NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Hari terakhir di Kota Baldr.

Pagi berganti siang.

Siang berganti sore.

Namun di kamar penginapan—

Grachius masih duduk bersila.

Belum bergerak.

Belum selesai.

Meditasinya semakin dalam.

Di sisi lain—

bar milik Helga justru ramai.

Gelak tawa.

Dentuman gelas.

Suara lagu kasar kaum dwarf.

Dan di tengah kesibukan itu—

Daji sedang bekerja.

Membawa minuman.

Mengantar makanan.

Sambil terus mengeluh dalam hati.

“Kenapa hidupku begini…”

Saat ia melewati sebuah meja—

seorang petualang manusia bersiul.

“Hei, nona rubah.”

Daji berhenti.

Di meja itu duduk satu Party petualang.

Mereka tampak baru kembali dari perjalanan.

Penuh debu.

Penuh percaya diri.

Petualang yang memanggil tersenyum genit.

“Ayo bermain denganku nanti malam.”

Teman-temannya tertawa.

Daji menatap datar.

Tidak marah.

Tidak langsung menolak.

Justru—

ia tersenyum tipis.

“Boleh.”

Petualang itu terkejut senang.

“…tapi…”

Daji mengangkat satu jari.

“Kita main dulu.”

Ia menunjuk tong bir besar.

“Permainan minum.”

Seluruh meja mulai tertarik.

“Namanya…”

“Drink or Drunk.”

Beberapa dwarf langsung bersorak.

Mereka tahu permainan itu.

Daji menjelaskan tenang.

“Satu ronde, satu gelas bir.”

“Terus sampai salah satu tumbang.”

“Yang tumbang kalah.”

Petualang itu tertawa sombong.

“Hanya itu?”

Daji mengangguk.

“Taruhannya…”

Ia menatap tajam.

“Jika aku menang…”

“…kau serahkan semua milikmu.”

“Uang.”

“Pakaian.”

“Perlengkapan.”

Bar meledak oleh tawa.

Petualang itu justru makin semangat.

“Kalau aku menang?”

Daji menjawab santai.

“Aku akan menemanimu malam ini.”

Sorakan makin keras.

Helga dari kejauhan hanya menggeleng sambil menyeringai.

“Anak rubah itu membuat hiburan lagi.”

Permainan dimulai.

Ronde pertama.

KRAK!

Gelas diangkat.

Daji minum habis.

Petualang itu juga.

Sorak sorai.

Ronde kelima.

Masih aman.

Ronde kesepuluh.

Wajah petualang mulai merah.

Daji masih santai.

Ronde kelimabelas.

Teman-teman si petualang mulai panik.

“Hei… kau masih aman?”

“Diam!”

Ia membentak.

“Aku akan menang sebentar lagi!”

Daji tersenyum licik.

“Kau yakin?”

Ia meneguk satu gelas lagi tanpa perubahan wajah.

Dalam hatinya—

"Poison Nullification."

"Alkohol juga racun."

"Bodoh sekali."

Ronde dua puluh.

Petualang mulai goyah.

Ronde dua puluh lima.

Ia hampir jatuh dari kursi.

Seluruh bar meneriakkan hitungan.

“DUA PULUH ENAM!”

“DUA PULUH TUJUH!”

“DUA PULUH DELAPAN!”

Daji masih tenang.

Bahkan sempat melambai pada penonton.

Petualang itu sudah berkeringat deras.

Ronde tiga puluh.

Gelas terakhir diangkat.

Daji menenggaknya habis.

DUG!

Gelas kosong menghantam meja.

Petualang mencoba minum.

Baru setengah—

matanya berputar.

Tubuhnya roboh ke belakang.

BRAK!

Pingsan.

Sunyi satu detik.

Lalu—

BAR MELEDAK.

Sorakan.

Tawa.

Tepuk meja.

“DAJI! DAJI! DAJI!”

Teman-teman si petualang mengumpat panik.

Mereka mulai melucuti perlengkapan kawannya sesuai taruhan.

Armor.

Tas.

Sepatu.

Baju.

Akhirnya pria itu dibawa keluar dalam keadaan tak sadar—

hanya mengenakan celana dalam.

Seluruh bar tertawa terbahak-bahak.

Daji berdiri di atas kursi.

Mengangkat gelas kosong.

“Aku menang.”

Sorakan makin keras.

Helga menepuk meja sambil tertawa.

“Mulai besok kau harus dibayar lebih!”

Daji tersenyum puas.

Namun di dalam hati—

Ia teringat seseorang yang sedang bermeditasi di penginapan.

“Kalau Grachius melihat ini…”

Ia mendecak.

“…dia pasti akan berkata bahwa aku membuang-buang waktu.”

Di kamar sunyi itu—

Grachius tetap diam.

Namun energi di sekelilingnya—

mulai berubah semakin berat.

Bar kembali ramai.

Setelah keributan tadi—

semua kembali normal.

Atau setidaknya—

normal versi tempat ini.

Suara tawa.

Dentuman gelas.

Cerita bohong para petualang.

Dan lagu mabuk para dwarf.

Daji kembali bekerja.

Membawa nampan.

Mengantar bir.

Menghindari tangan usil.

Dan sesekali dibayar dengan pujian.

“Kau minum seperti monster!”

Seorang dwarf tertawa.

Daji meletakkan gelas.

“Aku anggap itu pujian.”

Meja lain memanggil.

“Hei rubah! Kalau kau melawan istriku dalam minum, siapa yang akan menang?”

Daji menoleh datar.

“Istrimu.”

Seluruh meja tertawa keras.

...----------------...

...----------------...

Beberapa menit berlalu.

Daji membawa tiga gelas bir.

Berjalan di antara meja-meja.

Saat itu—

pintu bar terbuka keras.

BAM!

Suasana sedikit melambat.

Tiga pria masuk.

Tubuh besar.

Langkah berat.

Aura mencari masalah.

Di belakang mereka—

Party petualang sebelumnya.

Dan di tengah rombongan itu—

Rocky.

Pria yang kalah dalam Drink or Drunk.

Kini sudah berpakaian seadanya.

Wajahnya merah karena malu.

Ia langsung menunjuk.

“Itu dia!”

Jarinya mengarah pada Daji.

Tiga pria kekar itu berjalan mendekat.

Para pelanggan mulai berbisik.

“Tresaders.”

“…tiga bersaudara itu?”

“…gawat…”

Nama mereka terkenal di kota-kota timur.

Party petualang brutal.

Kuat.

Sering menang.

Dan lebih sering membuat masalah.

Mereka bertiga berhenti di depan Daji.

Yang paling besar maju selangkah.

Theros.

Ia menatap rendah.

“Kau yang mengalahkan Rocky?”

Daji masih memegang nampan.

“Ya.”

Jawaban santai.

Pria kedua—

lebih ramping namun bermata tajam—Kairos menyeringai.

“Kalau begitu kembalikan semua miliknya.”

Pria ketiga—

berjanggut pendek dan berbahu lebar—Darios menyilangkan tangan.

“Sekarang.”

Sunyi.

Daji menatap satu per satu.

Lalu tersenyum tipis.

“Tidak.”

Beberapa pelanggan menahan napas.

Daji melanjutkan.

“Aku menang.”

“Dia kalah.”

“Itu taruhannya.”

Rocky maju marah.

“Kau curang!”

Daji menoleh.

Matanya menyipit.

“Curang?”

Ia tersenyum lebih lebar.

“Atau kau hanya tak tahan minum?”

Tawa kecil terdengar dari beberapa meja.

Rocky memerah.

Daji belum selesai.

“Dan sekarang kau datang mengadu dan membawa mereka?”

Ia memiringkan kepala.

“Pecundang.”

Bar meledak oleh suara “ooooh”.

Rocky nyaris melompat.

“Aku bunuh kau!”

Theros menahan dadanya.

Kairos tertawa kecil.

Darios menatap tajam.

Suasana memanas.

Helga di balik meja menyandarkan tangan.

“Jangan berkelahi disini.”

Namun tak ada yang mendengar.

...----------------...

Di sisi lain kota—

di kamar penginapan.

Grachius tetap duduk bersila.

Tidak bergerak.

Tidak membuka mata.

Tidak peduli.

Dunia luar bisa terbakar—

dan ia mungkin tetap bermeditasi.

Energi di sekitarnya semakin padat.

Napasnya tenang.

Jauh dari keributan.

Jauh dari bar.

Jauh dari masalah yang sedang mendekat pada Daji.

Namun sebentar lagi—

Baldr akan kembali gaduh.

...----------------...

Udara di dalam bar berubah tegang.

Tak ada lagi tawa.

Tak ada lagi candaan.

Semua mata tertuju pada mereka.

Kairos maju selangkah.

Dengan gerakan cepat—

ia menarik pedangnya.

SHING!

Bilah baja berkilat di bawah lampu.

Ujungnya berhenti tepat di leher kanan Daji.

Beberapa pelanggan mundur.

Yang lain menahan napas.

Kairos menyeringai.

“Masih mau banyak bicara?”

Daji menatap mata pedang itu.

Lalu menatap Kairos.

Ia justru tersenyum.

“Kau pikir…”

“…itu akan membuat ku takut.”

Kairos mengernyit.

Di sisi lain—

Darios menggeram.

Ia berbalik ke meja kosong terdekat.

Lalu menendangnya sekuat tenaga.

BRAAAK!

Meja kayu pecah berkeping-keping.

Gelas beterbangan.

Kursi terpental.

Beberapa dwarf berdiri marah.

Namun belum sempat bicara—

suara yang lebih keras terdengar.

“MEJA ITU MAHAL, DASAR BODOH!”

Helga berjalan maju.

Wajahnya merah padam.

Langkah berat.

Tangan terlipat.

Ia menunjuk pecahan meja.

“Kalian harus membayarnya sekarang juga!”

Suasana hening sesaat.

Lalu—

Theros bergerak.

Cepat.

Terlalu cepat untuk tubuh sebesar itu.

Tangannya mencengkeram leher Helga.

GRAK!

Ia mengangkat tubuh dwarf wanita itu ke udara dengan satu tangan.

Helga terkejut.

Kakinya menendang-nendang kosong.

Tangannya mencoba melepaskan cekikan.

Pelanggan berdiri panik.

Beberapa hendak maju—

namun mundur melihat tubuh raksasa Theros.

Daji membelalak.

“…Helga!”

Theros menatap Daji datar.

“Kalau barang Rocky tidak dikembalikan…”

Genggamannya makin keras.

“…mungkin dwarf ini akan mati.”

Helga mengerang.

Wajahnya mulai pucat.

Mata Daji berubah.

Tak lagi licik.

Tak lagi santai.

Kini penuh amarah.

“Lepaskan dia.”

Theros tersenyum tipis.

“Ambil kalau bisa.”

Daji menendang lantai.

Tubuhnya melesat.

Cepat seperti kilat.

Kuku tangannya memanjang.

Mengarah ke wajah Theros.

Namun Theros sudah siap.

Ia memutar tubuh.

Dan melempar Helga ke depan.

“…!”

Daji terkejut.

Serangannya langsung dibatalkan.

Ia memeluk Helga di udara agar tubuh itu tak terbanting.

Namun momentumnya terlalu besar.

KRAAASH!

Keduanya terpental ke meja belakang.

Kayu pecah.

Bir tumpah.

Daji meringis sambil melindungi Helga dengan tubuhnya.

Helga batuk keras namun masih sadar.

Theros menurunkan tangan.

Kairos memutar pedang di tangannya.

Darios menyeringai kasar.

Rocky tertawa puas.

“Sekarang kau tahu rasanya!”

Daji perlahan berdiri.

Helga di belakangnya.

Ekornya bergerak liar.

Matanya menyala.

Untuk pertama kalinya—

seluruh bar merasakan aura buas dari siluman rubah itu.

Dengan raungan marah—

Daji menerjang lebih dulu.

Kukunya membelah udara.

Serangannya cepat.

Licin.

Mematikan.

Namun Theros menahan dari depan.

Tubuh besarnya seperti dinding batu.

Saat Daji berputar mencari celah—

Kairos sudah bergerak dari samping.

Pedangnya menebas rendah.

Daji melompat menghindar.

Dan di udara—

Darios menghantam punggungnya dengan tendangan keras.

DOOM!

Tubuh Daji terlempar.

Menabrak jendela bar.

KRAAASH!

Kaca pecah berhamburan.

Daji jatuh terguling di luar bangunan.

Pelanggan di dalam berteriak.

Daji tergeletak sesaat di jalan batu.

Ia meringis.

Lalu perlahan bangkit.

Menghapus darah tipis di sudut bibir.

Ia menatap ke depan.

Ketiga bersaudara itu keluar dari bar.

Langkah berat.

Penuh percaya diri.

Di belakang mereka—

Rocky ikut keluar sambil tertawa.

Langit mulai jingga.

Matahari sudah turun ke ufuk barat.

Baldr memasuki sore.

Dan jalan depan bar berubah jadi arena.

Pertarungan berlanjut di luar.

Daji menyerang dari kiri.

Kairos menahan.

Ia memutar dan menendang Theros.

Theros hanya mundur setengah langkah.

Saat Daji hendak mundur—

Darios sudah muncul di belakang.

Tinju menghantam rusuknya.

BAM!

Daji terpental.

Ia berguling.

Bangkit lagi.

Menggeram.

Beberapa saat kemudian—

Daji mencoba masuk cepat ke tengah formasi.

Namun Theros menangkap lengannya.

Kairos menyapu kaki.

Darios menghantam bahunya.

DOOM!

Tubuh Daji kembali terhempas—

sekitar tujuh meter jauhnya.

Debu beterbangan.

Penonton tersentak.

Daji berlutut.

Bernapas berat.

Dalam hatinya ia menghitung.

"Sial…"

"Setiap satu dari mereka…"

"setara petarung yang berkultivasi tujuh puluh tahun."

Ia meludah ke tanah.

"Aku bisa mengalahkan satu orang dengan mudah."

"Masalahnya…"

Ia menatap mereka bertiga.

"mereka bertarung sebagai satu tubuh."

Daji melesat lagi.

Ia memilih Kairos.

Namun saat kukunya hampir mengenai leher—

Theros menahan dari depan.

Darios meninju dari kanan.

Kairos menusuk dari kiri.

Daji mundur paksa.

Tak ada celah.

Tak ada jeda.

Tak ada kesalahan.

Rocky tertawa keras dari belakang.

“Hahaha!”

“Kau tidak akan menang!”

Ia menunjuk ketiga pria itu dengan bangga.

“Mereka adalah Tresaders!”

“Mereka sudah hidup delapan puluh tahun!”

“Sudah berkultivasi sejak lama!”

Daji menoleh sekilas sambil menyeringai sinis.

“Kau pikir aku tidak tahu?”

Ia kembali fokus.

“Masing-masing dari mereka…”

“…sekitar tujuh puluh tahun kultivasi.”

Rocky terdiam sesaat.

Daji melanjutkan dingin.

“Masalahnya bukan kekuatan.”

“Masalahnya…”

Ia menatap ketiganya.

“…mereka tidak sebodoh dirimu.”

Beberapa penonton tertawa spontan.

Rocky memerah marah.

Theros mengangkat tangan.

“Cukup bicaranya.”

Kairos memutar pedangnya.

“Habisi dia.”

Darios meregangkan bahu.

Daji menurunkan tubuhnya.

Daji masih mencoba bertahan.

Menyerang.

Mundur.

Masuk lagi.

Keluar lagi.

Namun tiga lawan di depannya seperti roda bergerigi.

Saling menutup.

Saling menjaga.

Saling menyambung serangan.

Tak memberi ruang bernapas.

Daji melompat dari samping.

Mengincar Darios.

Namun Theros menahan dari depan.

Daji memutar tubuh untuk lolos—

dan saat itu—

Kairos menyambar rambutnya.

GRAB!

“…!”

Kairos menarik kuat.

Lalu membanting tubuh Daji ke tanah.

BOOOOM!

Jalan batu retak.

Debu beterbangan.

Daji batuk darah.

Tubuhnya gemetar.

Ia mencoba berdiri.

Namun lengannya lemas.

Akhirnya ia hanya bisa terduduk.

Napas kacau.

Pandangan berbayang.

Ketiga bersaudara itu maju bersamaan.

Pedang mereka terangkat.

Mata mereka dingin.

Theros.

Kairos.

Darios.

Tiga bilah baja mengarah ke kepala Daji.

Daji menatap ke atas.

Matanya melebar.

Dalam hatinya—

"Jadi… begini akhirnya?"

"Hidupku… berakhir di sini?"

Ia memejamkan mata.

Helga berteriak.

Para dwarf yang mengenalnya ikut menjerit.

“DAJI!!”

Tiga pedang turun bersamaan.

Namun—

sebelum mengenai target—

DOOOOM!

Tiga tubuh terpental ke arah berbeda.

Theros menghantam gerobak.

Kairos menabrak dinding batu.

Darios berguling beberapa meter.

Seluruh jalan terdiam.

Semua orang terkejut.

“Apa yang terjadi?!”

“Apa itu?!”

Debu perlahan turun.

Seseorang berdiri di depan Daji.

Tubuh tinggi.

Rambut putih panjang dengan highlight merah-kuning.

Punggung tegak.

Aura tenang.

Grachius.

Ia menoleh sedikit.

“Sepertinya kau kesulitan.”

Daji membuka mata perlahan.

Dari kaki.

Naik ke tubuh.

Sampai wajah.

Ia terpaku.

Grachius tersenyum tipis.

“Serahkan sisanya padaku.”

Daji tak mampu menjawab.

Hanya diam.

...----------------...

Lima menit sebelumnya

Di kamar penginapan—

Grachius masih bermeditasi.

Sunyi.

Tenang.

Lalu matanya terbuka.

Meditasi selesai.

Energinya jauh lebih padat.

Jauh lebih tajam.

Ia mengembuskan napas panjang.

Saat itu—

ia merasakan sesuatu.

Qi milik Daji.

Bergejolak.

Kacau.

Penuh tekanan.

Grachius mengernyit.

“Rubah itu mengamuk?”

Tanpa ragu ia berdiri.

Berjalan ke jendela.

Lalu—

BOOM!

Ia menerobos keluar.

Kaca kamar pecah berhamburan.

Tubuhnya melesat ke udara.

Terbang.

Meditasi tiga hari telah meningkatkan Qi-nya.

Kini ia mampu mengangkat tubuh sendiri.

Grachius meluncur cepat mengikuti arah energi Daji.

Saat tiba di atas bar—

ia melihat tiga pria kekar mengayunkan pedang ke arah Daji yang pasrah.

Tatapannya berubah dingin.

Ia menukik.

Turun seperti meteor.

Pukulan.

Tendangan.

Tiga gerakan singkat.

Tiga tubuh terpental.

...----------------...

Kembali ke sekarang

Seluruh orang di jalan menatap sosok baru itu.

Helga ternganga.

Rocky pucat.

Tresaders perlahan bangkit dengan wajah murka.

Daji masih duduk di tanah.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Baldr—

semua orang melihat pria berambut putih itu.

Pria yang aura tenangnya justru terasa paling berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!