Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Gadis?
"Mereka dua orang yang berbeda."
Ucapan itu meluncur tenang namun tegas dari bibir Sean, seolah-olah setiap kata yang terucap adalah keputusan mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan kantor keluarga Kennedy yang megah dan berwibawa itu, langkah kakinya terdengar berat, memantul di lantai marmer yang mengkilap.
Siang itu, sinar matahari yang terik menembus jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, membanjiri ruangan dengan cahaya keemasan. Namun, cahaya hangat itu sama sekali tidak mampu menghangatkan suasana yang terasa begitu dingin, kaku, dan penuh ketegangan yang mencekam di ruangan itu. Udara terasa berat, seolah-olah ada dinding tak terlihat yang memisahkan kedua pria yang kini saling berhadapan.
Sean berdiri tegak di hadapan meja kerja besar yang ditempati oleh Nagara, dengan postur tubuh yang angkuh khas seorang pemimpin perusahaan besar. Bahunya yang tegak, tatapannya yang tajam, dan aura dominan yang memancar dari setiap inci tubuhnya membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa kecil. Namun, di hadapan Nagara, calon kakak iparnya. Sean tidak menunjukkan rasa hormat yang berlebihan. Sebaliknya, ada ekspresi konyol dalam tingkahnya.
"Aku sudah membaca laporan yang Hans kasih, aku dan Hans juga menduga begitu," jawab Nagara dengan suara berat, serak namun jelas. Sambil menarik napas panjang seolah berusaha menahan beban pikiran yang melanda pikirannya, tangannya meremas kertas laporan di atas meja dengan cukup kuat. Kertas itu berkerut di genggamannya, seolah mencerminkan kekacauan pikiran yang sedang ia rasakan.
Di sampingnya, Hans. asisten pribadi nya, hanya berdiri diam dengan kepala tertunduk, pandangannya terfokus pada ujung sepatunya sendiri. Ia tak berani menyela percakapan kedua pria berkuasa itu, takut jika satu kata yang salah keluar dari mulutnya, ia akan menjadi korban amarah yang meledak-ledak. Hening yang mencegah menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara napas berat dari kedua pria itu.
"Ini pemberitahuan, bukan pertanyaan!" Seru Sean tiba-tiba, suaranya meninggi tajam, memecah keheningan. Ia menatap Nagara dengan tatapan yang kini berubah menjadi tajam dan menantang, menyimpan rasa kesal yang jelas terlihat. Bagi Sean, hal yang sudah jelas seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Ia tidak suka bertele-tele, apalagi jika harus menjelaskan hal yang menurutnya begitu mendasar kepada seseorang yang seharusnya bisa berpikir cepat.
"Maksudmu? Kau sudah menemukan bukti pasti bahwa mereka dua gadis yang berbeda?" Tanya Nagara, alisnya terangkat tinggi dan dahinya mengerut dalam menatap Sean. Matanya yang cokelat gelap memancarkan rasa penasaran yang bercampur dengan ketidakpercayaan. Meskipun Sean adalah calon adik iparnya. pria yang akan menikahi adik perempuannya, namun aura Sean sebagai CEO perusahaan terbesar di Indonesia terkadang membuat Nagara merasa kesal dan tertantang. Sikap Sean yang sering kali terlihat meremehkan dan terlalu percaya diri selalu berhasil memicu emosi Nagara, membuatnya merasa ingin menantang keangkuhan pria itu.
"Sean! Jelaskan sekarang juga!" Seru Nagara lagi, nadanya naik satu oktaf, menunjukkan ketidaksabarannya yang sudah memuncak. Ia tidak suka digantung seperti ini, apalagi jika menyangkut hal yang membuatnya penasaran dan gelisah. Tangannya yang lain mengetuk-ngetuk meja dengan cepat, tanda bahwa ia sedang menahan emosinya sekuat tenaga.
"Bagaimana kau bisa jadi CEO sih, Ra? Mencari tahu hal sekecil ini aja lemot!" Sindir Sean dengan nada sinis yang tajam, senyum miring terukir di bibirnya. Sebagai CEO perusahaan Samir yang sudah go internasional dan memiliki jaringan luas di seluruh dunia, mencari tahu perihal identitas seseorang atau masalah percintaan bagi Sean adalah hal yang sangat sepele, bahkan bisa dibilang mainan nya sejak anak-anak. Namun, karena merasa Nagara terlalu lambat dalam menangkap hal yang jelas, ia justru tak segan meremehkan calon kakak iparnya itu, seolah-olah kemampuan Nagara sebagai pemimpin patut diragukan.
"Cepat jelaskan atau ku cabut restuku!" Ancam Nagara dengan nada dingin dan penuh otoritas, suaranya rendah namun mematikan. "Kalau kau terus bertele-tele seperti ini, aku akan meminta Nayra untuk membatalkan pernikahanmu. Aku dan adik-adikku bisa kok merawat anak yang ada di kandungan Nayra dengan baik, tanpa kehadiranmu!"
Ancaman itu meluncur begitu saja dari mulut Nagara, namun setiap kata yang diucapkannya memiliki bobot yang berat dan mampu membuat suasana ruangan menjadi semakin mencekam. Hans yang berdiri di samping Nagara bahkan menahan napas, tak berani bergerak sedikit pun. Ia tahu, ketika Nagara sudah bicara seperti ini, artinya ia benar-benar serius.
"Dih, ngancem ya?" Sean terkekeh sinis, namun matanya memancarkan kilatan marah yang tak bisa disembunyikan. Tawanya terdengar hampa, penuh dengan sarkasme. "Pernikahanku tinggal dua hari lagi, Ra. Jangan macam-macam ya, jangan coba-coba main api dengan aku!" Sengit Sean, kini ia justru balik mengancam Nagara dengan tatapan tajam yang tak mau kalah. Matanya yang biru pucat kini tampak membara, seolah-olah ada api yang menyala di dalamnya.
"Oke, itu artinya kau menantangku!" Seru Nagara, tangannya menghantam meja kerja dengan keras, membuat benda-benda di atasnya bergetar. Gelas kaca yang berisi air berdentang beradu dengan piring kecil yang menjadi alas gelas itu, dan beberapa berkas kertas terjatuh ke lantai. Ia merasa kesal diancam oleh orang yang baru saja akan menjadi bagian dari keluarganya.
"Berani kau gagalkan pernikahanku, ku buat bangkrut perusahaan Kennedy!" Seru Sean tidak main-main. Suaranya rendah namun penuh dengan ancaman yang nyata, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding. Sebagai pemilik perusahaan Samir yang kekayaannya tak terhitung jumlahnya, ia tahu betul kekuatan yang ia miliki dan tidak ragu untuk menggunakannya jika perlu. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan calon kakak iparnya sendiri, menghalangi kebahagiaannya dengan Nayra dan anak yang akan lahir.
"Kau kira aku takut kehilangan perusahaan ini?" Tantang Nagara dengan berani, wajahnya memerah karena emosi yang memuncak. Urat-urat di lehernya terlihat menonjol, menunjukkan betapa marahnya ia. "Bisnisku bukan cuma di perusahaan ini, Sean! Aku punya banyak cabang dan investasi di luar sana yang bahkan tidak kau ketahui! Kau pikir kau satu-satunya orang yang punya kekuatan di dunia ini?"
"Aset keluarga Kennedy jauh di bawah keluarga Samir! Kau kira aku tidak bisa membuat kau miskin dalam waktu singkat, hanya dalam hitungan hari?" Seru Sean, ia melangkah maju selangkah, mendekatkan wajahnya ke arah Nagara, menunjukkan bahwa ia benar-benar serius dengan ucapannya. Jarak antara mereka kini hanya beberapa sentimeter, napas mereka saling bertemu, dan ketegangan di udara terasa begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau.
Dua kepala pemimpin perusahaan raksasa itu kini saling berhadapan, saling lempar ancaman satu sama lain karena tidak mau kalah. Keduanya berdebat sengit, suara mereka bergema di seluruh ruangan, menciptakan suasana yang begitu tegang dan mencekam. Kata-kata tajam saling terlempar, seperti pedang yang saling menusuk, tak ada yang mau mengalah.
Melihat majikannya dan tamu yang seharusnya menjadi keluarga saling bertengkar hebat, kedua asisten mereka. Hans dan Roy, hanya bisa saling berpandangan bingung, sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Mereka ingin menyela tapi ada rasa takut, takut jika emosi kedua bos yang sudah meledak itu justru beralih ke arah mereka. Mereka hanya bisa berharap ada keajaiban yang bisa meredakan kemarahan kedua pria itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
"Kau lakukan saja ancamanmu itu!" Seru Nagara lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih dingin dan mematikan, seolah-olah ia sudah kehilangan akal sehatnya karena marah. "Akan ku pastikan kau tidak bisa melihat anak yang ada di kandungan Nayra! Dan selamanya kau tidak akan memiliki keturunan!"
Ucapan itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Mendengar ancaman yang begitu kejam itu, waktu seolah berhenti berputar sejenak. Tangan Sean yang tergantung di samping tubuhnya perlahan mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih dan urat-urat biru terlihat menonjol di punggung tangannya. Sorot matanya yang tadinya hanya kesal kini berubah menjadi tajam dan berbahaya, memancarkan amarah yang tertahan namun siap meledak kapan saja.
Ancaman terhadap keturunannya adalah hal yang paling tidak bisa ia terima. Bagi Sean, anak yang ada di kandungan Nayra adalah segalanya, harapan dan masa depannya. Mendengar Nagara berani mengancam hal itu, rasanya ia ingin meledak dan menghancurkan segalanya di hadapannya. Namun, ia menahan diri sekuat tenaga, mencoba tetap berpikir jernih meskipun emosinya sudah berada di ambang ledakan.
"Tuan Nagara, Tuan Sean, tolong tenang dulu..." Cicit Roy, asisten pribadi Sean, yang akhirnya tidak tahan lagi melihat kedua CEO itu terus berdebat tanpa henti. Roy tahu yang Sean lakukan hanya untuk menggoda Nagara, tapi nampaknya Nagara justru menganggap itu semua serius. Ia melangkah maju sedikit, memberanikan diri untuk menyela meskipun kakinya terasa gemetar. "Saya sudah menyelidiki hal ini secara mendalam, Tuan. Nona Arumi adalah gadis yang bekerja di sebuah bank swasta ternama. Dia besar dan tumbuh di panti asuhan sejak kecil, tidak memiliki keluarga yang diketahui. Hidupnya sederhana, penuh dengan perjuangan untuk bertahan hidup."
Roy berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan, suaranya sedikit bergetar namun tetap lugas. "Sedangkan Nona Arimbi, dia adalah putri tunggal dari bos batu bara yang sangat kaya raya. Hidupnya penuh dengan kemewahan dan privilese, tumbuh di lingkungan yang eksklusif dan selalu dilindungi. Mereka jelas adalah dua gadis yang berbeda, Tuan. Latar belakang, kehidupan, bahkan karakter mereka. semuanya berbeda."
Penjelasan Roy yang lugas dan jelas itu akhirnya membuat suasana ruangan sedikit mereda, meskipun ketegangan masih terasa kental. Nagara perlahan menarik tangannya dari meja, dan Sean pun melonggarkan kepalan tangannya, namun tatapan mereka masih saling bertautan dengan tajam.
"Kenapa mereka bisa memiliki wajah yang sangat mirip? Hampir sama persis? Apa mungkin mereka kembar yang terpisah?" Gumam Nagara pelan, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dahinya masih mengerut dalam, pikirannya bekerja keras mencoba mencari jawaban atas keanehan ini. Wajah yang begitu identik namun latar belakang yang sangat berbeda, itu sangat tidak masuk akal baginya. Seolah-olah ada kekuatan misterius yang sedang bermain dengan nasib mereka.
"Saya sudah menyelidiki hal itu juga, Tuan. Kedua nya tidak mungkin kembar. Karena bos batu bara itu, ayah dari Nona Arimbi. hanya memiliki satu putri saja. Tidak ada catatan tentang anak kembar atau anak lain yang lahir bersamaan, baik di catatan sipil maupun di rumah sakit tempat Nona Arimbi lahir," jawab Roy dengan tegas, memastikan informasinya akurat dan terpercaya.
Di sampingnya, Sean tampak mendengus kesal, lalu menarik napas panjang dengan kasar seolah berusaha menahan emosinya yang masih meluap-luap. Wajahnya masih terlihat masam, jelas ia masih merasa kesal dengan perdebatan tadi dan juga dengan situasi yang rumit ini. Masalah ini semakin menjadi-jadi, dan ia tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya tanpa menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.
"Kau kenapa?" Tanya Nagara tiba-tiba, mengalihkan pandangannya dari Roy ke arah Sean yang terlihat kesal itu. Tatapannya masih tajam, namun kali ini lebih ke arah rasa penasaran daripada kemarahan. Ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh calon adik iparnya itu, dan apakah ada hal lain yang sedang disembunyikan darinya.