Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURIGA
Pintu kayu mahoni itu tertutup dengan suara klik yang pelan namun terdengar tegas di telinga Yasmin. Ia menyandarkan punggungnya sejenak di sana, memastikan dunia luar, dengan segala kebisingannya bisa terkunci rapat.
Kamar ini seharusnya menjadi tempat paling aman, tapi baginya, dinding-dinding ini terasa mulai menyempit.
Tak lama, sebuah ketukan lembut terdengar dari balik pintu. Yasmin tersentak, bahunya menegang sesaat sebelum ia mengenali ritme tersebut.
Itu Arya.
Tanpa suara, Yasmin melangkah gontai menuju tepi ranjang. Ia duduk di sana, menunduk menatap jemarinya yang saling bertautan erat. "Masuk, Mas," lirihnya hampir tak terdengar.
Kemudian, pintu terbuka perlahan. Arya melangkah masuk, tatapannya langsung tertuju pada sosok rapuh di tepi tempat tidur itu. Tanpa banyak bicara, ia mendekat dan mengambil posisi duduk di samping Yasmin.
Keheningan pun menyelimuti mereka, namun berat yang dirasakan Yasmin seolah tumpah memenuhi ruangan. Ya. Di kepala Yasmin, suara-suara itu kembali berdengung. Hinaan Maura yang tajam dan tawa merendahkan Freya tadi memang mengiris hatinya, meninggalkan luka yang perih.
Namun, bukan hanya itu yang membuatnya gemetar. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang menghimpit dadanya, tatapan Tama yang membuat ia ingat akan ancamannya.
Yasmin ingin sekali menumpahkan segalanya pada Arya. Ia ingin berteriak bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Namun, setiap kali bibirnya terbuka, bayangan wajah Tama yang dingin dan kalimat ancamannya yang brutal kembali terngiang. Pria itu tidak main-main dengan ucapannya.
Rasa sakit hati itu kini telah bermutasi menjadi ketakutan yang melumpuhkan. Ia terjebak dalam dilema yang menyiksa. Jika ia bercerita, ia takut ancaman Tama akan menjadi kenyataan. Namun jika ia diam, ketakutan ini akan perlahan membunuhnya dari dalam.
Arya lalu menggeser duduknya, semakin merapat hingga bahu mereka bersentuhan. Ia menghela napas panjang, mencoba menyelami keheningan istrinya yang terasa begitu pekat.
"Sudahlah, Yasmin. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ucapan Mama dan Freya," bisik Arya lembut, tangannya terulur mengusap lengan istrinya. "Kamu tahu sendiri bagaimana mulut mereka. Mereka hanya iri karena posisi kamu sekarang. Jangan biarkan hinaan mereka membuatmu terlihat sekecil ini, sayang."
Yasmin hanya mengangguk samar, matanya tetap tertuju pada hamparan sprei di bawahnya. Arya mengira luka ini hanya sebatas harga diri yang tergores oleh lisan tajam wanita-wanita itu. Ia tidak tahu bahwa di balik diamnya, ada badai yang jauh lebih besar.
Nama Tama terus bergema di kepalanya, seperti lonceng peringatan yang tak kunjung berhenti. Ingin sekali Yasmin berteriak bahwa hinaan itu tidak ada apa-apanya dibanding ancaman kakak iparnya itu yang sanggup menghancurkan hidup mereka dalam semalam.
Arya yang merasa istrinya masih sangat tegang, mencoba memberikan kenyamanan lebih. Ia kemudian mengangkat tangannya, bermaksud membelai rambut Yasmin dan memijat lembut tengkuknya untuk meredakan ketegangan di sana. Namun, saat jemari Arya menyisir rambut di pangkal leher Yasmin, gerakannya mendadak terhenti.
Mata Arya menyipit. Di balik helaian rambut yang tersingkap, terpampang sebuah bercak kemerahan yang kontras di kulit putih Yasmin. Itu bukan memar karena benturan, melainkan tanda merah yang sangat spesifik—sebuah bekas kecupan yang masih baru dan terlihat jelas.
Napas Arya mendadak menderu. Jarinya menyentuh tepian tanda itu dengan tekanan yang sedikit lebih keras.
"Ini apa, Yasmin?" suara Arya berubah, tak lagi lembut. Ada nada rendah yang sarat akan kecurigaan.
Mendadak, Yasmin tersentak hebat. Ia refleks memegang lehernya, mencoba menutupi tanda yang ia sendiri hampir lupa keberadaannya karena rasa takut yang lebih mendominasi tadi.
"I-itu..." Yasmin tergagap, lidahnya mendadak kelu. "Itu... tadi mungkin digigit serangga, Mas. Di taman tadi banyak nyamuk..."
"Serangga?" Arya memotong cepat, tatapannya kini mengunci manik mata Yasmin yang bergetar. Ini bukan bekas gigitan serangga. Ini seperti bekas ciuman. Aku ini sepang dokter, aku tahu mana gigitan serangga atau bukan. Kamu sedang berbohong padaku, Yasmin?
Yasmin meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Bayangan Tama yang tadi menariknya paksa ke sudut ruangan dan memberikan tanda itu sebagai bentuk kepemilikan sekaligus ancaman kembali melintas. Ia ingin jujur, tapi ancaman Tama bahwa ia akan 'menghilangkan' nyawa jika Yasmin buka mulut, membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Ia merasa seolah oksigen di kamar itu mendadak habis. Tatapan Arya yang masih menuntut jawaban terasa jauh lebih menghujam daripada interogasi mana pun. Jantungnya bertalu hebat, berpacu dengan rasa takut yang nyaris membuatnya jatuh pingsan.
"Mas. A-aku... kepalaku mendadak pening sekali. Perutku juga mual," potong Yasmin cepat, suaranya bergetar hebat. Ia tidak sanggup menatap mata Arya lebih lama lagi.
Tanpa menunggu persetujuan, Yasmin berdiri dengan gerakan kikuk, hampir tersandung kakinya sendiri. "Aku... aku ke kamar mandi sebentar. Mau cuci muka."
Ia melangkah setengah berlari, meninggalkan Arya yang masih terpaku di tepi ranjang dengan rahang mengeras berselimut curiga.
****