal.

Iqbal duduk di ranjang dan mengepal tangannya kuat-kuat. Matanya memerah, rahangnya mengeras. Membayangkan Rani tidur di atas kasur empuk, makanan-makanan sehat dan nikmat setiap harinya. Belum lagi fasilitas kemewahan yang Farhan berikan untuk Rani.

"Nggak ... Kok bisa dia enak-enakan sementara aku sengsara di sini!" gumamnya tak terima.

"Aku harus melakukan sesuatu!" ujarnya lalu turun dari ranjangnya dan keluar rumah kontrakannya.

Baru mau naik motor tiba-tiba ia dihadang sang pemilik rumah.

"Eh ... Ini kapan bayar rumah! Sudah jatuh tempo!" tagih wanita tambun kasar.

"Bisa tunggu enggak!" bentak Iqbal yang membuat nyali si pemilik rumah mendadak ciut.

"Saya kalau bayar kan selama ini tepat waktu. Bahkan kadang belum sebulan kamu udah nagih!"

Wanita itu mundur setengah langkah.

"I-iya… tapi ini sudah lewat tiga hari, Pak…" suaranya melemah, tak seberani tadi.

Iqbal menghela napas kasar, lalu merogoh saku celananya. Kosong. Ia mendecak kesal.

"Besok!" ketusnya singkat.

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyalakan motor bututnya dan melaju pergi.

Debu jalanan beterbangan.

Sementara di kepalanya, hanya satu nama yang berputar— Rani.

Motor itu berhenti di pinggir jalan. Iqbal mematikan mesin, lalu duduk diam beberapa detik.

Tangannya mengepal di atas setang.

"Dia pikir bisa hidup tenang?" gumamnya pelan. Matanya memerah menyimpan dendam.

Ia menatap satu rumah besar bertingkat. Itu rumah Rani, berada di kawasan elit dan hanya satu unit di pinggir jalan cukup besar.

Iqbal memindai arus kendaraan yang lewat. Cukup ramai di jam-jam tertentu. Lalu melihat penjaga yang hanya satu orang duduk di pos jaga tengah menikmati kopinya.

"Benar kata Rani. Sangat sulit jika ingin pergi membawa semua barang dari rumah itu tanpa ketahuan!" gumamnya mulai menimbang.

Iqbal menyalakan lagi mesin motornya dan mengelilingi daerah itu.

Semua sudut, perempatan, pertigaan jalan, ia lalui. Ia menghitung semua jumlah rumah yang berada di sekitar hunian tempat tinggal Rani.

Iqbal menghentikan motornya di bawah pohon rindang, sekitar seratus meter dari gerbang utama perumahan elit itu.

Ia membuka kaca helmnya, membiarkan angin panas menerpa wajahnya yang kusam. Matanya yang tajam mencatat setiap detail:

Pergantian shift satpam, posisi kamera CCTV di tiang listrik, hingga celah kecil di pagar belakang yang berbatasan dengan lahan kosong.

"Satu pintu masuk, satu pintu keluar," gumamnya sambil mencoret-coret sesuatu di bungkus rokok kosong.

"Farhan biasanya berangkat jam delapan pagi. Rani akan sendirian dengan pembantu dan bayi itu sampai jam sepuluh."

Iqbal menyeringai. Ide tentang "truk pindahan" mungkin sulit, tapi ide tentang "penyanderaan" mulai tumbuh di kepalanya.

Jika ia tidak bisa membawa hartanya, ia akan membawa sumber uangnya.

"Ini harus rapi!" angguknya tenang lalu ia kembali menyalakan motornya dan berlalu dari sana.

Sementara itu Farhan yang tadi belum berangkat kerja memperhatikan dari teras rumah. Ia menatap sepeda motor yang sudah lebih dari satu kali berkeliling di rumahnya.

"Itu motor yang sama?" tanyanya bergumam.

Lalu ingatannya pada sebuah foto yang diberikan Pak Gunawan dari istrinya.

Foto Rani yang berbincang dengan pria di atas motor yang sama, yang baru saja ia lihat.

Farhan menggeleng pelan, ia tak mau berburuk sangka. Walau kelakuan Rani kemarin sangat mengecewakannya..

"Tidak ... Aku harus percaya pada Rani, istriku," gumam Farhan dalam hati.

Lalu ia pun berangkat kerja, kendaraannya melewati post utama. Sekuriti akan membukakan portal setiap ada yang lewat. Semua penghuni perumahan elit itu memang harus melewati jalur utama agar bisa akses ke jalan raya.

Iqbal menatap kepergian mobil Farhan dari atas jok motornya yang keras. Bokongnya sudah berasa kebas.

Lalu pikirannya teringat pada tagihan kontrakan. Ia mengambil ponselnya. Ia membuka layar dan menekan aplikasi chat lalu mengetik di sana.

(Ran, aku butuh uang!)

Cukup lama pesan itu terbaca. Sepuluh menit menunggu. Baru lah Rani membalas.

(Berapa. Asal kau tidak mengganggu kami lagi?)

Iqbal tertawa membaca pesan dari Rani.

(Kau ingin jauh dariku? Ran, apa kata Farhan ketika surat nikah ini sampai ke tangannya!) tulisnya dengan seringai bibirnya yang menghitam.

Di rumah, Rani ingin membanting ponsel mahalnya ke lantai. Ia sangat marah pada Iqbal, yang terus-menerus menerornya.

Ia pun mengetik lagi.

(Aku hanya bisa kasih uang cash. Tidak bisa transfer. Farhan mengakses banking-ku!)

Iqbal mengetik ....

(Kukira kau bebas memakai uangmu. Ternyata masih diawasi suami palsumu ....!)

Rani membaca pesan itu sangat marah. Ingin ia balas tapi pasti panjang nantinya.

Rani pergi ke kamarnya memakai dress dari butik ternama. Ia memakai riasan dan perhiasan seadanya. Setelah yakin tampilannya sempurna, ia pun turun ke bawah.

"Bi ... aku pergi dulu," ujarnya.

"Mama mau kemana?" tanya Claudia sambil memainkan boneka-boneka nya.

"Keluar sebentar sayang, nanti Mama bawakan es krim ya!" jawab Rani lembut.

"Iya Mama. Mau rasa stroberi dan coklat ya!" sahut Claudia senang.

"Siap sayang!"

Rani pun pergi ke mini market terdekat, pergi ke Anjungan Tunai Mandiri dan mengambil uang lima ratus ribu rupiah.

"Kalau hanya sedikit-sedikit. Mas Farhan pasti nggak periksa!" gumamnya.

Setelah memangil uang tunai di sana. Ia ke sebuah freezer es krim mengambil beberapa es krim permintaan Claudia.

"Ini saya ambil tunai bisa?" tanya Rani.

"Bisa Bu. Minimal lima puluh ribu, maksimal dua juta!" jawab kasier.

"Baik saya mau ambil tunai dua juta!" sahut Rani sambil menyerahkan kartu debitnya.

"Sekalian bayar es krimnya ya!" ujarnya, kasier mengangguk.

"Baik Bu! Jumlahnya semua dua juta lima belas ribu rupiah ya!" Rani hanya berdehem.

Transaksi selesai, Rani mengambil kartu dan uang dua juta itu. Lalu pergi ke mobilnya.

Di pinggir jalan, Iqbal menunggu. Melihat sebuah mobil mendekat, ia menundukkan kepala ke kaca mobil. Kaca terbuka, Rani menyerahkan uang padanya.

"Aku hanya bisa kasih segitu!" ujarnya lalu menaikkan kaca dan berlalu dari sana.

Iqbal menatap uang receh di tangannya. Ia berdecih.

"Sok-sokan nanya butuh berapa!" cibirnya.

Bersambung.

Wah ... Rani!

Next?

1
gina altira
Rani beneran ga bersyukur
gina altira
untung ada Asih,
nurry
lanjut kak Maya 🙏💪❤️
nurry
betul betul betul 👍
vania larasati
lanjut kak
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
dasar Rani.. kena karma tahu rasa
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sepertinya perselingkuhan akan dimulai
Serli Ati
Farhan dengar keluhan bi asih jadi iba dan tersentuh hatinya selingkuh lagi dech.....ingat ya Farhan didunia ini tidak ada yg sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT
vania larasati
lanjut kak
Anita Barus: kelakuan Rani bikin emosi Farhan sabar banget y.
total 1 replies
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!