LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Ruang Kaca Dan Bayangan Masa Lalu
Setelah menjebak pasukan elit Rio di koridor utara menggunakan override sistem keamanan, Sabiru, Allbiru, dan Aldo bergerak menuju inti fasilitas: Ruang Kontrol Utama.
Pintu baja raksasa itu terbuka otomatis saat Sabiru mendekat. Di dalam, ruangan itu luas, dingin, dan steril. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca transparan yang menghadap langsung ke lautan ganas di luar. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kursi eksekusi tinggi yang terhubung dengan ratusan kabel serat optik tebal.
Namun, yang membuat darah Sabiru membeku bukan kursinya, melainkan sosok yang berdiri di balik kaca pemisah di ujung ruangan.
Seorang pria tua dengan jas putih kusam, rambut perak acak-acakan, dan separuh wajahnya tertutup bekas luka bakar parah. Dia tidak bergerak. Dia hanya menatap Sabiru melalui kaca dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah...?" bisik Sabiru, suaranya pecah. Kakinya lemas. Dunia terasa berputar. "Tapi... Ayah sudah mati. Mama Rania bilang Ayah meninggal dalam kecelakaan laboratorium 22 tahun lalu."
Pria itu—Arisendra Naverlla—mengangkat tangan tremornya dan menekan tombol interkom. Suaranya serak, terdengar di seluruh ruangan.
"Aku tidak mati, Sabiru. Aku bersembunyi. Karena jika aku mati, mereka akan mengambilmu."
Sabiru mundur selangkah, menabrak dada Allbiru yang sigap menahannya. "Apa maksudmu? Siapa 'mereka'? Dan kenapa kau sembunyi? Kenapa kau biarkan kami menderita selama ini? Kenapa kau biarkan Mama Malia menangis setiap malam?"
Mendengar nama "Malia", Arisendra menutup matanya sakit. "Malia... istriku. Ibumu."
Kalimat itu menghantam Sabiru seperti palu godam.
"Ibuku...?" Sabiru tertawa getir, air mata mengalir deras. "Jangan bercanda! Ibuku adalah Rania Sky! Wanita yang melahirkan Allbiru! Wanita yang membesarkanku sejak bayi!"
Aldo, yang berdiri di samping Sabiru, menundukkan kepala. Wajahnya pucat pasi, penuh rasa bersalah yang mendalam. Tangannya gemetar hebat.
"Maafkan aku, Ru," bisik Aldo, suaranya berat dan parau. "Itu semua... kebohongan."
Sabiru menoleh tajam pada Aldo. "Yah? Apa yang kamu katakan?"
Allbiru juga terlihat syok. Dia menatap ayahnya, lalu menatap Sabiru. "Yah... apa maksudnya Sabiru bukan anak kita?"
Aldo mengangkat wajah, matanya merah menahan tangis. "Dua puluh dua tahun yang lalu, Malia—sahabat karib Rania dan istri Arisendra—datang kepadaku dengan seorang bayi. Bayi itu adalah Sabiru. Rio sedang mencari anak Arisendra karena darahnya memiliki kompatibilitas genetik langka untuk Project Rambutan. Malia ketakutan. Dia tidak bisa melindungi bayinya sendiri tanpa menarik perhatian Rio."
Aldo mengambil napas panjang, seolah menghisap racun.
"Rania dan aku... kami setuju untuk menyembunyikan Sabiru. Kami mendaftarkannya sebagai anak angkat, lalu secara diam-diam mengubah akta kelahirannya agar terlihat seperti anak kandung kami. Kami membesarkanmu bersama Allbiru agar kau merasa aman. Agar kau punya saudara. Agar kau tidak merasa sendirian."
Sabiru terdiam. Napasnya tercekat. Pandangannya beralih ke Allbiru—pria yang dicintainya, yang dianggapnya kakak/saudara tirinya selama ini.
"Jadi..." suara Sabiru bergetar hebat. "Kita... kita benar-benar bukan saudara?"
Allbiru menatap Sabiru dengan tatapan kompleks: ada rasa lega karena incest tabu itu tidak nyata secara biologis, tapi juga rasa sakit karena melihat penderitaan Sabiru. "Secara darah, tidak, Ru. Kita berbeda ayah dan ibu. Tapi bagi ku... kau tetap saudariku. Kau tetap bagian dari jiwaku."
Sabiru menjerit frustrasi, lalu ambruk ke lantai. Kepalanya berdenyut sakit luar biasa. Neural Link-nya bereaksi terhadap stres emosional yang ekstrem.
"Kau dibohongi seumur hidup," bisik suara Arisendra lagi lewat interkom, kali ini lebih lembut. "Tapi kebohongan itu menyelamatkan nyawamu. Sampai hari ini. Karena sekarang, kau sudah dewasa. Dan kau sudah membangunkan sistemku."