Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Pintu kamar kos itu tertutup dengan suara keras yang menggema cukup lama di telinga Nadia. Getarannya terasa sampai ke dadanya, membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Ia berdiri kaku di tempatnya beberapa detik, menatap daun pintu yang kini menjadi pembatas antara dirinya dan Arya. Udara di kamar sempit itu terasa berubah lebih pengap, lebih dingin, seolah kemarahan laki-laki itu meninggalkan jejak yang tak kasatmata.
“Apa salahku?” gumam Nadia lirih.
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan pikirannya yang berantakan. Ia benar-benar tidak mengerti. Beberapa menit yang lalu mereka masih berbicara walau dengan nada yang tidak ramah namun tidak ada pertengkaran besar, tidak ada teriakan. Lalu tiba-tiba Arya marah, menyebutnya dengan kata-kata yang menyakitkan, dan pergi begitu saja tanpa penjelasan.
Nadia mendecakkan lidahnya kesal.
“Binatang?” ucapnya setengah menggerutu. “Kalau aku binatang, setidaknya binatang yang cantik.”
Ia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang kecil itu, kasur tipis yang berdecit pelan saat menerima berat tubuhnya. Pandangannya menatap langit-langit kusam kamar kos yang sudah ia kenal luar kepala retakan kecil di sudut, noda air hujan yang tak pernah benar-benar hilang, dan bohlam lampu yang kadang berkedip jika hujan terlalu deras.
Tangannya terangkat, matanya tertuju pada cincin di jari manisnya.
Cincin itu berkilau samar di bawah cahaya lampu, terasa asing sekaligus berat. Simbol yang sah, simbol yang mengikat, namun sama sekali tidak sejalan dengan isi hatinya.
“Istri orang lain…” bisiknya.
Dada Nadia terasa sesak. Status itu masih terasa seperti mimpi buruk yang belum sepenuhnya ia terima. Ia menikah bukan karena cinta, bukan karena pilihan melainkan karena keadaan yang memaksanya bertekuk lutut. Namun di balik semua itu, hatinya masih tertambat pada satu nama.
Galang.
Nama itu terlintas begitu saja, membawa serta kenangan yang membuat matanya terasa panas. Senyum Galang yang hangat, caranya mendengarkan Nadia tanpa menghakimi, janji-janji sederhana yang pernah mereka rajut bersama. Pria yang selalu ada ketika hidup Nadia runtuh satu per satu.
“Aku harus bagaimana?” bisiknya dengan suara bergetar.
Haruskah ia jujur pada Arya? Mengatakan bahwa hatinya bukan miliknya, bahwa ada pria lain yang sudah lebih dulu mengisi ruang di dadanya? Nadia tahu, kejujuran seperti itu tidak akan mudah diterima. Arya bukan tipe laki-laki yang membiarkan sesuatu lepas dari genggamannya begitu saja, terlebih sesuatu yang sudah ia anggap miliknya meski hanya sebagai bagian dari kesepakatan.
Namun di sisi lain, Nadia juga tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Galang. Ia tidak rela jika hubungannya dengan pria itu harus berakhir tanpa penjelasan, tanpa kejujuran. Galang tidak pantas digantung dalam ketidakpastian.
Keputusan itu akhirnya terbentuk perlahan di benaknya.
“Aku akan menemuinya,” ucap Nadia mantap pada dirinya sendiri. “Besok.”
Ia akan menjelaskan semuanya tentang pernikahan ini, tentang kondisi sebenarnya, tentang perasaannya yang terbelah. Apa pun reaksi Galang nanti, setidaknya ia sudah jujur. Setidaknya ia tidak berkhianat pada hatinya sendiri.
Kelopak matanya terasa berat. Lelah fisik dan mental akhirnya mengalahkan kegelisahan. Dengan cincin itu masih melingkar di jarinya dan pikiran yang penuh konflik, Nadia terlelap dalam tidur yang tidak sepenuhnya tenang.
---
Pagi hari di gedung perusahaan Arya justru dipenuhi ketegangan.
Suara bantingan map menggema keras di ruang rapat, membuat beberapa orang tersentak kaget. Map tebal berisi rencana proyek itu terlempar ke atas meja dengan kasar, lalu menyenggol gelas kaca di sampingnya. Gelas itu jatuh, pecah berkeping-keping di lantai, serpihannya berhamburan seperti suasana hati pemilik ruangan.
“Ini rencana sampah!” hardik Arya dengan suara dingin namun tajam. “Empat puluh menit. Susun ulang semuanya. Kalau tidak sanggup, silakan keluar dan jangan pernah kembali.”
Tak ada yang berani membantah.
Beberapa orang menunduk, wajah mereka pucat. Tanpa banyak kata, mereka segera mengemasi dokumen masing-masing dan keluar dari ruangan satu per satu. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Arya sendirian di ruang rapat yang kini terasa sunyi namun penuh tekanan.
Di luar ruangan, bisik-bisik mulai terdengar.
“Bos kenapa sih sejak pagi emosinya meledak-ledak?”
“Iya, biasanya galak, tapi tidak separah ini.”
Rio yang sedang berjaga di dekat lorong tidak sengaja mendengar percakapan itu. Keningnya berkerut. Rapat seharusnya berlangsung lama, tapi ini terlalu cepat dan terlalu gaduh.
Ia memberanikan diri masuk ke ruangan.
“Tuan,” ucap Rio dengan hati-hati. “Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Arya tidak menoleh. Pandangannya lurus ke depan, rahangnya mengeras.
“Laporkan semuanya,” katanya singkat.
Rio terdiam sejenak. “Semuanya… yang mana, Tuan?”
Arya akhirnya melirik tajam ke arahnya. “Semua. Jangan ada yang terlewat.”
Rio menelan ludahnya. Emosi tuannya jelas tidak stabil. Ia harus berhati-hati memilih kata.
“Apakah ini mengenai perkembangan proyek di wilayah selatan?” coba Rio.
“Bukan!” bentak Arya. “Aku tidak peduli proyek itu sekarang.”
Arya berdiri, melangkah mendekat. Sorot matanya gelap.
“Aku ingin semua laporan tentang perempuan jal—” Arya berhenti sejenak, menarik napas keras. “Tentang Nadia.”
Rio akhirnya mengerti.
“Tunggu apa lagi?!” teriak Arya.
Rio segera mengangguk. “Baik, Tuan.”
Ia mulai menjelaskan dengan hati-hati, menyusun informasi yang selama ini ia kumpulkan.
“Nona Nadia hidup sendiri sejak beberapa tahun terakhir. Ayahnya hanya menemui sesekali, dan hubungan mereka tidak baik sejak ayahnya menikah lagi.”
Arya terdiam. Tangannya yang semula bersedekap perlahan mengepal.
“Lanjutkan.”
“Ibunya, Nyonya Maria, masih memiliki hubungan kerabat dengan pengusaha di kota Barat. Beliau menikah dengan Hermawan, ayah Nadia, dan sempat tinggal bersama. Namun pernikahan itu tidak bertahan lama. Ayah Nadia menikah lagi, dan sejak itu Nyonya Maria membawa Nadia pergi. Nadia saat itu baru berusia sebelas tahun.”
Arya membelalakkan matanya sedikit. Fakta itu menghantamnya lebih keras dari yang ia duga.
“Beberapa tahun lalu, Nyonya Maria meninggal dunia,” lanjut Rio. “Sejak saat itu, kehidupan Nadia semakin sulit. Ia bekerja sendiri untuk menghidupi dirinya. Ayah kandungnya tidak lagi memberikan bantuan finansial.”
Tangan Arya mengepal lebih keras. Rahangnya mengeras, napasnya memburu.
“Masih ada lagi,” kata Rio dengan nada lebih pelan. “Ayah Nadia sempat meminta Nadia mencairkan deposito peninggalan ibunya. Uang itu tidak dinikmati oleh Nadia sama sekali. Seluruhnya diberikan untuk menghidupi istri baru ayahnya dan anak tirinya.”
Arya terhenyak.
Jadi selama ini…?
Matanya membulat, dadanya terasa panas. Emosi yang muncul bukan lagi sekadar amarah, melainkan sesuatu yang lebih rumit—rasa bersalah yang tidak ingin ia akui.
“Jadi,” ucap Arya pelan namun penuh tekanan, “aku salah sasaran.”
Rio tidak berani menjawab.
Arya tertawa kecil—tawa tanpa humor. “Seharusnya yang kutangkap bukan Nadia.”
Bayangan wajah Nadia muncul di benaknya tatapan bingungnya, caranya menahan diri untuk tidak marah, caranya tetap merawatnya meski ia bersikap kejam. Untuk pertama kalinya, Arya menyadari satu hal yang membuat dadanya semakin sesak.
Perempuan yang ia sakiti… bukanlah pelaku.
Dan kesadaran itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan apa pun yang sebelumnya ia rasakan.