Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lupa Helmnya
Sore ini aku sudah mandi, rapi, dan wangi di depan cermin.
Setelah rutinitas harian—latihan yang sekarang kupindahkan ke sore sejak mulai sekolah—badanku terasa lebih ringan.
Aku merapikan rambut sebentar.
Menatap bayangan sendiri.
“Ayo, tampan… kita berangkat,” gumamku pelan, setengah bercanda.
Aku keluar kamar.
Ruang tengah kosong.
Sepertinya kakak masih di kamar, dan ibu mungkin masih sibuk di ruang kerja.
Aku memilih lewat belakang rumah.
Saat melewati dapur, kulihat Bi May sedang sibuk menyiapkan masakan.
Aroma makanan mulai terasa.
Aku berhenti sejenak.
“Bi, kalau ibu nanyain, aku main ke rumah Cila,” ucapku singkat.
“Iya, Dek,” jawabnya, menoleh sebentar sambil tersenyum, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Aku lanjut melangkah.
Menuju rumah sebelah.
Rumah Cila.
—
Pintu besi belakang terbuka.
Aku masuk seperti biasa.
Dan langsung melihat Cila.
Dia sedang duduk di sofa belakang rumahnya.
Bersama ayahnya.
Sepertinya sedang ngobrol serius.
Langkahku sedikit melambat.
Tapi tetap mendekat.
“Sore, Om,” sapaku sopan.
Ayah Cila langsung menoleh.
“Eh, Rendra. Sini, duduk,” katanya ramah.
“Iya, Om,” jawabku.
Aku duduk di kursi kosong lainnya.
Cila sempat melirik ke arahku.
Sebentar.
Lalu kembali ke arah ayahnya.
“Ya sudah, Om ke dalam dulu,” kata ayahnya tiba-tiba sambil bersiap berdiri.
Aku sedikit bingung.
“Lho, kok—” ucapku refleks.
Beliau berhenti.
Menoleh ke arahku.
Sejenak diam.
Lalu tersenyum tipis.
“Gimana kalau kita main catur sebentar?” katanya, nada suaranya santai… tapi seperti sengaja.
Aku belum sempat menjawab—
“Papa…” keluh Cila pelan, terdengar jelas nada protesnya.
Ayah Cila tertawa kecil, lalu benar-benar berdiri.
“Ya udah, ya udah…” katanya santai sambil melangkah pergi.
Aku menahan senyum.
Sepertinya…
aku datang di waktu yang “pas”.
“Papa kamu… gapapa kan?” tanyaku, sedikit nggak enak.
“Gapapa. Papa aku emang gitu,” jawab Cila santai.
Aku mengangguk kecil.
“Tapi tadi lagi bahas apa sih? Kelihatannya serius amat,” tanyaku lagi.
Cila diam sebentar.
“Aku berencana mau sekolah di luar negeri,” jawabnya, kali ini lebih serius.
Aku langsung menoleh.
“Hah? Yang bener?”
Cila malah nyengir.
“Hehe… nggak.”
Aku menghela napas.
“Ya ampun…”
“Maksudnya nanti… kalau kuliah, pengennya di luar negeri,” lanjutnya.
Aku mengangguk pelan.
“Kamu yakin?”
Cila mengangkat bahu sedikit.
“Nggak tahu juga sih… soalnya kan kita nggak tahu ke depannya kayak gimana.”
“Hmmm…” aku cuma mengangguk.
“Tapi dari dulu aku emang pengen banget kuliah di sana,” lanjutnya.
“Di mana?” tanyaku.
Cila menatap ke depan sebentar.
“Di negara tetangga,” jawabnya.
Aku menunggu.
“Kebetulan tante aku tinggal di sana,” lanjutnya.
Nada suaranya mulai berubah.
Lebih hidup.
“Dulu aku pernah ke sana beberapa hari,” katanya.
Aku melirik ke arahnya.
“Serius?”
“Iya. Kotanya rapi banget,” katanya. “Kayak… semua tertata. Jalanannya bersih, hampir nggak ada sampah.”
Aku mulai membayangkan.
“Transportasinya juga enak. Mau ke mana-mana gampang,” lanjutnya. “Naik kereta, bus… semuanya jelas.”
Dia tersenyum kecil.
“Terus banyak banget tempat jalan-jalan. Ada taman besar yang lampunya cantik banget kalau malam,” katanya. “Kayak… bukan cuma taman biasa.”
Aku hanya diam, mendengarkan.
“Terus ada juga tempat yang penuh sama bangunan tinggi… tapi di bawahnya banyak tempat makan,” lanjutnya. “Makanannya macem-macem. Dari yang sederhana sampai yang unik.”
Aku tersenyum tipis.
“Kedengarannya seru,” kataku.
“Iya,” jawabnya cepat. “Dan rasanya… aman. Nyaman.”
Dia berhenti sebentar.
Seolah mengingat sesuatu.
“Aku suka suasananya,” katanya pelan.
Aku menoleh ke arahnya.
Melihat ekspresinya.
Matanya sedikit berbeda.
Seperti benar-benar ingin kembali ke sana.
Aku mengangguk pelan.
“Ya… aku bisa lihat,” gumamku.
Cila sedikit terdiam.
Lalu tersenyum kecil.
“Emang kelihatan, ya?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Beberapa detik kami sama-sama diam.
Aku menatap ke depan.
Tapi pikiranku nggak sepenuhnya di situ.
Entah kenapa…
ada sedikit rasa aneh muncul.
Tipis.
Nggak jelas.
Tapi terasa.
Aku menarik napas pelan.
“Ya… bagus sih,” kataku akhirnya. “Kalau emang itu yang kamu mau.”
Cila mengangguk.
“Iya.”
Dia terlihat tetap tenang.
Tapi pikiranku…
nggak.
Kalau dia benar-benar pergi…
berarti aku nggak bisa melihat wajahnya, senyumnya secara langsung.
Untuk saat ini, aku merasa berat membayangkan jika itu terjadi.
Atau mungkin, semakin lama dia akan lupa sama keberadaanku.
Aku menarik napas pelan.
Berusaha menghentikan pikiranku sendiri.
“Hey.”
Suara Cila tiba-tiba memotong.
“Kok malah melamun?”
Aku langsung menoleh.
“Hehe… enggak kok,” jawabku cepat.
Cila memperhatikan sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Yaa… belum tentu juga sih,” katanya santai.
“Di sini juga aku merasa nyaman.”
Aku mengangguk pelan.
Entah kenapa…
kalimat itu cukup buat bikin dadaku sedikit lebih ringan.
“Oo iya,” lanjutnya.
“Kalau kamu rencananya kuliah di mana? Ambil jurusan apa?”
Aku berpikir sebentar.
“Mmm… kalau di mana, aku belum tahu,” jawabku jujur.
“Tapi kalau jurusan…”
Aku berhenti sebentar.
“…teknik mesin, kayaknya.”
Cila langsung menoleh.
“Mesin?”
Aku mengangguk.
“Iya. Aku dari dulu emang suka yang berhubungan sama mesin. Motor, cara kerjanya, modif… gitu-gitu,” jelasku santai.
Cila tersenyum.
“Pantes,” katanya. “Dari cara kamu merawat si 73 biru itu, dan waktu nolong memperbaiki motor pengendara lain di jalan, sepertinya kamu akan lebih mudah menguasainya.”
Aku cuma nyengir kecil.
“Yaa… tetap masih harus banyak belajar. Kalau kamu?” tanyaku balik.
Cila berpikir sebentar.
“Aku… pengen ambil manajemen,” jawabnya.
“Manajemen?”
“Iya,” lanjutnya. “Lebih ke arah bisnis atau keuangan gitu. Kayak… ngatur sesuatu, bikin rencana, terus lihat hasilnya jalan.”
Aku mengangguk.
“Kedengarannya ribet.”
Cila langsung ketawa kecil.
“Ih, nggak juga. Justru seru,” katanya.
“Apalagi kalau nanti kerja di perusahaan… bagian yang ngatur atau pegang keputusan.”
Aku memperhatikan wajahnya.
Cara dia ngomong…
terlihat yakin.
“Cocok sih,” kataku.
“Apanya?” tanyanya.
“Ya… kamu,” jawabku santai. “Kelihatannya emang tipe yang bisa ngatur.”
Cila menatapku sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Emang kelihatan ya?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Kami sama-sama diam beberapa detik.
Suasana jadi lebih tenang.
Tapi bukan yang canggung.
Lebih ke…
nyaman.
Dan entah kenapa—
aku jadi mikir lagi.
Kalau nanti jalannya beda…
apa kita masih bisa kayak gini?
Setelah itu, suasana sempat hening sebentar.
Cila tiba-tiba mengubah topik.
“Oh iya… tadi temen-temen kamu yang kamu tolong di jalan, ya?” tanyanya.
Aku tersenyum kecil.
“Hehe iya… aku juga ngerasa dunia kecil banget,” jawabku santai.
Cila mengangguk pelan.
“Tapi bagus sih. Kamu baru aja ke sini, tapi udah punya banyak temen,” katanya.
Aku cuma tersenyum dan mengangguk.
“Iya… lumayan cepat nyambung juga,” jawabku.
Aku lalu sedikit menoleh ke arahnya.
“Kamu gimana tadi? Teman-teman kamu… asik?” tanyaku.
Cila langsung terlihat lebih santai.
“Iya. Mereka teman SMP aku,” jawabnya. “Kebetulan satu kelas lagi sekarang.”
“Namanya Prisia sama Gita. Dari dulu emang udah dekat.”
“Tau nggak,” lanjutnya sambil tersenyum, “lucunya waktu SMP kenapa kita bisa dekat… soalnya namaku sama Prisia hampir mirip.”
Dia tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum.
“Haha, iya ya,” aku mengangguk pelan.
Cila jadi makin semangat bercerita.
Katanya tadi rasanya seperti reuni kecil.
Mulai dari cerita guru dulu, kejadian lucu di kelas, sampai hal-hal sepele yang entah kenapa jadi seru kalau diingat lagi.
Aku hanya mendengarkan.
Sesekali mengangguk.
Sesekali ikut tersenyum.
Bukan karena ceritanya luar biasa—
tapi karena cara dia menceritakannya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Baru sadar, hari sudah mulai gelap.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Pesan dari Kak Marisa.
“Makan dulu woy, jangan pacaran mulu.”
Aku tersenyum kecil.
“Iya, bawel. Lagian siapa juga yang pacaran,” balasku.
“Kenapa?” tanya Cila.
“Enggak, ini Kak Marisa nyuruh makan dulu,” jawabku.
“Hmmm,” Cila mengangguk pelan.
“Ya udah, aku pulang ya,” kataku sambil beranjak.
“Ya udah… eh, Rendra, tunggu. Ini helmnya ketinggalan,” ucapnya sambil menyodorkan.
“Oh iya,” jawabku sambil menerimanya.
Padahal besok juga Cila yang pakai.
Sebenarnya nggak perlu diambil.
Tapi dengan begini…
aku punya alasan untuk kembali.
Dan mungkin, melihat senyumnya sedikit lebih lama.