Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel di Atas Air
Matahari Trowulan mencapai puncaknya, menggantung tepat di atas Danau Segaran yang luas di jantung kompleks istana Majapahit.
Air danau yang berwarna hijau zamrud itu tampak tenang, namun di bawah permukaannya, ribuan pasang mata ikan dan arus buatan para pendeta istana menciptakan ketegangan yang nyata.
Di tengah danau, sebuah arena telah disiapkan: sebuah panggung kayu jati berukuran raksasa yang tidak dipancang ke dasar danau, melainkan terapung bebas di atas ratusan drum perunggu kosong.
Panggung itu terus bergoyang mengikuti riak air, menciptakan tantangan keseimbangan yang mustahil bagi kesatria biasa.
Inilah babak 32 besar Sayembara Jagat Raya, tempat di mana kekuatan kasar harus tunduk pada ketangkasan dan pengendalian diri.
"Pertandingan keempat!" seru sang wasit kerajaan dari tepi dermaga yang megah. "Sura, sang kuli dari antah berantah, melawan Jala Rangga, Putra Samudera dari Suku Laut Utara!"
Sorak-sorai penonton pecah, namun nada cemoohan lebih mendominasi. Subosito, yang masih mengenakan pakaian kuli goni basahnya, melangkah kaku menaiki perahu kecil yang akan membawanya ke panggung terapung.
Jalannya sengaja dibuat sedikit pincang—sebuah upaya untuk menutupi kelincahan alaminya.
Sementara itu, lawannya, Jala Rangga, melompat dari perahu lain dengan gerakan yang sangat halus. Dia adalah pria bertubuh ramping dengan kulit berwarna gelap yang berkilau karena minyak ikan, mengenakan celana pendek dari kulit hiu dan memegang sepasang belati tulang ikan pari yang bergerigi.
Begitu keduanya berdiri di atas panggung kayu yang bergoyang, Jala Rangga menyeringai. "Kau salah tempat, Kuli. Di atas air ini, setiap langkahmu adalah pengkhianatan bagi keseimbanganmu sendiri. Aku akan mengirimmu kembali ke dasar danau bersama lumpur!"
Subosito tidak menjawab, dia hanya berdiri bungkuk, kepalanya tertutup caping yang sudah sobek sebagian. Pikirannya berputar cepat. Dirinya merasakan panas Garuda Paksi di punggungnya kembali bergejolak, dipicu oleh aura permusuhan lawan.
Namun, tantangan kali ini adalah penjara yang sempurna. Panggung kayu ini sangat kering; satu percikan api emas dari telapak kakinya saja akan mengubah arena ini menjadi obor raksasa dalam sekejap. Dan aturan Maharaja sangat jelas: siapa pun yang menghancurkan arena atau menggunakan sihir yang membahayakan penonton akan didiskualifikasi secara memalukan.
Ingat pesan Larasati. Kosongkan niat. Jadilah dingin, batin Subosito.
Pengadil membunyikan gong perunggu.
Jala Rangga bergerak seperti belut di dalam air. Dirinya tidak berlari, melainkan meluncur. Karena panggung itu terapung, setiap gerakan Rangga justru membuat sisi panggung Subosito terangkat. Subosito terhuyung, mencoba menjaga pijakannya di atas papan jati yang licin.
Wush!
Sebuah belati tulang pari melintas hanya seujung rambut dari leher Subosito. Jala Rangga menyerang dengan kecepatan yang sinkron dengan goyangan panggung. Pemuda berkulit gelap itu menggunakan ketidakstabilan arena sebagai kelebihannya.
Subosito terjatuh, atau setidaknya dia membiarkan dirinya tampak terjatuh. Subosito berguling di atas papan kayu, menghindari tebasan kedua. Sura bisu itu harus membalas, tetapi tangannya terasa berat karena menahan seluruh aliran energinya. Setiap kali Subosito ingin memukul, dia takut hawa panasnya akan bocor.
"Ada apa, Bisu? Kau mabuk laut?" ejek Jala Rangga, melompat tinggi dan menghantamkan kedua belatinya secara vertikal.
Subosito memutar tubuhnya ke samping. Panggung itu miring tajam hingga air danau mulai membasahi permukaan kayu. Saat itulah, dalam keadaan terdesak di pinggir panggung, Subosito teringat sesuatu. Dirinya teringat akan warisan yang diterima dalam pertarungannya melawan Lembuswana—energi dari Gada Sungsang Aji yang telah melebur dalam jiwanya.
Gada Sungsang Aji bukan hanya tentang berat dan penghancuran. Sungsang Aji adalah tentang Bumi yang Menopang. Sungsang Aji melambangkan akar yang menembus hingga inti dunia, tak tergoyahkan oleh badai apa pun.
Aku tidak perlu api untuk menang. Aku hanya butuh beratnya bumi, pikir Subosito.
Pemuda itu berhenti, mencoba menyeimbangkan diri secara manual. Sebaliknya, Dirinya memfokuskan energi tanah dari Sungsang Aji ke telapak kakinya.
Subosito tidak melepaskan energi itu sebagai serangan, melainkan sebagai "jangkar". Secara ajaib, sisi panggung tempat Subosito berdiri mendadak menjadi sangat stabil, seolah-olah kayu itu menyatu dengan dasar danau.
Jala Rangga, yang sedang meluncur maju untuk serangan pamungkas, terkejut. Irama goyangan panggung yang dia kendalikan mendadak terhenti secara kasar. Pemuda berkulit gelap itu kehilangan momentum, tubuhnya terlempar sedikit ke depan karena perubahan gravitasi yang mendadak.
Subosito bangkit dengan satu gerakan halus—pincangnya menghilang dalam sekejap. Dirinya melangkah maju, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan kecil di kayu jati tanpa ada satu pun percikan api. Ini adalah bela diri murni yang dipadukan dengan bobot mistis tanah.
Jala Rangga mencoba menusukkan belatinya ke dada Subosito. Subosito tidak menghindar, hanya sedikit memiringkan bahunya.
Belati tulang itu menghantam otot bahu Subosito, namun bukannya menembus, belati itu justru patah berkeping-keping seolah menghantam dinding karang yang keras.
Mata Jala Rangga membelalak ngeri. "Kulit macam apa ini?!"
Subosito menangkap pergelangan tangan Jala Rangga. Dengan teknik kuncian Sandhang Lawe yang dia pelajari dari kitab kuno kesatria tua, Subosito memutar lengan lawannya.
Jala Rangga mengerang kesakitan. Subosito tidak memberikan ruang napas. Pemuda itu melayangkan sebuah pukulan telapak tangan terbuka tepat ke ulu hati Jala Rangga.
Pukulan itu sangat sunyi. Tidak ada ledakan, tidak ada cahaya. Namun, Jala Rangga merasakan seolah-olah sebuah gunung kecil baru saja menabrak perutnya.
Seluruh udara di paru-parunya keluar seketika. Tubuhnya terangkat dari panggung dan terlempar sejauh sepuluh langkah sebelum jatuh ke dalam danau dengan bunyi plung yang keras.
Hening sejenak melingkupi Danau Segaran. Ribuan penonton terdiam, tak percaya melihat sang "Putra Samudera" dikalahkan oleh kuli yang tadi mereka tertawakan.
Lalu, sebuah suara teriakan kecil pecah. "Sura! Sura si Kuli!" Itu suara Jati yang melompat-lompat di pinggir dermaga.
Tiba-tiba, sorak-sorai bergemuruh membelah langit Trowulan. Rakyat jelata yang menonton dari kejauhan merasa memiliki pahlawan baru. Seorang kuli, seorang yang pincang, seorang yang cacat dan bisu, baru saja menjatuhkan kesatria kasta tinggi hanya dengan tangan kosong. Nama "Sura" diteriakkan berkali-kali, menjadi gelombang suara yang menggetarkan permukaan danau.
Subosito berdiri diam di tengah panggung yang kini kembali tenang. Dia sedikit membungkuk, menormalkan napasnya.
Di tribun kehormatan, dia bisa merasakan tatapan mata yang tajam. Kesatria Naga Sisik Perak sedang memperhatikannya dengan tangan bersedekap.
Mata peraknya tampak menyempit, penuh dengan kecurigaan. Dia mungkin tidak melihat api, tetapi dia melihat kekuatan yang sangat dia kenal—kekuatan yang seharusnya hanya dimiliki oleh para pelindung papat kiblat.
Subosito segera kembali ke aktingnya. Pemuda itu memegang pinggangnya seolah baru saja terkilir dan berjalan pincang menuju perahu jemputan. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan capingnya menutupi kilatan kemenangan di matanya.
Saat dia sampai di dermaga, dia melihat Larasati sedang dipersiapkan untuk pertandingannya. Gadis buta itu tampak tenang, namun tangannya yang memegang tongkat cendana memutih karena genggaman yang kuat.
"Kau melakukannya dengan baik, Sura," bisik Larasati saat mereka berpapasan di tangga kayu. "Tapi lawanmu berikutnya tidak akan menyerang fisikmu. Majapahit mulai mencium bau tanah dan api darimu!"
Subosito hanya mengangguk kecil sebagai tanda dukungan bagi sang gadis buta. Dia kemudian berjalan menuju kerumunan, menghilang di antara para penonton, mencoba untuk meredam kembali getaran energi Sungsang Aji yang masih hangat di kakinya.
Namun, di balik kegembiraan massa, dirinya menyadari bahwa setiap kemenangan membawanya satu langkah lebih dekat ke kematian.
Penyamarannya sebagai Sura mulai retak di bawah sorotan lampu istana. Subosito harus mencari cara untuk tetap memenangkan sayembara tanpa harus membongkar identitas aslinya sebagai Subosito, sang buronan Kadipaten.
Kemenangan Sura atas Jala Rangga telah mengubah konstelasi kekuatan di babak 32 besar. Kini, sang "kuli bisu pincang" tidak lagi dianggap remeh, melainkan dianggap sebagai ancaman misterius yang harus diselidiki.
Sementara itu, ujian bagi Larasati baru saja dimulai. Di atas panggung yang sama, gadis buta itu harus berhadapan dengan pendekar yang memiliki senjata yang menjadi kelemahan alami setiap pengguna energi batin. Mampukah gadis buta itu bertahan tanpa penglihatan di tengah badai serangan yang akan menghancurkan segalanya?
Jangan lewatkan kelanjutan kisah Subosito.