NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 22)

Herman tiba-tiba berteriak histeris, menepuk-nepuk kakinya sendiri. "Ada yang pegang! Ada yang memegang kakiku! Lepas! LEPAS!!!"

Dia melihat tangan-tangan kurus, pucat, dan membusuk keluar dari celah-celah tanah kebun, mencengkeram betisnya, menariknya ke bawah. Kulitnya terasa terbakar, perih luar biasa, seakan ada asam yang disiramkan ke tubuhnya. Padahal saat dilihat oleh Sulaiman, tidak ada apa-apa di sana. Hanya tanah kosong. Tapi rasa sakitnya... rasa sakitnya nyata. Sangat nyata.

Umar segera berlari terengah-engah mendekati ayahnya.

"Itu cuma pikiran kamu! Herman! Tahan! Jangan kau rasakan!" teriak Sulaiman, tapi dia sendiri merasakan hal yang sama. Udara di sekitarnya terasa berat, menekan dadanya hingga sulit bernapas. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup debu batu bara yang panas dan menyakitkan.

"Tenangkan dirimu nak, tutup telingamu, pejamkan mata..." Sulaiman menyuruh putranya agar duduk meringkuk.

Petani tua itu kini berdiri tepat di hadapan Sulaiman. Jaraknya hanya satu meter. Bau busuk bangkai dan pusara kuburan menguar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat mata Sulaiman perih dan berair.

"Kau pikir kau kuat, Sulaiman?" bisik suara itu langsung di dalam otak Sulaiman. "Kau merasa dirimu berani? Tapi di hadapan tanah ini, kau hanyalah belatung. Kau hanyalah makanan."

"SIAPA KAU?!" Bentak Sulaiman membalas, tangannya mengepal kuat, siap memukul jika perlu.

"Aku adalah petani di tempat ini. Aku yang menanam, dan aku yang memanen," jawabnya tanpa berucap lewat bibir, sebab suara itu langsung terdengar di dalam pikiran. "Kalian berjalan di tempat berkali-kali... karena hutan ini tidak mau melepaskan kalian. Hutan ini lapar. Dan aku... aku hanya juru masaknya."

Petani tua itu kembali mengangkat cangkulnya. Kali ini tidak mengayun, tapi dia memutar-mutarnya dengan lincah. Suara wush wush wush terdengar mematikan.

Setiap kali cangkul itu berputar, bayangannya menari-nari di dinding pohon, mencetak bentuk-bentuk menyeramkan seperti kepala setan, seperti mulut yang menganga siap menelan mereka.

Mereka semua mundur perlahan, terjepit oleh ketakutan. Deri dan Umar sudah menangis, Herman gemetar hebat, dan Sulaiman... pria yang paling berani itu kini merasakan kakinya lemas. Dia bisa merasakan niat membunuh yang memancar dari sosok tua itu. Niat itu bukan sekadar marah, tapi niat untuk membunuh secara perlahan, untuk menyiksa, untuk meremukkan tulang satu per satu.

"Lihat tanah ini..." kata petani itu sambil menunjuk cangkulnya ke tanah yang merah pekat. "Tanah ini subur karena banyak orang kuat sepertimu yang berakhir di sini. Otot-ototmu... akan menjadi pupuk yang sangat baik untuk tanamanku."

Lingkungan di sekitar mereka kini berubah dari satu suasana ke suasana lain, begitu cepat dan dramatis. Langit di atas kepala mereka terkelupas menjadi warna merah darah. Pohon-pohon menjulur seperti tangan-tangan yang siap mencekik leher. Suara desisan ribuan orang yang menderita terdengar bergema di udara, campur aduk menjadi raungan keputusasaan yang memecah gendang kedamaian.

"Kalian tidak akan pernah keluar dari sini..." suara petani tua itu kini bergema seperti guntur, bergema dari segala arah, seolah seluruh hutan berbicara dengan mulutnya. "Kalian sudah masuk ke dalam perut bumi, dan sekarang... waktunya dicerna."

Sulaiman mencoba mengerahkan seluruh sisa keberaniannya. Dia adalah pejuang rimba, dia yang menakut-nakuti orang lain. Tapi hari ini, dia menghadapi sesuatu yang tidak bisa dipukul, tidak bisa diancam, dan tidak bisa dibunuh dengan akal sehat.

"Deri! Herman! Serang dia! Ayo!" teriak Sulaiman, suaranya pecah, lebih seperti teriakan panik daripada komando. Dia sendiri mencoba menerjang maju, tapi kakinya terasa berat seperti tertanam di dalam beton cair.

Saat itulah ilusi pecah dan memperlihatkan wajah asli si petani yang jauh lebih mengerikan.

Deri tiba-tiba menjerit panjang, suara yang keluar dari tenggorokannya bukan lagi suara manusia, tapi jeritan binatang yang terluka parah.

"MATAAAAA! MATA SAYUR ITUUUU!!!"

Deri menunjuk ke arah barisan tanaman sayur yang rapi. Tanaman yang tadi terlihat normal, lalu berubah menjadi tulang, kini berubah lagi menjadi sesuatu yang jauh lebih menjijikkan dan hidup.

Setiap helai daun yang hijau itu... berubah menjadi bola mata manusia. Ribuan bola mata yang masih basah, masih berdarah di sudut-sudutnya, membuka dan menutup, dan SEMUA mata itu menatap lurus tepat ke arah mereka. Tidak ada daun, tidak ada batang, hanya tumpukan mata-mata yang berdenyut, menatap dengan penuh penghakiman dan amarah.

"JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT MEREKA!" teriak Herman sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tapi itu tidak berguna. Gambar itu sudah terekam kuat di retina matanya, membakar syaraf penglihatannya. Dia bisa melihat mata-mata itu bahkan saat kelopak matanya tertutup rapat.

Pria tua itu tertawa. Tawanya tidak keras, tapi sangat dalam, bergetar, dan terdengar sangat puas. "Hahaha... Hahahahaha... Hahahahaha... mereka lapar, tanaman-tanamanku lapar. Mereka ingin melihat rasa takut di mata kalian sebelum kalian mati."

"Hehehehahahahaha...!!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!