NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Orang Ketiga Dalam Bayangan

Ruangan kembali sunyi.

Keheningan yang kali ini terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.

Foto rumah persembunyian mereka masih terpampang di layar laptop.

Jelas.

Tajam.

Tidak meninggalkan ruang untuk keraguan.

Seseorang memang telah mengikuti mereka.

Seseorang tahu lokasi rumah ini.

Dan yang lebih mengganggu, orang itu ingin mereka tahu bahwa mereka sedang diawasi.

"Kupikir aku mulai terbiasa dengan ancaman."

gumam Reynard.

Dimas menggeleng.

"Kalau kamu sudah terbiasa, itu justru masalah."

"Tidak menenangkan."

"Itu spesialisasiku."

Biasanya Almira akan ikut menyela.

Namun malam ini pikirannya sedang bekerja terlalu keras.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Sesuatu yang tidak cocok.

"Ini aneh."

katanya tiba-tiba.

Dimas dan Reynard langsung menoleh.

"Bagian mana yang aneh?"

tanya Reynard.

"Semuanya."

jawab Almira.

"Tapi terutama ini."

Ia menunjuk layar laptop.

"Mereka selalu menemukan kita."

"Ya."

"Mereka selalu lebih dulu tahu."

"Ya."

"Tapi mereka tidak pernah benar-benar menyerang."

Kalimat itu membuat ruangan mendadak hening.

Karena selama ini mereka terlalu sibuk melarikan diri untuk memikirkan hal tersebut.

Namun Almira benar.

Jika Aurora benar-benar ingin menghentikan mereka, bukankah ada banyak cara yang lebih mudah?

Kenapa hanya ancaman?

Kenapa hanya pengawasan?

Kenapa selalu pesan?

"Mungkin mereka menikmati permainan."

kata Reynard.

"Mungkin."

jawab Almira.

"Tapi aku tidak suka jawaban itu."

Dimas menyandarkan tubuh ke kursi.

Tatapannya berubah serius.

"Ada kemungkinan lain."

"Apa?"

Dimas terdiam beberapa saat.

Kemudian berkata pelan,

"Mungkin mereka belum sepakat tentang apa yang harus dilakukan terhadap kita."

Hening.

Almira langsung menangkap maksudnya.

"Maksudmu ada perpecahan?"

"Mungkin."

"Tidak ada bukti."

kata Reynard.

"Tidak."

jawab Dimas.

"Tapi ada pola."

Ia membuka beberapa dokumen lama di laptop.

"Perhatikan."

Beberapa pesan yang mereka terima selama ini muncul di layar.

Ancaman.

Peringatan.

Instruksi.

Sekilas terlihat sama.

Namun setelah diamati lebih teliti, memang ada perbedaan.

Sebagian pesan bernada agresif.

Sebagian lainnya justru terdengar seperti peringatan.

Seolah dikirim oleh dua orang berbeda.

Atau dua kelompok berbeda.

Malam semakin larut.

Namun tidak ada yang merasa mengantuk.

Mereka mulai menyusun ulang seluruh informasi yang dimiliki.

Dari awal.

Dari Dimas.

Dari Haris.

Dari Proyek Aurora.

Dan untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat kemungkinan baru.

Bagaimana jika Aurora bukan organisasi yang sepenuhnya solid?

Bagaimana jika ada pihak yang justru ingin membantu mereka dari dalam?

Pukul satu dini hari.

Dimas akhirnya menutup laptop.

"Kita tidak akan mendapatkan jawaban malam ini."

katanya.

"Kalau begitu apa?"

tanya Almira.

"Kita tidur."

Reynard tertawa pendek.

"Aku hampir lupa manusia normal melakukan itu."

"Percayalah."

jawab Dimas.

"Kalian terlihat seperti sangat membutuhkannya."

Tidak ada yang membantah.

Karena rumah itu hanya memiliki dua kamar tidur, pembagian tempat menjadi sedikit rumit.

Dimas langsung mengambil kamar kecil di belakang.

"Sisanya urus sendiri."

katanya.

"Luar biasa membantu."

komentar Reynard.

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Sudah kuduga."

Beberapa menit kemudian, tersisa Almira dan Reynard di ruang tengah.

Sofa panjang.

Satu kamar tersisa.

Dan keheningan yang tiba-tiba terasa aneh.

"Aku ambil sofa."

kata Reynard cepat.

Almira mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Karena aku pria baik."

"Kamu?"

"Itu reaksi yang menyakitkan."

"Aku hanya realistis."

Reynard menghela napas dramatis.

"Baiklah. Karena aku pria yang luar biasa baik."

"Itu bahkan lebih tidak realistis."

Meskipun begitu, senyum kecil muncul di wajah Almira.

Sudah lama sekali sejak mereka bisa bercanda tentang hal-hal sederhana.

Dan ia baru menyadari betapa ia merindukan perasaan normal itu.

Beberapa saat kemudian.

Almira berdiri di depan pintu kamar.

Namun sebelum masuk, ia menoleh.

Reynard sedang membereskan beberapa dokumen di meja.

Cahaya lampu darurat membuat bayangan lembut di wajahnya.

Untuk sesaat, Almira memperhatikan pria itu tanpa sadar.

Sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan.

Karena dulu yang ia lihat hanyalah pewaris perusahaan yang arogan.

Menyebalkan.

Terlalu percaya diri.

Sekarang?

Sekarang ia melihat seseorang yang tetap bisa bercanda ketika situasi buruk.

Seseorang yang selalu memastikan ia makan.

Seseorang yang berkali-kali menempatkan dirinya di antara Almira dan bahaya.

Dan itu...

Mulai terasa berbahaya.

Bukan karena Aurora.

Karena dirinya sendiri.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

tanya Reynard tiba-tiba.

Almira langsung tersadar.

"Aku tidak melihatmu."

"Bohong."

"Aku sedang melihat tembok."

"Temboknya kebetulan berbentuk aku?"

"Sayangnya."

Reynard tersenyum.

Dan entah kenapa, senyum itu membuat Almira cepat-cepat masuk ke kamar sebelum percakapan menjadi lebih aneh.

Namun tidur ternyata tidak mudah.

Setidaknya bagi Almira.

Pikirannya terlalu penuh.

Aurora.

Dimas.

Ancaman.

Ayahnya.

Dan Reynard.

Terutama Reynard.

Yang terakhir itu sangat mengganggu.

Karena semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sering pria itu muncul di pikirannya.

Sial.

Sekitar pukul tiga pagi.

Almira akhirnya menyerah.

Ia keluar kamar untuk mengambil air minum.

Rumah sangat sunyi.

Namun ketika melewati ruang tamu, ia terkejut.

Karena Reynard masih terjaga.

Pria itu duduk di sofa sambil menatap layar laptop yang sudah meredup.

"Kamu belum tidur?"

tanya Almira.

Reynard menoleh.

"Kamu juga."

"Itu bukan jawaban."

"Aku tahu."

Almira berjalan mendekat.

"Kenapa?"

Reynard terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab jujur.

"Aku berpikir."

"Tentang Aurora?"

"Sebagian."

"Sebagian lagi?"

Kali ini Reynard tidak langsung menjawab.

Dan itu membuat Almira merasa aneh.

Karena Reynard biasanya selalu punya jawaban.

Selalu.

Namun sekarang tidak.

"Aku berpikir..."

katanya pelan.

"...tentang apa yang akan terjadi kalau semua ini selesai."

Almira membeku.

Karena pertanyaan itu pernah mereka bahas beberapa jam lalu.

Namun nada suara Reynard kali ini berbeda.

Lebih pribadi.

Lebih dalam.

"Kenapa?"

tanya Almira.

Reynard menatapnya beberapa saat.

Lalu tersenyum kecil.

"Karena aku mulai terbiasa bekerja denganmu."

Jantung Almira langsung berdetak sedikit lebih cepat.

"Itu terdengar seperti penghinaan."

"Itu pujian."

"Oh."

"Jangan biasakan. Aku jarang memberikannya."

"Bagus. Aku hampir khawatir kamu sedang sakit."

Mereka tertawa pelan.

Dan untuk sesaat, dunia terasa normal lagi.

Tidak ada Aurora.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada konspirasi.

Hanya dua orang yang duduk di ruang tamu pada tengah malam.

Dan menikmati kebersamaan yang tidak pernah mereka rencanakan.

Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Karena tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah.

Klik.

Sangat pelan.

Hampir tidak terdengar.

Tetapi cukup untuk membuat Reynard langsung berdiri.

Ekspresinya berubah seketika.

"Apa itu?"

bisik Almira.

Reynard menggeleng.

Kemudian perlahan berjalan menuju jendela.

Melihat keluar melalui celah tirai.

Dan wajahnya langsung menegang.

"Reynard?"

Tidak ada jawaban.

"Reynard."

ulang Almira.

Kali ini pria itu menoleh.

Dan apa yang ia katakan membuat seluruh rasa kantuk langsung menghilang.

"Ada seseorang di luar."

Jantung Almira langsung berdebar keras.

"Seseorang?"

Reynard mengangguk pelan.

"Dan kurasa..."

Ia menatap kembali ke luar jendela.

"...dia sedang memperhatikan rumah ini."

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, sesosok pria berdiri di seberang jalan.

Diam.

Tidak bergerak.

Seolah menunggu sesuatu.

Atau seseorang.

Dan ketika pria itu perlahan mengangkat kepalanya ke arah rumah...

Almira merasakan firasat buruk yang sangat kuat.

Karena kali ini, mereka tidak sedang melihat bayangan.

Bayangan itu sedang melihat balik ke arah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!