Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Muak. Ravian tanpa pikir panjang meninju wajah pria itu bertubi-tubi, sorot matanya di penuhi amarah yang berkobar tanpa henti. Napasnya terengah-engah, dia baru menghentikan pukulannya saat pria itu tak sadarkan diri.
Kepalan tangan Ravian mengendur, darah menetes dari jari-jarinya. Ravian menyibak rambutnya ke belakang menggunakan jari, lalu berbalik menatap ke arah Aleta.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Aleta mengangguk, pandangannya beralih pada tangan Ravian yang berdarah. "Harusnya kau mengkhawatirkan dirimu lebih dulu."
"Aku baik-baik saja."
"Ya, aku tahu kau kuat. Hanya saja, penampilanmu sangat buruk."
Aleta menggelengkan kepalanya pelan, dia tak menyangka akan melihat bagaimana ganasnya Ravian menghajar seseorang. Meski begitu, dia cukup berterima kasih karena pria itu datang tepat waktu.
Ravian menatap Aleta beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh pelan.
"Nada bicaramu terdengar seperti sedang mengkhawatirkanku."
"Aku hanya tidak suka melihat darah berceceran di depanku," jawab Aleta datar.
"Sayang sekali. Padahal aku mulai berpikir kau peduli."
Aleta mendecak pelan lalu melangkah mendekati motornya yang terparkir tak jauh dari sana. Dia mengambil helm full face miliknya, mengibaskan sedikit debu yang menempel sebelum memakainya.
Ravian memperhatikannya sambil menyeka darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan.
"Kau mau pulang sekarang?" tanyanya.
"Iya."
"Malam sudah larut."
Aleta menaikkan visor helmnya sedikit, memperlihatkan tatapan dinginnya. "Lalu?"
Ravian menghela napas pendek, lalu berjalan mendekat. "Aku antar."
"Tidak perlu."
Ravian mengangkat sebelah alisnya. "Aku bahkan belum selesai bicara."
"Aku juga belum berubah pikiran."
Ravian terkekeh kecil. "Keras kepala sekali."
Aleta tidak menggubris. Dia mulai menaiki motornya, namun Ravian tiba-tiba menahan setang motor itu menggunakan satu tangan.
Pria itu menatap Aleta dalam diam, keheningan sempat mengisi ruang di antara mereka untuk beberapa saat sebelum akhirnya Aleta memecah keheningan seperti itu.
"Apa?" tanya Aleta mulai tidak sabar.
"Setidaknya biarkan aku memastikan kau sampai rumah dengan selamat."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tidak perlu cemas berlebihan seperti itu. Aku bukan anak kecil yang harus kau jaga setiap hari."
"Aku tahu." Ravian mengangguk santai. "Itu justru bagian yang paling merepotkan, karena kau bertingkah seperti anak kecil yang tidak takut pada bahaya."
Aleta menatapnya beberapa saat. Tatapan Ravian terlihat berbeda sekarang, tidak sepenuhnya bercanda seperti tadi. Ada keseriusan tipis yang terselip di balik senyum santainya. Namun tetap saja, Aleta tidak terbiasa bergantung pada siapa pun.
"Aku tidak suka diikuti," ujarnya pelan.
Ravian tersenyum miring. "Kalau begitu anggap saja aku kebetulan lewat, atau anggap saja aku tak kasat mata."
"Aneh sekali. Kebetulanmu terlalu sering mengelilingi diriku."
"Itu artinya kita berjodoh."
Aleta langsung memutar matanya malas. "Selera humormu sangat buruk."
"Kalau begitu ajari aku supaya humorku jadi lebih baik."
Hening beberapa detik. Kemudian tanpa diduga, sudut bibir Aleta terangkat sangat tipis. Sangat tipis sampai nyaris tidak terlihat.
Namun Ravian menyadarinya. Dan itu cukup membuat pria itu tersenyum lebih lebar.
"Akhirnya kau bisa berekspresi juga."
Seketika wajah Aleta kembali datar. "Kau pikir aku robot."
Setelah mengatakan itu, dia menepis tangan Ravian dari setang motornya. "Aku pulang."
Ravian mundur satu langkah, kali ini tidak menahan lagi.
"Oke," ujarnya santai. "Tapi kalau kau kenapa-kenapa di jalan, jangan lupa telepon tunanganmu yang tampan ini."
Aleta memasang helmnya penuh lalu menyalakan mesin motor.
Sebelum visor tertutup sempurna, dia melirik Ravian sekilas. "Aku lebih memilih memukul orang daripada meneleponmu."
Ravian tertawa pelan. "Ancamanmu romantis juga."
Brum!
Motor sport itu melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ravian berdiri diam sambil memperhatikan lampu motornya yang semakin menjauh. Angin malam berembus pelan, membuat rambutnya sedikit berantakan. Beberapa detik kemudian, senyum di wajahnya perlahan memudar.
Tatapannya berubah lebih dalam. "Kenapa orang-orang itu mengejarnya…?" gumamnya pelan.
Naluri Ravian mengatakan, kejadian malam ini bukan kebetulan biasa. Dan semakin dia mengenal Aleta semakin banyak hal mencurigakan yang mulai muncul.
dy bilang menguji????
dtggu kelanjutan ny yx kak
up up uup
grazy uuup dong thoor 😷
apa kakek'a sahabatan jd dijodahkan
sll penasaran di akhir cerita yg pindah jiwa
next kak
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/