bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tabib di hutan
Pagi itu, matahari baru saja naik di atas puncak pegunungan. Udara segar khas hutan memasuki celah-celah jendela kamar Jinyu. Gadis kecil itu masih terlelap, selimut tipis menyelimuti tubuhnya. Mimpi indah tentang makan malam bersama keluarga Su buyar seketika.
["JINYU! BANGUN!"]
Jinyu mengerjapkan mata. Jam di dinding menunjukkan pukul 7.45.
Ini hari libur, sistem.
["LIBURAN TIDAK ADA! KITA HARUS AMBIL HERBAL! BANYAK SEKALI TANAMAN LANGKA YANG HANYA MUNCUL DI PAGI HARI!"]
Kemarin seharian aku latihan perang bendera. Capek.
["TIDAK PEDULI! AYO BANGUN!"]
Jinyu memutar tubuh, membelakangi dunia. Tapi sistem tidak menyerah. Selama sepuluh menit, ia terus berteriak, memekik, bahkan mulai menyanyikan lagu dangdut dengan nada fals.
["BANGUN BANGUN BANGUN~ AMBIL HERBAL DI HUTAN~ KALAU TIDAK NANTI LAYU~ JINYU JADI NYESEL~"]
Jinyu membuka mata dengan tatapan kosong. Ini siksaan.
Shshsss~ Yoyo menggeliat di sampingnya. "Aku juga tidak bisa tidur. Pergi saja sana, ambil herbal, biar dia diam."
Jinyu menghela napas panjang. Ia bangkit, meraih baju latihan hijau, dan bersiap. Keranjang anyaman bambu ia selipkan di lengan untuk hasil buruan nanti.
Pukul 8 lewat, Jinyu sudah masuk ke dalam hutan. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan, suara burung pagi mengisi keheningan. Ia berjalan santai, sesekali membungkuk memetik tanaman yang ditunjuk sistem.
["Itu! Artemisia argyi! Ambil daunnya!"]
Jinyu memetik.
["Itu! Akar Astragalus! Gali!"]
Jinyu menggali dengan pisau.
["Itu! Jamur lingzhi di pohon tumbang!"]
Jinyu memanjat, mengambil jamur.
Setiap kali ia mengambil, sistem bersorak gembira. Setiap kali ia diam, sistem protes. Perdebatan tak berkesudahan terjadi di kepala Jinyu.
Sistem, kau tahu, dulu aku ratu iblis. Bisa menghancurkan kota dengan satu tangan. Sekarang aku jadi pemetik herbal di hutan.
["Dulu itu dulu. Sekarang kau manusia. Manusia butuh herbal."]
Tapi aku punya harta karun emas dan banyak lagi
["Emas tidak bisa menyembuhkan sakit perut."]
Bisa beli obat.
["DI SINI TIDAK ADA APOTEK!"]
Shshsss~ "Kalian berdua, tolong, aku capek dengar pertengkaran kalian."
Yoyo menyela dengan malas. Ular perak itu melingkar di bahu Jinyu, ikut menikmati perjalanan. Tapi perdebatan tetap berlanjut.
Satu jam berlalu. Keranjang Jinyu mulai penuh dengan berbagai tanaman. Ia juga berhasil menangkap dua ekor kelinci yang lewat dan tiga burung pegar yang terbang rendah. Lumayan untuk makan siang di kantin.
Jinyu terus berjalan, masuk lebih dalam ke hutan. Sistem masih sibuk menunjukkan tanaman ini-itu. Jinyu menurut setengah hati, pikirannya melayang pada tidur siang yang indah.
Tiba-tiba...
Bruk!
Kaki Jinyu tersandung sesuatu. Tubuh mungilnya jatuh tersungkur, keranjang terbalik, tanaman berhamburan. Jinyu menahan diri untuk tidak mengumpat.
"SIAL—" Ia menahan kata-kata kasarnya. Wajahnya memerah. "Apaan sih!"
Ia bangkit, menoleh ke belakang untuk melihat penyebab kejatuhannya. Sebuah "akar pohon" besar menyembul dari tanah. Tapi setelah dilihat lebih teliti...
Bukan akar. Itu kaki. Kaki manusia.
Jinyu terpaku. Perlahan, pandangannya naik. Seorang pria tua bersandar di batang pohon besar, tubuhnya lunglai, pakaiannya lusuh seperti habis menempuh perjalanan jauh. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi. Matanya terpejam.
Jinyu mengerjapkan mata. Orang? Di hutan?
Ia mengambil ranting panjang di dekatnya, lalu dengan hati-hati menusuk-nusuk tubuh pria itu. Tidak bergerak. Jantungnya? Masih berdetak?
"Aaaah..." rintihan lemah terdengar. Pria itu mengerang pelan.
Jinyu menghela napas lega. "Masih hidup."
["Ya ampun, lo tusuk-tusuk pake ranting. Kasian dia."]
Mau pakai tangan? Takut kotor.
Jinyu mengamati pria itu. Usia sekitar 60-an, rambut putih tipis, jenggot tipis di dagu. Pakaiannya seperti tabib keliling dengan baju panjang abu-abu, tas kain di samping, dan beberapa alat aneh yang menyerupai jarum perak. Di dadanya, terlihat gerakan naik turun lemah.
Dia seperti orang sakit.
["Jelas sakit. Jantungnya lemah, napasnya sesak. Mungkin penyakit bawaan."]
Terus? Kita tinggal?
["YA JELAS TINGGAL! KITA BUKAN DOKTER!"]
Tapi...
["TAPI APA? KALAU DIA MATI, KITA BISA KENA MASALAH!"]
Jinyu menghela napas. Sistem, kau ini...
Tiba-tiba, pria itu mengerang lagi. Matanya membuka sedikit, menatap Jinyu dengan pandangan sayu, lalu terpejam lagi.
Jinyu bingung. Harus gimana?
["YA UDAH, PERGI AJA. LAPOR KE PENJAGA."]
Dia bisa mati sebelum aku balik.
["TERUS?"]
Kita harus obati.
["APA? LO GILA? LO BUKAN DOKTER!"]
Lo yang punya database, masa nggak tahu cara obati?
["TAHU, TAPI—"]
Tapi apa?
["BUTUH BAHAN! KITA NGGAK PUNYA!"]
Bikin pil.
["PIL? GAMPANG KATA LO! BUTUH WAKTU! BUTUH ALAT! BUTUH—"]
Shshsss~ "BERHENTI!"
Yoyo berteriak cukup keras sampai Jinyu dan sistem sama-sama kaget. Ular perak itu melompat dari bahu Jinyu, melingkar di tanah di depan mereka.
Shshsss~ "Kalian berdebat lagi. Dasar! Jinyu, kau ini ratu iblis, masa bingung sama orang sakit? Sistem, lo punya pil di database, kan?"
["IYA TAPI—"]
Shshsss~ "TAPI APA? KELUARIN!"
Jinyu menatap Yoyo, lalu sistem. kau udah punya pil nya?
["...iya."]
Kenapa nggak bilang dari tadi? kenapa kau bilang harus dibuat dulu
["KARENA MAHAL! POINNYA BANYAK!"]
Shshsss~ "SISTEM!"
["IYA IYA! DIAM GAK LO!"]
Cahaya biru redup muncul di depan Jinyu. Sebuah pil kecil berwarna merah muncul di telapak tangannya. Wangi herbal langsung tercium.
["Ini Pil Pemulihan Jiwa. Buat penyakit jantung, paru-paru, dan kelelahan ekstrem. Langka. Mahal. Poinku berkurang banyak."]
Jinyu mengabaikan keluhan sistem. Ia mendekati pria tua itu, membuka mulutnya perlahan, lalu memasukkan pil. Beberapa saat tidak terjadi apa-apa. Jinyu menunggu.
Lima menit berlalu. Pria itu menghela napas panjang napas yang lebih dalam, lebih lega. Warna pucat di wajahnya perlahan memudar. Matanya bergerak-gerak, lalu terbuka.
Pria itu menatap langit-langit hutan, lalu menoleh. Di depannya, seorang gadis kecil berambut pendek dengan pakaian latihan hijau duduk bersila, menatapnya dengan datar.
"Kau... siapa?" suaranya serak.
Jinyu menjawab singkat, "Anak pelatihan."
Pria itu mengerjapkan mata. "Kau... menolongku?"
Jinyu mengangguk.
Pria itu mencoba duduk. Tubuhnya terasa ringan, berbeda dari sebelumnya. Ia memegang dadanya yang tidak ada sesak lagi. Tidak ada nyeri. Ia menatap Jinyu dengan takjub.
"Kau memberiku apa?"
"Obat."
"Obat apa?"
Jinyu mengangkat bahu. "Tidak tahu. Punya saya."
Pria itu terdiam. Ia menatap gadis kecil ini dengan perasaan campur aduk. Di usianya yang 60 tahun, ia sudah banyak melihat hal aneh. Tapi ini... ini di luar nalar.
"Siapa namamu?"
"Su Jinyu."
"Su Jinyu..." pria itu mengulang. "Kau tinggal di kamp pelatihan?"
"Iya."
Pria itu menghela napas. "Aku... berhutang nyawa padamu, Nak."
Jinyu bangkit, mengambil keranjangnya yang terbalik. Tanaman-tanaman berceceran, ia memunguti satu per satu.
"Tidak perlu. Saya mau pulang."
Sebelum pria itu bisa berkata apa-apa, Jinyu sudah berbalik dan berlari kecil meninggalkannya. Pria itu hanya bisa menatap punggung kecil yang menghilang di balik pepohonan.
Di dalam tenda medis kamp pelatihan, dua pria tua duduk berhadapan. Satu berbaring di ranjang, pria yang ditolong Jinyu. Satu lagi duduk di sampingnya, memegang pergelangan tangannya, memeriksa denyut nadi dengan serius.
"Ini... mustahil," gumam pria yang memeriksa. Ia mengenakan baju panjang khas tabib Tiongkok, jenggot putih panjang, wajah penuh kerut.
Yang di ranjang tersenyum lemah. "Aku tahu, Lao Zhang. Aku juga tidak percaya."
"Denyut nadimu normal. Kuat. Seperti orang sehat." Lao Zhang begitu ia dipanggil mengerutkan dahi. "Tapi aku tahu persis, kau punya penyakit jantung bawaan sejak lahir. Selama 40 tahun aku merawatmu, tak pernah sekalipun denyutmu sekuat ini."
"Ada yang memberiku obat."
"Obat? Siapa? Tabib mana?"
Yang di ranjang tersenyum. "Seorang anak kecil. Usia 4 atau 5 tahun. Gadis kecil dengan rambut pendek, mata keemasan."
Lao Zhang terbelalak. "Apa?"
"Ia bilang dirinya anak pelatihan. Memberiku pil merah, lalu pergi begitu saja."
Lao Zhang terdiam lama. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. "Penyakit jantung bawaan... sembuh dalam hitungan menit... dengan pil... mustahil."
"Tapi nyata."
Lao Zhang menatap temannya. "Kau ingat wajahnya?"
"Sangat jelas."
"Kita harus cari anak itu."
Yang di ranjang mengangguk pelan. "Aku juga ingin berterima kasih. Tapi..." ia tersenyum getir, "mungkin dia tidak ingin dikenal."
Lao Zhang menghela napas. "Setidaknya kita cari tahu. Anak seperti itu... bisa jadi anugerah surga."
Sore harinya, Jinyu kembali ke barak dengan keranjang penuh tanaman dan hewan buruan. Ia langsung menuju kantin, menyerahkan kelinci dan burung pegar pada koki tua yang sudah mengenalnya.
"Nak Jinyu, lagi-lagi kau bawa daging," koki itu tertawa. "Nanti malam kita masak sup kelinci."
Jinyu mengangguk. "Boleh, Paman Koki."
Ia berbalik, berjalan menuju kamar. Tubuhnya lelah, matanya mengantuk. Akhirnya, tidur siang yang dirindukan.
Di kamar, ia merebahkan diri di ranjang. Yoyo melingkar di perutnya.
Shshsss~ "Hari yang sibuk."
Iya.
["Poinku berkurang banyak."] sistem merengek.
Bisa ditambah lagi.
["DENGAN CARA?"]
Diam dulu, aku mau tidur.
["TAPI—"]
Shshsss~ "Diam."
Sistem diam. Jinyu memejamkan mata. Dalam kantuknya, ia memikirkan pria tua itu. Mungkin dia baik-baik saja. Mungkin mereka tidak akan bertemu lagi.
Ia tidak tahu, bahwa di suatu tenda medis, dua orang tabib terkenal sedang merencanakan untuk mencarinya.
Tapi itu urusan nanti.
Sekarang, waktu tidur.