NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lahir di Antara Kabut dan Kabar Baru

Malam itu kabut turun lebih tebal dari biasanya menyelimuti Desa Bukit Jernih. Angin pegunungan bertiup dingin menembus celah‑celah dinding rumah kayu. Ayranza baru saja selesai makan malam sederhana bersama Angga dan Arshen, lalu berjalan pelan ke beranda untuk menikmati udara sejuk seperti kebiasaannya. Namun baru beberapa menit duduk, ia tiba‑tiba menahan napas dan menggenggam sisi bangku kayu erat‑erat. Rasa nyeri yang tajam menjalar di perutnya, jauh lebih kuat dan teratur daripada sekadar pegal biasa. Napasnya memburu, keringat dingin mulai membasahi pelipis meski udara sekitar membeku.

“Kakak, ada apa?” seru Arshen yang kebetulan baru keluar membawa selimut tebal. Ia segera berlari mendekat melihat wajah kakaknya yang pucat dan berkeringat deras.

Angga yang mendengar teriakan itu langsung lari keluar. Sekali melihat keadaan kakaknya, ia paham persalinan sudah dimulai, jauh lebih cepat dari perkiraan dokter saat terakhir periksa. Tanpa buang waktu, ia segera menyangga tubuh Ayranza agar bisa masuk kembali ke kamar dan berbaring.

“Tenanglah, Kak. Kami urus semuanya,” kata Angga tegas meski hatinya berdebar kencang. Ia langsung menyuruh Arshen berlari memanggil tetangga terdekat, Pak Surya dan Bu Marni, sementara dirinya sibuk menyiapkan air hangat, kain bersih, dan benda‑benda yang mungkin dibutuhkan.

Tak lama kemudian Bu Marni datang tergesa‑gesa. Begitu melihat Ayranza yang kesakitan dan merintih tertahan, ia segera mengambil alih keadaan dengan tenang dan cekatan.

“Persalinan sudah tak bisa ditunda lagi,” katanya cepat. “Tapi rumah ini kurang lengkap perlengkapannya. Kita harus segera bawa ke puskesmas desa yang agak besar letaknya di pinggir jalan raya lama, sekitar dua puluh menit naik kendaraan.”

Pak Surya segera berlari menyiapkan mobil bak kayu miliknya, alasnya dilapisi jerami kering dan selimut tebal agar cukup empuk dan hangat. Dengan bantuan mereka berdua serta Angga, Ayranza dibawa keluar rumah perlahan. Arshen duduk dekat kakaknya sepanjang jalan, menggenggam tangannya erat dan berbisik menenangkan sekuat kemampuannya. Angga duduk di kursi depan, matanya awas mengawasi jalanan berbatu yang licin terkena kabut dan embun tebal.

Perjalanan terasa berliku dan panjang sekali meski jaraknya tak terlalu jauh. Ayranza sesekali menjerit tertahan saat rasa nyeri datang bertubi‑tubi, lalu kembali meremas selimut sambil menarik napas panjang dalam‑dalam. Hatinya bercampur rasa takut, harap, dan sepi karena tak ada sosok Axel di sampingnya saat momen paling penting ini. Namun ia segera menguatkan diri: yang terpenting anaknya lahir selamat dan sehat.

Sesampainya di puskesmas kecil itu, suasana hening dan remang. Hanya ada dua perawat jaga yang segera menyambut dan membawa Ayranza ke ruang bersalin sederhana. Tak lama kemudian seorang dokter laki‑laki bergegas datang dari rumah dinasnya yang tak jauh dari situ. Ia tampak masih muda, berpenampilan rapi, tenang, dan gerak‑geriknya sangat terampil. Namanya Dr. Rendra.

Di ruang bersalin yang mulai sibuk itu, Angga dan Arshen tak diizinkan masuk, jadi mereka menunggu di bangku panjang depan pintu dengan wajah penuh cemas. Bu Marni tetap menemani di dalam, memberi semangat dan menggenggam tangan Ayranza yang gemetar kuat.

Berjam‑jam berlalu dalam ketegangan panjang. Hingga akhirnya di tengah kabut malam yang makin pekat, terdengar suara tangis nyaring menggema menembus dinding kayu ruangan itu. Bayi laki‑laki yang sehat dan kuat akhirnya lahir selamat. Ayranza terbaring lemas namun matanya berbinar bahagia luar biasa saat anak itu dibaringkan di samping dadanya. Napasnya perlahan jadi teratur kembali, rasa sakit yang luar biasa tadi berubah menjadi rasa damai dan kasih sayang yang meluap‑luap.

Dr. Rendra yang baru saja selesai membersihkan tangan dan perlengkapannya, berdiri sejenak memandangi ibu dan anak itu dengan senyum puas. Saat menatap Ayranza, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan wanita yang baru saja melewati masa sulit itu. Di detik itulah, rasa kagum yang lebih dari sekadar rasa hormat sesama manusia perlahan tumbuh di hatinya. Ia melihat ketabahan luar biasa, kelembutan, dan kesedihan samar yang tersembunyi di balik wajah cantik Ayranza yang pucat.

Setelah semuanya aman dan bayi sudah tenang menyusu, Dr. Rendra mempersilakan Angga dan Arshen masuk sebentar. Mereka berdua langsung mendekat dengan hati‑hati, takjub melihat keponakan mungil mereka yang baru lahir.

“Selamat ya Kakak,” ucap Angga dengan suara parau bahagia. “Luar biasa hebat kau melewati semuanya.”

Arshen hanya mengangguk‑angguk sambil menatap bayi itu tak berkedip, matanya berbinar‑binar penuh haru.

Tak lama kemudian Dr. Rendra kembali masuk untuk memeriksa keadaan Ayranza dan bayinya. Kali ini ia mengobrol lebih lama, bertanya hal‑hal seputar kesehatan dan riwayat kandungan. Ayranza menjawab seperlunya, sedikit ragu namun tetap sopan dan ramah. Saat ditanya apakah ada keluarga lain yang bisa dipanggil, wajahnya sedikit berubah sedih sebelum menjawab pelan.

“Hanya kami bertiga saja di sini, Dokter.”

Dr. Rendra tak banyak menyinggung lebih jauh, namun jawaban itu justru membuat rasa simpatinya makin bertambah. Selama beberapa hari perawatan di puskesmas itu, ia sering datang lebih sering dari jadwal kerjanya, membawa buah tangan sederhana, memeriksa dengan teliti, dan tak lupa memberi nasihat‑nasihat bermanfaat. Sikapnya sangat halus, sopan, dan tak pernah melampaui batas wajar, namun pandangannya yang teduh dan perhatiannya yang berlebih sedikit demi sedikit tak luput dari perhatian Ayranza maupun kedua adiknya.

Suatu sore saat Angga sedang duduk di teras depan puskesmas, Dr. Rendra datang menghampiri dan duduk sebentar di sebelahnya.

“Kakakmu wanita yang sangat kuat dan baik hati,” ucap dokter itu perlahan, nadanya jujur dan tak tersembunyi. “Kalau kalian butuh bantuan apa pun selagi di sini, atau kapan pun nanti, jangan sungkan bilang saja padaku. Aku siap membantu sebisa tenaga.”

Angga hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia paham betul makna di balik ucapan dan tatapan itu. Meski bersyukur atas kebaikan dokter yang telah berjasa membantu keselamatan kakak dan keponakannya, di dalam hati ia juga sadar: Ayranza masih berstatus istri orang, meski rasa kecewa yang mendalam membuatnya pergi sejauh ini. Kehadiran perasaan baru diam‑diam dari Dr. Rendra perlahan menjadi benih halus yang bisa tumbuh menjadi masalah baru, sekaligus harapan kelam kalau saja Axel benar‑benar tak pernah datang menjemput dan memperbaiki keadaan.

Sore itu, saat kabut mulai turun kembali menyelimuti desa, Ayranza memeluk erat buah hatinya yang damai dalam tidur. Di balik jendela kamar, Dr. Rendra sempat berdiri sejenak sebelum melangkah pulang, menatap bayangan ibu dan anak itu dengan perasaan yang mulai tak mudah ia simpan sendiri. Tanpa mereka sadari, pertemuan tak terduga itu kini membuka lembaran baru yang tak sederhana: kelahiran yang menyatukan kembali semangat hidup Ayranza sekaligus hadirnya sosok baru yang diam‑diam bersedia mengisi kekosongan hati yang masih tergores dalam.

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!