NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Seperti kebiasaannya selama ini, setiap kali rumah tangganya terasa menyesakkan, Sagita selalu tahu ke mana harus pergi. Bukan kepada ibunya. Bukan pula kepada siapa pun di lingkaran sosialnya.

Malam itu, setelah pertengkaran yang menyisakan luka harga diri, ia mengambil ponselnya dan menekan satu nama yang tak pernah terhapus dari daftar panggilan cepat.

Reza.

Satu dering. Dua dering.

“Ada apa sayang?” suara laki-laki itu terdengar rendah, hangat, dan langsung membuat Sagita ingin menangis.

“Aku butuh kamu,” ucap Sagita singkat.

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Reza hanya menyebutkan satu alamat—hotel yang sama, tempat yang sama, kamar yang sama. Seolah waktu tak pernah bergerak di antara mereka.

Tengah malam, Sagita tiba dengan wajah pucat dan mata sembab. Gaunnya rapi, rambutnya tertata, tampilan seorang perempuan kelas atas yang menyembunyikan kehancuran di balik elegansi.

Begitu pintu kamar hotel terbuka, Reza sudah berdiri di sana. Ia tidak langsung menyentuh Sagita. Hanya menatapnya, seolah membaca seluruh isi kepalanya.

“Kamu kelihatan lelah,” katanya pelan.

Sagita melangkah masuk. Begitu pintu tertutup, barulah tubuhnya runtuh. Ia bersandar di dada Reza, napasnya bergetar.

“Aku kalah,” bisiknya.

Reza mengusap rambut Sagita dengan lembut.

“Kamu tidak pernah kalah, Git. Kamu hanya terlalu sering berjuang sendirian.”

Kalimat itu membuat Sagita terisak. Ia membiarkan dirinya dipeluk sebuah kehangatan yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari suaminya.

Mereka duduk berdampingan di sofa dekat jendela. Lampu kota Jakarta berkilau di luar, kontras dengan suasana hati Sagita yang gelap.

“Kamu berantem lagi dengan Haikal?” tanya Reza hati-hati.

“Terakhir kali kamu cerita, dia bahkan hampir tidak peduli kamu ada atau tidak.”

Sagita tersenyum pahit. “Itu masalahnya.”

Reza mengernyit. “Maksudmu?”

“Ia berubah,” jawab Sagita. “Dan perubahan itu… bukan karena aku.”

"Apa maksud kamu?, aku gak paham."

"Sepertinya dia tertarik sama pembantu baru itu."

"Pembantu?."

"Ya...pembantu. Bayangin aja, wanita sekelas aku kalah sama pembantu "

"Kok bisa?, apa pembantunya muda dan cantik?."

"Hem."

"Bukanya kamu bilang Haikal gak normal?, kenapa kamu merasa kalah?"

"Aku...."

"Lagipula belum tentu pembantu itu mau dengan laki-laki yang bahkan gak memiliki nafsu. Siapa tau aja Haikal hanya senang dilayani."

"Entahlah..."

"Sayang....dimana-mana wanita pasti akan mencari lelaki yang bisa memberikan nya nafkah lahir dan batin. Mana ada perempuan yang mau sama laki-laki loyo." Ujar Reza tertawa.

"Contohnya aku." Lanjut Gita yang juga ikut menertawakan Haikal.

Ia lalu menceritakan semuanya. Tentang Laura. Tentang pembelaan Haikal. Tentang bagaimana untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan, Haikal menolak permintaannya secara terang-terangan.

“Tapi yang membuatku sakit, dia membelanya,” kata Sagita lirih. “Suami ku membela seorang pembantu.”

Reza terdiam, jelas terkejut. “Haikal?”

“Iya,” Sagita tertawa kecil, getir. “Haikal yang kamu kenal. Haikal yang bahkan tidak pernah menyentuhku.”

Reza menyandarkan punggungnya, menatap Sagita dengan sorot mata penuh selidik. “Itu… aneh.”

“Itu menyakitkan buat aku,” koreksi Sagita. “Aku bisa menerima jika dia tidak menginginkanku. Tapi membela perempuan lain? Itu penghinaan bagi ku. Biasanya dia selalu mendengarkan semua keinginan ku.”

Reza menghela napas. “Jadi apa yang dibilang mama kamu benar?”

Sagita mengangguk pelan. “Aku menolak percaya. Tapi malam ini… aku tidak bisa lagi menutup mata.”

Reza lalu bertanya, dengan nada yang lebih tajam dari sebelumnya,

“Perempuan seperti apa pembantu itu?”

Sagita terdiam sesaat. “Aku juga tidak tahu,” katanya jujur. “Itulah yang membuatku takut.”

Reza mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Seorang laki-laki tidak berubah tanpa sebab, Git. Apalagi laki-laki seperti Haikal.”

Kalimat itu membuat Sagita menegang.

“Kamu mau bilang apa?” tanyanya.

Reza menatapnya lurus. “Mungkin selama ini kamu salah menilai. Bukan Haikal yang tidak normal. Tapi… kamu tidak pernah menjadi pusat dunianya.”

Ucapan itu kejam, tapi jujur. Dan Sagita tahu itu.

“Aku istrinya,” ucap Sagita defensif.

“Iya,” jawab Reza lembut. “Tapi apakah kamu benar-benar pernah masuk ke hidupnya?”

Sagita terdiam lama. Ingatannya berputar, rumah yang dingin, percakapan seperlunya, sentuhan yang tidak pernah ada.

“Aku merasa…” Sagita menarik napas dalam, “aku sedang kalah oleh seseorang yang bahkan tidak seharusnya bersaing denganku.”

Reza tersenyum miring. “Justru itu yang berbahaya.”

Sagita menoleh. “Apa maksudmu?”

“Perempuan yang datang dari bawah,” lanjut Reza, “biasanya tahu betul cara naik. Dan mereka jarang bermain bersih.”

Sagita memejamkan mata. Ketakutannya kini berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap seperti ancaman nyata.

“Aku tidak mau kehilangan semuanya,” bisiknya. “Nama, status, hidupku, kemewahan ku.”

Reza mengangkat dagu Sagita perlahan. “Kamu tidak akan kehilangan apa pun,” katanya mantap. “Selama kamu sadar bahwa kamu tidak sendirian.”

Tatapan mereka bertemu. Ada ketenangan semu di sana sebuah pelarian yang kembali dipilih Sagita, meski ia tahu konsekuensinya.

Reza langsung meraup bibir ranum Gita yang sedari tadi sudah berhasil menggoda nya. Ciuman itu semakin memanas dan berlanjut ke hal panas yang selama ini selalu mereka lakukan. Suara decapan dan suara kulit yang bersentuhan di sertai Des ahan dan lenguhan memenuhi kamar hotel mewah itu.

Di luar sana, di rumah yang sama, Laura sedang menyusun langkah berikutnya.

Dan tanpa disadari Sagita, permainan ini telah berubah menjadi perang diam-diam antara dua perempuan, dengan Haikal sebagai pusatnya.

Reza bukan laki-laki yang gegabah. Selama bertahun-tahun bekerja di dunia kreatif, ia belajar satu hal penting yaitu setiap cerita punya latar belakang, dan tidak ada perempuan yang bisa mengubah seorang pria seperti Haikal tanpa membawa masa lalu yang kompleks.

Malam itu, setelah Sagita tertidur di kamar hotel dengan wajah yang masih basah oleh keringat akibat olah raga malam yang mereka lakukan, Reza duduk di balkon sambil menyalakan rokok. Angin malam menerpa wajahnya, membawa pikirannya pada satu nama yang terus berputar di kepalanya.

Laura.

“Perempuan itu bukan kebetulan,” gumamnya.

Reza mengeluarkan ponselnya dan membuka kontak lama. Ia tidak langsung menelepon. Ia memilih mengirim pesan singkat yang ringkas, profesional, tanpa emosi.

“Gue butuh data latar belakang seorang perempuan. Namanya Laura. Kerja di rumah Haikal Pratama. Kamu temukan semua informasinya secepatnya.”

Pesan terkirim.

Reza mematikan layar ponsel dan menatap langit Jakarta yang buram oleh cahaya kota. Ia tahu, semakin dalam ia menggali, semakin berbahaya permainan ini. Tapi demi Sagita atau mungkin demi egonya sendiri ia tidak berniat mundur.

Ke esokan harinya...

Laura sedang menyiram tanaman di taman depan ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Mobil itu terlalu familiar. Jantungnya langsung berdetak tak beraturan.

Tidak. Tidak mungkin.

Pintu mobil terbuka.

Dan dunia Laura seolah berhenti berputar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!