Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Kedatangan Tak Terduga
...Selamat membaca semuanya.....
Rania berlari ke arah pintu utama, saat pintu terbuka matanya membulat melihat dua orang menerobos masuk dan tidak ada Boris di situ.
"Kak Rania!" seru Jessy dengan teriakan yang lantang, langsung membulatkan matanya. Dia menoleh ke arah saudaranya, kedua alisnya terangkat beberapa kali dengan mengulum bibirnya menahan senyum.
Rania mengedipkan mata beberapa kali karena merasa bingung ditambah malu, karena berada di rumah orang tanpa tuan rumah.
"Jadi ini yang dimaksud Kak Boris tentang tikus di rumah?" Jackson memandangi Rania dari atas ke bawah, "seleranya boleh juga," lanjutnya mengangguk pelan.
"Diam kau!" Jessy memukul pelan perut Jackson karena berujar yang tidak-tidak di depan Rania.
Mereka masuk menaruh barang bawaan mereka di atas meja ruang depan. Jessy menarik lengan Rania, dibawanya duduk di sofa dengan nyaman.
Perasaan yang canggung dan malu beradu dengan kebingungan. Rania hanya bisa menurut dan diam memandangi kedua orang yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Jessy memandangi lekat wajah Rania, anggapannya bidadari turun ke bumi. Dengan tidak sopan, dia menangkup wajah Rania, Jackson mendengus melihat sikap Jessy yang berlebihan.
"Tunggu Kakak pulang Jess!" dengusan dan tatapan sinis Jackson dapatkan dari saudaranya sendiri. Tapi ekspresi itu berubah saat melihat kembali Rania, dia melepaskan tangannya dari wajah cantik itu.
Rania yang dari tadi diam, akhirnya memutuskan untuk bersuara. "Kalian saudaranya Boris?" anggukan keduanya menjawab pertanyaannya.
"Bukankah kalian populer?" pertanyaan kali ini memicu persaingan diantara mereka.
"Aku lebih populer darinya, Kak!" Jessy memukul bahu Jackson, tidak terima jawaban itu.
"Aku yang lebih populer darimu ya cempreng!" Jessy tidak mau kalah, bola mata pria itu memutar, lalu dia melanjutkan, "dari awal juga aku lebih dulu terjun, kau masih sibuk dengan tulisan tulisan yang tidak bermutu itu." Jackson membulatkan matanya terpancing karena diejek oleh Jessy.
"Tulisan itu menjadi karya hebat, dasar pendek!"
"Cempreng!"
"Pendek!"
Satu orang sibuk menonton keributan yang terjadi di depannya sekarang. Hingga suara pintu utama terbuka dengan suara yang memanggil nama Rania.
Brak..
"Nona!" matanya membulat sempurna melihat kedua adeknya sudah duduk di antara Rania. Napasnya yang tersenggal berusaha mencari pasokan oksigen agar lebih teratur.
Langkahnya masuk ke dalam menghampiri ketiga orang itu. Menarik kedua lengan adeknya dan menatap sengit ke arah keduanya.
"Ngapain kalian pulang? Kan sudah Kakak larang!" teriakan memarahi kedua adeknya membuat Rania terlonjak kaget.
Jackson dan Jessy melipat tangan di dada sambil menatap tajam ke arah Kakaknya. "Jadi tikus yang Kakak maksud tuh Kak Rania?" wanita yang tadi diam melihat membulatkan matanya.
"Maksudnya apa?" dengan penasaran Rania bertanya.
"Bukan begitu, tadi saya melarang mereka pulang ke sini dan saya membuat alasan-"
Menangkap maksud dari pembahasan itu, Rania melipat tangannya di dada. Kedua adeknya jutru ikut melipat tangan dan berpindah posisi di sebelah Rania.
"Jadi maksudmu aku tikus? Benar begitu Boris?" tanya Rania menantang Boris menjawab pertanyaannya dengan jujur.
"Begitu Kak?" Jessy dengan gaya tengilnya ikut memanasi.
"Katakan saja Kak! Tidak perlu berbohong," dengusan dan lirikan sinis Boris ke Jackson karena pria itu ikut memanasi Rania.
Hembusan napas panjang Boris merasa pasrah karena sudah mendapat tiga lawan dan dia sendiri. Tentu saja dia akan kalah, tidak bisa mengelak.
Kakinya melangkah perlahan dan menghempaskan tubuhnya di sofa, menyandarkan punggungnya menatap malas tiga manusia di depannya.
"Terserah kalian saja, aku tidak bisa mengelak," pasrahnya justru menciptakan tawa kencang dari Jessy dan Jackson.
Mereka mendekat ke arah Kakaknya, duduk di sebelah pria itu. Jackson hanya duduk, sedangkan Jessy melingkarkan tangannya di lengan Boris.
"Kami hanya bercanda, Kak" ucap Jessy dengan nada manja sambil mengedipkan matanya, mendapat dengusan kesal dari Boris.
"Tidak perlu dibawa perasaan! Jangan berlebihan" Jackson menyindir Kakaknya yang menghela napas kesal.
"Aku tidak terlihat lagi di sini?" sindir Rania kepada kakak beradik di depannya. Ketiga pasang mata itu langsung menatap Rania.
Boris bangkit dan berpindah duduk di sebelah Rania, wanita itu sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Maafkan aku karena masalah tadi, Nona," Rania memasang wajah memelas, dengan cepat Boris meraih pergelangan tangan wanita itu. Disaksikan oleh kedua saudara kembarnya.
Mereka saling berpandangan, anggukan kecil Rania berikan membuat Boris mengulas senyum hangat. Mereka saling menatap sedikit lama.
Bug.. Tiba-tiba Jackson meleparkan bantal sofa ke arah Boris dan mengenai wajah Kakaknya.
"Masih ada kami di sini!" teriak Jackson merasa kesal dengan tingkah Kakaknya yang bermesraan di depan adek-adeknya.
"Kakak tidak setia dengan persaudaraan" ejek Jessy ikut kesal dengan kelakuan Kakaknya.
Boris menaikkan sudut bibirnya sinis, menatap kedua adeknya. Lalu menoleh memandangi kembali wajah cantik Rania. Tangannya terulur membelai lembut pipi Rania.
Bug.. Satu bantal terlempar keras lagi ke wajah Boris, pria itu menatap mereka marah. Tapi keduanya sudah berlari meninggalkan mereka, dan masuk ke dalam kamar.
"Dasar anak-anak nakal!" Boris mengatai sambil melihat mereka yang berlari meninggalkannya, Rania tertawa kecil melihat interaksi Boris dan saudara kembar itu.
"Kalian lucu sekali" Boris mengusap belakang kepalanya canggung dan menahan senyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Steven anak buah Frederick menyodorkan satu map coklat, perlahan dia buka dan berisi beberapa foto. Foto yang bisa membuat dia menyunggingkan senyuman, dan beberapa membuat dia memukul meja di depannya.
"Kurang ajar!"
...Bersambung.....
Terima kasih semua sudah mampir di ceritaku, jangan lupa like dan komen ya gaes. Jaga kesehatan semuanya..