NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pecahnya Dinasti Tenggara dan Kepulangan yang Terlambat

Badai di dalam ruang perawatan intensif itu belum juga reda ketika deru langkah kaki yang terburu-buru kembali memecah keheningan koridor luar. Langkah ini berbeda—tidak ringkih seperti Profesor Kusuma, tidak pula ragu-ragu seperti Bramantyo. Ini adalah langkah kaki seseorang yang datang dengan kemarahan yang tertahan di ujung tanduk.

Pintu kaca digeser kasar. Sosok pria muda dengan jaket hitam yang masih basah oleh air hujan Sibolga berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu, wajahnya yang tegas tampak mengeras dengan rahang yang mengatup rapat.

Dia adalah Gavin Tenggara. Kakak kedua Aurora yang selama beberapa tahun ini memilih memisahkan diri dari pusaran bisnis utama keluarga di ibu kota untuk mengurus ekspansi di wilayah barat, sekaligus menjauhkan diri dari dinginnya rumah besar mereka. Gavin pulang. Ia pulang setelah pesan darurat dari Juna menembus ponselnya beberapa jam lalu, mengabarkan bahwa adik bungsu mereka yang selama ini diabaikan sedang sekarat di ruang steril.

Mata Gavin langsung tertuju pada pemandangan di depannya: Nenek Lastri yang bersujud di lantai sambil menangis, Bramantyo yang bersandar layu di dinding seolah kehilangan jiwanya, serta Eros dan Arvin yang berlutut di sisi ranjang Aurora.

"Jadi... semua ini benar?" suara Gavin terdengar sangat rendah, namun sanggup membuat semua orang di ruangan itu menoleh. Suaranya bergetar oleh perpaduan antara rasa tidak percaya dan kemarahan yang masif.

Gavin melangkah masuk, mengabaikan Nenek Lastri yang mencoba meraih ujung celananya. Ia merebut lembaran rekam medis merah yang dipegang Juna, membacanya sekilas, lalu melemparkannya tepat ke depan wajah Bramantyo.

"Papa puas?!" bentak Gavin, suaranya menggelegar menembus dinding ruangan. "Bertahun-tahun Papa mengajari kami untuk menganggap Aurora sebagai pembunuh Mama! Bertahun-tahun Papa membiarkan anak ini hidup seperti pembantu di rumah kita sendiri! Dan sekarang... ternyata kita semua cuma sekumpulan orang bodoh yang disetir oleh dendam sakit jiwa Nenek!"

Gavin berjalan mendekati Nenek Lastri. Tatapannya tidak lagi memancarkan rasa hormat. "Nenek bilang ini keadilan untuk Mama? Mama tidak akan pernah sudi melihat anak yang dilahirkannya disiksa sampai seperti ini oleh keluarganya sendiri!"

Eros berdiri, mencoba memegang pundak Gavin. "Gavin, tenang dulu. Kita harus bicarakan ini—"

"Jangan sentuh gue, Kak!" Gavin menepis tangan Eros dengan kasar. "Lo abang tertua, tapi lo sama bodohnya! Lo punya semua kekuasaan untuk memeriksa kebenaran, tapi lo milih menutup mata karena terlalu patuh sama ego Papa! Lihat apa yang sudah kalian lakukan pada Aurora!" Gavin menunjuk ke arah ranjang, di mana Aurora tampak meringkuk ketakutan mendengar suaranya yang menggelegar.

Eros terdiam, hantaman kata-kata Gavin telak menusuk harga dirinya. Namun, sebagai anak sulung yang kini memegang kendali penuh atas dinasti Tenggara, Eros tahu ada satu hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu: membersihkan parasit yang telah menghancurkan hidup adiknya.

Eros membalikkan badan, menatap Nenek Lastri dengan tatapan yang sangat dingin—tatapan seorang eksekutor bisnis Tenggara yang paling kejam.

"Mulai detik ini," ucap Eros, suaranya begitu tenang namun mematikan. "Tuan Putri Lastri Tenggara kehilangan seluruh hak, nama besar, dan akses atas seluruh aset keluarga Tenggara. Semua fasilitas Nenek di rumah utama akan dikosongkan malam ini juga."

Nenek Lastri mendongak dengan wajah syok. "Eros... kamu mengusir Nenek? Nenek ini nenek kandungmu!"

"Nenek yang kukenal sudah mati bersama kebohongan ini," jawab Eros tanpa emosi. "Juna, urus pemindahan Nenek ke paviliun terpencil di ujung luar kota. Cabut seluruh pelayan dan fasilitas mewahnya. Biarkan dia menghabiskan sisa hidupnya dalam sepi, sama seperti cara dia mengurung Aurora di kamar gelap selama belasan tahun ini. Jika Nenek mencoba menolak, aku sendiri yang akan menyerahkan berkas penyuapan Profesor Kusuma ini ke jalur hukum."

Nenek Lastri menjerit histeris saat beberapa pengawal berjas hitam yang dipanggil Juna masuk dan memapah tubuh ringkihnya keluar dari ruangan secara paksa. Dinasti Tenggara telah pecah dari dalam, dikuliti oleh dosa mereka sendiri.

Setelah kegaduhan itu mereda, Gavin melangkah mendekati ranjang Aurora dengan dada yang sesak. Kemarahannya menguap, berganti dengan rasa bersalah yang teramat sangat ketika melihat bintik-bintik merah di kulit Aurora akibat komplikasi obat, serta sepasang mata bulat yang terbuka namun tak mampu menangkap bayangannya.

"Aurora..." bisik Gavin, suaranya mendadak melunak, runtuh di depan raga adiknya yang rapuh. Ia duduk di sisi ranjang yang kosong, meraih jemari Aurora yang terbebas dari kabel.

Aurora mengerutkan keningnya. Indra pendengarannya menangkap suara baru—suara yang tadi berteriak marah, namun kini terdengar begitu rapuh dan penuh penyesalan di dekatnya.

"Suara... siapa lagi ini? Apakah... ada paman baru lagi yang datang?" tanya Aurora dengan nada polos yang menyayat hati. Dalam lupa dan kebutaannya, ia tidak tahu bahwa pria yang ada di depannya adalah abangnya yang baru pulang.

"Ini... Kak Gavin, Ra," suara Gavin tercekat. Air matanya menetes di atas telapak tangan Aurora. "Maafkan Kakak karena baru pulang... Maaf karena Kakak terlambat menjagamu dari rumah neraka ini..."

Tiba-tiba, Profesor Gunawan yang sejak tadi memantau monitor VAD berseru kecil. "Tunggu... lihat pupilnya."

Profesor Gunawan menyalakan senter medis kecil (penlight) dan mengarahkannya perlahan ke mata Aurora. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, pupil mata Aurora yang tadinya melebar dan mati, seketika mengecil secara refleks saat terkena paparan cahaya. Aurora tampak mengerjapkan matanya berulang kali, kepalanya bergerak sedikit menolak silau.

"Ada... ada cahaya putih, Kak..." bisik Aurora, suaranya dipenuhi rasa takjub yang lirih. "Gelapnya... sedikit hilang. Aku bisa lihat bayangan hitam bergerak di depanku..."

"Saraf optiknya mulai merespons! Kebutaan sementaranya mulai mereda!" ucap Profesor Gunawan dengan binar harapan di wajahnya.

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik. Di sudut lain, monitor kimia darah dan fungsi organ yang terhubung dengan kateter urin Aurora mendadak mengeluarkan bunyi alarm pendek yang konstan. Angka indikator fungsi ginjal (kreatinin) di layar melompat naik ke zona merah yang berbahaya.

"Dok, laju filtrasi glomerulusnya drop di bawah 15! Terjadi gagal ginjal akut akibat akumulasi toksisitas digitalis dan dosis imunosupresan!" teriak asisten dokter yang berjaga di monitor.

Wajah Profesor Gunawan kembali menegang sempurna. "Sialan... tubuhnya tidak punya cukup waktu untuk menyerap obat. Saat jantungnya mulai distabilkan oleh VAD dan saraf matanya membaik, ginjalnya justru menyerah karena tidak kuat menyaring racun obat."

Gavin, Arvin, Eros, dan Juna seketika mematung. Harapan yang baru saja mekar seolah diinjak kembali oleh takdir yang kejam. Mereka baru saja terlepas dari belenggu kebohongan masa lalu, namun raga Aurora kini justru melangkah semakin cepat menuju ujung nadir kehidupan yang dipinjam dari mesin rumah sakit.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!