Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXIII—Kematian
Keheningan yang mencekam menyelimuti The Bone Graveyard. Debu dari 150 ksatria yang hancur belum juga mengendap, namun atmosfer di aula itu sudah berubah menjadi sangat berat. Aridius, Sang Raja, perlahan berdiri dari singgasananya. Sosoknya adalah kengerian murni. Kerangka raksasa setinggi tiga meter yang dibalut zirah emas kusam yang telah retak di sana-sini. Tidak ada daging, tidak ada suara napas. Hanya sepasang api merah sedingin es yang menyala di dalam rongga matanya, menatap Jay seolah-olah pemuda itu hanyalah debu yang mengganggu tidurnya.
Aridius menarik sebuah Zweihander hitam yang tertancap di samping singgasana. Suara gesekan tulang tangannya dengan gagang pedang terdengar seperti kertakan maut yang terdengar menggema di seluruh aula.
Jay berdiri lima meter di depannya. Kondisinya mengenaskan. Jubahnya sudah compang-camping dan kakinya gemetar hebat menahan beban tubuhnya sendiri. Goblin King’s Blade miliknya sudah hancur berkeping-keping saat menembus formasi Testudo tadi. Kini, ia hanya menggenggam Goblin Rust Knife di tangan kanannya dan Goblin Bone Sword yang ia pungut dari lantai.
“Asha... analisis tengkorak sialan ini,” bisik Jay, suaranya parau karena tenggorokannya kering oleh debu.
...----------------...
...[Analisis]...
...Aridius...
...The Skeleton King &The Eternal Prime...
...Lvl 65...
...Peringatan: Selisih Level terlampau jauh. Disarankan untuk anda untuk efektif dalam bergerak. Anda sedang melawan keputusasaan. Probabilitas anda menang hanya 0.03 persen....
...----------------...
...[NOTIFIKASI]...
...MISI KHUSUS...
...Kalahkan Sang Ethernal Prime...
...Anda akan mendapatkan beberapa reward...
...----------------...
“0,03 persen? Dan misi khusus apa-apaan ini sialan…di antara sial dan beruntung bertemu bersama” Jay tertawa kecil, tawa yang berakhir dengan mengerutkan dahi. “Itu lebih baik daripada nol dan aku akan mengalahkannya lalu mengambil reward misi dan reward mengalahkannya begitu pula dengan skill-skilnya.”
Tanpa peringatan, Aridius melesat. Untuk ukuran raksasa, gerakannya tidak masuk akal. Ia tidak berlari, ia seolah-olah meluncur di atas lantai batu.
BAM!
Pedang raksasa Aridius menghantam lantai tepat di tempat Jay berdiri sedetik yang lalu. Jay berhasil berguling ke samping, namun gelombang kejut dari hantaman itu melempar tubuhnya hingga menghantam pilar tengkorak yang tersisa.
“UHUK!” Jay memuntahkan darah segar. Penglihatannya mulai kabur, bintik-bintik hitam menari di matanya. Rasa sakit di punggungnya terasa seperti tulang belikatnya telah hancur.
Aridius tidak memberikan waktu bagi korbannya untuk bernapas. Ia mengangkat tangan kirinya yang berupa tulang putih bersih, dan tiba-tiba tulang-tulang yang berserakan di lantai bergerak secara tidak wajar. Mereka membentuk rantai tulang yang melilit kaki Jay, menguncinya di tempat.
“Sialan! Lepaskan!” Jay meronta, menyayat rantai tulang itu dengan Goblin Rust Knife dan Goblin Rust Knife namun rantai itu terus dan terus tumbuh kembali.
Aridius sudah berada di depannya, mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi untuk serangan vertikal yang akan membelah Jay menjadi dua. Dalam kondisi terjepit dan tanpa Level Up untuk memulihkan HP, Jay mengganakan skill jobnya kembali.
“Phantom Step!”
Jay memaksakan skill itu aktif. Tubuhnya membayang tipis, hampir transparan karena kekurangan Mana, dan ia lolos dari lilitan rantai tepat saat pedang Aridius menghancurkan lantai batu di belakangnya. Jay muncul di udara, tepat di depan wajah tengkorak Aridius.
Dengan sisa tenaga dari stat Strength dan Vitality, Jay menghantamkan kedua senjatanya ke arah rongga mata Aridius.
TING!
Kedua senjata itu patah seketika saat menyentuh dahi tengkorak sang Raja yang sekeras baja. Aridius tidak bersuara, namun api merah di matanya berkilat lebih terang. Tangan tulang Aridius yang besar menangkap leher Jay di udara dan dengan kasar membantingnya ke lantai.
BRAKKKK!
Lantai batu amblas membentuk kawah kecil. Jay merasakan seluruh sarafnya berteriak histeris. Kesadarannya hampir hilang sepenuhnya. Ia bisa merasakan dinginnya lantai batu meresap ke dalam luka-lukanya. Di atasnya, Aridius berdiri tegak, bayangan raksasanya menutupi tubuh kecil Jay.
Sang Raja Tengkorak itu tidak langsung membunuh. Ia seolah-olah menikmati penderitaan manusia yang telah berani mengacaukan makamnya. Aridius mengangkat kakinya yang dibalut baja emas dan menginjak dada Jay perlahan, menekan tulang rusuknya hingga terdengar suara retakan yang mengerikan.
"Argh... hakh..." Jay tercekik. Oksigen tidak bisa masuk ke paru-parunya.
Di ambang kematian, ingatan Jay kembali ke masa lalunya yang begitu pahit. Ia melihat wajah Rena yang tersenyum menghina. Ia melihat Senda yang mengkhianatinya. Ia mengingat perasaan hampa saat ia berdiri di atas jembatan, siap untuk mati sebagai pecundang.
Kalau aku mati di sini... maka aku akan tetap mati sebagai sampah yang sama seperti dulu
Kemarahan. Bukan sihir, bukan sistem, tapi kemarahan murni yang meledak di dalam dada Jay. Ia sudah tidak punya pedang? Ia punya tangan. Ia sudah tidak punya Mana? Ia punya gigi.
Dengan gerakan gila yang tidak terduga, Jay mencengkeram pergelangan kaki tulang Aridius yang sedang menginjaknya dan menggigit bagian sendi tulang itu dengan seluruh kekuatannya.
KRAK!
Meskipun giginya berdarah, Jay berhasil memberikan kejutan kecil pada sang Raja. Saat tekanan kaki Aridius sedikit mengendur karena gerakan refleks, Jay memutar tubuhnya dan menendang sendi lutut Aridius dengan kaki kirinya yang masih berfungsi.
Aridius terhuyung. Jay bangkit dengan susah payah, menyeret kakinya yang pincang. Ia melihat ke sekeliling dengan mata liar dan menemukan sesuatu. Salah satu tombak milik Skeleton Knight elit yang patah namun ujungnya masih sangat runcing, mengandung sisa-sisa energi Malaikat dan Iblis yang tidak stabil.
“Ayo... satu kali lagi...” Jay bergumam pada dirinya sendiri.
Aridius meraung, sebuah getaran sihir yang menyakitkan telinga lalu mengayunkan pedangnya dalam putaran 360 derajat. Jay tidak menghindar ke belakang. Ia justru berlari masuk ke dalam jangkauan serangan, merunduk di bawah lintasan pedang raksasa itu hingga punggungnya hampir menyentuh lantai.
Di titik buta Aridius, Jay melompat. Ia menggunakan pundak ksatria yang sudah hancur sebagai tumpuan.
“FULL STRENGTH!”
Jay menghujamkan patahan tombak itu tepat ke celah antara rusuk tengkorak Aridius, tempat di mana sebuah bola api biru kecil. Inti jiwa Ardius berada.
CRAAAASSSHHH!
Ujung tombak itu menembus inti jiwa Aridius. Perpaduan energi Malaikat dan Iblis di dalam tombak itu bereaksi dengan inti jiwa sang Raja, menciptakan ledakan energi yang tidak stabil.
“Mati... KAU RAJA TUA!” teriak Jay.
Api merah di mata Aridius meledak keluar. Sang Raja Tengkorak itu gemetar hebat. Seluruh struktur tulangnya mulai retak, mengeluarkan cahaya putih menyilaukan dari dalam rongga-rongganya. Pedang hitamnya jatuh berdenting di lantai, dan perlahan-lahan, tubuh raksasa itu mulai rontok menjadi debu putih.
Aridius menatap Jay untuk terakhir kalinya. Kali ini, tidak ada kebencian di mata itu, hanya kehampaan yang tenang sebelum akhirnya seluruh tubuhnya lenyap, menyisakan sebuah mahkota emas yang jatuh di depan kaki Jay.
Jay tidak merayakan. Ia bahkan tidak sanggup berdiri lagi. Ia jatuh tersungkur di samping mahkota itu. Napasnya pendek-pendek dan berbunyi, setiap inci tubuhnya terasa seperti sedang dibakar hidup-hidup. Dipikirannya sekarang hanya ingin tertidur sejenak.
“Asha…aku…akan…Ti…” Ujarnya tak tersampaikan.