NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Baru ke Barat

Embun pagi turun di Brussel ketika mereka bangun setelah malam yang panjang dengan pertemuan, wawancara, dan makan malam formal. Cahaya matahari masih berwarna pastel, menimbulkan bayangan panjang di lantai kamar hotel mereka. Aroma roti panggang dan kopi dari restoran lantai bawah mengisi lorong. Mereka tahu perjalanan mereka belum selesai, dan undangan ke Italia dan Inggris sudah menunggu. Namun, sebelum itu, mereka memutuskan untuk menikmati pagi di Brussel, berjalan kaki di jalan berbatu, melihat arsitektur Eropa, dan menghirup udara segar musim semi.

Mereka berjalan ke Manneken Pis, patung kecil terkenal yang membuat semua turis berhenti. Tento menatap patung itu. “Ini seperti simbol perlawanan kecil,” katanya. Mereka kemudian menuju ke Pasar Minggu, mencicipi wafel Belgia dengan cokelat dan whipped cream. Di stand lain, mereka mencoba moules frites, kerang dengan kentang. Budi mengambil foto, mengirim ke grup keluarga. “Cita rasa aneh, tapi menyenangkan,” katanya. Rina membeli beberapa kain dengan motif batik imitasi, menggeleng kepala. “Lucu, tapi batik di sini,” katanya. Mereka tertawa.

Sore harinya, mereka naik kereta cepat ke Paris, lalu mengambil kereta ke Milan. Suara roda kereta di rel mengiringi mereka melewati pedesaan, sawah, kota kecil, pegunungan. Mereka membaca buku, memeriksa email, atau melamun. Sesekali, mereka melihat gereja tua, kastil, dan ladang bunga. Perjalanan ini panjang, tapi mereka menikmatinya. Budi menggambar pemandangan di buku sketsanya, menambahkan komentar lucu. “Ini ladang macam di FTV, tapi lebih asli,” tulisnya. Mereka tidur sebentar. Ketika mereka terbangun, matahari terbenam di balik gunung, menciptakan langit jingga yang memukau. Mereka berdecak kagum.

Mereka tiba di Milan pada malam hari. Lampu kota menyala, lampu etalase toko mewah memancarkan kehangatan. Aroma pizza dan pasta dari restoran memenuhi udara. Mereka berjalan ke hotel kecil, melewati katedral gothic Duomo yang megah dengan detail patung. Rina terpesona. “Ini seperti seni hidup,” katanya. Mereka makan malam di sebuah trattoria, memesan pasta al dente, minestrone, dan gelato. Ketika pelayan memutarkan keju Parmesan di atas pasta, Budi berseru, “Ini keju, bukan salju,” membuat pelayan tertawa. Mereka tertawa, menikmati makanan sederhana yang lezat. Mereka pulang ke hotel, tidur nyenyak, menyiapkan diri untuk hari esok.

Keesokan paginya, mereka pergi ke Bologna, kota universitas tua yang tenang. Mereka disambut oleh Dr. Claudia di laboratorium etika Fakultas Farmasi. Laboratorium itu bersih, dinding putih, jendela besar, aroma antiseptik. Di sini, mereka melihat bagaimana penelitian dilakukan dengan benar: ada prosedur persetujuan, catatan, pengawas etika. Claudia menunjukkan mereka ruang eksperimen. “Setiap relawan harus menandatangani dan memahami,” katanya. “Kami tidak melakukan apa pun tanpa persetujuan.” Profesor mengangguk. “Ini yang harus kita tiru,” katanya. Budi memotret meja bersih, memposting ke Instagram. “Beda sama lab singa,” tulisnya.

Claudia mengajak mereka makan siang di kantin. Mereka memakan lasagna, sup kacang, salad. Mereka berbicara tentang riset, etika, dan budaya. Claudia bertanya, “Bagaimana kalian mengatasi tekanan?” Rina menjawab, “Kami tertawa. Kami juga punya komunitas.” Tento menambahkan, “Dan kami makan soto.” Claudia tertawa, tertarik mencicipi soto. Mereka memberi resep. Di Bologna, mereka mengunjungi Universitas Bologna yang berdiri sejak abad ke-11. Mereka menatap perpustakaan kuno, lemari penuh buku kulit, bau kertas tua. Mereka merasa kecil namun bangga. Seorang mahasiswa Indonesia di sana mendekat. “Saya bangga dengan kalian,” katanya. Mereka berfoto bersama.

Setelah tiga hari di Italia, mereka terbang ke London. Di bandara Heathrow, mereka menginjakkan kaki di tanah Inggris. Udara lembap, mendung menggantung. Mereka menaiki kereta menuju kota, melihat padang rumput, rumah bata merah, taksi hitam, dan bus tingkat merah. Mereka tiba di stasiun King’s Cross, melihat patung Harry Potter, tertawa. “Kita akan jadi wizard etika,” kata Budi. Mereka melanjutkan ke Bloomsbury, di mana mereka akan memberi kuliah di University College London. Mereka berjalan di trotoar, melewati toko buku tua, kafe, dan taman. Aroma fish and chips tercium.

Mereka disambut oleh Dr. Smith, profesor etika medis. Ruang kuliah penuh mahasiswa dari berbagai negara. Mereka presentasi lagi, disambut tepuk tangan. Budi bercanda tentang memesan fish and chips dan mendapat segumpal minyak. Mahasiswa tertawa. Mereka berdiskusi tentang kolonialisme, etika global, dan kearifan lokal. “Sangat penting mendengarkan suara dari belahan dunia lain,” kata Dr. Smith. Profesor setuju.

Setelah kuliah, mereka diundang ke BBC Newsnight. Mereka masuk studio, melihat kamera, lampu, set minimalis. Presenter, seorang wanita Inggris dengan suara khas, bertanya, “Kenapa kalian terus melanjutkan kampanye ini, bahkan ke luar negeri?” Rina menjawab, “Karena pelanggaran etika terjadi di banyak negara. Kami tidak bisa diam, karena kami tahu rasa sakitnya.” Presenter bertanya, “Apakah kalian merasa negara kalian telah berubah?” Profesor menjawab, “Ya, tetapi kami tahu perubahan butuh waktu dan tekanan.” Tento ditanya, “Bagaimana kalian tetap tegar?” Ia menatap kamera, tersenyum. “Kami tertawa,” katanya. “Bahasanya begitu, humor adalah baju besi kami.” Penonton di studio tertawa. Beberapa jurnalis memuji mereka.

Selesai acara, mereka kembali ke hotel. Mereka menerima email dari Maya. “B19 sudah dikirim ke laboratorium di Shanghai. Ada jaringan baru bernama White Lotus yang memodifikasi virus. Mereka punya dukungan investor dari Asia. Mereka juga punya hacker yang mencoba menemukan siapa yang memblokir B18. Kalian harus hati-hati,” tulis Maya. Mereka menghela napas. “Oh, tidak ada istirahat,” kata Rina. “White Lotus?” Budi mengernyit. “Ini seperti film kung fu.” Mereka tertawa. Namun, mereka tahu ini serius. Mereka mendiskusikan rencana ke China. “Kita harus koordinasi dengan aktivis di sana,” kata Profesor. “Kita harus belajar bahasa dasar,” kata Budi. “Saya tahu Ni hao,” tambahnya, membuat yang lain tertawa lagi.

Tapi sebelum ke Asia, mereka harus kembali ke Indonesia. Mereka pulang dengan perasaan campur aduk: bangga, lelah, dan siap. Di pesawat pulang, mereka menulis catatan. Professor menulis rencana rumusan undang-undang. Rina menulis ide untuk kampanye B19: “Jangan jadi kelinci percobaan global.” Budi menggambar karikatur burung merpati membawa jarum suntik, diiringi tulisan “B19? No way”. Perikus menulis puisi tentang perjalanan dari desa ke dunia. Mereka tertidur, pesawat mengarah ke arah timur.

Sampai di Jakarta, mereka langsung diundang ke Kantor Kementerian Kesehatan. Ibu Siska berkata, “Kami memutuskan memasukkan kalian ke dalam dewan etika nasional.” Mereka terkejut. “Ini tanggung jawab besar,” kata Profesor. Rina bertanya, “Apa tugasnya?” Siska menjelaskan, “Mengkaji, mengawasi, dan memberi rekomendasi. Kami butuh suara kalian.” Mereka setuju, dengan syarat dewan transparan dan tidak terikat politik. “Kami akan ingatkan jika ada yang melenceng,” kata Rina. Siska tersenyum. “Terima kasih,” katanya.

Di Malang, mereka menggelar acara tasyakuran kecil. Pak Hadi memasak sop iga, Pakde Selam menyiapkan soto, Bu Rini membuat es buah. Mereka menyalakan musik dangdut, menari. Tento menulis sesuatu di buku jurnal pribadinya. Joko bernyanyi lagu lawas, suaranya merdu. Budi bermain gitar, anak-anak menari. Rina berdiri di samping Profesor, menatap tenda warna-warni, merasakan hangatnya. “Lihat apa yang kita buat,” katanya. Professor tersenyum. “Kami belajar banyak,” katanya. Mereka menari bersama, menertawakan kekakuan Profesor. “Ayo, Prof, jangan malu,” kata Budi, menggoda.

Namun, di balik pesta, ancaman tetap mengintai. Keesokan harinya, mereka menerima amplop tanpa nama di depan pintu. Di dalamnya, ada foto mereka di Jerman, dengan tulisan: “Jangan campur tangan lagi.” Mereka melirik satu sama lain. “Ini peringatan,” kata Rina. “Mereka marah.” Budi merespons, “Berarti kita mengganggu mereka.” Professor berkata, “Kita tidak akan mundur. Tetapi kita harus memperkuat keamanan. Kita harus lapor ke polisi dan LPSK.” Mereka melaporkan ancaman, membuat petugas berjaga di sekitar rumah. Mereka juga menggunakan aplikasi keamanan digital. Maya membantu dengan enkripsi.

Beberapa hari kemudian, mereka menerima undangan dari Universitas Peking untuk berbicara tentang penelitian etika bersama aktivis White Lotus yang tergabung dalam kelompok mahasiswa. “Kami ingin kalian datang,” tulis aktivis White Lotus. Mereka juga diundang ke Seoul, Korea, oleh aktivis anti-eksperimen hewan, untuk berbicara di konferensi bioetika. Mereka menyadari gerakan ini menjadi global. Mereka berbicara serius. “Kita harus menilai kapasitas kita,” kata Professor. “Tidak bisa ke semua tempat. Kita harus delegasi.” Mereka memutuskan untuk mengirim perwakilan muda dari yayasan ke beberapa acara, melatih generasi baru. “Kita tidak bisa menjadi wajah selamanya,” kata Rina. “Tapi kita bisa jadi guru.”

Malam itu mereka duduk di teras rumah kontrakan, meminum teh panas, memandang bintang. Suara jangkrik dan hujan ringan terdengar. Mereka membahas jadwal padat. Mereka lelah, tetapi semangat. Mereka memikirkan B19, White Lotus, Budi yang menjadi pembicara global, Rina yang menulis buku, Professor yang menyiapkan kurikulum etika, Perikus yang ingin membuka café dengan perpustakaan kecil, Pak Hadi yang menanam lebih banyak cabai. Mereka tertawa, merangkul masa depan. Mereka mengangkat gelas, bersulang. “Untuk kita,” kata Rina. “Untuk keadilan,” tambah Professor. “Untuk soto,” seru Budi. Tertawa pecah. Dalam tawa itu, ada ketenangan. Mereka tahu, meski jalan panjang terbentang, mereka punya satu sama lain, dan humor, dan tekad untuk terus melangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!