NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 26.

"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Dewangga pada putranya.

"Sejak kemarin, saat rapat."

Dewangga mengangguk pelan.

"Papa terlalu banyak membuat kesalahan."

"Kesalahan?"

"Papa lupa kalau aku yang paling sering memperhatikan Papa."

Dewangga terkekeh kecil. "Itu pujian?"

"Jadi kenapa Papa masih berpura-pura?" Keivan berjalan ke sofa lalu duduk.

Dewangga ikut duduk di hadapannya. "Karena mereka menganggapku tidak berbahaya."

"Mereka?" tanya Keivan.

"Keluarga kita."

"Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa, kan?" tanya Keivan.

"Benar."

"Papa sudah menemukan pelakunya?"

"Papa sudah menemukan beberapa petunjuk." Jawab Dewangga.

"Siapa?"

"Belum saatnya kamu tahu."

Keivan mendengus pelan. "Aku benci jawaban itu."

"Tapi itu jawabannya."

Keivan tidak membantah lagi, ia tahu ayahnya tidak akan bicara jika belum siap. Beberapa saat kemudian, Keivan kembali membuka suara. "Lalu bagaimana dengan Liora?"

Tatapan Dewangga berubah, cukup untuk ditangkap Keivan. "Nah, kan!"

"Nah apa?" Dewangga berpura-pura tak mengerti.

"Papa suka sama dia."

"Kamu terlalu banyak bicara."

"Berarti aku benar."

Dewangga menghela napasnya pelan. "Kamu memang terlalu pintar."

"Papa cemburu tadi." Keivan menyeringai kecil.

"Aku tidak cemburu."

"Tadi waktu aku memanggilnya Mama tiri kesayanganku."

"Kau memang berlebihan." Dewangga mendengus kesal.

Keivan tertawa kecil. "Itu namanya cemburu."

Dewangga menghela napas panjang, ia tidak berniat membahas perasaannya dengan anak berusia enam tahun. Namun sayangnya anak itu terlalu pintar, dan sulit dibohongi.

"Papa hanya ingin menjauhkannya dari semua ini, Papa nggak ingin dia terseret terlalu jauh,“ ujar Dewangga.

Keivan menggeleng pelan. "Dia sudah ada di dalamnya sejak menikah dengan Papa. Dia sudah terseret, tak ada jalan keluar lagi."

Dewangga terdiam, Keivan benar. Sejak Liora masuk ke keluarga Salendra, perempuan itu sudah berada di tengah permainan yang berbahaya.

"Papa, kalau memang suka dia... jangan terlalu lama membohonginya."

"Maksudmu?" Dewangga menatap putranya.

"Liora bukan orang yang suka dibohongi."

Dewangga mengusap wajahnya pelan, ia tahu itu. Justru karena tahu, ia belum berani mengatakan yang sebenarnya.

"Lagipula, nanti kalau dia tahu Papa sudah sembuh tapi masih minta ditemani tidur, dimandiin, dipakaikan baju, dan pura-pura nggak bisa apa-apa, aku penasaran... dia bakal marah seperti apa." Lanjut Keivan.

Sudut bibir Dewangga berkedut, ia benar-benar kehabisan jawaban. Membayangkan Liora mengetahui semua kebohongannya lalu marah besar, rasanya jauh lebih mengerikan daripada menghadapi musuh-musuhnya.

Dewangga memikirkan kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Bagaimana jika Liora mengetahui semua kebohongannya, lalu memilih bercerai dan meninggalkannya?

Setengah jam kemudian, Liora sudah siap pergi. Dewangga dan Keivan berada di ruang tengah menunggu wanita itu.

Beberapa saat kemudian, Liora turun dari lantai dua. Hari itu ia mengenakan pakaian kasual yang sederhana, tetapi tetap terlihat cantik. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai rapi, membuat penampilannya terlihat segar dan elegan tanpa perlu banyak aksesori.

Dewangga yang duduk di sofa langsung menoleh, matanya terus mengikuti setiap langkah Liora sampai wanita itu tiba di lantai bawah. Entah karena memang Liora cantik atau karena perasaannya yang mulai berubah, Dewangga merasa wanita itu terlihat lebih menarik dari biasanya.

Bahkan tanpa sadar, Dewangga mulai mengabaikan perbedaan usia 12 tahun di antara mereka. Di matanya, Liora hanyalah perempuan yang semakin sulit ia lepaskan dari pikirannya.

"Kita berangkat sekarang," kata Liora.

Namun baru beberapa langkah menuju pintu utama, Dewangga langsung berdiri.

"Liora! Aku ikut."

Liora mengernyit. "Ikut ke mana?"

"Ke rumah sakit."

"Nggak."

"Aku ikut."

"Dewangga, aku cuma sebentar."

"Aku ikut."

Liora sudah hafal ke mana arah pembicaraan ini akan berjalan. Dan benar saja, saat ia berjalan menuju tangga depan mansion...

"Aku ikut." Dewangga masih merengek.

Bahkan saat wanita itu sedang memakai sepatu...

"Aku ikut."

Liora memejamkan mata beberapa saat, sementara Dewangga masih berdiri di dekatnya dengan ekspresi polos. "Aku ikut."

Keivan yang sejak tadi menyaksikan semuanya hanya menghela napas panjang.

"Sepertinya, Papa akan menang."

Liora sontak menoleh ke arah Keivan, dan menyipitkan matanya. "Bukannya kamu sudah janji? Aku ingin berdua saja dengan ibuku."

Keivan melirik ayahnya yang masih berdiri di belakang Liora seperti bayangan yang menolak pergi, ia mengangkat kedua bahunya. "Kalau sudah begini, Papa memang tidak bisa dihentikan."

"Dikhianati anak tiri, ternyata rasanya begini ya," gerutu Liora.

Keivan justru tersenyum tipis. "Aku sudah berusaha, Mama tiri. Tapi untuk urusan mengikuti Mama ke mana-mana, Papa lebih keras kepala daripada aku."

"Ya sudah! Ikut!" Liora pun akhirnya menyerah.

Mata Dewangga langsung berbinar seperti anak kecil yang baru mendapat izin pergi bermain.

"Yeay!" Pria itu bahkan mengangkat kedua tangannya ke udara dengan wajah penuh kemenangan.

Di balik senyum lebar itu, Dewangga diam-diam merasa puas. Karena sekali lagi, ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Hari ini, ia akan ikut menemui ibu mertuanya. Dan yang lebih penting, ia tidak akan membiarkan Liora pergi tanpa dirinya.

Sementara Keivan mengusap wajahnya pelan, kepura-puraan ayahnya mulai terasa memalukan untuk disaksikan. Untuk sesaat, bahkan dia benar-benar ingin berpura-pura tidak mengenal ayahnya sendiri.

Codet menundukkan kepala sambil menggigit bibir bagian dalam agar tidak menertawakan Tuan-nya.

Dan Liora hanya bisa menatap langit-langit mansion dengan pasrah, entah sejak kapan hidupnya berubah menjadi seperti ini. Menjadi istri seorang pria bermental anak kecil, dan menjadi ibu tiri seorang bocah jenius berusia enam tahun. Dan kini... ia bahkan kalah berdebat melawan pria yang katanya tidak normal.

Sementara itu...

Seseorang sedang berdiri di dalam ruang kerja kosong, pria berkacamata yang hadir dalam rapat tahunan hari kemarin menatap layar ponselnya dengan wajah gelap.

Sebuah pesan baru saja masuk.

[Dewangga muncul lebih cepat dari perkiraan. Kalau dia mulai mengingat sesuatu, kita semua habis.]

Beberapa detik kemudian ia membalas singkat. [Pastikan dia tidak sempat mengingat apa pun.]

Pria itu menatap jendela gelap di depannya, Ia tidak tahu... bahwa orang yang sedang mereka takutkan justru telah mengingat segalanya. Dan saat mereka mulai bergerak, Dewangga juga akan mulai memburu mereka satu per satu.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!