Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Siang itu, Adinda tetap datang ke kantor seperti biasa. Ia tetap duduk di mejanya, membuka laptop, dan menjalankan pekerjaannya seperti hari-hari sebelumnya.
Namun kali ini, fokusnya terbagi. Pikirannya tidak sepenuhnya ada di layar. Nama Pak Arbani terus saja muncul di pikirannya, dan hal ini sedikit mengganggu aktivitasnya.
"Aku harus cari di mana lagi," pikirnya sendiri.
Hilang tanpa jejak setelah pertemuan terakhir mereka. Bukan kebetulan semata, dan ia sangat yakin jika hal ini ada kaitannya dengan warisan itu.
Adinda membuka salah satu file kerja, tapi yang ia cari bukan data kantor. Ia justru membuka catatan pribadinya—hal-hal kecil yang sempat ia ingat sejak kemarin.
Waktu terakhir. Tempat terakhir. Dan orang-orang yang mungkin terlibat. Ia tidak langsung mencari yang besar. Ia mulai dari yang paling sederhana.
“Kalau dia diambil… pasti ada yang lihat,” gumamnya pelan.
Matanya bergerak ke daftar akses gedung lama milik ayahnya—data yang dulu sempat ia tangani sebelum semuanya berubah.
Deretan nama itu seharusnya biasa saja. Petugas. Kurir. Aktivitas yang bisa dijelaskan tanpa perlu dicurigai.
"Ah, ini hanya petugas biasa," gumamnya.
Hingga sampai matanya berhenti di satu titik. Satu nama, yang tidak asing baginya, juga tidak membuatnya bingung seolah praduganya selama ini benar, tidak salah sama sekali.
Adinda tidak langsung menggeser layar. Ia diam di sana, nama itu bukan sekadar data—
melainkan sesuatu yang… pernah ia kenal lebih dekat dari yang ia ingatannya.
Ia berhenti. Mengulangnya sekali lagi, alisnya sedikit mengernyit.
“Mau sampai kapan kau seperti ini," ucapnya sendiri. "Kali ini biar aku sendiri yang menghentikan mu."
Kali ini ucapannya benar-benar yakin, ada tekad yang tidak bisa dicegah, mungkin selama ini dirinya hanya diam karena tidak mengingat, namun sekarang setelah semua tujuan ia ketahui mana mungkin Adinda akan diam.
Ia melanjutkan menjelajahi setiap akses yang ada di layar. Belum sempat ia menggali lebih jauh, suara dari meja sebelah terdengar.
“Din, kamu lagi nyari apa sih dari tadi serius banget?”
Adinda menoleh sekilas. “Data lama aja.”
“Data apa?”
“Arsip,” jawabnya singkat.
Rekan kerjanya mengangguk, meski jelas tidak terlalu mengerti.
Adinda kembali ke layar. Kali ini lebih fokus.
Ia memperbesar data itu.
Jam masuk. Jam keluar. Dan benar saja di situ ada satu akses yang tidak sesuai. Masuk. Tapi tidak tercatat keluar. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan panik. Tapi… menemukan sesuatu.
“Berarti… dia gak sendiri,” bisiknya.
Ini bukan kejadian spontan. Ini terencana. Dan seseorang sudah ada di sana sebelum semuanya terjadi.
☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain, ruangan itu terasa lebih sempit dari ukurannya. Bukan karena luasnya. Tapi karena tekanan yang mengisinya.
Pak Arbani duduk diam. Bahunya sedikit turun, tapi bukan karena menyerah. Lebih karena… menahan.
Langkah kaki terdengar masuk, sangat pelan dan tenang. Tapi cukup untuk mengisi ruangan itu dengan kehadiran yang tidak bisa diabaikan.
Perempuan itu datang tanpa suara berlebih. Berhenti tepat di depan meja, menatap Pak Arbani dengan tatapan mengintimidasi.
“Dia sudah mulai mencari.” Kalimat itu langsung dilempar, dan tidak ada basa-basi.
Pak Arbani tidak menjawab.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Dan seperti yang aku bilang… dia pasti ke kamu dulu.”
Ia menarik kursi, duduk perlahan, bibirnya terangkat sedikit seakan pria dihadapannya itu adalah umpan yang kapan saja siap jadi pancingan.
“Jadi sekarang kita ulang,” lanjutnya. “Apa yang kamu kasih ke dia?”
Suasana hening dan mencekam, angin pagi yang seharusnya menyejukkan namun untuk hari ini justru menyesakkan.
Pak Arbani tetap diam. Tatapannya lurus ke depan. Perempuan itu menghela napas pendek, tidak kesal. Lebih seperti… mengukur ulang.
“Kamu pikir diam itu cukup?” tanyanya pelan.
Tidak ada jawaban, perempuan itu sedikit menyipitkan matanya, untuk kali ini dia tidak menunggu jawaban. sekali-kali tangannya mengetuk-ngetuk diatas meja. Lalu berhenti.
“Masalahnya,” ucapnya lagi, “dia sudah terlalu dekat.”
Tatapannya sedikit berubah lebih tajam. “Dan kalau dia sampai tahu soal anak itu…”
Kalimatnya menggantung. Namun cukup jelas arahnya.
Untuk pertama kalinya rahang Pak Arbani mengeras dan reaksi kecil itu cukup membuat perempuan itu tersenyum puas.
“Ah… jadi ini yang kamu jaga.” Ia bersandar santai. “Berarti benar. Semua ini… bukan soal harta.”
Matanya menyipit tipis. “Tapi soal siapa yang lebih dulu sampai ke dia.”
☘️☘️☘️☘️☘️
Di kantor— Adinda menutup layar perlahan. Ia tidak lagi butuh data tambahan. Yang ia temukan… sudah cukup untuk satu langkah berikutnya.
Bukan jawaban besar. Tapi arah. Dan itu lebih penting. Ia meraih ponselnya seperti biasa nama Naya langsung muncul.
“Ketemu sesuatu?” tanya Naya begitu tersambung.
Adinda tidak langsung menjawab.
Tatapannya lurus ke depan.
“Ada satu nama yang gak seharusnya ada di sana malam itu.”
“Siapa?”
Adinda menarik napas pelan. “Dan aku rasa… ini bukan orang biasa.”
Ia menutup ponselnya perlahan. Bukan karena pembicaraan selesai. Tapi karena langkah berikutnya… sudah tidak bisa ditunda lagi.
Bersambung ....