Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Serangan balik mawar hitam
Cahaya fajar menyelinap melalui celah gorden kamar Aluna, namun kehangatannya tidak mampu mengusir dingin yang masih mendekam di hatinya. Aluna terbangun dengan mata yang masih terasa berat. Saat ia meraba nakas untuk mencari jam, getaran ponselnya memecah kesunyian.
Satu pesan singkat dari nomor yang sangat ia hafal. Clara.
"Pagi, Sayang. Semoga kau suka gaun hitamnya. Pak Bramasta pasti sangat 'terkesan' melihat milik pribadinya dipajang seperti itu. Jangan terlalu lama menangis, ya. Ingat, pria tidak suka wanita yang hanya bisa merengek seperti bayi. Sampai jumpa di sarapan nanti."
Aluna mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih. Amarah yang tadinya meluap kini tiba-tiba mendingin, berubah menjadi tekad yang tajam. Ia menatap bayangannya di cermin—wajah yang semalam hancur karena tangis, kini mulai menampakkan guratan ketenangan yang berbahaya.
"Kau salah, Clara," bisik Aluna pada pantulannya sendiri. "Aku bukan lagi bayi yang bisa kau intimidasi."
Aluna bangkit. Ia tidak akan turun dengan wajah kuyu. Ia memilih gaun rumah berbahan sutra lembut berwarna putih murni, memoles wajahnya tipis agar terlihat segar, namun sengaja membiarkan sedikit rona pucat di bibirnya agar tetap memancing simpati. Hari ini, Aluna tidak akan menjadi korban. Ia akan menjadi sutradara.
Sandiwara di Meja Makan
Saat Aluna melangkah menuruni tangga, ia melihat pemandangan yang sudah ia duga. Clara sudah duduk manis di samping Nyonya Widya, tertawa kecil sambil menuangkan teh. Kehadiran Clara yang sepagi ini tanpa undangan adalah bukti betapa ia merasa sudah memenangkan permainan semalam.
Bramasta duduk di kepala meja, wajahnya datar, namun matanya yang tajam langsung mengunci sosok Aluna yang baru saja muncul. Ada kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik rahang yang mengeras.
"Pagi, Nenek... Daddy," sapa Aluna dengan suara lembut yang terdengar sangat tenang.
Nyonya Widya menatapnya dengan ragu. "Aluna, Sayang? Kau sudah merasa lebih baik?"
"Iya, Nek. Maafkan aku soal semalam. Aku hanya terlalu lelah dan sedikit sensitif," Aluna tersenyum tipis, lalu tatapannya beralih pada Clara yang kini tampak tertegun melihat ketenangan Aluna. "Pagi, Kak Clara. Terima kasih sudah membawakan sarapan."
Clara mengerutkan kening sesaat, namun segera memasang topeng ramahnya. "Astaga, Aluna! Aku sangat khawatir padamu. Aku benar-benar merasa bersalah soal kecelakaan saus itu."
"Tidak apa-apa, Kak. Aku sudah memaafkannya. Kejadian itu murni ketidaksengajaan, kan?" Aluna duduk di samping Bram, tepat di hadapan Clara. Ia sengaja menggeser kursinya lebih dekat ke arah Bram, hingga lengan mereka bersentuhan.
Bramasta sedikit terkejut dengan inisiatif Aluna, namun ia tidak menjauh. Sebaliknya, ia meletakkan tangannya di atas tangan Aluna yang berada di meja.
"Daddy," panggil Aluna dengan nada manja yang sengaja ia buat lebih kental dari biasanya. "Aku ingin selai stroberi yang ada di depan Kak Clara. Tolong ambilkan untukku?"
Bramasta menatap Clara dengan dingin. "Clara, selainya."
Clara memberikan selai itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia bisa melihat bagaimana Aluna bersandar manja di bahu Bramasta saat pria itu mengoleskan selai ke rotinya. Pemandangan itu adalah duri bagi Clara. Ia telah menghabiskan seharian kemarin untuk menghancurkan mental Aluna agar menjauh dari Bram, namun kini Aluna justru tampak lebih dekat dan lebih berani.
Umpan yang Sempurna
"Nenek," Aluna memulai rencananya, menatap Nyonya Widya dengan mata yang tulus. "Karena Kak Clara sudah sangat baik kemarin, aku ingin membalasnya. Bagaimana kalau hari ini aku dan Kak Clara mengobrol di taman belakang? Aku ingin belajar lebih banyak tentang pekerjaan Daddy dari Kak Clara."
Nyonya Widya berbinar senang. "Ide bagus, Sayang! Nenek senang melihat kalian akur."
Clara tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Ia pikir Aluna sedang mencoba "menyogoknya" karena takut. "Tentu, Aluna. Aku akan dengan senang hati berbagi cerita."
Namun, Clara tidak tahu bahwa Aluna sudah menyembunyikan alat perekam di saku gaunnya, dan ia sengaja meminta Nyonya Widya untuk tetap berada di teras atas, di tempat di mana suara di taman bisa terdengar lamat-lamat jika suasana sunyi.
Saat mereka berjalan di taman, jauh dari jangkauan Bramasta namun masih dalam jangkauan pendengaran Nyonya Widya yang sedang asyik membaca buku di balkon atas, Aluna memulai provokasinya.
"Kak Clara, gaun hitam semalam benar-benar cantik," ujar Aluna, suaranya kini berubah menjadi datar dan penuh sindiran. "Terima kasih sudah membantuku menunjukkan pada Daddy seberapa besar ambisimu untuk menyingkirkanku."
Raut wajah Clara seketika berubah. Ia merasa aman karena Bramasta sudah berangkat ke kantor melalui pintu samping. "Kau akhirnya sadar juga, ya?" desis Clara, melepaskan topeng manisnya. "Dengar, Aluna. Kau hanyalah anak angkat yang kebetulan beruntung. Bramasta tidak pernah mencintaimu sebagai wanita. Kau hanya pajangan yang membosankan."
Aluna tertawa kecil, suara tawa yang sengaja ia buat terdengar meremehkan. "Benarkah? Tapi Daddy justru masuk ke kamarku semalam hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Dia mencium keningku sangat lama, Kak. Hal yang tidak akan pernah ia lakukan padamu, bukan?"
Amarah Clara meledak. Ia tidak tahan lagi dengan provokasi bocah yang ia anggap remeh ini. "Tutup mulutmu! Kau pikir dengan wajah lugu itu kau bisa menahannya? Aku sengaja menumpahkan saus itu agar kau terlihat seperti wanita murahan di restoran semalam! Dan kau tahu apa yang lucu? Nenekmu yang bodoh itu percaya padaku. Dia pikir aku malaikat, sementara kau hanya anak manja yang merepotkan!"
Clara melangkah maju, mencengkeram lengan Aluna dengan kuat. "Jangan pernah bermimpi bisa sejajar denganku di Bramasta Group. Kau itu sampah yang harus segera dibuang!"
"Oh... jadi Nenek bodoh karena mempercayaimu?" Aluna bertanya dengan nada yang sangat tenang, matanya melirik ke arah balkon atas.
Clara tertegun. Ia mengikuti arah pandang Aluna dan seketika wajahnya pucat pasi. Nyonya Widya sudah berdiri di sana, menatap ke bawah dengan wajah yang merah padam karena amarah. Sang matriark telah mendengar semuanya—pengakuan tentang saus yang disengaja, hingga hinaan terhadap dirinya sendiri.
Runtuhnya Topeng Sang Predator
"Clara..." suara Nyonya Widya terdengar bergetar karena emosi yang tertahan.
Clara segera melepaskan cengkeramannya pada Aluna. "Nyonya! Tidak, ini... ini tidak seperti yang Anda dengar! Aluna memancing saya!"
"Cukup!" Widya menuruni tangga taman dengan langkah cepat. "Aku memang tua, Clara, tapi aku tidak tuli. Kau berani menghinaku di rumahku sendiri? Dan kau mengakui telah merencanakan penghinaan terhadap cucuku di depan umum?"
Aluna menunduk, membiarkan beberapa tetes air mata jatuh agar aktingnya sempurna. "Nenek... aku tidak menyangka Kak Clara setega itu."
Nyonya Widya memeluk Aluna dengan protektif. Ia merasa sangat bersalah karena telah membela Clara semalam. "Maafkan Nenek, Sayang. Nenek benar-benar buta."
Widya menatap Clara dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Keluar dari rumah ini sekarang. Dan jangan pernah bermimpi untuk menginjakkan kakimu di Bramasta Group lagi. Aku sendiri yang akan memastikan suamiku dan Bram memecatmu secara tidak hormat."
Clara berdiri mematung. Rencana yang ia bangun dengan rapi hancur dalam hitungan menit oleh seorang gadis yang ia anggap "bayi". Ia menatap Aluna dengan kebencian murni, namun Aluna hanya membalasnya dengan senyum tipis—senyum seorang pemenang yang baru saja belajar bagaimana cara bermain di dunia orang dewasa yang kejam.
Malam itu, Aluna menyadari satu hal: ia tidak butuh pengawal untuk melindunginya dari Clara. Ia hanya butuh kecerdikan. Namun, ia juga tahu bahwa Bramasta tidak akan membiarkan Clara pergi begitu saja tanpa "hukuman" versinya sendiri.
keluarga yg dibangun dengan pikiran dangkal dan bodoh..jeluarga terhormat tapi lawan satu aja..kalah..wkwkkwkw
....dewasa😌