Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUTAN
Setelah beribu kali membujuk, Naya akhirnya pasrah. Ia pun merasa perlu menjauh dari rumah yang terasa menyesakkan oleh kenangan Hana dan ancaman yang datang silih berganti dari masa lalu.
Sabtu pagi, udara pegunungan mulai menusuk kulit, sesekali membawa aroma pinus yang menenangkan. Di gerbang jalur pendakian, Zaki dan Naya sudah menunggu dengan perlengkapan hiking lengkap. Zaki tampak bersemangat, sedangkan Naya terlihat sesekali melirik jam tangannya, tampak agak canggung, gugup dan khawatir jika nanti tahu Daniel dan Gani akan mendapatinya bukan sebagai seorang guru, melainkan orang spesial dari sahabat mereka.
"Nah. Itu mereka!" Seru Zaki menunjuk ke arah sebrang di kejauhan sana.
Deg.
Jantung Naya berdegup kencang, seirama dengan langkah kakinya yang mendadak terasa berat. Ia bukan khawatir karena jalur pendakian yang curam, melainkan karena ia akan segera berhadapan dengan Gani dan Daniel yang semakin dekat.
Seolah mengetahui apa yang Naya rasakan, Zaki tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia justru meremas jemari Naya lebih erat, menyalurkan ketenangan yang begitu nyata.
"Kamu harus tenang," bisik Zaki pelan, suaranya terdengar jernih di antara desau angin pegunungan. "Jangan sembunyi di balik topeng ibu guru hari ini. Di sini, di depan mereka, kamu bukan siapa-siapa selain Naya yang berhak untuk merasa bahagia. Cepat atau lambat, suatu saat mereka juga akan tahu siapa kamu."
"Tapi, Zaki. Hari ini..."
Kalimat Naya terputus di udara. Begitu matanya menangkap manik mata Daniel dan Gani yang semakin dekat, tenggorokannya mendadak kering. Ia merasa seolah-olah seluruh dunia menahan napas. Di sisi lain, Gani yang awalnya berjalan dengan percaya diri bersama pacarnya, tiba-tiba mematung, langkahnya melambat hingga nyaris berhenti.
Sementara Daniel, yang biasanya paling cepat dalam menutupi kecanggungan, justru menunjukkan reaksi yang lebih drastis. Ia sempat menangkis langkahnya sejenak, wajahnya yang jenaka berubah menjadi datar dengan keterkejutan yang nyata, sebelum akhirnya ia memaksakan diri untuk tersenyum profesional.
"Eh... ada Bu Naya di sini?" sapa Daniel dengan nada yang sedikit kaku saat menyalami tangan Naya.
Wanita yang mendampingi Daniel hanya tersenyum tipis, senyum basa-basi yang dingin dan penuh tanda tanya. Suasana di pos pendakian itu tiba-tiba menjadi sangat sunyi, seolah gesekan sepatu mereka di atas kerikil adalah satu-satunya suara yang tersisa di tengah hutan pinus yang megah.
Gani menyengir lebar, sebuah ekspresi yang kontras dengan ketegangan yang baru saja menggantung di udara. Dengan gerakan cepat dan sedikit memaksa, ia menarik lengan Zaki menjauh dari jangkauan pendengaran Naya. Langkah mereka terburu-buru, membawa Zaki ke balik kerimbunan pohon ek tua yang menutupi akses jalan setapak.
"Bro!" bisik Gani. Daniel yang mematung, ikut bergabung. "Gue... gak salah lihat, kan? I-Itu Bu Naya?"
"Lo bilang bakalan bawa pacar lo," tambah Daniel dengan suara yang direndahkan, namun sarat akan tuntutan. Ia menatap lurus ke manik mata Zaki, seolah sedang membedah kesungguhan di baliknya. "Terus, mana pacar lo?"
Zaki tidak langsung menjawab. Ia justru memberikan senyum tipis yang penuh teka-teki. "Lo semua benar-benar nggak lihat?"
Gani dan Daniel mengerutkan kening, kebingungan mereka semakin memuncak. Tanpa aba-aba, keduanya menoleh serempak ke arah Naya yang berdiri tak jauh di belakang mereka, lalu kembali menatap Zaki dengan sorot mata yang mulai berubah.
"Mana?" desak Gani, matanya menyipit penuh selidik. "Gue cuma lihat Bu Naya, Zak. Gue nggaK lihat ada pacar lo di sini."
Daniel dan Gani saling bertukar pandang, sebuah kesadaran yang mencengangkan perlahan menghinggapi benak mereka secara bersamaan. Napas Daniel tercekat. "A-Ah... jangan bilang..."
Zaki mengangguk mantap, sorot matanya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Iya. Dia orangnya."
Sekejap, tawa Gani meledak, meski terdengar agak sumbang dan dipaksakan. Ia menunjuk Zaki dengan telunjuknya, seolah pemuda itu baru saja melontarkan lelucon paling gila di muka bumi. "Gila lo! Kalau bercanda jangan bikin kita hilang kewarasan! Masa Bu Naya lo pacarin? Itu guru kita, Bro! Guru!"
Zaki tidak tertawa. Ia menatap Daniel dan Gani dengan keseriusan yang mematikan. "Sekarang lo tahu kan, kenapa gue bilang jangan bawa Clara hari ini? Gue nggak mau ada drama yang nggak perlu."
"Lo beneran kehabisan stok cewek, hah?" celetuk Daniel, suaranya naik satu oktaf karena terkejut. "Ada banyak mahasiswi, model, atau cewek-cewek di sekolah kita, tapi kenapa harus guru sendiri? Kalau lo ngebet butuh cewek, ambil aja di gue!"
"Naya tuh beda," potong Zaki dingin.
"Berani banget lagi lo nyebut nama doang tanpa embel-embel 'Ibu'!" Gani menggeleng tak percaya. "Gila, ini gila."
"Pokoknya ceritanya panjang, nanti gue jelasin," jawab Zaki final.
"Ehem."
Sebuah deham halus memutus percakapan panas itu. Ketiganya tersentak, menoleh dengan gerakan canggung. Naya berdiri di sana, menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Eh, Bu Naya!" Daniel sontak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya merah padam.
Gani, yang tak kalah panik, segera memasang wajah sok akrab. "Eh, belum salam, Bu! Apa kabar, Bu? Udah lama banget ya kita nggak ketemu!"
Daniel menepuk pundak Gani dengan keras. "Lama apanya? Baru kemarin hari Jumat ketemu di kelas."
Gani meringis, tertawa hambar. "Ya... maksud gue, nggak ketemu di luar sekolah gini, maksudnya!"
Naya menatap mereka dengan tatapan datar, meskipun di balik ketenangan itu, hatinya merasa sangat tidak nyaman. Ia merasa seperti objek penelitian yang sedang dibicarakan. "Jadi, kita jadi mendaki sekarang?" tanyanya dingin, suaranya memotong basa-basi konyol itu.
"Ja-jadi, Bu! Tentu saja!" jawab Gani dan Daniel serentak, suara mereka beradu dengan nada yang sangat antusias, terlalu antusias untuk menutupi kecanggungan.
Tanpa membuang waktu, kedua sahabat itu dengan kompak mengajak pacar masing-masing untuk melangkah lebih dulu, seolah berusaha memberi jarak aman. Mereka membiarkan Zaki dan Naya tertinggal di belakang.
Begitu mereka mulai melangkah menjauh, Naya menatap Zaki dengan tajam. "Kamu nggak perlu melakukan itu. Kamu nggak perlu 'mengenalkan' aku dengan cara seperti ini kalau itu cuma bakal bikin teman-temanmu merasa aneh."
Zaki hanya tersenyum tenang, lalu meraih tangan Naya dan menggenggamnya sekali lagi, membiarkan jemari mereka bertaut di tengah dinginnya udara pegunungan. "Biar mereka merasa aneh. Itu artinya mereka mulai sadar kalau sekarang, kamu bukan cuma milik sekolah. Kamu milik kita, dan mereka harus mulai terbiasa dengan itu."
"Tapi... apa semuanya aman? Aku hanya khawatir."
Zaki menoleh menatap Naya serius. "Kamu tenang aja. Selama bersamaku, semuanya akan baik-baik saja."
Naya terdiam, membiarkan langkahnya mengikuti Zaki. Di depan sana, Gani dan Daniel masih sesekali menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya, namun Naya tidak lagi peduli. Selama Zaki berada di sampingnya, semua tatapan aneh itu terasa seperti angin lalu yang tak lagi sanggup mengusik hatinya, terlebih dengan kata semuanya akan baik-baik saja itu sudah cukup membuktikan bahwa tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Kecuali satu, takut kehilangan.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri