NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serigala Berbulu Domba

Bara terperangah. Ia segera menangkap kedua tangan kakek itu, menahannya agar berhenti menyakiti diri sendiri. Tenaga kakek ini ternyata lumayan kuat untuk ukuran orang lansia yang kelaparan, sebuah tenaga yang lahir dari rasa trauma yang mendalam.

​"Kek, istighfar, Kek! Lihat saya! Saya Bara, temennya Laras!" seru Bara setengah berbisik, berusaha tidak mengundang perhatian lebih banyak orang di warteg.

​Napas kakek itu tersengal-sengal. Matanya bergerak liar ke arah jalan raya, seolah-olah setiap mobil hitam yang lewat adalah malaikat maut yang menjemputnya. Ketakutannya begitu nyata, begitu pekat, hingga Bara bisa merasakannya merayap ke pori-porinya sendiri.

​"Iblis itu... dia punya mata di mana-mana, Le," bisik pria tua itu akhirnya, tubuhnya meluruh kembali ke bangku kayu, lemas tak berdaya. Dia yang membunuh Kang Suryo, dia juga yang mengusirku seperti anjing. Bara tertegun.

"Maksud Kakek... Mbah Kung Brotojoyo?"

​Mendengar nama itu, pria itu kembali gemetar.

​"Kek, dengar saya. Sekali ini saja, percaya sama saya. Saya bawa Kakek ke tempat aman. Ada kasur, ada air, dan nggak akan ada yang tahu Kakek di sana."

​Pria tua itu menatap Bara lama. Ada pergulatan batin di matanya yang keruh. Antara keinginan untuk terus bersembunyi atau keinginan untuk mengakhiri penderitaannya selama bertahun-tahun.

​"Kenapa kamu mau bantu saya, Le?" tanya kakek itu lirih.

Bara tersenyum tipis, tulus.

"Karena saya nggak suka lihat orang jahat menang kek"

Pelan-pelan, kakek itu mengangguk. Bara segera membantunya berdiri, memapahnya. Jantung Bara berdegup kencang. Ia segera memacu motornya, membawa pria tua itu membelah jalanan, memulai sebuah perang dingin melawan kekuasaan besar yang selama ini tak tersentuh.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

Atap sekolah yang biasanya menjadi tempat favorit Laras kini terasa asing. Matanya menyisir setiap sudut rooftop, namun sosok jangkung dengan rambut berantakan yang biasanya sudah duduk manis di sana, tidak ada. Bara menghilang.

​Laras merogoh ponselnya, mencari nama Bara di daftar kontak dan menelponnya.

​"Halo," suara Bara terdengar di seberang sana, berat dan seolah teredam oleh sesuatu.

​"Kamu di mana?" tanya Laras tanpa basa-basi.

"Kamu nggak masuk? Sakit?"

​Ada jeda yang cukup lama sebelum Bara menjawab. "Aku...."

​"Kenapa, Bar?"

​"Nanti aku telepon lagi, ya."

​Klik.

​Sambungan diputus sepihak. Laras terpaku menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ada sesuatu yang janggal. Bara bukan tipe orang yang mematikan telepon saat ia sedang bicara, apalagi dengan nada yang sesingkat itu. Sepanjang sisa pelajaran, pikiran Laras melayang jauh dari papan tulis, terjebak dalam teka-teki sikap Bara yang mendadak seperti itu.

​Sementara itu, di rumah Bara. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kamar. Ia baru saja mematikan ponselnya dan menoleh ke arah tempat tidur. Di sana, seorang pria tua sedang berbaring dengan napas yang mulai teratur. Setelah mandi dan mencukur jenggot putih yang tadinya tak terawat, sosok asli pria itu mulai terlihat. Aura ningrat yang tenang dan berwibawa perlahan bangkit dari balik sisa-sisa trauma.

​Bara menelan ludah. Wajah itu... benar-benar seperti melihat cermin dari almarhum Eyang Kakung Laras. Garis rahangnya, bentuk hidungnya—semuanya.

​Bara mengembuskan napas panjang untuk melegakan dadanya yang terasa sesak. Pikirannya bising oleh ribuan pertanyaan. Ia memutuskan keluar, duduk di teras rumahnya yang sepi, dan menyalakan sebatang rokok. Kepulan asapnya terbang ke udara, sama semrawutnya dengan rencana yang sedang ia susun di kepala.

Bara melihat jam dinding, di sekolah saatnya jam istirahat kedua. ​Kali ini, ia yang menghubungi Laras lebih dulu.

​"Halo, iya Bar?" suara Laras terdengar cepat, jelas sekali ia sedang menunggu telepon itu.

​"Pulang sekolah kamu bisa pergi denganku?" tanya Bara langsung.

​"Pak Joko pasti jemput aku tepat waktu, Bar. Kamu tahu kan aturannya gimana?" Laras terdiam sejenak.

"Sebenarnya ada apa, Bar? Tumben?"

​Bara menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Ia ingin bicara, ingin berteriak bahwa ada kakek dari keluarga Laras ada di rumahnya sekarang.

​"Oh... ya sudah kalau gitu," ucap Bara pendek, suaranya terdengar hampa.

​"Ada ap—"

​Laras belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Bara kembali memutuskan sambungan. Ia tidak sanggup mendengar suara Laras lebih lama. ​Bara memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia terjepit.

"Aku bingung, setelah ini aku harus apa?" batin Bara frustrasi.

Tiba-tiba, pintu kamar di belakangnya berderit pelan. Kakek keluar dengan langkah yang masih sedikit goyah, namun sorot matanya jauh lebih jernih dari sebelumnya. Ia mengenakan salah satu kemeja milik Bara yang tampak kedodoran di tubuhnya yang kurus. Ia duduk di sebelah Bara.

"Rokok kek?" Bara menyodorkan kotak rokoknya, sebuah gestur canggung untuk mencairkan suasana yang kaku.

Namun, pria tua itu hanya mengangkat tangan, menolak dengan halus namun tegas. Ada sisa-sisa wibawa yang tidak bisa disembunyikan.

​"Namaku Tedjo," ucapnya. Suaranya kini lebih stabil, tidak lagi gemetar seperti saat di warteg tadi.

"Aku adik kandung Kang Suryo."

​Bara tertegun, tangannya yang sedang memegang korek api mematung di udara. Ia menatap lekat-lekat wajah di depannya. Berbicara dengan sosok ini dalam kondisi bersih seperti sekarang terasa sangat berbeda; ada ketenangan yang magis.

​"Ternyata kamu anak Seno, ya?" lanjut Kakek Tedjo. Matanya yang keruh tampak menerawang, menggali memori dari tumpukan tahun yang telah berlalu.

​Bara semakin terpaku. "Kakek... tahu Bapak saya?"

​"Terakhir aku lihat kamu, kayaknya kamu masih SD. Sekarang sudah besar saja, sudah setinggi ini," Kakek Tedjo terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang sarat akan nostalgia.

​"Kakek pernah ketemu saya?" tanya Bara, dahi berkerut mencoba mengingat-ingat. Di memorinya.

​"Ya pernah. Pas di bengkel dulu," Kakek Tedjo tersenyum tipis, matanya menyipit.

"Waktu itu kamu sedang asyik bongkar mainan tamiya di sudut bengkel bapakmu."

​Bara tersenyum tipis mengingat bahwa memang dia suka bermain mobil tamiya mini 4WD.

"Maaf" kata kakek Tedjo lirih.

Dada Bara sesak seketika mendengar kata itu.

"Ma-maaf kenapa kek?"

Kakek Tedjo melihat Bara dengan wajah penuh bersalah. Bara menjadi gemetar. Kakek Tedjo memeluk Bara untuk menenangkannya.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

(Sepuluh tahun yang lalu)

Malam itu, Tedjo tidak bisa tidur. Ia keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun, langkah Tedjo terhenti saat ia melewati ruang kerja pribadi almarhum Suryo yang pintunya sedikit terbuka. Di dalam sana, remang cahaya lampu meja memperlihatkan siluet seseorang yang sangat ia kenali.

​Brotojoyo.

Kakak tirinya itu duduk di kursi kebesaran yang seharusnya menjadi milik Tedjo atau Suryo. Ia sedang menempelkan ponsel di telinganya. Tedjo baru saja hendak memanggil nama kakaknya itu, sampai ia mendengar nada suara Brotojoyo—sebuah nada yang belum pernah ia dengar sebelumnya: dingin, tajam, dan penuh kemenangan.

"Bagus, semua sesuai rencana." bisik Brotojoyo ke dalam telepon.

"Seno? Biarkan. Aku tidak ada urusan dengannya."

Darah Tedjo seolah membeku. Ia menahan napas, merapatkan tubuhnya ke dinding kayu jati yang gelap.

​"Tentu saja," Brotojoyo terkekeh pelan, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Tedjo berdiri.

"Suryo sudah mati. Sekarang, tinggal si bungsu. Tedjo itu lemah, dia hanya anak manja yang tidak tahu apa-apa. Menyingkirkannya akan jauh lebih mudah daripada mengurus si sulung."

Tedjo merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga tangannya yang memegang gelas bergetar hebat.

​"Sabar," lanjut Brotojoyo lagi.

"Aku tidak akan membunuhnya sekarang. Terlalu berisiko jika dua putra Widjaya mati berurutan."

1
Wawan
Sekuntum mawar merah buat story nya ✍️
Wawan
Mauuuu... 🤣
Wawan
Dua tangkai mawar merah buat Laras 😄
Wawan
Hadir
penavana: thingkiuuuu
total 1 replies
Carzenogenik
Hehehehehehehehehhe senyum2 sendiri dari tadi🌝
Carzenogenik
Bau2nya.... Tipuan yg gagal menipu😅
Carzenogenik
Jawab dengan singkat. "Gpp, sans"😶 Belom nyari buku juga, wkwk
Carzenogenik
Hmm... Segitunya kah? Bara lu baru aja guling2 di aspal?😭
Carzenogenik
CK. Iya2! Darah lo lebih kotor dari darah ayam! Cepet pakek dan jangan ngedumel!🙂
Carzenogenik
Hmm... Yahh, gw pun masih percaya sampe sekarang kalo bogem lebih manjur buat nunjukin berandalan dan sejenisnya. wkwk😌
Carzenogenik
Woooohh~😯
Carzenogenik
...Baru selangkah menuju kebebasan, tapi rasanya kebebasan itu makin jauh 🙂
Carzenogenik
Ugh... Tiba-tiba diriku cemas. Nggak akan ada apa-apa kan ini????😵‍💫
Carzenogenik
G-Gila... Apalah diriku yg suka bangun tengah malem dan bikin mie gegara keroncongan😅
Carzenogenik
Waah... Pasti nggak enak banget tuh bangun gragapan kek gini😅
Carzenogenik
Tiran... Eyangnya kayak TIRANN!! Ngeri banget! 😭😭
Carzenogenik
Se-Sebaiknya jangan gegabah 😵‍💫
Carzenogenik
Yah. Bagian ini mungkin dia juga salah. Kita nggak boleh ngediemin panggilan orang, apalagi ortu. Tapi... kalo tiap telpon isinya ngeselin, yaa...😶
Faeyza Al-Farizi
lah... bakul kunci kamu Den 🤣🤣🤣
Faeyza Al-Farizi
mana setuju pula, ketahuan gawat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!