NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahan Kaca di Masa Lalu

Malam itu, badai pegunungan mengamuk dengan intensitas yang mengerikan. Petir menyambar puncak-puncak pinus, menciptakan kilatan putih yang menembus tirai beludru di ruang kerja Maximilian. Rebecca masih terduduk di meja besar, dikelilingi oleh tumpukan manifes kapal dan skema pencucian uang yang baru saja ia pelajari. Namun, perhatiannya teralih saat ia mendengar suara gelas pecah dari arah balkon dalam yang menghubungkan ruang kerja dengan kamar pribadi Max.

Rebecca berdiri, langkahnya hati-hati saat ia mendekat. Di sana, di tengah kegelapan yang hanya diterangi kilatan petir, ia menemukan Maximilian. Pria itu tidak lagi berdiri tegak dengan keangkuhan seorang Alpha. Ia terduduk di kursi kulit tua, napasnya berat dan tidak teratur. Gelas kristal di tangannya telah hancur, serpihannya berserakan di lantai marmer bersama tumpahan wiski yang tampak seperti darah di bawah cahaya redup.

"Max?" bisik Rebecca pelan.

Maximilian tidak menyahut. Matanya menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela, namun Rebecca tahu pria itu tidak sedang melihat badai. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih menakutkan di dalam ingatannya.

"Ada apa, Max? Apa yang terjadi sampai kau bersikap seperti ini?" tanya Rebecca semakin penasaran dengan yang terjadi pada Max.

Rebecca berlutut di depan Max, mengabaikan serpihan kaca yang mungkin melukai lututnya. Ia mencoba menyentuh tangan Max, namun pria itu tersentak, menarik tangannya seolah sentuhan Rebecca adalah api yang membakar.

"Jangan," suara Max serak, hancur, dan penuh luka yang tidak pernah ia tunjukkan pada dunia. "Pergilah, Rebecca. Aku... tiba-tiba saja aku ingin sendiri. Menjauhlah, ini bukan tempatmu."

"Aku tidak akan pergi dari sini," sahut Rebecca tegas. Ia menangkap tangan Max yang gemetar, memaksa pria itu untuk merasakan kehadirannya. "Kau baru saja mengajariku tentang kompleksitas duniamu. Kau bilang kita adalah satu. Jangan tutup pintu itu sekarang. Apa yang terjadi saat aku tak berada di dekatmu?"

Maximilian perlahan menunduk, menatap wajah Rebecca. Di bawah kilatan petir berikutnya, Rebecca melihat air mata yang tertahan di sudut mata pria yang dianggap iblis oleh musuh-musuhnya itu. Trauma yang selama ini terkunci rapat di balik topeng es Moretti mulai retak, mengeluarkan nanah luka lama yang tidak pernah sembuh.

"Kau melihatku sebagai penyelamat, bukan?" Max tertawa getir, sebuah tawa yang mencekik lehernya sendiri. "Tapi kau tidak tahu bagaimana aku menjadi seperti ini. Kau tidak tahu bau daging yang terbakar di mansion ayahku dua puluh tahun lalu."

Suara guntur menggelegar, dan Max seolah ditarik kembali ke malam kelam di Naples. Ia mulai bercerita, kata-katanya keluar seperti muntahan darah—pedih dan tak tertahankan.

"Ayahku bukan hanya seorang penguasa; dia adalah target. Musuh-musuhnya tidak datang untuk menembaknya di jalanan. Mereka datang ke rumah kami saat makan malam. Aku bersembunyi di dalam lemari dapur yang sempit, Rebecca. Aku melihat dari celah pintu bagaimana mereka mengikat ibuku di depan meja makan. Mereka tidak membunuhnya dengan cepat. Mereka ingin ayahku menyaksikan kehancurannya sebelum mereka membakar seluruh rumah itu."

Napas Maximilian memburu. Ingatan tentang asap yang menyesakkan dan teriakan ibunya yang memanggil namanya kembali menghujam jiwanya.

"Aku mencium bau itu setiap kali aku menutup mata," Max mencengkeram tangan Rebecca begitu kuat hingga jemari gadis itu memucat. "Itulah sebabnya aku sulit membuka diri. Itulah sebabnya setiap kali aku merasa terlalu mencintaimu, aku ingin mendorongmu menjauh. Karena di duniaku, mencintai seseorang berarti memberi musuhmu sebuah peta menuju jantungmu. Aku takut... aku takut jika aku membiarkanmu terlalu dekat, sejarah itu akan terulang. Aku takut akan melihatmu hancur di meja makan yang sama."

Rebecca merasakan hatinya remuk mendengar pengakuan itu. Ia kini memahami mengapa Max begitu posesif, mengapa ia sering kali memasang dinding dingin tepat setelah mereka melewati momen intim, dan mengapa Max begitu terobsesi melatihnya menjadi seorang pembunuh. Itu bukan karena Max tidak percaya padanya, tapi karena Max sedang berperang dengan ketakutannya sendiri—ketakutan kehilangan satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya.

"Max, lihat aku," Rebecca menangkup wajah Maximilian, memaksa pria itu menatap matanya. "Aku bukan ibumu. Aku bukan wanita lemah yang bisa diikat dan dihancurkan tanpa perlawanan. Kau sendiri yang melatihku. Kau yang memberiku pedang, busur, dan senjata ini."

Rebecca menuntun tangan Max ke arah jantungnya yang berdegup kencang. "Traumamu adalah bagian darimu, tapi itu bukan masa depan kita. Jika mereka datang untuk membakar rumah ini, aku tidak akan bersembunyi di dalam lemari. Aku akan berdiri di sampingmu, memegang senjata yang sama, dan kita akan memadamkan api itu dengan darah mereka."

Maximilian menatap Rebecca lama sekali. Kejujuran dan keberanian di mata gadis itu perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanannya yang terakhir. Ia menyadari bahwa dengan mencoba melindungi Rebecca melalui jarak emosional, ia justru melukai wanita itu dengan cara yang berbeda.

"Aku menghabiskan dua puluh tahun untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh perasaanku," bisik Max, suaranya mulai stabil namun penuh kelelahan. "Aku membangun Moretti sebagai perisai. Tapi saat aku melihatmu di Grand Astoria, saat Bianca menghinamu... aku menyadari bahwa perisaiku gagal. Aku lebih takut kehilanganmu daripada takut pada kematian itu sendiri."

Rebecca memeluk leher Maximilian, menarik kepala pria itu untuk bersandar di bahunya. Di ruang kerja yang sunyi itu, hanya terdengar suara hujan dan detak jantung mereka yang bersahutan. Maximilian melepaskan napas panjang yang seolah telah ia tahan selama dua dekade. Ia membalas pelukan Rebecca dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu, membiarkan dirinya menjadi rentan untuk pertama kalinya.

"Jangan pernah mendorongku menjauh lagi, Max," bisik Rebecca. "Beban masa lalumu terlalu berat untuk kau panggul sendirian. Berbagilah denganku. Biarkan aku menjadi tempatmu beristirahat dari monster-monster di kepalamu."

Malam itu, luka lama yang terbuka tidak membawa kehancuran, melainkan sebuah ikatan yang lebih dalam. Maximilian menyadari bahwa membuka diri bukanlah sebuah kelemahan, melainkan keberanian tertinggi yang bisa dilakukan oleh seorang penguasa mafia. Di bawah langit pegunungan yang masih mengamuk, Max akhirnya memahami bahwa untuk menjaga cintanya tetap hidup, ia tidak perlu membangun dinding—ia hanya perlu memastikan bahwa mereka berdua memiliki senjata yang cukup kuat untuk menjaga gerbangnya.

Trauma itu masih ada, namun kehadirannya tidak lagi mencekik. Dengan Rebecca di sampingnya, Maximilian merasa siap untuk menghadapi bayang-bayang dari Naples yang mungkin akan datang menagih janji. Ia bukan lagi anak kecil di dalam lemari; ia adalah Maximilian Moretti, dan ia memiliki seorang ratu yang sanggup menanggung beban kegelapannya.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐦𝐡😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐬𝐨𝐦𝐛𝐨𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐦𝐮, 𝐭𝐝𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐲 𝐟𝐞𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐚𝐱𝐱𝐱😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐫𝐮𝐭?
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐰𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐠𝐰𝐞𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐤𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐞𝐥𝐨𝐧𝐢𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐞𝐜𝐡.....


𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
EsKobok: ngelonin gak tuh🤭🤣
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙢𝙣 𝙢𝙣 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐮𝐚𝐬𝐚 𝐢𝐭𝐮 😭😭🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙨𝙥𝙚𝙘𝙝𝙡𝙚𝙨𝙨 🥺🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙝𝙖𝙩𝙞2 𝙍𝙚𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖𝙢𝙪 𝙠𝙚𝙧𝙚𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙧
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨

𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪

𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙠𝙖𝙠 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙖𝙮𝙤 𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙣𝙙𝙧𝙚𝙬 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝2𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙗𝙖𝙗 76 𝙠𝙤𝙠 𝙙𝙞 𝙝𝙖𝙥𝙪𝙨 𝙠𝙣𝙥 𝙩𝙝𝙤𝙧 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝙝𝙚𝙝𝙝𝙚𝙝𝙚𝙚 𝙗𝙠𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙣𝙢 𝙦𝙪 𝙙𝙚𝙬𝙞 𝙠𝙤𝙠
total 6 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
😭😭😭 𝙡𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙝𝙤𝙧
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙍𝙚𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙤 𝙗𝙣𝙜𝙩 𝙨𝙞𝙝 𝙠𝙣𝙥 𝙜𝙠 𝙘𝙥𝙩2 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙖𝙭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙞𝙗𝙪 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!