NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA MINGGU KEMUDIAN...

​Deru mesin pendingin ruangan beradu dengan riuh rendah tuts keyboard mekanik yang beradu cepat, sementara layar-layar monitor lebar memancarkan pendar cahaya biru yang menerangi wajah-wajah serius para desainer grafis dan ilustrator. Di sinilah Zaki menjalani masa magangnya. Sebagai seorang anak magang, ia bukan sekadar pembuat kopi, melainkan bagian dari tim yang dituntut untuk selalu sigap dengan deadline proyek yang tak kenal ampun.

​Begitu jam istirahat tiba, ritme gedung itu seolah melambat satu detik. Zaki, yang sejak pagi terpaku pada layar artboard, akhirnya menghela napas panjang. Ia melepas headphone yang sedari tadi menyumpal telinganya, menyeka keringat dingin di pelipisnya, lalu beranjak menuju kantin kecil yang terletak tepat di sisi samping gedung perusahaan.

​Kantin itu adalah surga kecil bagi para karyawan yang penat. Aromanya khas—perpaduan antara wangi kopi sachet, gorengan hangat, dan bumbu kuah soto yang mengepul. Zaki melangkah masuk, disambut oleh deretan meja kayu yang sudah hampir penuh oleh staf kantoran yang masih mengenakan kartu identitas yang menggantung di leher mereka.

​"Eh, Mas Zaki! Sudah keluar?" sapa Bu Kantin, seorang wanita paruh baya dengan senyum yang selalu ramah, meski tangannya sibuk mengaduk kuah soto di kuali besar yang sering di kenal dengan sapaan Bu Sari kantin.

​Zaki menoleh, langkahnya terhenti di depan konter. Ia menarik napas panjang, menikmati udara yang jauh lebih segar di sini dibandingkan ruang kerja yang tertutup rapat.

"Iya, Bu. Akhirnya bisa napas juga," jawab Zaki dengan suara yang agak serak karena lelah.

Bu Sari tertawa rendah. "Mau pesan apa, Mas?"

"Seperti biasa ya, Bu." Ujar Zaki sambil menyunggingkan senyum tipis.

​"Siap, Mas! Tunggu sebentar ya, telurnya saya rebusin yang paling pas buat Mas Zaki," sahut Bu Kantin semangat.

​Zaki mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih. Ia kemudian berbalik, matanya menyapu seisi kantin yang bising. Matanya mencari bangku kosong di pojok ruangan yang sedikit lebih tenang. Sambil berjalan, tangannya merogoh saku celana, menyentuh layar ponselnya.

Kini, pikirannya tidak benar-benar berada di kantin ini. Ia kembali teringat pada Naya, pada janji yang ia ucapkan di bawah jembatan, dan pada bagaimana ia harus membagi fokus antara ambisi karier di perusahaan digital raksasa ini dan tanggung jawab emosional yang kini ia pikul sebagai "sandaran" bagi wanita tersebut.

​Ia duduk di kursi plastik yang sedikit goyang, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi di kota Bandung. Baginya, hiruk-pikuk perusahaan ini mendadak terasa seperti kebisingan yang jauh, sementara dunianya kini hanya berpusat pada satu hal, memastikan Naya baik-baik saja.

Ya. ​Bagi sebagian orang, mungkin apa yang terjadi padanya sejak kejadian Naya berusaha melakukan hal nekat di jembatan beberapa waktu kemarin malam, adalah tumpukan masalah yang melelahkan. Namun, bagi Zaki, Naya bukan beban. Naya bukan sekadar tanggung jawab moral dari janji yang ia ucapkan malam itu.

​Seiring berjalannya waktu, ketika ia mulai terbiasa menghabiskan sisa malam untuk mendengarkan keluh kesah Naya, ada perasaan nyaman yang menyusup pelan namun pasti. Itu adalah jenis kenyamanan yang aneh, sebuah ketenangan saat berada di dekat seseorang yang juga sedang hancur.

Zaki menemukan dirinya justru merasa lebih hidup saat ia tahu Naya sedang menunggunya memberi kabar.

​Ada kehangatan yang tak terdefinisikan setiap kali ponselnya bergetar dan nama Naya muncul di sana. Bukan lagi sebagai guru yang harus dihormati dengan sekat jarak, melainkan sebagai seorang wanita yang perlahan menanggalkan topeng wibawanya di hadapan Zaki. Ia melihat bagaimana Naya mencoba tertawa meski matanya masih menyimpan sisa duka, dan bagi Zaki, tawa itu adalah melodi paling berharga yang pernah ia dengar.

​"Ini makanannya, Mas." ​Suara Bu Sari yang ceria memecah lamunan Zaki.

Zaki tersentak kecil saat melihat nampan berisi semangkuk soto hangat yang mengepulkan aroma gurih, sebutir telur rebus yang dikupas mulus, serta segelas es teh manis yang permukaannya mulai mengembun.

​"Makasih ya, Bu," jawab Zaki sambil menggeser sedikit tumpukan kertas konsep desainnya untuk memberi ruang bagi nampan tersebut.

​"Selamat menikmati, Mas Zaki! Jangan diforsir terus kerjanya, nanti malah sakit," sahut Bu Sari ramah sebelum ia berbalik, melanjutkan langkahnya melayani pelanggan lain yang memanggil.

​Zaki tersenyum tipis. Ia baru saja hendak meraih sendok ketika ponselnya yang tergeletak di samping nampan tiba-tiba bergetar kuat, mengeluarkan bunyi drrrtt yang membelah kebisingan kantin. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan yang masuk.

​Gani.

​Zaki tersenyum lebar sebelum menyentuh layar. Sudah berbulan-bulan, mungkin hampir setengah tahun, sejak terakhir kali mereka benar-benar duduk dan mengobrol lepas. Gani, sahabat karibnya sejak masa orientasi sekolah, seolah menghilang ditelan kesibukan masing-masing.

Zaki tak membuang waktu. Dengan jempol kirinya, ia menggeser ikon hijau ke atas, lalu segera menempelkan ponsel ke telinganya. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya yang masih bebas meraih sendok dan menyeruput kuah soto hangat yang gurih, memberikan sensasi nyaman yang menjalar hingga ke kerongkongan. ​"Halo?" sapanya, suaranya sedikit tertahan karena ia masih berusaha menelan kuah soto dengan cepat.

"Akhirnya, lo angkat juga, Bro! Gimana kabar, lo?"

"Baik, baik. Lo sendiri? si Daniel gimana?"

"Kebetulan, gue lagi sama Daniel."

Beep. Beep..

​Sebuah notifikasi masuk ke layar ponsel Zaki. Gani mengalihkan panggilan suara mereka menjadi video call. Ia pun segera menekan ikon terima. Dalam hitungan detik, layar ponselnya menampilkan wajah dua sahabat karibnya itu.

​Kamera ponsel Gani tampak menangkap suasana kantin yang cukup ramai dengan latar belakang etalase makanan yang penuh. Daniel pun muncul di samping Gani, tampak tertawa lebar sembari melambaikan tangan ke arah kamera dengan mulut yang sedikit penuh karena sedang mengunyah gorengan.

​"Woy, Zaki! Kangen gue nggak lo?" seru Daniel dengan suara cempreng khasnya.

​Zaki terbahak melihat tingkah konyol mereka. "Gila, kalian beneran barengan."

"Iya, dong. Sahabat sejati harus selalu bersama kemanapun dan dimanapun."

Zaki tertawa. "Tunggu. Ini ceritanya kalian jadi upin ipin atau nyinyir gue?"

"Kalau upin ipin gak mungkin..." sahut Gani. Nampak di layar, ia pun menyeruput secangkir kopi. "... soalnya kita gak botak, yang jelas kita lagi nyinyir lo, lah!"

Lagi, Zaki tertawa. "Sial!"

​"Kapan lo libur?"

​Pertanyaan Gani yang tegas memutus rantai lamunan Zaki. Namun, matanya tidak bisa berbohong, pupilnya masih tertuju pada satu titik di latar belakang layar ponsel Gani. Di sana, di koridor sekolah yang terlihat samar di balik bahu Gani, sesosok wanita baru saja melangkah keluar dari kelas.

​Itu Naya.

​Zaki menahan napas. Melihat Naya dalam bingkai video call, meski dari jarak yang jauh dan tanpa sengaja, terasa seperti hantaman halus di dadanya. Ada kerinduan yang mendadak muncul, bercampur dengan kekhawatiran yang tak kunjung padam. Naya terlihat lebih kurus, dengan langkah yang tampak kehilangan semangatnya yang dulu. Ia tampak seperti bayangan dari dirinya sendiri.

​"Bro! Lo bengong!" seru Gani, memecahkan gelembung pikiran Zaki. "Kesambet setan magang lo?! Dari tadi ditanya malah melongo kayak ikan kena pancing."

​Zaki tersentak, bahunya naik sekilas sebelum ia kembali berusaha menata ekspresinya agar tidak terlihat curiga. Ia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah meja makannya, dan . ​"Uhm. Sorry, Gan. Apa tadi?" Ia berdehem, berusaha menutupi suara parau yang tersisa.

​Gani memutar bola matanya di layar, sementara Daniel di sampingnya tertawa terbahak-bahak melihat Zaki yang tampak kehilangan fokus. "Gue tanya, kapan lo libur? Gue sama Daniel pengen long-trip santai ke Lembang akhir pekan ini. Kalau lo bisa ambil cuti atau izin magang, kita bisa full team."

​Zaki terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat. Akhir pekan. Hari di mana biasanya ia habiskan untuk memastikan Naya tidak terjebak dalam kesendiriannya. Ide tentang long-trip ke Lembang terdengar seperti pelarian yang indah, tapi ia tahu Naya tidak akan sanggup berada di keramaian atau di antara orang-orang baru tanpa persiapan mental yang matang, terlebih jika tahu mereka adalah muridnya.

​"Jujur, gue belum tahu jadwal kantor untuk akhir pekan depan," jawab Zaki hati-hati, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah. "Proyek di divisi desain lagi padat-padatnya karena mau deadline antologi. Mungkin gue harus cek dulu ke mentor gue."

​"Ah, elah! Magang kok diperbudak sampai akhir pekan?" Daniel menyahut, nada suaranya penuh sindiran namun akrab. "Gue tahu lo niat cari pengalaman, tapi hidup lo nggak cuma buat desain doang, Zak. Work-life balance itu perlu, man!"

​Zaki tersenyum kecut. Work-life balance, mereka menyebutnya. Mereka tidak tahu bahwa "hidup" yang ia maksud sekarang bukanlah tentang dirinya sendiri, melainkan tentang menjaga napas seseorang yang hampir padam. Namun, di sisi lain ia pun tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Ia merindukan saat-saat bersama mereka, ia merindukan tawa lepas tanpa beban, serta diskusi tanpa rahasia.

"Oke, deh. Kalau waktu lo nanggung." Sahut Daniel. "Gimana kalau hiking kayak biasa, ke yang deket-deket aja."

"Tuh, Bro!" Kata Gani. "Gue udah setuju. Ayo! Kapan lagi nih kita bisa kumpul bareng?"

​​Hening sejenak menyelimuti percakapan. Zaki mematung, pikirannya berpacu liar memikirkan Naya. ​"Tapi..." ucapnya. Ia menggantung kalimatnya, keraguan tertulis jelas di wajahnya.

​"Tapi apa?" suara Daniel menyahut dari balik layar, memecah ketegangan.

​Zaki menarik napas dalam-dalam. "Gue... gue bawa pacar, boleh?"

​Daniel bersorak antusias. "Oke, gas! Kita jabanin. Kalau gitu, gue juga bakal bawa pacar gue! Kita double date, Zak!"

​Jantung Zaki seolah berhenti berdetak. Clara. Nama itu melintas di kepalanya seperti alarm bahaya. Pacar Daniel adalah Clara, gadis yang dikenal sangat bawel, gemar menggosip, dan memiliki rasa ingin tahu yang tak berbatas. Jika Clara sampai tahu bahwa "pacar" yang dibawa Zaki adalah Naya, seorang wanita yang seharusnya memiliki batasan profesional dengannya, maka tamatlah riwayat privasi mereka. Satu sekolah bisa tahu dalam waktu kurang dari dua belas jam.

​"Aduh, jangan!" seru Zaki cepat, suaranya sedikit panik.

​"Kenapa? Enak di lo bisa bawa gandengan, apes di gue kalau disuruh sendiri?" Daniel mendebat, nada suaranya tak terima.

​Gani hanya bisa cengengesan, menikmati drama kecil di antara sahabatnya.

​Zaki memutar otak. Ia harus mencari alasan yang masuk akal tanpa terlihat mencurigakan. "Bukan gitu maksud gue. A-ah... gimana kalau gebetan lo yang di sekolah seberang sana? Gue rasa lo lebih cocok jalan sama dia. Iya, kan, Gan?" Zaki menatap Gani, memohon dukungan.

​Gani mengangkat bahu santai. "Bebas, dah! Terserah si Daniel aja, dia yang rasain mana yang lebih enak."

​"Serius deh, Dan," ujar Zaki dengan nada yang dibuat seolah-olah demi kebaikan Daniel. "Lo lebih cocok sama cewek dari sekolah seberang itu. Si Clara... gue cuma ngingetin, dia itu ribet. Lo tahu sendiri dia manja. Kalau lo bawa dia pergi jauh, baru jalan satu meter aja dia pasti udah minta digendong. Lo nggak bakal santai, malah ngurusin mood-nya doang."

​Daniel terdiam, mencerna argumen Zaki. "Bener juga, sih. Dia emang paling nggak bisa diajak ribet."

​Zaki mengembuskan napas lega yang tersembunyi. "Nah, kan? Gue cuma kasih saran biar malam kita asyik."

​"Ya udah, deh. Gue ajak cewek lain aja yang lebih santai," putus Daniel akhirnya.

​Gani segera merangkul bahu Daniel dari samping, menepuk pundaknya dengan keras. "Gila, lo emang benching idaman gue, Dan!"

​"Ya udah, nanti gue kabari lagi," kata Zaki.

​"Oke, Bro!"

​Tuuut.

Sambungan terputus. Zaki menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tubuh yang terasa lemas, seolah baru saja memenangkan perang besar. Ia baru saja menyelamatkan Naya dari "mulut" Clara, namun kini ia dihadapkan pada kenyataan yang lebih besar, ia harus meyakinkan Naya untuk mau melangkah keluar dari zona nyamannya dan bertemu dengan teman-temannya. Ia tahu ini akan sulit, tapi ini adalah satu-satunya jalan untuk membiarkan Naya melihat bahwa dunia tidak sesempit penderitaannya.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!