NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Aris

​Pagi yang cerah di Desa Kendal diiringi oleh riuh rendah suara warga yang mengantre di depan Klinik Cahaya Ibu. Sejak pukul delapan pagi, ruang tunggu sudah dipenuhi oleh ibu-ibu yang membawa balita, lansia yang ingin memeriksakan linu di persendian, hingga beberapa pemuda desa yang mengalami luka ringan akibat bekerja di ladang. Rania, dengan blus hamil berwarna salem yang longgar dan jas dokter yang rapi, tampak bergerak lincah namun tetap berhati-hati dari satu pasien ke pasien lainnya. Senyumnya tidak pernah luntur, seolah mimpi buruk yang membuatnya menjerit tengah malam tadi menguap begitu saja digantikan oleh energi pengabdian.

​Di sudut area parkir, sebuah mobil berplat nomor Jakarta perlahan berhenti di bawah rindangnya pohon mangga. Dari dalam mobil, keluarlah seorang pria dengan penampilan yang sangat ganjil. Ia mengenakan kemeja lurik khas Jawa yang agak kedodoran, celana kain hitam yang digulung sebatas betis, dan sebuah topi caping yang menutupi kepalanya. Jika diperhatikan lebih dekat, pria itu mengenakan wig rambut putih yang acak-acakan serta guratan-guratan bedak tebal di wajahnya yang sengaja dibuat untuk memanipulasi keriput seorang kakek-kakek. Pria itu adalah Aris.

​Aris sengaja mengambil cuti dadakan dan berkendara sepanjang malam dari Jakarta. Surat izin praktik klinik Rania yang sempat diurus oleh Bapak Suprapto ternyata memerlukan beberapa dokumen tambahan dari Jakarta yang berhasil diselesaikan oleh Aris. Alih-alih memberi tahu lewat telepon, Aris memilih memberikan kejutan besar untuk wanita yang diam-diam selalu ada dalam setiap bait doanya itu.

​Aris melangkah masuk ke dalam klinik dengan tubuh yang dibungkukkan, berpura-pura pincang sambil memegangi sebilah tongkat kayu jati tua. Ia mengambil nomor antrean dari perawat Santi yang sempat menatapnya dengan dahi berkerut, heran melihat ada kakek-kakek asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di desa itu. Aris hanya terbatuk-batuk kecil, mendudukkan dirinya di bangku paling pojok sambil matanya terus bergerak mengikuti ke mana pun Rania melangkah. Ada rasa hangat yang membuncah di dada Aris melihat bagaimana Rania tertawa bersama pasien-pasiennya. Kamu sudah kembali menjadi Rania yang dulu, Ran, batin Aris tersenyum di balik penyamarannya.

​Keluhan Sakit Rindu di Ruang Periksa

​Satu jam berlalu, hingga akhirnya perawat Santi memanggil nomor antrean terakhir untuk sesi pagi itu. "Nomor antrean tiga puluh lima, Mbah Kakung, silakan masuk."

​Aris bangkit berdiri dengan sangat perlahan, tubuhnya gemetar yang dibuat-buat, dan kaki kanannya diseret dengan dramatis. Melihat seorang kakek tua yang tampak sangat kepayahan berjalan sendirian tanpa pendamping, jiwa penolong Rania langsung tergerak. Ia bergegas bangkit dari kursi kerjanya, berjalan cepat mendekati pintu penghubung, lalu dengan lembut memapah lengan kakek tua tersebut.

​"Mari, Mbah... pelan-pelan saja. Jalannya licin, biar saya bantu," ujar Rania dengan suara yang sangat lembut, menuntun Aris untuk duduk di kursi pasien di depan mejanya.

​Aris terus menundukkan kepalanya yang tertutup caping, sesekali terbatuk kecil yang dibuat-buat. Rania kembali ke kursinya, mengambil bolpoin dan bersiap menulis di lembar rekam medis yang masih kosong.

​"Nggih, Bu Dokter... matur nuwun," jawab Aris dengan suara yang ditiup-tiupkan agar terdengar serak dan bergetar seperti orang yang sudah berusia delapan puluh tahun.

​Rania tersenyum hangat, menatap "kakek" di hadapannya dengan pandangan teduh. "Sama-sama, Mbah. Oh ya, kalau boleh tahu, namanya siapa, Mbah? Dan keluhannya apa yang dirasakan hari ini? Badannya ada yang linu, atau pusing?"

​Aris terdiam sejenak. Ia perlahan mengangkat kepalanya, namun tetap menjaga agar topi capingnya menghalangi pandangan langsung Rania ke arah matanya. Dengan intonasi yang mendadak berubah menjadi lebih berat, dalam, dan tidak lagi bergetar, Aris menjawab, "Keluhan saya berat sekali, Bu Dokter. Dada saya rasanya sesak, dan hati saya sakit sekali... rasanya seperti terkena penyakit rindu yang teramat dalam pada wanita yang sangat saya puja."

​Mendengar jawaban yang sangat tidak biasa dari seorang pasien lansia, gerakan tangan Rania yang sedang memegang bolpoin seketika terhenti. Kalimat "sakit rindu" itu mendadak menghantam dinding hatinya yang masih rapuh. Detik itu juga, memori Rania langsung melesat kembali pada bayang-bayang Damar, pada suaminya yang hilang, dan pada mimpi buruk tadi malam tentang kematian yang fiktif. Ada rasa perih yang teramat sangat menjalar di dadanya. Rania mengira kakek ini sedang mempermainkannya atau takdir sedang menyindir posisinya yang merindukan seseorang yang tak pasti. Wajah Rania yang tadinya cerah seketika berubah menjadi redup, matanya berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar menahan luapan emosi.

​Kejutan di Balik Wig Putih

​Melihat perubahan ekspresi wajah Rania yang mendadak drastis dan memancarkan kesedihan yang mendalam, Aris langsung merasa bersalah. Ia tahu candaannya mungkin sedikit menyentuh luka lama Rania. Tanpa membuang waktu lagi, Aris segera mengangkat tangannya, melepas topi capingnya, lalu menarik wig rambut putih itu hingga terlepas dari kepalanya. Ia mengusap kasar bedak putih di pipinya dengan lengan baju luriknya.

​"Dan taraaa... surprise, Ibu Dokter Rania!" seru Aris dengan senyum lebar khasnya, matanya berbinar menatap Rania.

​Rania terbelalak. Bola matanya melebar sempurna menatap sosok pria yang kini duduk tegak di hadapannya. Rambut hitam cepak yang rapi, rahang yang tegas, dan tatapan mata yang selalu memberikan rasa aman... itu benar-benar Aris! Bukan kakek tua dari antrean tiga puluh lima.

​Rania merasa seolah-olah sedang bermimpi di siang bolong. Rasa terkejut, lega, haru, dan rindu yang bercampur aduk membuat pertahanannya runtuh. Tanpa memikirkan statusnya sebagai seorang dokter yang sedang bertugas, Rania langsung bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja, dan sedetik kemudian ia langsung berhambur memeluk tubuh Aris dengan sangat erat.

​"Aris... ini beneran kamu?" tangis Rania langsung pecah di pundak Aris.

​Aris yang sempat terkejut dengan pelukan mendadak itu akhirnya perlahan melingkarkan lengannya di punggung Rania, memberikan usapan yang menenangkan. Ia membiarkan Rania meluapkan seluruh emosinya. Ia tahu, wanita di dalam pelukannya ini membawa beban yang terlalu berat selama beberapa bulan terakhir.

​"Iya, Ran. Ini aku, Aris. Aku di sini," bisik Aris lembut, membiarkan aroma wangi minyak telon dan antiseptik dari tubuh Rania menenangkan debar jantungnya sendiri.

​Rania menangis tergugu dalam pelukan Aris selama beberapa menit. Tangisan yang melepaskan sisa-sisa ketakutan dari mimpi buruknya semalam, tangisan rasa syukur karena di tengah dunia yang terasa menjungkirbalikkannya, sosok sahabat setianya ini selalu tahu kapan harus datang dan menjadi tempatnya bersandar.

​Setelah tangisnya berangsur reda dan hatinya mulai tenang, Rania perlahan melepaskan pelukannya. Ia menyeka air matanya dengan tisu, menatap Aris dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan wajah yang memerah karena malu.

​"Kamu ini ya! Iseng banget! Aku hampir saja menangis karena mengira ada kakek-kakek yang sedang menceramahiku tentang rindu," omel Rania sambil memukul pelan lengan Aris, meskipun bibirnya kini sudah menyunggingkan senyum lebar.

​Aris tertawa renyah, suara tawa yang sangat dirindukan Rania. "Habisnya, kalau aku datang pakai seragam atau baju biasa, tidak akan jadi kejutan. Lihat, penyamaranku sukses besar kan? Sampai perawatmu di depan saja tidak tahu."

​Rania baru saja akan membalas kalimat Aris ketika matanya tidak sengaja melihat ke arah pintu kaca yang sedikit terbuka. Di luar, perawat Santi dan dua orang kader posyandu desa sedang menatap ke dalam dengan wajah penuh selidik dan senyum-senyum simpul. Rania seketika tersadar bahwa ia masih berada di lingkungan kliniknya dan jam operasional belum sepenuhnya berakhir.

​"Astaga, aku lupa! Di luar masih ada pasien lain dan para kader," Rania menepuk dahinya sendiri dengan gemas, wajahnya kian memerah. Ia segera merapikan kembali jas dokternya yang sedikit kusut. "Ris, kamu mendingan sekarang langsung masuk ke rumah lewat pintu samping saja. Temui Ibu sama Bapak di dalam. Aku harus menyelesaikan catatan rekam medis dan merapikan obat sebentar sebelum istirahat siang."

​Aris mengangguk paham dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. "Siap, Bu Dokter. Perintah dilaksanakan dengan aman dan terkendali."

​Sambutan Hangat dari Sang "Ibu"

​Dengan langkah yang terasa sangat ringan dan hati yang gembira, Aris berjalan keluar dari area klinik melalui koridor samping yang langsung terhubung dengan area dapur dan halaman belakang rumah Joglo. Ia masih membawa topi caping dan wig putihnya di tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang tongkat kayu yang kini ia ayun-ayunkan dengan santai.

​Di area dapur terbuka, Ibu Lastri sedang sibuk menata sisa-sisa mangkuk dan merapikan meja makan setelah menyiapkan camilan untuk klinik. Saat mendengar suara langkah kaki dari arah pintu samping, Ibu Lastri menoleh dengan dahi berkerut, bersiap menegur siapa pun yang masuk tanpa mengetuk pintu.

​Namun, begitu matanya menangkap sosok pria bertubuh tegap dengan kemeja lurik dan wajah yang sedikit cemong oleh bedak itu, Ibu Lastri langsung mematung. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah karena faktor usia.

​"Ya Allah... Aris?!" teriak Ibu Lastri dengan suara yang melengking saking senangnya.

​"Assalamu’alaikum, Ibu," sapa Aris sambil mengembang senyum lebar.

​Belum sempat Aris melangkah lebih dekat, Ibu Lastri sudah berlari kecil menghampirinya. Wanita tua itu langsung memeluk Aris dengan sangat erat, seolah-olah sedang menyambut kepulangan anak kandungnya sendiri yang sudah bertahun-tahun merantau. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ibu Lastri begitu murni dan meledak-ledak. Bagi Ibu Lastri, Aris bukan lagi sekadar sahabat menantunya; Aris adalah anak laki-laki keduanya, pelindung yang dikirimkan Tuhan di saat anak kandungnya sendiri, Damar, memilih untuk menjadi pengecut dan menghilang dari kehidupan mereka.

​"Le... Aris! Kamu kok tidak bilang-bilang kalau mau datang? Ya Allah, Ibu kangen sekali sama kamu!" ujar Ibu Lastri sambil melepas pelukannya, lalu memegangi kedua pipi Aris, menatap wajah pria itu dengan mata yang berkaca-kaca karena haru. "Ini wajahmu kenapa cemong-cemong begini? Kamu habis ikut ketoprak atau bagaimana?"

​Aris tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Ibu Lastri yang sangat spontan. "Tadi habis menyamar jadi kakek-kakek untuk mengerjai Rania di klinik, Bu. Biar Bu Dokter tidak tegang terus kerjanya."

​"Huss! Kamu ini ya, nakal sekali sama bumil," sahut Ibu Lastri sambil mencubit pelan pinggang Aris, namun tangannya segera beralih mengusap sisa-sisa bedak di pipi Aris dengan ujung jilbabnya yang bersih. "Ayo masuk, duduk di dalam. Bapakmu ada di ruang tengah sedang membaca koran. Bi Inah! Bi Inah! Tolong buatkan teh manis hangat yang paling enak, ini anak lanang kita pulang dari Jakarta!" teriak Ibu Lastri ke arah dapur dengan suara penuh kebanggaan yang membahana ke seluruh sudut rumah Joglo.

​Hari yang diawali dengan bayang-bayang kelam lewat mimpi buruk, kini mendadak berubah menjadi hari yang penuh dengan riuh tawa dan kehangatan keluarga di Desa Kendal berkat kehadiran sosok Aris.

1
Dian Yuliana
liat istri hamil pasti nyesel
Dian Yuliana
semoga suatu saat damar akan menyesal dengan keputusan nya🤭
Ayu Putri
saat bertemu nanti damar udh oprasil,sesal pun tiada arti gak bisa dirubah lg
Dian Yuliana
akhirnya up juga.thankyou author 😍😍🙏
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!