Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
"Mama ngapain di sini malam-malam?" Tanya Angga tergagap. Dia sungguh tak sanggup menatap mata ibunya yang seperti ingin menelan dirinya hidup-hidup.
"Kamu yang ngapain di sini malam-malam? Kamu itu punya istri Ga! Tiap hari pulang malam, berangkat pagi. Kamu bahkan tidak punya waktu sama sekali dengan Lisa! Kenapa jadi begini lagi? Katanya cinta? tapi kenapa menjauh!"
Angga menunduk, dia juga tidak tahu kenapa Lisa selalu saja minta cerai akhir-akhir ini, jika dia ingin bicara, Lisa selalu membahas perpisahan. Siapa yang mau?
"Angga sayang ma, tapi kayaknya Lisa yang nggak sayang sama Angga, dia selalu saja minta cerai, makanya Angga memilih jadi dingin lagi seperti dulu"
Bu Nada memijat kepalanya yang pening, anaknya sudah kepala tiga, tapi kenapa masih b*doh sekali dalam menilai perempuan.
"Memang kamu pernah menyatakan cinta kamu sama Lisa? Tiap hari minta istri minum obat kontrasepsi, istri mana yang nggak sakit ga!"
Angga makin tercekat, bagaimana bisa ibunya tahu tentang hal sensitif ini? Apa ibunya punya mata-mata di rumahnya?
"Kenapa? Kaget mama tahu hal ini?
Angga makin terdiam, dia tidak bisa mengelak. Jadi dia memilih jujur saja.
"Lisa sakit ma, dia tidak boleh hamil, itu akan membahayakan nyawa Lisa"
Mendengar alasan putranya, Bu Nada bukannya terharu, dia justru tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan itu.
"Kamu tahu dari mana kalau Lisa sakit?" Sahut Bu Nada masih dengan nada ingin tertawa.
"Dari hasil tes kesehatan Lisa empat tahun lalu, tepat satu tahun setelah Lisa menikah dengan Galih"
"Sakit apa? Kanker rahim?"
Angga mengagguk cepat, wajahnya begitu sedih saat mengingat hasil kesehatan itu.
Namun bukannya sedih, bu Nada makin tertawa melihat kesedihan putranya. Sontak saja Angga tak terima dan marah.
"Kenapa mama tertawa? Mama nggak hawatir sama menantu kesayangan mama?"
Angga sedikit malas menatap wajah mamanya yang begitu menyebalkan. Di saat sedih seperti ini, bisa-bisanya mamanya menertawakan dia.
"Kamu sudah salah faham Angga, coba saja kamu tidak bodoh, mama pasti sudah nimang cucu"
"Maksud mama?
Bu Nada meminta Angga duduk di depannya, ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.
"Jadi waktu periksa di rumah sakit itu, ada dua nama Lisa, Lisa istri kamu dan yang satu ibu-ibu paruh baya. Waktu itu hasil kesehatan mereka tertukar, dulu Lisa juga sempat syok. Dia sangat sedih saat sampai rumah. Mama bilang ke dia agar jangan terlalu meratapi diri, rileks aja. pasti bisa sembuh. Mama bilang begitu ke Lisa. Lisa tersenyum dan memeluk mama erat . Namun setelah tangis Lisa berhenti, dia kembali membaca hasil tes itu, dia nampak aneh setelah melihat kertas itu, mama juga hawatir dia depresi. Tapi ternyata dia mengucek matanya karena takut salah lihat. Ternyata di belakang nama Lisa ada nama lain yang asing baginya.
"Ma? Ini milik Lisa Setiawati ma"
Mama juga kaget, namun setelah nya kami tersenyum senang. Lisa kembali ke rumah sakit, Tapi Mama nggak izinin, jadi mama minta kamu bawa surat itu ke rumah sakit untuk di tukar"
begitu mendengar penjelasan ibunya, Angga merasa benar-benar bodoh sekarang. Tiga tahun ini dia selalu menahan diri saat Lisa bilang ingin punya anak. Dia seolah tidak mendengar rengekan itu, bahkan kadang membentak Lisa saat Lisa tidak meminum obat kontrasepsi itu. Angga tidak mau Lisa m*ti lebih cepat. Tapi ternyata semua itu hanya salah faham saja.
"Astaga!" Angga mengusap rambutnya dengan kasar. Kenapa dia sebodoh ini?
Bu Nada geleng-geleng melihat putranya, jika saja Angga tidak pendiam, dia pasti sudah tahu lama tentang ke salah pahaman ini.
"Sekarang bukan waktunya merutuki diri, cepat pulang ke rumah mama. Mama sudah minta Lisa datang. sudah waktunya Lisa tahu yang sebenarnya. Sudah waktunya Lisa tahu siapa sebenarnya yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Kalian berhak bahagia.Biarkan Lisa tahu masa lalu Galih. Meskipun itu akan sakit baginya. Tapi ada kamu yang akan jadi penyembuh luka hatinya"
Mata Angga berbinar nanar, dia seperti mendapatkan jekpot besar. rasanya seperti menemukan harta Karun yang tidak ternilai. Angga langsung memeluk mamanya begitu erat, dia bahkan menciumi wajah mamanya dengan brutal.
"makasih ma makasih ma, makasih. Angga tidak akan minta Lisa minum obat itu lagi, kalau perlu, Angga akan bakar semua obat itu"
Bu Nada tersenyum, dia melepas pelukan Angga.
"Mama sudah melakukan itu, ber doa' saja istri kamu cepat hamil"
"Kalau begitu Angga pulang dulu ma"
Bu Nada mengagguk sambil tersenyum. Dia yakin setelah ini hubungan keduanya akan baik-baik saja.
Angga langsung berlari, dia seperti kembali ke usia enam tahun lagi di mata Bu Nada. Dulu saat Angga selalu berlari seperti itu saat dia ingin minum es krim di pinggir jalan seperti temannya.
"Tetap bahagia nak" gumam Bu Nada, air matanya mendadak turun, dia tidak bisa menahan rasa haru bahagia di dalam hatinya. Bu Nada tahu Angga sudah menyukai Lisa sebelum Lisa menikah dengan Galih. Bahkan saat semua orang tersenyum di pernikahan Galih. Bu Nada hanya bisa pura-pura tersenyum di depan semua orang, hatinya hancur melihat Angga yang bersedih sendirian sambil menatap mempelai perempuan yang jadi istri dari adiknya sendiri.
****
"Bik ngapain kita ke sini?" Tanya Lisa saat ada di depan kamar rahasia Angga. Kamar di mana dia pernah menemukan buku harian Angga di sana. Angga sangat marah waktu itu. Sejak saat itu Lisa tidak pernah lagi berani masuk ruangan ini.
"Bu Nada minta non Lisa masuk"
Lisa menggeleng cepat, dia tidak mau Angga marah lagi padanya.
"Lisa nggak berani masuk ke ruangan pribadi mas Angga bik, Lisa takut mas Angga makin marah"
Lisa memang sedang dalam dilema, sampai sekarang Tari masih marah padanya. Mereka seperti orang asing.
"Kalau kamu mau aku maafin kamu, beri tahu aku tempat tinggal kamu sekarang, kamu hidup dengan siapa dan kamu hidup seperti apa? Apa kamu bisa? tidak bisa kan? Jadi jangan Anggap aku sahabat lagi sebelum kamu bisa menjelaskan semuanya"
Tari mengatakan hal itu, itu sebabnya dia selalu ingin segera bercerai dengan Angga. Dia ingin menceritakan tentang pernikahan tak bahagianya dengan Angga. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mengatakan hal ini sebelum berpisah dengan Angga.
Angga marah karena dia terus meminta cerai, dia pasti makin marah jika tahu kalau dia masuk ke ruangan rahasia Angga.
Bik Sumi tersenyum sambil memegang bahu Lisa.
"Ini bukan ruang rahasia den Angga non, ini ruang pribadi mas Galih"
Kening Lisa langsung berkerut, benarkah ruangan ini milik Mas Galih? Bukan Angga? Lalu kenapa inisial di depan kamar ini berhuruf 'A' .
"Non penasaran dengan hurup A di pintu ini?" Lisa mengagguk,dia juga sempat kaget karena bik Sumi tahu apa yang dia pikirkan.
"A itu Anggara Galih Pratama, nama lengkap den Galih. Sedangkan Pak Angga. Anggara Galuh Pratama, nama keduanya sama-sama berawalan A"
"Benarkah bik?"
"Iya Non, ayo masuk saja"
"Tapi Mas Angga nggak akan marah kan?"
"Tidak non, Bibi sudah minta izin langsung tadi ke Pak Angga"
Mau tak mau Lisa masuk ke ruangan itu, hatinya berdegup kencang, rasanya seperti sedang uji nyali saat masuk ke ruangan ini.
Awalnya Lisa nampak takut dan tegang, namun saat lampu kamar di nyalakan, seluruh ruangan itu terlihat begitu jelas. Foto-foto yang terpajang di dinding juga terlihat begitu jelas di mata Lisa. Lisa sempat tercekat melihat semua gambar yang ada di sana.
"Mas Galih?" Air mata Lisa tidak bisa dia tahan saat melihat begitu banyak foto Galih dan Gina di kamar itu. Jika ini kamar rahasia Galih, apa itu Artinya?
Nafas Lisa mendadak sesak, dadanya bergemuruh hebat, matanya mulai berkunang, kakinya seketika lemas dan_
"Non?" Bik Sumi langsung menangkap tubuh Lisa yang lemas karena pingsan.
masih di fase sad ya men temen 🤭🙏
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏