NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Amara sedang duduk di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar. Ia baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen yayasan sosial keluarga. Ekspresinya tenang hingga matanya menangkap nama Ratna di layar.

“Kok Ratna?” gumamnya.

Ia membuka pesan itu. Foto pertama muncul.

Amara menyipitkan mata.

Foto kedua.

Wajahnya menegang.

Foto ketiga.

Tangannya bergetar.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Ia memperbesar gambar itu. Fokus pada wajah pria yang berdiri di hadapan Laura.

Darah Amara terasa turun dari wajahnya.

“Itu…” napasnya tercekat, “itu Kevin.”

Ia langsung duduk lebih tegak. Dadanya naik turun, pikirannya berputar cepat.

Kevin Pradipta.

Anak dari kakak kandungnya yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.

Keponakan yang pernah ia banggakan.

Laki-laki yang ia kira sedang sibuk mengurus bisnis keluarga di luar kota.

“Apa yang kamu lakukan dengan pembantu itu?” gumam Amara dengan suara bergetar.

Ponsel di tangannya terasa berat. Ratna kembali mengirim pesan.

“Saya juga terkejut, Nyonya. Tapi jelas sekali mereka saling mengenal. Saya takut ini bukan pertemuan pertama.”

Amara menutup mata. Kepalanya berdenyut.

Jika Ratna benar, jika Laura mengenal Kevin sejak lama, maka ini bukan kebetulan.

“Gadis itu…” Amara membuka mata perlahan, sorotnya berubah dingin, “…bukan orang sembarangan. Dia bahkan mengenal Kevin, kenapa ia bisa kenal dengan orang kaya? Apa dia sengaja?”

Ia segera menelepon Ratna.

“Ratna,” suaranya rendah tapi tegas. “Kamu yakin dengan foto yang kamu kirimkan?”

“Seratus persen, Nyonya,” jawab Ratna cepat. “Saya tidak mungkin salah. Saya mengintip dibalik tirai saat mereka berbicara.”

Amara terdiam sejenak.

“Kamu bilang mereka terlihat dekat?” tanyanya.

“Iya, Nyonya. Sangat dekat. Seperti… sudah lama mengenal satu sama lain.”

Amara memejamkan mata lagi. Kenangan lama berkelebat Kevin kecil yang manja, Kevin remaja yang temperamental, Kevin dewasa yang penuh pesona dan masalah.

“Ratna,” ucap Amara akhirnya, “mulai sekarang, kamu awasi Laura dua kali lebih ketat.”

Ratna tersenyum di balik telepon. “Dengan senang hati, Nyonya.”

“Dan satu lagi,” lanjut Amara. “Jangan sampai Haikal tahu soal Kevin. Belum sekarang.”

Ratna mengangguk, meski Amara tak bisa melihatnya.

“Saya mengerti.”

Telepon ditutup.

Amara bersandar di kursinya. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak lagi memegang kendali.

“Kalau Kevin kenal dia…” bisiknya, “…berarti ini bukan hanya soal rumah tangga Sagita.”

Ini menyangkut kehormatan keluarga.

Laura berdiri di depan wastafel kamar kecil, mencuci tangannya berulang kali. Napasnya masih belum stabil. Bayangan Kevin terus muncul di benaknya senyum merendahkan, sentuhan paksa, nada suara yang dulu selalu membuatnya merasa kecil. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

“Aku tidak akan kembali ke hidup nya,” katanya pelan, seolah bersumpah pada dirinya sendiri.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa foto-foto dirinya sedang berpindah tangan, dipelintir maknanya, dan dipakai sebagai bukti kebusukan yang tidak sepenuhnya benar.

Ia tidak tahu bahwa Amara kini telah mengenali wajah masa lalunya.

Laura tidak keluar dari kamarnya sejak pagi.

Pintu kamar itu tertutup rapat, tirainya juga tidak pernah disingkap. Tidak ada suara langkah, tidak ada bunyi peralatan dibersihkan, bahkan tidak terdengar suara air dari kamar mandi seperti biasanya. Rumah besar itu terasa berbeda—lebih sunyi, lebih dingin.

Di dalam kamar kecil yang selama ini menjadi satu-satunya ruang aman, Laura duduk di atas ranjang. Kedua lututnya ia tarik ke dada, kedua lengannya memeluk tubuhnya sendiri seolah ingin menyatukan pecahan-pecahan dirinya yang berserakan.

Tatapannya kosong, terarah ke satu titik yang bahkan ia sendiri tidak tahu di mana.

Wajah Kevin terus muncul di benaknya.

Cara pria itu menarik lengannya.

Nada suaranya yang merendahkan.

Dan yang paling menyakitkan—ingatan tentang pengkhianatan yang dulu ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Hotel itu.

Pintu kamar yang terbuka.

Sahabatnya dan Kevin.

Laura mengepalkan jemarinya hingga kukunya menekan telapak tangan.

“Aku bodoh,” bisiknya lirih. “Aku terlalu percaya.”

Ia sudah berlari sejauh mungkin dari masa lalu itu. Mengganti nomor, menghapus jejak, memulai hidup baru. Namun rupanya, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi—ia hanya menunggu waktu untuk muncul kembali dan menyeretnya jatuh.

Air mata jatuh satu per satu, tanpa isak, tanpa suara.

Untuk pertama kalinya sejak lama, Laura merasa lelah.

Bukan lelah fisik—melainkan lelah mempertahankan topeng kuat yang selama ini ia pakai.

Sore harinya, Haikal pulang lebih awal dari biasanya.

Begitu memasuki rumah, ia langsung merasakan keanehan itu. Biasanya Laura akan menyambutnya, entah dengan senyum singkat atau sapaan sopan. Tapi kali ini, rumah terasa kosong.

“Laura?” panggilnya singkat.

Tidak ada jawaban.

Ratna, yang sejak tadi mengamati dari balik dapur, melihat kesempatan itu seperti serigala melihat mangsa.

“Tuan mencari Laura?” tanyanya dengan nada dibuat-buat.

Haikal menoleh. “Iya. Dia ke mana?”

Ratna menyeka tangannya dengan lap dapur, lalu mendekat perlahan. Wajahnya dipenuhi ekspresi prihatin yang terlalu dibuat.

“Sejak siang, Tuan, Laura tidak keluar dari kamar,” ucapnya pelan. “Ratna pikir mungkin dia kurang sehat.”

Haikal mengernyit. “Kurang sehat?”

Ratna mengangguk. “Atau… mungkin kaget.”

“Kaget kenapa?” tanya Haikal.

Ratna menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan ragu palsu. “Saya sebenarnya tidak enak membicarakan nya, Tuan. Tapi Saya takut Tuan salah paham kalau tidak tahu.”

Haikal menatapnya tajam. “Bicara saja.”

Ratna menghela napas, seolah sedang menimbang risiko. Lalu ia mengeluarkan ponselnya. Ia lupa dengan perintah Amara saking terobsesi untuk memecat Laura.

“Tadi Pagi, saya melihat Laura bertemu seorang pria di depan rumah,” katanya. “Mereka terlihat sangat… dekat.”

Haikal menegang.

Ratna lalu menyodorkan ponselnya.

“Saya sempat mengambil beberapa foto. Saya tidak bermaksud apa-apa, Tuan. Saya hanya ingin melindungi Tuan.”

Di layar ponsel, terpampang foto-foto Laura dan Kevin. Sudut pengambilan yang sengaja dipilih membuat jarak mereka terlihat lebih intim daripada kenyataannya. Lengan Kevin yang menarik Laura tampak seperti pelukan paksa yang dipelintir menjadi seolah-olah kedekatan.

Rahang Haikal mengeras.

Dadanya terasa panas, bukan karena cemburu semata—melainkan perasaan asing yang sulit ia beri nama.

“Bukanya ini Kevin?” tanya Haikal akhirnya, suaranya rendah.

“Saya tidak tahu pasti,” jawab Ratna cepat. “Tapi jelas mereka saling mengenal.

Setelah itu, Laura langsung mengurung diri di kamar.”

Ratna mengamati setiap perubahan ekspresi Haikal dengan saksama. Ia menunggu ledakan. Menunggu amarah. Menunggu satu kalimat yang ia harapkan sejak lama.

Pecat dia.

Namun Haikal tidak mengatakan apa pun.

Ia menatap layar ponsel itu beberapa detik lebih lama, lalu mengembalikannya kepada Ratna tanpa sepatah kata pun.

“Terima kasih,” ucap Haikal singkat.

Lalu ia berbalik dan berjalan pergi menuju kamarnya.

Langkahnya tenang. Terlalu tenang.

Ratna terdiam, matanya membesar.

“Tu—Tuan?” panggilnya.

Haikal tidak menoleh.

Pintu kamar Haikal tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Ratna berdiri sendiri di ruang tengah dengan wajah tak percaya.

“Tidak mungkin…” gumam Ratna. “Harusnya dia marah.”

Ratna menggenggam ponselnya erat. Dadanya dipenuhi kekecewaan dan amarah. Rencananya tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Ia yakin foto-foto itu cukup untuk menghancurkan posisi Laura.

Namun ternyata… tidak.

Di dalam kamarnya, Haikal duduk di tepi ranjang. Ponsel itu kini berada di tangannya sendiri—ia sempat memotret ulang foto-foto tersebut sebelum mengembalikannya pada Ratna.

Ia menatap satu foto lebih lama.

Wajah Laura di sana tidak tampak bahagia. Tidak tampak genit. Justru tegang. Tertekan.

“Kalau kamu memang mengenalnya…” gumam Haikal pelan, “…kenapa wajahmu seperti itu? Apa ada hal yang kamu sembunyikan?”

Ia menghembuskan napas panjang. Ada rasa kesal di dadanya. Bukan pada Laura. Tapi pada dirinya sendiri.

Entah sejak kapan, ia mulai peduli.

Dan perasaan itu membuatnya gelisah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!