Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 ( Perasaan Yang Terlalu Lama Terpendam)
Sejak tiba di kantor pagi tadi, Bayu memperhatikan Arven yang terus tersenyum.
Bayu yang merasa bosnya aneh langsung mengirim foto kepada Reza.
[Bayu : Foto]
[Bayu : Pasien lo kenapa sih?]
[Reza : Salah obat kali ]
[Reza : Atau salah makan ]
Arven melihat ponselnya yang menyala, menampilkan pesan grup.
" Aneh, ngomongin orang ko didepan "
Ucap Arven yang kemudian ikut menimbrung
[Arven : Kalian lupa kalau gue masih ada di grup ini ?]
[Bayu : Engga, justru sebagai sahabat kita ga ngomong dibelakang tapi di depan]
[Reza : Nah bener itu, kurang baik apa coba kita sebagai sahabat lo]
[Arven : Gue mau ngomong, serius ]
[Bayu : Apa ? ]
[Reza : Gue curiga]
[Arven : Gue mau ngajak Alena pacaran]
[Bayu : Kalau di tolak gimana ?]
[Reza : Pura-pura pingsan aja]
[Arven : Kalian ini musuh atau temen gue sih?? ]
....
Siang hari Alena baru saja selesai dengan kelasnya..
Saat Alena membuka ponselnya, beberapa pesan masuk dari Arven.
[Arven : Siang Alena]
[Arven : Kelar kelas jam berapa hari ini ?]
Alena tersenyum membaca pesan itu, sedangkan Nabila yang berada disampingnya pun merasa penasaran.
"Pasti Arven "
Alena hanya tersenyum , kemudian ia pun membalas pesan Arven
[Alena : Siang Pak Arven]
[Alena : Baru selesai kelas nih ]
[Alena : Kenapa ? Kangen ?]
Tak lama Arven kembali membalas pesannya
[Arven : Gue jemput sekarang ya]
[Alena : Yaudah hati-hati]
Alena menyimpan ponselnya, ia merasa tak sabar untuk kembali bertemu dengan Arven.
Nabila dan Alena duduk di kantin bersama, Nabila memesan nasi sedangkan Alena hanya memesan minum saja.
" Ga makan ? "
" Ga laper Bil "
" Biasanya orang jatuh cinta emang gitu sih "
Alena melempar Nabila dengan tisue
" Tapi serius gue, lo milih Arven atau Raka ? "
" Hmm sebenernya gue dulu emang suka sama Raka, tapi ya mungkin sekedar suka gitu loh Bil "
" Kalau sama Arven ? "
" Arven ya.. "
" Arven itu beda gitu Bil, sama dia itu kayak ga kaku gitu ngerti ga ? "
" Ya ngerti, terus ? "
" Yaa nyaman juga, terus gue seneng aja kalau didekat dia "
" Jadi intinya Raka atau Arven ? "
" Arven dong " ucap seseorang dari belakang Alena
Alena menoleh, melihat Arven yang sudah berdiri tepat dibelakang dirinya
" Gue haus, beli minum dulu ya " Nabila pun pergi meninggalkan Alena dan Arven
" Lo sejak kapan di belakang gue ? "
" Hmm kapan ya "
" Nyebelin banget si Nabila "
Arven tersenyum..
" Ayo pergi sekarang "
" Hmm "
Alena mengangguk sambil tersenyum
Selama perjalanan menuju mobil, semua mahasiswi terus membicarakan keduanya.
Ada yang memuji Arvan ada pula yang bergosip soal Alena.
Tapi Alena tidak perduli, karena selama ada Arven semua akan baik-baik saja.
" Kita mau kemana ? " tanya Alena
" Nanti juga tau "
Mobil pun meninggalkan halaman kampus.
..
Setelah menempuh perjalanan, Arven dan Alena pun sampai ditempat tujuan.
Tempat dimana Arven mengajak Alena untuk melihat matahari terbenam saat itu.
" Udah ga ada ide tempat ya ? " goda Alena
" Ada, cuma pengen disini aja "
" Ohh "
Angin berhembus dengan kencang..
Langit pun sangat cerah hari ini..
Arven terus memperhatikan Alena yang sedang asik mengambil gambar dari ponselnya.
Arven merasa jika saat ini adalah waktu yang pas untuk Arven menyatakan perasaannya.
" Alena "
Alena menoleh dan menyimpan ponselnya.
" Ya kenapa ? "
" Lo inget ga soal misi ? "
" Inget lah, misi gue harus bikin lo jatuh cinta kan ? "
" Hmm " Arven mengangguk sambil tersenyum
" Ini udah hari 27, 3 hari lagi misi lo selesai Alena "
Alena tersenyum..
" Sebelum misi selesai, lo udah berhasil Alena "
" Lo berhasil bikin gue jatuh cinta sama lo "
" Bukan cuma itu, tapi lo berhasil bikin gue takut kehilangan lo Alena "
Alena terdiam..
Namun jantungnya terus berdebar dengan kencang..
Setelah hampir satu bulan, Alena mendengar semuanya hari ini.
Arven menggenggam tangan Alena, mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
" Awalnya gue cuma pengen ngerasain gimana rasanya jatuh cinta sebelum gue mati Al "
" Dari dulu gue ga pernah percaya soal cinta ataupun itu, tapi setelah gue kenal sama lo dan jalanin semuanya gue ngerasa lo tuh beda Alena "
" Maaf kalau gue egois kali ini, tapi gue mohon Alena.. "
Mata Alena mulai panas, hingga tanpa terasa air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya.
" Tolong jangan tinggalin gue Alena.. "
Suara Arven mulai bergetar, Alena melihat Arven yang menangis dihadapannya.
" Gue cinta sama lo Alena, dan yang gue pengen itu cuma lo buat dampingin hidup gue sampai nafas terakhir gue Al "
Alena menghapus air mata Arven dan mengusap wajah Arven.
" Lo telat Arven "
" Sebenarnya gue gagal dalam misi ini, karena gue itu udah jatuh cinta sama lo "
" Gue ga tau hari keberapa gue jatuh cinta, tapi setiap pagi gue selalu nunggu pesan aneh lo, setiap malam gue juga nunggu nilai lo dan tanpa gue sadar hidup gue diisi dengan lo.. lo.. Dan lo Arven "
" Gue selalu takut lo pergi "
" Gue takut lo nyerah "
" Tapi semakin gue takut, gue makin sadar kalau emang gue udah terlalu cinta sama lo Arven "
Arven mulai tersenyum begitu juga dengan Alena..
" Alena.. "
" Ya.. ?? "
" Jadi, lo mau jadi teman hidup gue Al ? "
" Engga mau.. "
Alena menggeleng
" Kenapa ?? "
Tanya Arven dengan bingung
" Engga mau nolak maksudnya "
Arven tersenyum dengan lepas.
Karena merasa sangat bahagia, Arven pun langsung memeluk Alena..
" Gue seneng banget "
" Berarti sekarang lo pacar gue kan Al ? "
Arven melepaskan pelukannya
" Hmm yaa mungkin "
" Ko mungkin? Iya dong "
" Iya Arven "
Arven akhirnya merasa lega, karena ia sudah berhasil mendapatkan Alena.
" Lo ga mau ceklis sesuatu ? "
" Maksudnya ? "
Alena mengeluarkan buku catatan milik Arven dari dalam tasnya, buku yang Bayu berikan pada malam itu.
" Ko buku gue ada di lo ?? " tanya Arven bingung
" Mas Bayu yang ngasih waktu itu, tadinya gue mau bakar tapi pas gue baca isinya ga jadi gue bakar "
" Emang ya si Bayu, kalau gini misi gue udah ketauan dong "
" Hahaha yaudah nih ceklis dulu "
Arven mengangguk dan menceklis misi itu.
....
Arven mengantarkan Alena pulang setelah tempat itu, namun begitu sampai didepan rumah Alena mereka sama sama terdiam.
Alena tidak langsung turun dari mobil Arven, bahkan Arven sendiri merasa gugup saat ini.
" Alena.. "
" Yaa Ar ? "
" Makasih ya udah nerima gue "
" Makasih udah mau sama gue "
Alena tersenyum
" Iya Arven, jadi mulai sekarang lo harus semangat ya "
" Iyah Alena "
" Yaudah gue masuk dulu "
" Lo hati-hati pulangnya, jangan ngebut, kalau pusing telpon gue ya "
" Kalau kangen gimana ? "
" telpon gue juga "
" Oke "
" Yaudah jangan lupa minum obat ya, istirahat Arven "
" Iyah Alena "
" Yaudah gue turun dulu ya "
" Iya "
Alena membuka pintu mobilnya, namun sebelum turun ia pun memberikan kecupan di pipi Arven
" Daah sampai besok Arven "
Alena pun langsung berlari sambil melambaikan tangannya, sedangkan Arven ia tak bisa menyembunyikan senyumannya saat ini.
Arven memegangi pipinya yang usai dicium oleh Alena.
" Alenaaa lo mau bikin gue kena serangan jantung ya ?? "