NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Suami Protektif dan Posesif?

Langkah kaki menggema keras saat Prabujangga memasuki area lobi kantor. Kehadirannya yang jauh berbeda dari biasanya menarik perhatian beberapa pegawai yang tengah berlalu-lalang menyelesaikan pekerjaan mereka.

Tapi Prabujangga tak memberi pethatian, karena ada sesuatu yang jauh lebih besar yang harus ia selesaikan di atas sana—meladeni kehadiran kakaknya yang tiba-tiba datang.

"Pastikan istri saya beristirahat dengan benar, katakan padanya bahwa saya sedang pergi ke kantor untuk keadaan mendesak. Jangan biarkan siapapun menemui istri saya tanpa seizin saya." Melalui sambungan ponsel yang terhubung pada telepon rumah, Prabujangga bicara pada kepala pelayannya. Meara.

Tangannya dengan sedikit tak sabaran menekan-nekan tombol lift sampai akhirnya suara dentingan terdengar. Prabujangga kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.

Berat rasanya meninggalkan perempuan itu di saat seperti ini.

Apa yang sebenarnya kakaknya itu inginkan dengan mendesak ingin bertemu dengannya seperti ini?

"Prabujangga Wimana."

Tubuh Prabujangga membeku saat sosok Lihana tiba-tiba muncul di balik pintu lift yang terbuka.

Wanita itu bersandar tepat di pintu ruanganya. Tangannya bersedekap, kaki jenjangnya yang dibalut oleh celana panjang formal disilangkan dengan santai.

"Saya tidak mengira bahwa putra kesayangan Batra Wimana ternyata begitu pemalas," imbuhnya sarkas, matanya menilai penampilan Prabujangga dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Bukankah menemani istri yang sedang sakit terdengar terlalu sepele?"

Prabujangga menyipitkan matanya, kakinya melangkah keluar lift. "Dari mana kakak tau bahwa istri saya sedang sakit?"

"Memangnya detail kecil apa yang saya tidak tau tentang orang-orang Wimana?" Nada menjawab Lihana terdengar mengejek.

Rahang Prabujangga mengetat saat melihat kakaknya itu menegakkan tubuh dengan santai dan melangkah mendekat. Sorot mata mereka bertemu seperti sebuah cermin yang memantulkan persamaan. Terlalu mirip, seperti pinang dibelah dua.

"Apa yang sebenarnya kakek inginkan dengan memerintahkan kakak datang jauh-jauh dari Pakistan kemari? saya rasa bukan hanya untuk melihat jenis kelamin anak dari Ivana dan Indra." Tak ingin basa-basi, Prabujangga langsung menanyakan inti mengapa Lihana mau direpotkan dengan tugas sekecil ini.

"Tentu saja bukan hanya itu." Lihana terkekeh sinis. "Mungkin akan lebih sopan jika mengajak tamu bicara di dalam ruangan?"

Tanpa menunggu persetujuan dari Prabujangga, Lihana kini berbalik dan mendorong pintu ruangan Prabujangga hingga terbuka. Mau tak mau, Prabujangga mengikutinya masuk ke dalam.

"Berita tentang pernikahanmu sampai di telinga Tuan Besar." Lihana mendaratkan diri pada sofa panjang, kakinya dinaikkan ke atas meja kopi rendah. "Itulah mengapa saya diminta datang, bukan Benjamin."

Prabujangga terdiam, dia hanya berdiri dan menatap Lihana dari jarak yang cukup jauh. "Itu hal yang biasa," ujarnya. "Apa yang kakek inginkan dengan itu hingga mengirim kakak kemari?"

"Tuan Besar ingin bertemu dengan istrimu itu," balas Lihana santai, matanya memandangi kuku-kukunya yang di cat dengan warna gelap. "Tugas saya adalah membawa perempuan itu ke pakistan."

"Apa?" Nada Prabujangga meloncat tinggi tepat setelah berhasil memproses ucapan kakaknya. Kakinya maju selangkah, tangannya mengepal. "Untuk apa kakek ingin membawa istri saya jauh-jauh ke Pakistan? Dia bahkan tidak sama sekali datang ke pernikahan saya."

Lihana menarik naik sebelah alisnya. "Tuan Besar tidak pernah datang ke pernikahan siapapun, bahkan pernikahan anak-anaknya. Untuk apa dia datang ke pernikahanmu—"

"Dan kakek juga tidak pernah memanggil menantu-menantunya untuk menemuinya begitu jauh ke Pakiskan," sela Prabujangga, nada dinginnya bercampur dengan amarah. "Lalu kenapa saya harus mengizinkan kakak untuk membawa istri saya ke sana?"

Lihana perlahan-lahan bangkit, tangannya bersedekap. "Tidak ada yang meminta izinmu di sini," tuturnya, mulai kehilangan sikap santainya. "Di keluarga ini tidak ada yang bisa membantah perintah Tuan Besar, termasuk juga kamu, Prabujangga. Seharusnya kamu bersyukur karena secara tidak langsung istrimu yang polos itu membuat kakek sedikit melirikmu. Bukankah itu yang diinginkan oleh semua jantan-jantan Wimana?"

Urat-urat kesabaran Prabujangga terancam putus mendengar ucapan kakaknya. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja kakeknya itu ingin agar Kharisma menemuinya secara langsung. Untuk satu alasan yang Prabujangga tidak bisa mengerti, dia marah. Dia tidak terima jika ada orang lain yang mengusik istrinya.

"Presetan dengan perhatian, saya tetap tidak akan membiarkan kakak membawa Kharisma. Dia istri saya, milik saya. Tidak ada orang lain yang akan membawanya pergi tanpa seizin saya," tegas Prabujangga, terunjuknya menunjuk tepat ke arah Lihana—sebuah gestur tanpa kesopanan yang tidak pernah ia gunakan pada siapapun sebelumnya.

Bertepatan dengan itu, tiba-tiba ponselnya yang berada di dalam saku berdering. Melihat nomor rumah tertera di layar, dia mengurungkan niat untuk menolak panggilan. Dengan satu tatapan penuh peringatan ke arah Lihana, Prabujangga keluar dari ruangan untuk mengangkat panggilan.

Pikirannya tak bisa tenang setelah mengetahui apa maksud kedatangan kakaknya itu kemari.

"Ada apa?" suaranya memelan saat sudah berada di luar ruangan.

"Maaf, Pak, saya baru sempat mengabari karena saya baru saja membantu Non Kharisma. Dia pingsan, Pak, dan saya sudah menghubungi dokter untuk datang." Suara Meara terdengar menyahuti.

Garis-garis penuh amarah di wajah Prabujangga berganti menjadi kekhawatiran saat mendengar laporan dari Meara.

"Pingsan? bagaimana bisa?"

"Non Kharisma mencoba untuk keluar kamar karena merasa jenuh, tapi tiba-tiba dia mengeluhkan sakit kepala dan pingsan, Pak."

Prabujangga memejamkan matanya, ia tidak mengerti kenapa kini tubuhnya terasa ikut-ikutan melemas. "Apa yang dikatakan oleh dokter? Sakitnya parah?"

Terdapat hening yang cukup panjang sebelum Prabujangga mendengar jawaban Meara.

"Dokter mengatakan bahwa Non Kharisma baik-baik saja, Pak. Beliau mengatakan kalau Non Kharisma membutuhkan banyak-banyak istirahat. Dan..."

Prabujangga mengerutkan kening. "Dan apa?"

"Dokter... mengatakan bahwa Non Kharisma sedang hamil."

...***...

Suara raungan mobil terdengar nyaring. Dua penjaga di dalam pos berdiri serempak saat melihat sedan hitam mewah membunyikan klakson dengan tak sabaran. Jendela hitam itu turun perlahan, dan kepala sosok Prabujangga menyembul keluar dengan ekspresi menggelegar.

"Saya tudak membayar kalian untuk bermalas-malasan! Cepat buka gerbang ini sebelum saya mematahkan hidung kalian berdua!"

Kedua penjaga itu terkesiap, bahkan sedikit melompat di tempat mendengar suara membentak bos mereka. Prabujangga yang dikenal akan sikap dingin dan diamnya untuk pertama kali menunjukan amarah secara terang-terangan.

Dua penjaga itu berlari tergopoh-gopoh membukakan gerbang, menundukan kepala saat mesin mobil meraung lebih keras memasuki halaman.

Prabujangga memarkirkan asal mobilnya, bahkan dia tidak sempat untuk sekedar mencabut kunci karena lebih dulu keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam. Sepi menyambut saat ia memasuki area ruang tamu.

Prabujangga menaiki dua anak tangga sekaligus dan menerobos masuk ke dalam kamar, tubuhnya membeku saat melihat Kharisma berada di atas tempat tidur dengan Meara yang tengah berdiri di hadapannya.

"Mas Prabu?" Senyum mengembang di wajah cantik Kharisma saat melihat kehadiran Prabujangga. Meara langsung mundur saat Prabujangga berhambur untuk memeluk istrinya.

Kharisma tersentak, tubuhnya sedikit menegang saat Prabujangga memeluknya terlalu erat. Wajah laki-laki itu terbenam di lehernya, tangannya melilit tubuh Kharisma terlalu keras.

Senyum perlahan-lahan tercipta di bibir Kharisma, tangannya bergerak untuk membalas pelukan Prabujangga. "Mas pasti bahagia sekali, ya? Makannya memeluk seperti ini?"

"Dari mana kamu bisa tau bahwa saya bahagia? Sikap sok taumu itu akan selalu membuat kamu besar kepala," bisik Prabujangga, bibirnya menyentuh kulit leher Kharisma tiap kali bicara.

Pikiran Prabujangga semakin kusut, pelukan yang diberikan oleh istrinya semakin membuatnya sulit berpikir. Ucapan Lihana terus membayangi kepalanya, seolah-olah otaknya menolak kenyataan bahwa istrinya bisa dibawa kabur kapan saja. Dan sekarang, ancaman itu semakin mencekiknya dengan hadirnya kenyataan bahwa di perut istrinya kini tumbuh makhluk kecil yang merupakan sebuah keajaiban. Anaknya.

"Mas Prabu... adik bayi bisa tercekik jika Mas memelukku seerat ini," gumam Kharisma, bergerak-gerak dalam pelukan Prabujangga yang tidak melonggar.

Prabujangga menggeleng, hidungnya menggesek leher Kharisma. "Jadi sekarang kamu lebih memikirkan anak ini daripada saya?" bisiknya, telapak tangannya bergerak mengelus perut rata Kharisma dengan lembut. "Saya harus tetap menjadi prioritas."

Aksi romantis itu tak luput dari pandangan Meara yang masih berdiri di sana, senyum geli terukir di wajahnya melihat interaksi majikannya.

"Siapa saja yang sudah tau mengenai berita ini?"

Saat pertanyaan Prabujangga terlontar, barulah Meara membungkuk sopan sebelum menjawab. "Hanya saya, Bapak, dan Non Kharisma. Saya belum sempat memberi tau Bu Nada dan Pak Batra karena mereka sedang berada di luar kediaman."

Prabujangga perlahan-lahan melonggarkan pelukannya, namun tak sepenuhnya melepaskan Kharisma. Matanya mengamati wajah istrinya itu yang tampak polos dan menyebalkan. Rona di kedua pipi, bibirnya yang mengerucut, dan mata bulatnya yang mengerjap.

Siapa yang menyangka bahwa istrinya yang bawel ini sekarang tengah mengandung anaknya?

Dia menoleh ke arah Meara, ekspresinya kembali dingin. Apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan kakaknya itu bertemu dengan Kharisma.

"Jangan sebarkan berita kehamilan istri saya kepada siapapun, termasuk kepada Mama dan Papa saya."

Senyum Kharisma perlahan menyurut. Ekspresi bahagianya berubah menjadi raut kebingungan mendengar perintah Prabujangga pada Meara.

"Maksud Mas—"

"Siapkan koper dan masukan beberapa pakaian istri saya, dan jangan berani-beraninya kamu membocorkan tentang berita ini," peringat Prabujangga pada Meara. "Saya akan membawa istri saya ke kediaman orang tuanya untuk sementara waktu."

Prabujangga kembali menatap wajah Kharisma yang kebingungan. Tapi untuk sekarang ia tidak peduli, karena hal terpenting yang harus ia lakukan hanya satu—mengamankan istri dan anaknya dari jangkauan kakak dan kakeknya.

Bersambung...

1
Elisabeth Lalang
Bukankah tujuan dari maksud pernikahan itu adalah agar Prabu dan Kharisma memiliki anak lalu kenapa sekarang Prabu semena-mena akan meninggalkan Kharisma Di Malam pengantinnya😟
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!