Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah yang Berdarah
Suasana di markas rahasia Azura semakin mencekam saat Dika menampilkan data medis terbaru yang berhasil di retas dari sebuah rumah sakit swasta di Singapura.
"Ini alasan sebenarnya kenapa Clarissa ingin mengambil si kembar," ujar Azura sambil menunjuk layar.
"Clarissa menikah lagi dengan suami ke tiga nya sebagai istri kedua dari pria kaya yang cukup berkuasa dan istri pertamanya tidak mempunyai seorang anak. Dengan Clarissa mereka mempunyai seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Saat ini, anak itu sedang sekarat karena gagal ginjal kronik dan kelainan sumsum tulang belakang."
Azura menatap Rayyan yang wajahnya mulai memucat. " Dia menculik arka dan Aidan bukan karena rindu kepada anak, Rayyan. Dia butuh donor ginjal dan sumsum tulang belakang yang cocok. Dan secara biologis, Arka dan Aidan adalah kandidat terbaik.
BRAK!
Rayyan menggebrak meja hingga botol air di atas meja terguling. Rahangnya mengeras, urat-urat lehernya menonjol menahan murka yang tak terbendung. "Sialan! Bukan hanya menghancurkan hidupku tujuh tahun lalu, sekarang dia ingin menghancurkan anak-anaku demi menyelamatkan anak dari suami barunya??"
"Tenang, Rayyan. Kemarahan tidak akan menyelamatkan mereka," potong Azura dingin, meski matanya sendiri menyiratkan kilat kebencian.
"Ada info baru lagi. Dimas , mantan suami siri Azura, baru saja memenangkan tender investasi senilai 40 triliun. Dan tebak? Dia memenangkan itu menggunakan proposal terakhir buatan Azura," kata Dika
Farhan mendengus sinis. "Satu komplotan kapal berisi iblis semua. Clarissa butuh organ, Dimas butuh modal, dan Bramasta ingin menguasai twins Group. Sekali pukul, kita harus pastikan mereka tidak bisa bangun lagi."
Azura segera mengubah peta strategi di layar.
"Ada perubahan rencana. Kita tidak bisa menyerang secara frontal sekarang karena mereka punya jaringan di luar negeri. Lusa, Rayan dan ayah mu harus kembali ke kota. Kalian harus bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa tentang keberadaan si kembar dan ibu Laras di sini."
Rayyan mengerutkan kening."Maksudmu aku harus berpura-pura kehilangan mereka?"
"Benar. Kamu harus tetap menjadi Rayyan yang dingin dan tampak frustrasi mencari keluargamu. Awasi pengasuh itu dengan ketat, jangan sampai dia curiga bahwa kamu sudah tahu penghianatannya," perintah Azura.
Farhan mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk chip transparan.
"Rayyan, pasang chip ini ke sistem kontrol utama CCTV di rumahmu. Begitu terpasang, Dika akan memulihkan seluruh rekaman yang sengaja di hapus selama empat tahun terakhir. Kita akan melihat setiap inci penyiksaan yang dilakukan pengasuh itu pada si kembar sebagai bukti hukum yang tak terbantahkan."
Rayyan menerima chip itu, menggenggamnya erat. "Aku akan melakukannya. Aku akan memastikan setiap detik penderitaan anak-anaku dibayar dengan kehancuran mereka."
"Ingat," Azura mengingatkan dengan nada penuh penekanan. "Tetaplah menjadi aktor yang baik di kota. Biarkan mereka merasa berada di atas angin sebelum kita menjatuhkan bom yang sebenarnya."
Angga yang biasa banyak bicara, kini hanya bisa menelan ludah. Ia melihat bagaimana kolaborasi antara "Mafia kota" seperti Rayyan dan "Jenderal Desa" seperti Azura mulai terbentuk.
"Rapat bubar. Siapkan mental kalian. Lusa, permainan yang sesungguhnya dimulai," tutup Azura.
......................
Keesokan paginya, suasana di ruang tamu rumah Azura terasa berat. Azura mengumpulkan kedua orang tuanya, pak Hadi dan Bu Sulastri, serta orang tua Rayyan, pak Handoko dan Bu Laras, Azura menceritakan hasil rapat semalam terutama tentang Clarissa.
Deg!
Wajah ibu Laras pucat pasi. Ia nyaris pingsan jika tidak segera ditangkap oleh pak Handoko. Tangisnya pecah seketika, "Ya tuhan... Bagaimana bisa seorang ibu kandung sekejam itu? Hati apa yang di miliki sampai tega ingin menyakiti darah dagingnya sendiri?!"
Rayyan segera mendekat den menggenggam tangan ibunya.
"Ma, tenang. Rayyan janji, sehelai rambut pun mereka tidak akan bisa menyentuh Arka dan Aidan. Kami sudah punya rencana."
"Kita harus bermain cantik, Ma. Biarkan mereka merasa menang untuk sementara," tegas Rayyan.
Di tengah pembicaraan serius itu, suara deru mobil mewah terdengar berhenti di depan rumah. Pak Humaidi, penjaga depan, berlari masuk dengan wajah bingung.
"Nona Azura... Ada tamu dari kota. Namanya Tuan Dimas," Lapor Pak Humaidi.
Mendengar nama itu, mata Azura yang tadi berkaca-kaca karena ibu Laras, kini berubah menjadi sepasang belati yang tajam. Farhan berdiri tegak, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Namun, Azura memberikan isyarat tangan agar semua tetap tenang.
"Jangan ada yang masuk ke dalam," perintah Azura pelan namun penuh penekanan. " biarkan dia melihat siapa saja yang dia hadapi hari ini."
Pintu depan terbuka. Dimas melangkah masuk dengan gaya Flamboyan yang di paksakan. Ia mengenakan setelan jas mahal, membawa buket bunga besar dan sebuah kotak hadiah mewah.
Wajahnya penuh senyum kemenangan senyum seorang pria yang baru saja merasa memenangkan tender 40 triliun.
Tetapi, langkah Dimas terhenti di tengah ruangan. Senyumnya perlahan luntur saat melihat siapa saja yang duduk di ruang tamu itu. Bukan hanya Azura dan Farhan, tapi juga pak Hadi, Bu Sulastri, serta sepasang suami istri berwibawa (orang tua Rayyan), dan seorang pria muda dengan aura yang sangat mengancam.
"Hallo, Azura... Sayang," sapa Dimas, suaranya sedikit bergetar melihat kerumunan itu.
"Wah, aku tidak tahu kalau kamu sedang ada acara keluarga besar. Siapa mereka?"
Pak Hadi berdiri, wajahnya yang biasa ramah kini tampak sangat berwibawa sebagai kepala keluarga.
"Dimas... Berani sekali kamu menginjakkan kaki di rumah ini setelah apa yang kamu lakukan pada putriku."
Dimas mencoba tertawa kecil. "Pak, jangan begitu. Aku mau jemput istri saya pulang ke kota, pak. Jika Azura tidak mau ikut pulang, ya sudah , saya akan ikut tinggal di sini bersama kalian," jawab Dimas santai, seolah ia masih bagian dari keluarga itu.
Wajah Farhan memerah menahan amarah, tapi pak Hadi menahannya. "Apa bukti kamu adalah suami anak saya?" tantang pak Hadi tenang.
Dimas tertegun sejenak. Ia tidak bisa menjawab secara langsung karena ia tahu persis pernikahan mereka tidak pernah terdaftar. Dengan cepat, ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah foto pengantin dari samping, tetapi wajah mempelai wanitanya tidak terlihat jelas.
Farhan spontan tertawa sinis. "Itu bukan Azura! Azura masih single dan belum pernah menikah secara hukum dengan siapa pun," tegas Farhan.
"Kami sudah menikah! Bapak sendiri yang menikahkan kami waktu itu!" Balas Dimas mulai tidak sabar.
"Mana surat nikahnya? Tunjukkan pada kami dokumen resminya," tantang Farhan lagi.
Membuat Dimas terdiam seribu bahasa. Dimas hanya bisa menatap wajah Azura yang nampak sangat mempesona dengan balutan hijab birunya, sebuah kecantikan yang baru ia sadari sekarang.
Rayyan, yang sedari tadi hanya menyimak dengan tatapan dingin, akhirnya merasa muak melihat drama picisan di depannya. Ia berdiri perlahan, membetulkan letak jam tangannya, lalu melangkah maju ke samping Azura.
"Perkenalkan, saya Rayyan," ucap Rayyan dengan suara berat yang penuh penekanan. "Saya calon suami Azura. Dan kami akan menikah Minggu depan."
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong. Bukan hanya Dimas yang terperanjat, bahkan Azura dan keluarga besarnya pun sempat tertegun mendengar ucapan mantap Rayyan.
"Tidak mungkin! Kami belum ada cerai!" teriak Dimas panik.
Pak Hadi segera memotong sebelum keributan semakin meluas. Ia berdiri dan menunjuk ke arah pintu. "Sudah cukup! Pulang kamu, Dimas! Jangan pernah ganggu Azura lagi. Kamu tidak di terima di keluarga ini sampai kapan pun!"
Dimas menatap nyalang ke arah Rayyan dan Azura. Dengan rasa malu yang bercampur kemarahan hebat karena harga dirinya diinjak-injak, ia memutar badan dan pergi meninggalkan rumah itu. Di dalam mobil, ia memukul setir dengan keras. "Lihat saja nanti, Azura... Kamu akan memohon padaku!" gumamnya penuh dendam.
Di dalam rumah, keheningan sempat menyelimuti ruang tamu. Semua mata kini tertuju pada Rayyan yang masih berdiri tegak di samping Azura.
"Minggu depan?" tanya Azura pelan, menatap Rayyan dengan tatapan yang sulit di artikan.
Rayyan menoleh, menatap Azura dalam-dalam.
"Hanya bagian dari strategi untuk mengusirnya,bukan? Tapi jika itu harus menjadi nyata untuk melindungi mu, aku tidak keberatan," jawab Rayyan tenang, membuat suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi sangat canggung tetapi penuh bunga-bunga harapan di hati Ibu Laras.
mohon maaf lahir dan batin juga 🙏