sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air mata
Hujan gerimis membasuh perbukitan Bogor pagi itu, menciptakan suasana melankolis di sekitar kompleks bangunan "Lentera Sebelas". Bangunan bergaya industrial-tropis itu telah berdiri tegak. Dinding-dinding bata eksposnya berpadu manis dengan rangka baja hitam dan aksen kayu yang hangat—persis seperti sketsa yang Arlan dan Kira debatkan selama berbulan-bulan.
Kira berdiri di teras depan aula utama, mengenakan gamis hamil berwarna biru lembut. Perutnya sudah sangat besar, memasuki bulan kedelapan. Tangannya tak lepas dari lengan Arlan, yang hari ini tampak gagah dengan batik motif parang.
"Lan, lihat deh. Taman melatinya sudah mekar," bisik Kira, menghirup aroma harum yang menyeruak di antara bau tanah basah.
Arlan merangkul bahu istrinya, mencium pelipisnya. "Iya, Ra. Persis seperti yang kamu minta. Struktur dan jiwa. Semuanya sudah menyatu."
Namun, kebahagiaan itu dibayangi oleh sebuah ranjang rumah sakit yang diletakkan di tengah aula. Pak Gunawan ada di sana, terbaring dengan tabung oksigen portabel di sampingnya. Wajahnya sangat pucat, napasnya pendek-pendek, namun matanya menatap langit-langit aula yang tinggi dengan binar kebanggaan.
Maura berdiri di samping ayahnya, memegang jemari pria tua itu dengan erat. Ia menoleh saat Arlan dan Kira mendekat.
"Ayah... Arlan dan Kira sudah di sini. Sekolahnya sudah jadi, Yah," ucap Maura, suaranya bergetar menahan tangis.
Pak Gunawan menoleh perlahan. Suaranya hanya berupa bisikan parau yang sangat lemah. "Arlan... kemari..."
Arlan berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan mentornya. "Pak, kita berhasil. Sekolah ini siap menerima murid pertama bulan depan. Nama Bapak ada di prasasti depan sebagai pendiri utama."
Pak Gunawan menggeleng lemah, ia tersenyum tipis. "Bukan namaku... tapi nama... 'Lentera Sebelas'. Kalian adalah lenteranya... aku hanya... menyediakan minyaknya."
Ia beralih menatap Kira, tangannya yang dingin gemetar menyentuh perut Kira yang membuncit. "Cicit spiritualku... jaga dia, Kira. Biar dia tumbuh... di lingkungan yang... penuh ilmu."
"Iya, Pak. Kami janji," jawab Kira, air matanya tak terbendung lagi.
Upacara peresmian itu berlangsung sangat sederhana dan tertutup, sesuai permintaan Pak Gunawan. Tidak ada pejabat tinggi, tidak ada sorotan media massal. Hanya ada keluarga, beberapa perwakilan yatim piatu yang akan menjadi angkatan pertama, dan tim konstruksi.
Saat Arlan membantu Pak Gunawan memegang gunting untuk memotong pita sutra di depan pintu perpustakaan, suasana mendadak hening. Pak Gunawan memejamkan mata sejenak, menghirup udara pegunungan dalam-dalam.
"Sudah cukup... Arlan. Tugasku... selesai," bisik Pak Gunawan tepat setelah pita itu terputus.
Tiba-tiba, pegangan tangan Pak Gunawan melonggar. Tubuhnya yang renta mendadak terkulai lemas di atas kursi roda khususnya.
"Ayah? Ayah!" Maura menjerit, langsung memeluk ayahnya.
Arlan dengan sigap memeriksa denyut nadi di leher Pak Gunawan. Wajahnya berubah pucat. Ia menatap Kira dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara duka mendalam dan ketenangan yang dipaksakan.
"Lan? Pak Gunawan kenapa?" tanya Kira panik, memegangi perutnya yang mendadak terasa kencang karena kaget.
"Beliau... Beliau sudah pulang, Ra," ucap Arlan pelan. "Beliau pergi dengan senyum. Tepat di tempat yang paling ingin beliau lihat sebelum pergi."
Tangisan Maura pecah di tengah aula yang megah itu. Suasana peresmian yang seharusnya penuh tawa berubah menjadi duka yang sangat sakral. Arlan memeluk Maura yang terguncang, sementara Kira bersandar di pilar bangunan, menangis dalam diam.
Tiga hari setelah pemakaman Pak Gunawan, suasana di rumah Arlan dan Kira masih terasa sepi. Arlan lebih banyak menghabiskan waktu di studio, menatap maket "Lentera Sebelas" tanpa menyentuh pensilnya.
Kira masuk membawa segelas susu hangat, duduk di samping suaminya. "Lan, sudah tiga hari kamu nggak gambar apa-apa. Pak Gunawan nggak bakal suka lihat murid kesayangannya mogok kerja begini."
Arlan menghela napas, menyandarkan kepalanya di bahu Kira. "Aku cuma ngerasa kehilangan kompas, Ra. Selama sebelas tahun, setiap kali aku ragu soal desain, aku selalu telepon beliau. Sekarang... rasanya aneh."
"Kamu nggak kehilangan kompas, Lan. Kamu sudah jadi kompas itu sendiri buat anak-anak di sekolah nanti. Maura telepon tadi pagi, dia bilang dia mau serahkan pengelolaan yayasan sepenuhnya ke kita. Dia mau fokus urus Anastasia Group di Jakarta supaya tetap sehat, biar bisa terus mendanai sekolah itu."
"Maura beneran mau gitu?" Arlan mendongak, terkejut.
"Iya. Dia bilang, dia nggak punya bakat mendidik. Tapi dia punya bakat cari uang. Dia mau jadi 'penyedia minyak' kayak kata Pak Gunawan kemarin. Dia mau kita yang jadi 'lenteranya'."
Arlan tersenyum kecil, ia menarik Kira ke dalam pelukannya. "Ternyata Pak Gunawan bener-bener arsitek yang hebat ya. Sampai di akhir hayatnya pun, dia masih bisa ngatur struktur keluarga dan bisnisnya biar nggak runtuh."
"Itu karena beliau percaya sama kamu, Lan. Dan dia percaya sama hubungan kita selama sebelas tahun ini."
Sore harinya, mereka dikagetkan oleh kedatangan Maura ke rumah mereka. Ia membawa sebuah koper kecil dan beberapa berkas legal.
"Maaf ganggu waktu istirahat kalian," ucap Maura saat duduk di ruang tamu. Ia tampak jauh lebih dewasa, duka telah menghapus sisa-sia keangkuhannya. "Aku baru saja selesai urus wasiat tambahan Ayah yang terselip di brankas kantor."
"Wasiat tambahan?" tanya Arlan heran.
Maura menyerahkan sebuah surat resmi dari notaris. "Ayah memberikan rumah lamanya di Menteng untuk dijadikan 'Rumah Singgah Lentera'. Itu buat anak-anak sekolah kita yang kalau akhir pekan nggak mau balik ke panti atau butuh tempat belajar di Jakarta. Dan... ada satu lagi."
Maura mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kuno berwarna merah tua. Ia memberikannya kepada Kira.
"Ini apa, Mau?" tanya Kira ragu.
"Itu cincin emerald milik Ibuku. Ayah simpan selama dua puluh tahun. Di suratnya tertulis, ini buat istri Arlan. Ayah bilang, 'Berikan ini pada wanita yang sanggup berdiri di samping Arlan saat dia hanya punya mimpi dan belum punya apa-apa'."
Kira membuka kotak itu. Sebuah cincin dengan batu emerald hijau yang sangat jernih berkilau di dalamnya. Air mata Kira kembali menetes. "Aku... aku nggak tahu harus ngomong apa."
"Nggak perlu ngomong apa-apa, Ra. Kamu pantas dapetin itu," Maura tersenyum tulus. "Oh ya, soal proyek kementerian... Rian lapor ke aku kalau Pak Broto akhirnya minta maaf. Dia sadar kalau kualitas desain kamu nggak bisa digantiin siapapun. Dia mau kamu balik jadi penasihat utama, tapi kerjanya dari rumah aja."
Arlan tertawa lepas. "Pak Broto akhirnya luluh juga?"
"Siapa yang nggak luluh lihat keras kepalamu, Lan?" goda Maura. "Ya sudah, aku harus balik ke kantor. Banyak rapat direksi yang nunggu. Jaga kesehatan ya, Ra. Jangan sampai ponakanku lahir pas kamu lagi asyik gambar denah."
Malam itu, Arlan dan Kira duduk di teras belakang, menatap bintang-bintang. Arlan mengusap perut Kira yang terus bergerak aktif.
"Ra," panggil Arlan.
"Ya?"
"Sebelas tahun yang lalu, aku pikir puncak kesuksesanku adalah bangun gedung tertinggi di Jakarta. Tapi sekarang aku sadar, kesuksesan terbesarku adalah bisa duduk di sini sama kamu, bangun sekolah buat orang lain, dan nunggu kelahiran jagoan kecil kita."
Kira menggenggam tangan Arlan, merasakan cincin emerald dari Pak Gunawan di jarinya. "Dulu kita cuma sahabat yang sering kehujanan bareng di halte kampus ya, Lan?"
"Iya. Dan sekarang, kita punya rumah yang nggak akan pernah bocor karena fondasinya bukan semen, tapi janji kita di bawah langit senja."
Tiba-tiba, Kira memegang perutnya dengan kencang. Wajahnya berubah drastis.
"Aduh... Lan... ini... ini beda," bisik Kira, napasnya memburu.
Arlan langsung siaga, ia melihat jam di ponselnya. "Kontraksi lagi? Palsu?"
"Nggak... ini... ketubanku pecah, Lan!"
Arlan melompat berdiri, kepanikannya kembali namun kali ini ia jauh lebih sigap. "Oke! Jangan panik! Tas bayi sudah di mobil. Ibu sudah aku telepon tadi sore buat jaga-jaga. Kita ke rumah sakit sekarang!"
Arlan menggendong Kira dengan hati-hati menuju mobil. Di tengah kepanikan itu, ia sempat menatap ke arah langit dan membatin, 'Pak Gunawan, doakan kami. Proyek kehidupan yang paling nyata baru saja dimulai.'
Bab 30 ditutup dengan raungan mesin mobil Arlan yang membelah malam Jakarta, menuju sebuah bab baru yang akan selamanya mengubah identitas mereka dari sahabat dan pasangan, menjadi orang tua. Sebelas tahun perjalanan mereka kini mencapai puncaknya—sebuah kelahiran di tengah duka dan harapan yang baru mekar.