Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Naya mengarahkan mereka ke gedung yang berderet panjang yang memiliki banyak sekali pintu kayu di sepanjang koridor. Bangunan ini sederhana, bersih, dan terlihat nyaman.
"Mulai hari ini kalian akan tinggal disini! satu kamar berisi dua orang. Jadi kalian harus berbagi kamar." Ucap Naya tegas sembari menatap mereka satu persatu.
"Kalian sendiri yang tentukan mau sekamar dengan siapa, aku tak ingin ikut campur soal itu." Ucap Naya lalu melangkahkan kakinya.
Namun... Baru saja berjalan beberapa langkah, Naya membalikan tubuhnya.
"Bersiaplah! Satu jam lagi aku akan menjemput Kalian untuk memberitahukan tugas yang akan kalian kerjakan. Dan satu lagi... Kalian juga akan melakukan pelatihan di esok hari. Jangan terlambat!" Peringat Naya lalu meninggalkan mereka berenam.
Perlahan punggungnya tak terlihat lagi. Kini di tempat yang sepi ini... Mereka berenam masing terdiam tanpa ada yang mau mengeluarkan suara hanya sekedar untuk mencari teman tidur.
"Aku akan bersama Kak Kinara!" Teriak Jenny seraya mengapit lengan Kayla.
Suaranya itu berhasil memecah keheningan, dan membuat mereka akhirnya tersadar dari lamunan yang tak bermanfaat.
"Tidak bisa! Kalian tidak boleh sekamar!" Ucap Vanya tidak setuju.
"Aku setuju! Kalian adalah temenan kan? Kalau kalian bersama, akan keliatan tidak adil buat kita semua." Ucap Amber membenarkan ucapan Vanya.
"Jadi kalian mau salah satu dari kita jadi teman tidur kalian? Oke siapa takut! Nanti kalau ada sikap kami yang kalian tidak sukai, jangan harap mengganti teman tidur!" Tantang Jenny sembari tersenyum sekilas.
"Tidak akan!" Jawab Amber dan Vanya kompak.
Alfian dan raga hanya terdiam melihat pertengkaran ini. Mereka berdua saling memberikan kode, lalu pergi ke salah satu kamar. Mereka tak memperdulikan pertengkaran para ras penguasa bumi itu.
"Kau berasal dari mana?" Tanya Raga sembari mengatur-atur pakaiannya di dalam lemari kecil.
Alfian melirik sekilas, "Aku berasal dari pedesaan. Tujuan utama aku kesini yaitu, untuk mengubah nasibku yang tak beruntung ini."
"Aku berasal dari kota awan. Kedepannya mari kita saling membimbing dan bekerja sama!" Raga mengangkat tangan kanannya sperti ingin berjabat tangan.
"Tentu!" Jawab Alfian membalas dan menjabat tangan Raga dengan sopan.
Sementara itu...
"Ok! Aku akan sekamar denganmu!" Ucap Vanya seraya melirik Jenny.
"Oke!" Jawab Amber dan Jenny barengan.
Tadi Amber dan Jenny memaksa Vanya untuk sekamar dengan Jenny. Kalau Vanya nggak mau, Jenny dan Kayla akan satu kamar.
Awalnya gadis itu tidak mau dan mati-matian membantah usulan itu. Dia pikir Jenny lebih berbahaya dari pada Kayla, sehingga ia ingin sekamar dengan Kayla saja.
Tiba-tiba...
"Kalian belum selesai?"
Suara itu terdengar sangat dingin dan familiar. Mereka berempat refleks menengok dan mendapati Naya tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka.
"Aku kasih waktu 5 menit buat siap-siap! Kalau ada yang terlambat... Siap-siap angkat kaki dari tempat ini!"
Deg!
Ucapan terakhir Naya bagai bom waktu. Begitu diucapkan, langsung mendebarkan jantung bagi siapa saja yang mendengarnya.
Saking paniknya, mereka berlari dengan sangat cepat, lalu membanting pintu kamar dengan kuat.
Bumm!
Bumm!
( Kamar Jenny dan Vanya)
"Aku yang ganti duluan! Kamu tutup mata dulu!" Ucap Amber seraya mengeluarkan pakaian dari dalam tas.
"Nggak! Kita ganti baju sama-sama! Kamu mau bikin aku terlambat? Yang bener aja!" Ucap Jenny ketus.
Setelah memilih-milih pakaian ia segera mengeluarkan bajunya dan memakai baju yang baru saja menjadi pilihannya.
"Aaaaaaa!"
Vanya teriak histeris melihat Jenny yang langsung membuka baju tanpa aba-aba. Ini adalah hal langkah yang pernah dilihatnya.
"Tiga menit lagi!" Teriak Naya dari luar.
Teriakannya itu membuat Vanya tak berpikir panjang, dia langsung membuka bajunya. Sebenarnya dalam hati dia sangat malu, tapi dia mengesampingkan rasa malunya itu agar bisa tetap bekerja disini.
"Selesai!" Teriak Vanya setelah selesai mengenakan bajunya.
Jenny menatap tubuh Vanya dengan tatapan meremehkan. Tatapannya seolah berkata "Nggak terlalu bagus juga, kenapa takut dilihat?"
"Jangan menatapku seperti itu!" Bentak Vanya dengan suara yang menggelegar di ruangan. Ia paham arti tatapan itu, sehingga membuatnya sangat emosi.
"Nggak Kok! Aku hanya...Sedikit kagum." Ucapnya santai seraya menampilkan senyuman manis. Senyuman yang anehnya terlihat sangat menyebalkan ketimbang kata-kata makian.
"Satu menit lagi!"
Teriakan itu membuat mereka berdua berhenti berkelahi. Mereka buru-buru membuka pintu dan berlari ke sumber suara.
"Huh! Beneran kaya ikut lomba maraton!" Teriak Jenny dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ikut aku!" Ucap Naya dengan tegas.
Setelah mereka sudah berkumpul semua, Naya segera mengarahkan mereka ke dalam gedung inti. Atau Gedung tempat tinggal anak-anak. Digedung ini sudah sangat lengkap, mulai dari tempat tidur anak-anak, ruang belajar, dan ada juga ruang latihan di berbagai bidang serta dapur dan ruang pribadi milik Ratna si ketua panti.
"Nggak istirahat dulu nih?" Tanya Jenny dengan lantang, ia seakan tak takut dengan Naya sama sekali.
Kayla segera mencubit pinggang Jenny sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Awh!"
"Istirahat saja! Setelah istirahat kau boleh meninggalkan tempat ini!" Ucapnya dengan nada yang tegas.
"Hehehe... Nggak jadi kak." Ucapnya tersenyum cengengesan.
Setelah masuk kedalam, ruangan pertama yang mereka lihat adalah ruang belajar. Ruang belajar ini dipakai untuk anak-anak yang ingin belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah. Ruangan ini seperti perpustakaan, dimana ruangannya dipenuhi oleh buku-buku mata pelajaran dan buku umum.
Ruangan ini sangat luas, Ratusan anak-anak bisa muat dalam ruangan ini. Selain itu, diruangan ini dilengkapi oleh alat tulis menulis. Sehingga saat anak-anak membutuhkannya, mereka tak perlu membeli ke toko-toko.
Di pintu ruangan ini sudah tertulis (Ruang Belajar). Tulisannya sangat besar, sehingga bisa dilihat dari arah kejauhan.
"Ini adalah ruang belajar. Saat anak-anak sudah waktunya belajar, kalian akan mendampingi sekaligus mengawasi mereka. Tidak boleh ada yang bermain-main disini, semuanya harus tertib!" Ucapnya dengan penuh penegasan.
Setelah melihat ruang belajar dengan seksama, mereka kini beralih ke ruang latihan. Dimana ruang latihan ini 10 kali lipat lebih luas ketimbang ruang belajar.
Ruangan Latihan dibagi menjadi beberapa ruangan sesuai bidang. Ada ruang Sastra, Ada ruang melatih fisik, ada ruang Busana, ruang Olahraga, dan juga ruang Laboratorium Sains yang sangat lengkap dengan alat-alatnya.
Jenny dan Kayla tertegun. Walaupun sempat masuk ke dalam gedung ini, mereka tidak tahu kalau gedung ini ternyata sangat lengkap dan canggih. Mereka memang sudah mendengar rumornya di internet, tapi melihat secara langsung seperti ini rasanya sangat berbeda dibanding hanya mendengar lewat tulisan dan kata-kata.
"Anak-anak panti sudah dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Setiap satu kelompok berisi 7 orang. Kalian ber empat akan bertanggung jawab atas masing-masing kelompok. Jika ada salah satu kelompok kalian yang membuat keributan, kalian akan mendapat hukuman."
Ucapan Naya setelahnya membuat mereka berempat sedikit terkejut. Mengurus satu anak saja akan membuat kepala pusing, apalagi harus mengurus 7 anak. Dan yang paling parah adalah, mereka yang akan menanggung akibat dari perbuatan anak-anak asuhnya.