NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 Jalan Sunyi Gaun Hitam

Lampu kristal di restoran mewah itu berpendar elegan, memantulkan kemewahan yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Aluna, setiap denting sendok perak terasa seperti hitung mundur menuju ledakan amarah. Di depan Nyonya Widya, Clara adalah sosok asisten teladan yang sangat manis. Ia terus menuangkan teh, memotongkan daging untuk sang nenek, dan melemparkan pujian-pujian halus yang membuat Nyonya Widya merasa sangat dihargai sebagai matriark keluarga Adiguna.

Namun, setiap kali Nyonya Widya memalingkan wajah untuk menyapa kolega di meja seberang, raut wajah Clara berubah drastis. Ia menatap Aluna dengan tatapan predator yang dingin, bibirnya membentuk senyum tipis yang meremehkan.

"Makanlah yang banyak, Aluna," bisik Clara sangat rendah, hanya bisa didengar oleh telinga Aluna. "Kau butuh tenaga ekstra untuk menjaga perhatian Bramasta. Pria seperti dia cepat bosan dengan 'mainan' yang hanya bisa menangis dan mengadu pada kakeknya. Kau tahu? Kau tampak menyedihkan hari ini."

Aluna meremas serbet di pangkuannya. Amarahnya sudah di ubun-ubun, namun ia tak mampu bersuara. Suaranya seolah terkunci oleh wibawa neneknya yang sedang tertawa kecil menanggapi cerita Clara.

Puncaknya terjadi saat hidangan utama disajikan. Dengan gerakan yang sangat halus—yang terlihat seperti kecelakaan murni bagi mata orang awam—tangan Clara menyenggol mangkuk kecil berisi saus red wine yang kental tepat ke arah dada Aluna.

"Astaga! Aluna! Maafkan aku!" jerit Clara dramatis. Ia segera mengambil tisu dan mencoba mengelap baju Aluna, namun tindakannya justru membuat noda merah gelap itu semakin melebar di kain sutra Aluna yang terang. "Aduh, Nyonya, saya ceroboh sekali! Baju Aluna kotor semua. Saya benar-benar minta maaf!"

Nyonya Widya menghela napas panjang, tampak terganggu namun tidak curiga. "Sudahlah, Clara. Tidak apa-apa, namanya juga tidak sengaja. Aluna, kau bawa gaun hitam yang tadi kita beli, kan? Gantilah di toilet. Kita tidak mungkin pulang dengan noda sebesar itu."

Transformasi yang Mengejutkan

Sepuluh menit kemudian, Aluna keluar dari toilet. Saat ia berjalan kembali menuju meja, langkah kaki yang tadinya kaku kini terasa berat karena amarah yang memuncak.

Nyonya Widya yang sedang menyesap anggurnya seketika tertegun. Matanya membelalak saat melihat Aluna secara utuh dalam balutan gaun hitam tersebut. Tadi di butik, saat Aluna hanya mencobanya sekilas di balik tirai yang remang, Widya tidak menyadari detailnya secara keseluruhan. Namun di bawah lampu restoran yang terang, gaun itu tampak sangat transparan di bagian punggung, dengan potongan dada yang rendah—terlalu berani dan terlalu seksi untuk gadis selugu Aluna.

Nyonya Widya tersadar. Ia baru menyadari betapa "salah" pilihannya tadi. Gaun itu mengekspos kulit putih Aluna dengan cara yang provokatif. Ia melirik Clara yang masih menunjukkan wajah penuh penyesalan, meski matanya berkilat puas.

"Nenek, aku mau pulang," ujar Aluna dengan wajah kaku. Ia tidak duduk kembali, ia hanya berdiri mematung di samping meja, menolak untuk menjadi tontonan pria-pria di restoran itu lebih lama lagi.

Nyonya Widya segera berdiri, rasa bersalah mulai merayap di hatinya. Ia menyadari bahwa sepanjang hari ini, ia terlalu asyik mengobrol dengan Clara sampai mengabaikan perasaan cucunya. "Clara, kami pulang sekarang. Supir sudah di depan."

Pembelaan yang Menyakitkan

Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah, Aluna langsung turun dan berlari masuk tanpa menunggu neneknya. Di dalam lobi, Bramasta sudah berdiri tegak, tangannya bersedekap di dada. Ia sudah menunggu kepulangan mereka dengan kemarahan yang tertahan karena keterlambatan mereka.

Namun, saat matanya menangkap sosok Aluna yang berlari melintasinya, amarahnya berganti menjadi keterkejutan yang membakar. Ia melihat Aluna dalam balutan gaun hitam transparan yang mengekspos bentuk tubuhnya secara vulgar.

"Aluna! Berhenti! Apa yang kau pakai?!" suara bariton Bram menggelegar, penuh nada posesif yang berbahaya.

Bram hendak mengejar Aluna, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara pintu kamar yang dibanting keras dari lantai atas, disusul isak tangis yang pecah. Bramasta sudah memegang pegangan tangga, rahangnya mengeras, siap mendobrak pintu itu. Namun, tangan Nyonya Widya menahan lengannya dengan kuat.

"Jangan sekarang, Bram," tegas Widya. "Biarkan dia sendiri. Dia sedang sangat kesal."

"Siapa yang menyuruhnya memakai baju transparan itu di depan umum, Ibu?!" bentak Bram frustrasi, matanya berkilat cemburu dan marah.

Nyonya Widya menghela napas, mencoba menenangkan putranya. "Bram, tenanglah. Tadi itu murni ketidaksengajaan. Baju Aluna kotor terkena saus karena Clara tidak sengaja menyenggolnya. Kasihan Clara, dia tadi sangat panik dan berkali-kali meminta maaf sampai hampir menangis."

Bram menoleh tajam. "Ibu masih membelanya setelah dia mendandani Aluna seperti itu?"

"Bukan membela, Bram. Tapi Ibu tadi ada di sana. Clara itu teliti, tapi tadi dia memang tampak lelah. Dan soal gaun itu..." Widya menghela napas, "Dia hanya ingin Aluna terlihat dewasa. Mungkin seleranya saja yang terlalu 'berani', tapi niatnya baik. Dia ingin Aluna serasi denganmu. Aluna saja yang sedang sensitif hari ini, jadi dia salah paham dan menganggap itu penghinaan."

Bram tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Di telinganya, suara tangis Aluna jauh lebih nyata daripada pembelaan ibunya untuk Clara. Baginya, tidak ada "niat baik" yang boleh membuat Aluna hancur seperti itu.

Malam semakin larut, namun atmosfer di lantai dua kediaman Adiguna terasa membeku. Nyonya Widya sudah masuk ke kamarnya, meninggalkan keheningan yang mencekam di koridor. Bramasta masih berdiri di depan pintu kamar Aluna, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Suara isak tangis dari dalam sana sudah mereda, berganti dengan kesunyian yang justru lebih menyayat hatinya.

Bramasta merogoh saku jasnya, mengeluarkan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Dengan satu putaran halus, pintu jati itu terbuka tanpa suara.

Kehadiran Sang Penguasa

Lampu kamar Aluna mati, hanya menyisakan cahaya rembulan yang menembus tirai tipis, memberikan siluet perak pada sosok yang meringkuk di atas ranjang besar itu. Aluna tertidur dalam posisi janin, membelakangi pintu. Ia masih mengenakan gaun hitam transparan pemberian Clara—gaun yang telah menghancurkan harga dirinya seharian ini.

Bram melangkah mendekat. Suara langkah kakinya tertelan oleh karpet bulu yang tebal. Ia duduk di tepi ranjang, membuat kasur itu sedikit amblas di bawah berat tubuhnya. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya menatap angka dan laporan bisnis, kini meredup saat memandang bahu Aluna yang sedikit terbuka.

Kulit putih Aluna tampak kontras dengan kain sutra hitam yang tipis. Bram bisa melihat bekas air mata yang mengering di pipi gadis itu. Hatinya yang dingin mendadak berdenyut nyeri. Ia benci melihat Aluna menangis, terlebih jika alasan tangis itu adalah orang lain.

"Aluna..." bisik Bram rendah, suaranya parau.

Tangannya yang besar dan hangat bergerak ragu, lalu perlahan menyentuh helai rambut Aluna yang menutupi wajahnya. Aluna sedikit tersentak dalam tidurnya, namun tidak bangun. Ia mengigau pelan, sebuah gumaman ketakutan yang membuat rahang Bram mengeras.

"Jangan... Kak Clara... aku bukan barang..."

Bramasta membeku. Nama itu. Ibunya mungkin percaya bahwa kejadian di restoran tadi adalah murni ketidaksengajaan, tapi insting Aluna tidak pernah berbohong. Aluna merasa terancam, dan di rumah ini, tidak ada yang boleh membuat Aluna merasa terancam selain dirinya.

Cemburu dan Obsesi

Bram menatap gaun yang melekat di tubuh Aluna. Gaun itu terlalu terbuka. Bagian punggungnya hanya ditutupi kain tile transparan, mengekspos lekuk tubuh Aluna yang kini mulai tumbuh menjadi wanita dewasa. Amarah dan kecemburuan gila kembali membakar dadanya saat membayangkan mata pria-pria di restoran tadi sempat mencuri pandang ke arah "miliknya".

Dengan gerakan posesif yang pelan namun pasti, Bram menarik selimut tebal di ujung ranjang. Ia menyelimuti tubuh Aluna hingga sebatas leher, menyembunyikan keindahan yang "berbahaya" itu dari pandangannya sendiri. Ia tidak ingin melihat Aluna sebagai wanita dewasa yang siap diperebutkan; ia ingin Aluna tetap menjadi "burung kecilnya" yang bergantung sepenuhnya padanya.

Bram menunduk, mendekatkan wajahnya ke kening Aluna. Ia mencium kening itu dengan lama—sebuah ciuman yang tidak mengandung kelembutan seorang kakak, melainkan segel kepemilikan yang absolut.

"Ibu mungkin percaya padanya, tapi aku tidak," desis Bram tepat di depan wajah tidur Aluna. "Tidak akan ada yang bisa menghinamu lagi, Aluna. Bahkan asisten kesayanganku sekalipun."

Bramasta berdiri, menatap Aluna sekali lagi sebelum berbalik menuju pintu. Di kegelapan matanya, ada rencana yang sedang disusun. Jika Clara ingin bermain api dengan menggunakan Aluna sebagai sasarannya, maka Bram akan memastikan Clara terbakar oleh apinya sendiri.

Esok pagi, permainan akan berubah.

1
ollyooliver🍌🥒🍆
kok diupload ulang
Senja_Puan: wah iya kak, salah masukin draft
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
oh pake alarm ya..instan🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
pdhl sikap aluna yg beginilah yg membuat clara sangat pintar menjatuhkan lawan😄
ollyooliver🍌🥒🍆
nah dri caramu mencari simpatilah, kau dikatakan bayi...mencari perlindungan dri orng lain bukan mengandalkan diri sendiri. pake otaklah dikit😌
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna nih bodoh, pdhl bram tdk seperti.itu tapi dia mudah kepancing, sdh tau clara sperti itu..lawan dong, buat panas"in dia bukannya diam. dan sebenarnya apa yg dikaatakan clara itu harusnya dibjadikan senjata buat manasin balik clara.😌
Anisa675
heh Lo Bram. belain tuh kesayangan Lo. bisa-bisamya digituin
Anisa675
Ini nenek nya keblinger banget.. bodoh sebodoh-bodohnya... Aluna come on baby, wake up. banguuuun. banguuuun
Anisa675
Hilih2 Clara, nyebelin banget... Bener2 penghinaan sih.
ollyooliver🍌🥒🍆
selera berani dikatakan niat baik, trus bukannya dia sadar bahwa pakaian yg aluna pakai itu salah tapi dia menganggap aluna sensitif dan menganggap penghinaaan...haduhh bener otak dangkal🙂
ollyooliver🍌🥒🍆
gak ada balasan lagi..itulah kenapa ada celah baik ibumu dan ckara merasa menang😌
ollyooliver🍌🥒🍆
alasan klasik..


keluarga yg dibangun dengan pikiran dangkal dan bodoh..jeluarga terhormat tapi lawan satu aja..kalah..wkwkkwkw
ollyooliver🍌🥒🍆
bagus clara..pemeran pembantu tapi sangat pintar berbeda dengan aluna, pintarnya cuman adu kokop sama bram.😌
ollyooliver🍌🥒🍆
keluarga yg terhormat, punya usaha dan kolega dari berbagai karakter tapi gak bisa.membedakan yg mna yg palsu dan tdk dan lebih parahnya membiarkan aluna memakai baju yg gak pantas.diumurnya ..ini bukan untuk memperlhatkan kedewasan tapi ajang model panas. orng pintar pun pasti tau tapi lagi dan lagi, keluarga terhormat dan kaya tdk mencerminkan kepintaran kalau sdh dinovel.. kek salah diberikan identitas nih.😌
ollyooliver🍌🥒🍆
karna karkatermu di bangun sebagai wanita bodoh, makanya lo selalu dikadakin. pemeran utama kok gini ya🙂
ollyooliver🍌🥒🍆
nah kan , sdh tau clara licik malah diladenin dengan cara bodoh. ubah strategi, balas dengan cara licik juga. jangan cara aluna yg bodoh dan bram yg emosian. jelas kalau mereka begitu. calara akan selalu menang😌
Lfa🩵🪽: apasih clarajing idih idih dih si najis🤮🤮🤮
Aluna kok di buat lemah bgt gitu sih, plis deh
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
haduh..malah diadukan. dewasa dong
....dewasa😌
ollyooliver🍌🥒🍆
buat pakainnya sesuai ukuranmu, biar clara kesal😌
Senja_Puan
Mohon bersabar dengan Clara readers semua🤭
Senja_Puan
siap kakak-kakak ditunggu ya update bab selanjutnya 😍
Yasa
Lanjut thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!