Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Malam itu, kediaman Wiratama tidak lagi terasa mencekam bagi Arkan. Sebaliknya, setiap sudut rumah yang biasanya terasa seperti jeruji besi, kini tampak seperti istana yang baru saja ia taklukkan kembali.
Arkan melangkah masuk dengan bahu tegak, dagu terangkat, dan sebuah senyum kemenangan yang tak lagi disembunyikan.
"Bi Ijah!" suara Arkan menggelegar di ruang tengah, penuh otoritas yang selama berbulan-bulan ini terkubur.
Wanita tua itu berlari kecil menghampiri, wajahnya tampak bingung melihat perubahan drastis pada tuannya. "I-iya, Den Arkan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Siapkan makan malam istimewa. Masak semua makanan kesukaanku. Bebek peking, sup asparagus, dan pastikan wine terbaik sudah ada di meja. Aku ingin perayaan malam ini sempurna," perintah Arkan tanpa melihat ke arah Bi Ijah.
"Tapi Den... Ibu Kinanti biasanya sudah menentukan menu..."
"Mulai malam ini, aku yang menentukan apa yang terjadi di rumah ini, Bi," potong Arkan dengan nada mutlak yang dingin. "Dan satu lagi, panggil pengasuh Arjuna. Bawa Arjuna ke meja makan. Kita akan makan bersama sebagai keluarga."
Bi Ijah tertegun. Di rumah ini, Arjuna biasanya makan di ruang bayi atau ditemani pengasuhnya secara terpisah sesuai jadwal ketat yang dibuat Kinanti.
Membawa bayi ke meja makan formal adalah pelanggaran besar terhadap protokol Kinanti. Namun, melihat sorot mata Arkan yang berapi-api, Bi Ijah hanya bisa menunduk patuh.
Setengah jam kemudian, suasana di ruang makan berubah drastis. Arkan duduk di kepala meja, posisi yang biasanya ia tempati dengan rasa waswas, namun kini ia mendudukinya seolah itu adalah singgasana sah miliknya.
Di sampingnya, seorang pengasuh duduk dengan kaku sambil menggendong Arjuna yang mulai terjaga.
Langkah kaki yang sudah sangat dikenal Arkan terdengar dari arah tangga. Kinanti muncul dengan gaun rumah berbahan sutra hitam yang menjuntai indah.
Ia berhenti di ambang pintu ruang makan, matanya menyapu pemandangan yang tidak biasa di depannya. Alisnya berkerut tipis, sebuah ekspresi kebingungan yang sangat halus, yang bagi Arkan, adalah tanda bahwa pertahanannya mulai runtuh.
"Apa yang terjadi di sini, Arkan?" tanya Kinanti pelan, suaranya tetap tenang namun mengandung nada menyelidik.
"Duduklah, Sayang," Arkan menjawab sambil menuangkan anggur ke gelasnya sendiri. "Aku hanya ingin kita makan malam layaknya keluarga normal. Aku, kamu, dan putra kita. Bukankah ini yang selalu kamu inginkan? Kebahagiaan di bawah satu atap?"
Kinanti menarik kursi di hadapan Arkan. Ia menatap Arjuna, lalu beralih menatap suaminya yang tampak begitu bersinar malam ini. "Keluarga normal tidak membawa pengasuh ke meja makan utama, Arkan. Kamu melanggar banyak aturan hari ini."
"Aturan bisa diubah, Kin. Tergantung siapa yang memegang kendali," Arkan tersenyum sinis. Ia memotong bebek pekingnya dengan gerakan elegan, menikmati setiap detik ketegangan yang merayap di udara.
Makan malam berlangsung dalam sunyi yang ganjil. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal.
Arkan makan dengan lahap, sementara Kinanti hanya mengaduk-aduk makanannya, matanya tak lepas dari Arkan seolah sedang membaca sebuah teka-teki yang sudah ia tahu jawabannya.
Setelah menyesap anggurnya, Arkan meletakkan gelas dengan denting yang cukup keras. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Kinanti tepat di manik matanya.
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan, Kin. Sesuatu yang akan mengubah cara kita memandang satu sama lain mulai besok."
Kinanti meletakkan garpunya. "Oh ya? Katakanlah."
"Seluruh aset yang selama ini kamu banggakan... semua saham di Wiratama Group, properti di Menteng, hingga rekening di luar negeri yang kamu kunci... semuanya sudah kembali ke tempat yang seharusnya," Arkan menjeda kalimatnya, menikmati perubahan raut wajah Kinanti. "Semuanya sudah kembali atas namaku secara sah. Secara digital, hukum, dan kepemilikan, aku sudah memegang kendali penuh atas kekayaanku kembali."
Arkan menyandarkan tubuhnya, merasa di atas awan. "Kecuali rumah ini. Aku cukup murah hati untuk membiarkan rumah ini tetap atas namamu. Anggap saja itu hadiah karena kamu sudah menjaga asetku dengan baik selama ini."
Trak!
Kinanti membanting sendok dan garpunya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara nyaring yang membuat pengasuh bayi tersentak ketakutan. Wajah Kinanti memerah, matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap.
"Kamu... kamu melakukan itu?" suara Kinanti bergetar, seolah ia sedang menahan ledakan emosi yang luar biasa. "Kamu berani meretas sistem keamanan yang kubangun? Kamu mencuri dariku, Arkan?!"
Arkan tertawa lepas. Suara tawa yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu. "Mencuri? Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku, Kin! Kamu yang mencurinya dariku dengan cara memeras perasaanku! Sekarang, posisinya berbalik. Kamu tidak punya apa-apa lagi untuk mengancamku. Kamu tidak bisa lagi mengusirku, dan kamu tidak bisa lagi menjauhkan aku dari Arjuna."
Kinanti berdiri dengan kasar, kursinya terdorong ke belakang hingga nyaris terjatuh. "Kamu akan menyesali ini, Arkan! Kamu pikir kamu sudah menang hanya karena angka-angka di layar itu berubah?! Kamu tidak tahu dengan siapa kamu bermain!"
Kinanti berbalik dan melangkah cepat menuju kamarnya, meninggalkan ruang makan dalam kekacauan emosi. Arkan hanya melihat punggung istrinya dengan senyum kemenangan yang lebar. Ia merasa telah berhasil menghancurkan martabat wanita yang selama ini menginjaknya.
Di dalam kamarnya, Kinanti menutup pintu dengan rapat. Ia bersandar pada daun pintu, napasnya yang tadi memburu perlahan-lahan kembali teratur. Kemarahan yang tadi ia tunjukkan di meja makan seketika menguap, digantikan oleh wajah datar yang sedingin es.
Ia berjalan menuju cermin, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena sandiwara tadi.
"Akting yang bagus, Kinanti," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Ia mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat kepada Suryo.
"Dia sudah memakan umpannya. Dia merasa sudah menjadi Tuhan malam ini. Biarkan dia menikmati kemenangannya. Suatu saat nanti, saat dia mencoba mencairkan dana atau menandatangani kontrak baru, kita keluarkan dokumen fisik dari brankas."
Kinanti tahu betul bahwa pengkhianatan Arkan dengan Alana bukan hanya soal perasaan, tapi soal pengkhianatan terhadap komitmen dan kerja keras yang telah ia bangun.
Baginya, memaafkan Arkan adalah hal mustahil. Ia tidak ingin sekadar menghukum Arkan, ia ingin menghancurkan Arkan sampai ke titik di mana Arkan merasa bahwa kematian adalah hadiah yang lebih indah daripada hidup sebagai pecundang.
Arkan tidak sadar bahwa keberaniannya malam ini adalah paku untuk peti matinya sendiri. Ia menganggap kemarahan Kinanti adalah tanda kekalahan, padahal itu adalah bagian dari rencana besar Kinanti untuk menjatuhkannya hingga ke akar-akarnya.
Di ruang makan, Arkan masih menggendong Arjuna, mencium kening bayinya dengan penuh harapan. "Papa sudah kembali, Nak. Tidak ada lagi yang bisa menyakiti kita."
Ia tidak tahu bahwa di atas sana, sang sipir sedang menyiapkan jeruji besi yang tidak terbuat dari digital, melainkan dari dokumen hukum yang sah dan tak terbantahkan, yang akan menyeretnya kembali ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari sebelumnya.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.