Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Keren
Dominic nampak terdiam dan mencoba mencerna apa yang dikatakan Leo. Dia heran mengapa anaknya itu sangat lancar berbicara, padahal Leo biasanya hanya bisa mengucapkan dua kata saja, itupun tidak lancar.
Sedangkan Roseana nampak geram sebab Leo kini baginya sudah mulai bisa mengadukan dirinya pada Tuan Dominic. "Awas kau nanti," bisik Roseana dalam diamnya.
"Maksudmu apa?" tanya Dominic, merasa tidak sabar mendengar pembelaan anaknya.
"Dia sering memukulku, membentak, dan mengancamku kalau aku tidak mau bicara," tegas Louis, meskipun dengan kebohongan. Sebab bukan dia yang mengalami kekerasan, melainkan anak yang bernama Leo.
Dominic menatap tajam pada Roseana, sedangkan wanita itu semakin gugup. Ternyata Leo sudah bisa berbicara lancar tanpa sepengatahuannya.
Dengan cepat Roseana menghampiri Louis dengan senyuman palsu di bibirnya, kemudian mebekap mulut Louis agar tidak berbicara banyak pada Dominic tentang kekerasan yang telah dilakukannya.
"Diam kamu!" geram rendah Roseana sambil membekap mulut Louis kasar dan mencubit tangannya dengan keras.
"Aaaauh..." teriak Louis sekuat mungkin agar pria dingin di hadapannya menyadari bahwa wanita itu sedang mencoba menyakiti anak kesayangannya.
Dominic langsung menangkap suara Louis yang terlihat mengerang kesakitan ketika Roseana menutup mulut anaknya. "Roseana, apa yang kamu lakukan pada anakku?"
Roseana terperanjat dengan suara rendah dan dingin milik Dominic, membuatnya buru-buru melepaskan cengkramannya pada wajah Louis.
"Maaf Tuan, tadi saya melihat remahan roti pada wajah Leo," ujar Roseana sambil mempautkan kedua tangannya dan menundukan matanya.
"Tidak ada orang yang membekap mulut anak hanya untuk membersihkan wajahnya," geram Dominic dengan rendah.
Mendengar hal itu, justru Robert yang lebih dahulu mendekati Louis dan menyingkirkan Roseana. Sebab dia tahu apa yang akan terjadi jika Tuan mengeram rendah seperti itu.
"Jelaskan padaku semuanya?!"
Roseana menunduk dalam-dalam. "Iya, saya hanya melakukan terapi seperti biasanya, tapi Tuan Muda kabur karena tidak mau menjalani terapi."
Dominic memperlihatkan tatapan mata elang seolah akan menghunuskan benda tajam pada wanita yang pura-pura polos itu. "Selama tujuh tahun bersama anakku, hanya itu saja alasanmu? Kalau bukan karena ibuku, sudah lama ku pencat kau,"
Robert melihat tangan Louis yang tadi membuatnya mengadu kesakitan. Dia melihat bulatan biru yang perlahan berubah menjadi ungu, seolah baru saja seseorang melakukan kekerasan padanya.
Robert langsung menoleh pada Dominic. "Tuan, tangan Tuan Muda," ujarnya sambil memperlihatkan bekas berwarna biru yang ada di balik bajunya pada Dominic.
Dominic langsung menoleh pada Louis yang masih terlihat meringis karena bekas cubitan berwarna biru menyala itu.
Tanpa aba-aba dengan wajah yang geram, dia menghampiri Roseana dengan cepat dan menamparnya dengan keras.
"Beraninya kau!" nafas Dominic kembang-kempis, seolah darah dalam tubuhnya kini sedang mendidih.
Roseana nampak menyentuh pipinya yang terasa sakit dan panas akibat tamparan yang baru saja dilayangkan Dominic.
Dominic memalingkan wajahnya karena merasa jijik dengan ekspresi Roseana yang berpura-pura lemah. "Cih... Jujur saja aku tidak suka menampar seorang wanita, tetapi tidak mungkin wanita seperti kamu menyakiti seorang anak kecil. Anggap saja sekarang impas."
Roseana terdiam sejenak, matanya berapi-api bukan hanya karena malu, tapi juga karena marah yang menyelimuti dirinya. Namun, ketika menegakkan wajahnya, dia mencoba bersikap tidak bersalah dan seolah menyudutkan Dominic dengan ekspresi wajahnya.
"Tuan, Anda tidak mengerti betapa sulitnya mengurus Tuan Muda yang tidak bisa bicara, anak cacat seperti dia..."
"... Anak seperti dia seharusnya sudah bisa berbicara dengan baik. Saya sudah mencoba dengan sebaik mungkin, tapi Leo tidak mau mendengarkan, dan saya tidak bisa mengontrol diri..." jelas Roseana tanpa rasa bersalah.
"Apa kau bilang?!" Dominic mencengkram tangannya, merasa tidak tahan lagi dengan omongan wanita yang ternyata selama ini menyakiti putranya.
"Robert! Bawa dia pergi, dia harus mendapatkan apa yang pantas baginya. Beraninya dia menyakiti putraku!"
Robert yang mendengar perintah Tuannya langsung menghampiri Roseana dan menarik tangannya dengan kasar.
Roseana nampak memberontak, merasa telah menyentuh orang yang salah. "Tuan, saya tidak salah, Tuan!" teriak Roseana ketika tangannya ditarik ke belakang oleh Robert.
"Aku tidak perduli, bawa dia ke ruang tahanan."
Dominic tidak perduli sama sekali dengan Roseana. Dia malah memalingkan wajahnya kemudian menghampiri Louis yang tidak mau melihat wajahnya sama sekali.
"Papa akan mengurus ini terlebih dahulu. Kamu jangan berkeliaran lagi, ya. Dengar?" ujar Dominic sambil menyentuh hidung Louis. Kemudian dia pergi begitu saja.
Louis lalu melirik pria yang menghilang di balik pintu itu. Anak itu berbalik badan dan menggerutu, "Hem... Andai aku memiliki ayah seperti itu, mungkin akan terlihat keren. Untungnya aku sudah mengambil sampel rambutnya."
Louis sengaja menarik rambut Dominic tanpa pria itu mengetahuinya, ketika Dominic sedang menyentuh hidungnya tadi.
*
Sedangkan di seberang kamar lainnya, Sera nampak meraup wajahnya. Putranya yang biasanya cerewet itu sejak tadi tidak berbicara sepatah kata pun.
Anak itu nampak duduk rapi dengan kedua kaki rapat dan tangan di atas pahanya, diam seperti patung. Dia mengenakan baju yang formal; yang pasti Sera tidak tahu di mana anaknya menemukannya.
"Kamu ini kenapa, Louis? Kamu demam atau kebelet berak sih?" ujar Sera sambil memegang pinggangnya dan berjalan bolak-balik di hadapan Leo.
Leo saat ini terus memandangi Sera dengan kagum, sebab orang di hadapannya itu terlihat benar-benar peduli padanya. Bahkan mengecek kondisinya dengan penuh perhatian.
Tidak seperti orang-orang di rumahnya yang hanya peduli padanya karena terpaksa oleh pekerjaan mereka. Jika tidak, ayahnya akan marah atau memecat mereka.
Baru saja Sera ingin marah lagi, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia setengah hati merapikan rambutnya, kemudian mengambil ponsel yang berada di atas nakas.
"Halo, iya Pak, bagaimana?" tanya Sera pertama kali.
"Maaf Ibu, sepertinya pertemuan kita kali ini dibatalkan sebab Pak CEO sedang ada urusan mendadak. Namun Bapak sudah melihat proposalnya dan beliau menyetujui hubungan kerja ini. Silakan segera datang untuk menandatangani kontrak..." sahut orang di seberang sana.
Membuat Sera sangat senang. "Baik Pak, saya akan segera kesana sekarang juga!" jawab Sera sambil mematikan ponselnya, kemudian menoleh pada putranya yang masih terdiam seperti patung di atas sofa.
"Louis, kamu dengar? Mama berhasil! Mama akan ajak kamu makan apa saja yang kamu mau, mau tidak?" pekik Sera dengan kegirangan dan mencoba mengambil tangan putranya agar anaknya juga ikut senang. Namun Louis yang dikenalinya itu hanya terus diam.
Sera menyipitkan matanya, kemudian berdiri dari posisi jongkoknya. "Ya sudah lah kalau begitu, Mama pergi dulu ya. Kamu ingat, jangan melakukan hal aneh-aneh lagi!"
Sera kemudian meninggalkan kamarnya demi menandatangani proyek yang telah dia buat. Sedangkan Leo hanya melihat Sera pergi dengan ekspresi wajah yang datar.