NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:59.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat senasib

Nana mulai membereskan rumah itu. Ia mengambil sapu, mencoba membersihkan sisa-sisa tanah dari alas kaki para pelayat yang tadi memenuhi ruangan. Namun, baru beberapa ayunan, gerakannya terhenti saat melihat sebuah sajadah yang terlipat rapi di sudut sofa sajadah yang biasa digunakan ibunya.

Seketika, pertahanannya runtuh. Nana tak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk sajadah itu erat-erat, menenggelamkan wajahnya di sana sambil terisak hebat. Bau khas ibunya masih tertinggal di sana, membuat rasa rindu itu semakin menghujam jantungnya.

"mama... Nana sendirian sekarang," bisiknya parau di tengah isakan

Setiap sudut rumah ini adalah kenangan. Setiap debu yang ia bersihkan seolah mengingatkannya pada masa-masa sulit saat ia dan ibunya hanya memiliki satu sama lain. Ia merapikan bantal-bantal di kursi kayu, menyusun buku-buku doa, dan setiap kali ia menyentuh barang milik ibunya, isaknya kembali pecah.

Tok!Tok!

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Nana tersentak, ia segera menyeka air matanya dengan ujung kaus, berusaha mengatur napas agar suaranya tidak terlalu parau.

"Siapa?" tanya Nana.

Tidak ada jawaban suara, hanya ketukan sekali lagi yang terdengar lebih lembut. Nana melangkah perlahan dan membuka pintu kayu tua itu. Matanya yang sembab membelalak saat melihat siapa yang berdiri di sana.

"Sophia?"

Ternyata Sophia berdiri di ambang pintu. Tanpa berkata-kata lagi, Nana langsung berhambur menangis ke dalam pelukan sahabatnya itu. Segala sesak yang ia tahan sejak tadi tumpah seketika. Sophia hanya diam, mendekap Nana erat.

Setelah tangisnya sedikit mereda, Nana melepaskan pelukan dan menatap Sophia dengan bingung.

"Kok kamu bisa tahu aku di sini?"

Sophia tersenyum tipis sambil menuntun Nana masuk ke dalam.

"Kamu lupa kalau Ibu panti tempat ibumu tinggal itu Bude aku?"

"Aku turut berdukacita ya, Na"

"aku ngga papa kok" balas Nana dengan senyuman.

Sophia mengangkat sebuah tas plastik yang ia bawa sejak tadi. "Aku datang bawa makanan untuk kita. Aku nggak mau dengar alasan apa pun, kamu harus makan. Aku tahu kamu belum makan sejak sampai di sini, kan?"

Nana hanya terdiam, terharu dengan perhatian sahabatnya. Sophia mulai mengeluarkan beberapa kotak nasi hangat dan lauk pauk.

"Makan ya, Na? Biar kamu punya tenaga" bujuk Sophia.

Sophia duduk di samping Nana, menyodorkan segelas air putih hangat sambil menatap sahabatnya yang masih terlihat begitu rapuh.

"Kamu sampai kapan di sini, Na?" tanya Sophia pelan.

"Nggak tahu deh, Sof. Aku pengen banget lebih lama di sini, tapi... rasanya sesak. Tiap sudut rumah ini isinya cuma bayangan mama. Makin lama aku di sini, makin aku nggak bisa berhenti nangis."

"Tenang aja, aku bakal temanin kamu di sini. Sampai kamu merasa lebih baik, sampai kamu siap buat balik ke Jakarta lagi."

Nana menoleh, menatap Sophia dengan tatapan tidak enak hati. "Emang nggak apa-apa? Kamu bentar lagi tunangan loh, Sof. Jangan sampai calon suami kamu marah"

Sophia tersenyum pahit. Senyum itu tidak sampai ke mata, malah ada kilat kesedihan yang ia coba sembunyikan.

"Aku nggak jadi tunangan, Na," ucap Sophia pelan.

Nana tersentak kaget. Ia sejenak melupakan rasa sedihnya sendiri karena terkejut dengan kabar itu. "Kenapa?! Bukannya semua persiapannya sudah beres?"

Sophia menunduk, memainkan jemarinya di atas meja. "Dia ham-ilin cewek lain."

Nana terdiam seribu bahasa, tidak menyangka bahwa di saat ia kehilangan ibunya, sahabatnya juga sedang menelan pil pahit pengkhianatan yang begitu besar.

"Sof..." Nana meraih tangan Sophia.

"Makanya," Sophia mendongak, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha tetap kuat.

"Aku lebih mending di sini sama kamu. Kita berdua lagi sama-sama hancur, Na. Biar kita saling nemenin dulu."

......................

"Juan!"

"Apa kamu sudah mengetahui ke mana Nana pergi? Sedikit saja petunjuk!"

Juan yang sedang merapikan berkas di meja asisten langsung berjengit kaget. Ia menggeleng cepat.

"Enggak tahu, Pak. Saya sudah tanya anak-anak divisi lain, tapi mereka juga nggak ada yang tahu. Coba tanya temannya, Pak, siapa tahu mereka tahu ke mana Nana."

Abian terdiam sejenak, lalu mendengus kesal. "Saya nggak tahu siapa teman dia."

Mendengar jawaban itu, Juan secara spontan menghentikan aktivitasnya. Ia menatap bosnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus heran.

"Loh? Kan dia sudah hampir tiga tahun kerja sama Bapak," celetuk Juan tanpa sadar.

"Masa Bapak nggak tahu satu pun teman dekatnya?

"Saya... saya tidak pernah mencampuri urusan pribadinya," gumam Abian, mencoba membela diri meski hatinya merasa sangat bodoh.

"Tapi Bapak selalu protes kalau dia dekat sama laki-laki lain," batin Juan, meski ia tak berani mengucapkannya keras-keras.

Juan menatap Abian dengan ragu, ia membolak-balik tabletnya.

"Pak, maaf memotong," ucap Juan hati-hati, "tapi ada satu hal yang sangat penting. Di jadwal ini tertera nanti malam ada undangan makan malam bersama calon investor dari Jepang."

Abian langsung memijat pelipisnya. "Investor dari

Jepang?"

"Benar, Pak. Dan masalahnya, mereka secara spesifik meminta pertemuan ini dilakukan dengan suasana formal . Saya baru sadar kalau di jadwal Bapak tidak ada catatan mengenai siapa yang akan menjadi penerjemah atau yang mengurus protokol etikanya," lanjut Juan dengan wajah semakin pucat.

Abian menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ia baru teringat bahwa proyek ini adalah salah satu ambisi terbesarnya tahun ini. Pertemuan malam ini sangat krusial untuk menentukan apakah investasi bernilai miliaran itu akan cair atau tidak.

"Kenapa jadwal sepenting ini baru dikonfirmasi sekarang?!" bentak Abian, frustrasi karena merasa persiapan timnya sangat kacau hari ini.

"Sepertinya ada miskomunikasi pak"

"Kamu bisa bahasa Inggris, kan?"

Juan menelan ludah dengan susah payah. "Bisa, Pak... sedikit," jawab Juan terbata-bata.

Namun, berbanding terbalik dengan ucapannya, batin Juan berteriak histeris, "Nggak bisa bahasa Inggris sama sekali, Ya Tuhan! Jangankan negosiasi, jawab How are you saja aku pasti gemetaran. Bisa mati berdiri aku nanti malam!"

Abian menyipitkan mata, merasa curiga dengan nada suara Juan yang tidak meyakinkan. "Sedikit itu sampai mana? Kamu tahu kan ini investor besar? Jangan sampai kamu memalukan saya di depan mereka dengan bahasa Inggris yang berantakan."

"I-iya, Pak. Saya usahakan semaksimal mungkin," ucap Juan lagi.

Dalam hati, Juan hanya bisa meratapi nasibnya. Ia merindukan Nana lebih dari siapa pun saat ini. Jika Nana ada di sini, masalah bahasa bukanlah kendala karena Nana menguasai segalanya dengan sempurna.

1
Kamsia
semangt abian buat nana sembuh jgn berfikir yg udh terjd kedpnnya hrs lbh siaga krn musuh camermu msh bnyk💪💪🙏 thor
Sri Supriatin
tks upny thor n lanjuut😍😍
Sri Supriatin
lanjuuut Thor...kapan up? ditunggu jangan lama2🤭
Aidil Kenzie Zie
katanya bapak Kaito pengusaha sukses kenapa nggak ada pengawal bayangan untuk Nana
Kamsia
bkn bgitu tapi di setiap nana berada ad bodyguard byngan tapi pd kmn dia.ngopi lupa wkt ato cuma bodyguardnya cuma satu.aduuhh thor kalo unsurnya ceria mafia hrsnya gercep dlm sgl hal ok💪💪💪🙏🙏
ig: denaa_127: halo kak, makasih sarannya. Tapi cerita ini berfokus pada sekretaris dan CEO sesuai judulnya aja. ini hanya penempatan konflik saja🙏
total 1 replies
Desi Santiani
double up
Nice1808
akh cerita ini abian pengusaha gk paten masa gk bisa retas cctv jalan🤭,kaito juga gk bisa kyk mafia2 jepang cari tau dimna musuhnya sampai haruna jd korban penjahat itu🤣
Mundri Astuti
yaahhh abiannn ga jago ah
Gita Megiati
ceritanya ngegantung
Nice1808
wah abian kecolongan nich pasti musuh kaito
Mundri Astuti
si Abian pegimana si, dah tau bnyk yg ngincer Nana, ni malah suruh tunggu tmpt sepi lagi
Kamsia
selalu saja begitu suruh nunggu di luar hrsnya di dpn resepsionis kalo ad ap" kan lngsg bisa di informasikan
Ani
itu salahmu udah tau Nana dalam bahaya malah disuruh keluar duluan.. hadeh
Aidil Kenzie Zie
Abian ceroboh
Kamsia
giliran nana sm abian nich thor
Aidil Kenzie Zie
padahal kemarin udah nyuri cium tu bibir Nana sama Bian
Mundri Astuti
seeeehhhh bisa bisanya kamu bian
Kamsia
modus bgt y..bian
Mundri Astuti
biiii mamak setuju biii, klo kamu sama Nana ea...😂
Kamsia
udh kena pnh asmara mom anknya gak kaku lk ky kanebo kering
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!