Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengancam
Evan mengambil beberapa kotak lingerie dari rak, lalu menyerahkannya ke Raisa dengan santai.
"Nih, coba yang ini."
Raisa langsung membelalak melihat modelnya.
"Mas… ini terlalu terbuka!"
Evan malah tersenyum puas.
"Bagus, kan?"
Raisa buru-buru menurunkan kotaknya karena malu.
"Aku nggak mungkin pakai beginian."
Evan mendekat sedikit sambil berbisik,
"Mas yakin kamu bakal cantik banget kalau pakai itu."
Pipi Raisa makin merah.
"Dasar mesum…"
Evan tertawa kecil lalu mendorong pelan punggung Raisa ke arah fitting room.
"Ayo dicoba dulu."
Raisa langsung menahan pintunya.
"Loh, kamu ngapain ikut?"
Evan pura-pura polos.
"Mau lihat mana yang paling bagus."
"Mas!" Raisa memukul pelan dadanya. "Nggak boleh!"
Evan bersandar santai di dekat pintu fitting room sambil tersenyum jahil.
"Yaudah… mas tunggu di luar. Tapi nanti kasih lihat, ya."
Raisa langsung melotot malu.
"Nggak mau!"
Evan tertawa kecil melihat wajah paniknya.
Raisa akhirnya masuk ke fitting room sambil membawa beberapa kotak itu. Begitu pintu tertutup, ia memegang pipinya sendiri yang terasa panas.
"Ya ampun… kenapa aku mau aja dibawa masuk sini…" gumamnya malu.
Di luar, Evan masih tersenyum sambil sesekali melirik pintu fitting room membayangkan betapa lucunya Raisa yang pasti sedang salah tingkah di dalam sana.
Beberapa menit berlalu.
Evan yang menunggu di luar mulai mengetuk pelan pintu fitting room.
"Sa… lama banget."
Dari dalam langsung terdengar suara gugup Raisa.
"Aku malu, mas…"
Evan tertawa kecil.
"Memangnya mas belum pernah lihat kamu?"
"Kan beda!" balas Raisa cepat.
Evan menyandarkan bahu di dekat pintu sambil tersenyum jahil.
"Kalau nggak keluar, mas masuk nih."
"Jangan!" Raisa langsung panik.
Tak lama kemudian pintu fitting room terbuka sedikit. Raisa hanya mengintipkan wajahnya yang sudah merah sampai telinga.
"Gimana…?" tanyanya pelan.
Evan mengangkat alis.
"Loh, orangnya mana?"
"Aku malu keluar."
Evan mendekat sedikit.
"Mas nggak bisa nilai kalau cuma lihat muka."
Raisa mendengus malu lalu akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar.
IRaisa memegang beberapa paper bag sambil melirik kanan kiri.
"Aku ke toilet dulu ya, mas."
Evan mengangguk santai lalu mengambil semua paper bag dari tangan Raisa.
"Sana. Biar mas yang pegang."
Raisa tersenyum kecil.
"Iya."
Ia berjalan menuju toilet wanita, sementara Evan berdiri di depan toko sambil memainkan ponselnya.
Tiba-tiba sebuah suara membuatnya menoleh.
"Mas Evan?"
Evan mengernyit begitu melihat Mona berjalan mendekat dengan wajah terkejut.
"Kamu?" ucap Evan datar.
Mona langsung melirik paper bag di tangan Evan lalu melihat papan toko di belakangnya.
"Mas lagi ngapain di depan Victoria’s Secret?" tanyanya curiga. "Jangan-jangan mas mau beliin selingkuhan mas lingerie?"
Evan menghela napas malas.
"Ngagetin aja."
Mona melipat tangan di dada.
"Jawab dulu."
Evan menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalau iya memangnya kenapa?"
Mata Mona langsung membesar.
"Ya jelas masalah! Mas… aku masih cinta sama kamu."
Evan tertawa kecil sinis.
"Cinta sama saya… atau sama harta saya?"
"Mas!"
Evan memotong dingin.
"Sudahlah, Mon. Cari laki-laki lain di luar sana."
Tatapannya berubah tajam.
"Saya ini bajingan. Jangan berharap banyak."
Wajah Mona mulai memerah menahan emosi.
"Tapi aku nggak bisa lupain mas."
Evan menggeleng kecil.
"Itu urusan kamu."
Mona menggigit bibirnya lalu berkata nekat,
"Aku hamil."
Evan langsung diam beberapa detik.
Mona menatapnya penuh harap.
"Kamu harus tanggung jawab. Kalau nggak… aku bilang sama Papa kamu."
Tatapan Evan langsung berubah dingin.
"Hamil?"
Mona mengangguk cepat.
"Iya."
Evan tertawa kecil tidak percaya.
"Saya saja nggak pernah menyentuh kamu selama menikah."
Wajah Mona menegang.
"Lalu kamu hamil anak siapa?"
"Mas…"
Evan melangkah mendekat sedikit, suaranya rendah namun tajam.
"Jangan ancam saya, Mona."
Ia menatap lurus mata wanita itu.
"Saya lebih nekat dari kamu."
Mona langsung terdiam, napasnya tertahan.
Sementara Evan berdiri tenang—
tatapannya menunjukkan kalau ia sama sekali tidak takut pada ancaman itu.Ia memakai lingerie satin berwarna lembut dengan cardigan panjang menutupi sebagian tubuhnya.
Evan langsung diam beberapa detik.
Raisa makin salah tingkah saat Evan terus menatapnya.
"J-jelek ya…?" tanyanya pelan.
Evan menggeleng perlahan.
"Cantik."
Raisa langsung menunduk malu.
Evan mendekat sedikit lagi, suaranya melembut.
"Bahaya kalau kamu begini depan mas."
"Mas… jangan mulai aneh-aneh di sini," bisik Raisa panik sambil melirik sekitar.
Evan tertawa kecil melihat wajah tegangnya.
"Mas cuma ngomong jujur."
Raisa buru-buru menarik cardigan-nya lebih rapat.
"Udah ah… aku ganti lagi."
Evan menahan pergelangan tangannya sebentar.
"Yang ini ambil."
Raisa membelalak.
"Mas serius mau beli?"
"Iya."
"Tapi mahal…"
Evan tersenyum santai.
"Kalau buat kamu, nggak ada yang mahal."
Raisa menatap Evan beberapa detik, lalu tanpa sadar tersenyum kecil meski jantungnya masih berdebar karena tatapan pria itu tidak pernah berubah sejak tadi.
Raisa buru-buru masuk kembali ke fitting room, jantungnya masih berdebar karena tatapan Evan tadi.
Di dalam, ia cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan baju semula sambil mengomel pelan sendiri.
"Dasar mesum… lihatnya kayak mau makan orang aja," gumamnya malu.
Beberapa menit kemudian Raisa keluar sambil membawa lingerie yang tadi dicoba.
Evan langsung berdiri dari sofa tunggu.
"Udah?"
Raisa mengangguk kecil.
"Iya…"
Evan mengambil kantong belanja yang sudah dibungkus pegawai toko.Raisa mengernyit bingung melihat jumlahnya.
"Mas… itu apa?"
Evan menjawab santai,
"Yang tadi mas pilih."
Raisa langsung membelalak.
"Loh, banyak banget?!"
Evan terkekeh kecil melihat reaksinya.
"Mas beli tiga kodi bermacam-macam model. "
"Ini bukan tiga kodi, ini banyak!" Raisa memegang salah satu paper bag dengan wajah tidak percaya. "Aku pakainya kapan?"
Evan mendekat sambil berbisik jahil,
"Pelan-pelan… nanti mas bantu pilih tiap malam."
Pipi Raisa langsung panas.
"Mas!"
Evan malah tertawa puas.
Raisa memukul pelan lengannya.
"Kamu tuh ya…"
Evan menggoda lagi,
"Salah sendiri bikin Mas kecanduan."
Raisa mendengus malu sambil berjalan lebih dulu keluar toko.
Evan mengikuti di belakang sambil membawa sebagian besar paper bag dengan senyum tipis di wajahnya.
Raisa memegang beberapa paper bag sambil melirik kanan kiri.
"Aku ke toilet dulu ya, mas."
Evan mengangguk santai lalu mengambil semua paper bag dari tangan Raisa.
"Sana. Biar mas yang pegang."
Raisa tersenyum kecil.
"Iya."
Ia berjalan menuju toilet wanita, sementara Evan berdiri di depan toko sambil memainkan ponselnya.
Tiba-tiba sebuah suara membuatnya menoleh.
"Mas Evan?"
Evan mengernyit begitu melihat Mona berjalan mendekat dengan wajah terkejut.
"Kamu?" ucap Evan datar.
Mona langsung melirik paper bag di tangan Evan lalu melihat papan toko di belakangnya.
"Mas lagi ngapain di depan Victoria’s Secret?" tanyanya curiga. "Jangan-jangan mas mau beliin selingkuhan mas lingerie?"
Evan menghela napas malas.
"Ngagetin aja."
Mona melipat tangan di dada.
"Jawab dulu."
Evan menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalau iya memangnya kenapa?"
Mata Mona langsung membesar.
"Ya jelas masalah! Mas… aku masih cinta sama kamu."
Evan tertawa kecil sinis.
"Cinta sama saya… atau sama harta saya?"
"Mas!"
Evan memotong dingin.
"Sudahlah, Mon. Cari laki-laki lain di luar sana."
Tatapannya berubah tajam.
"Saya ini bajingan. Jangan berharap banyak."
Wajah Mona mulai memerah menahan emosi.
"Tapi aku nggak bisa lupain mas."
Evan menggeleng kecil.
"Itu urusan kamu."
Mona menggigit bibirnya lalu berkata nekat,
"Aku hamil."
Evan langsung diam beberapa detik.
Mona menatapnya penuh harap.
"Kamu harus tanggung jawab. Kalau nggak… aku bilang sama Papa kamu."
Tatapan Evan langsung berubah dingin.
"Hamil?"
Mona mengangguk cepat.
"Iya."
Evan tertawa kecil tidak percaya.
"Saya saja nggak pernah menyentuh kamu selama menikah."
Wajah Mona menegang.
"Lalu kamu hamil anak siapa?"
"Mas…"
Evan melangkah mendekat sedikit, suaranya rendah namun tajam.
"Jangan ancam saya, Mona."
Ia menatap lurus mata wanita itu.
"Saya lebih nekat dari kamu."
Mona langsung terdiam, napasnya tertahan.Sementara Evan berdiri tenang tatapannya menunjukkan kalau ia sama sekali tidak takut pada ancaman itu.
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣