Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terima Kasih, Untuk Kalian yang Bertahan di Sangkar Ini
LUCIFER AZRAEL
29 tahun, 190 cm. Di mata dunia, dia CEO Azrael Group—tangan emas yang membuat Wall Street sujud. Tampan seperti kutukan: rambut silver disisir rapi, rahang tegas, dan mata biru sedingin es Arktik yang sanggup membunuh tanpa menyentuh.
Di balik itu, dia adalah Capo dei Capi dunia bawah New York. Mafia generasi ketiga. Sadis, dingin, obsesif pada kendali. Membunuh tanpa kedip, lalu mengelap darah dengan sapu tangan sutra. Satu kata ‘tidak’ dibayar dengan peluru. Asetnya gila: pulau pribadi, jet Gulfstream, gedung pencakar langit. Tapi kerajaan aslinya mengalir di bawah tanah—senjata, darah, dan loyalitas yang dibeli dengan ketakutan.
Dia tidak lahir jadi monster. Dibentuk. Umur 9 tahun disuruh pegang pistol oleh ayahnya. Umur 16 tahun dipaksa menyaksikan ibunya dieksekusi karena mencoba membawanya kabur. Sejak itu, Lucifer mengubur nama dan nuraninya. Dia menantang Tuhan, sebab Tuhan-nya mati dan tidak datang.
Yang tersisa hanya kuasa. Sampai mata coklat itu menatapnya tanpa gentar.
FLORENCE BEATRIX
25 tahun, 165 cm. Anak Panti Asuhan St. Maria, Chicago. Cantiknya bukan untuk kamera—cantiknya membuat orang ingin bertobat. Kulit putih hangat, rambut coklat madu bergelombang, dan mata kayu manis yang selalu berkaca karena menyimpan 20 tahun rindu.
Hidupnya hanya tiga helai dre s katun, rosario kayu, dan kalung salib. Doanya satu sejak umur 5 tahun: “Tuhan, pertemukan aku dengan Papa dan Mama. Sekali saja.”
Dia tidak naif. Panti mengajarinya dunia itu kejam. Pernah lapar, pernah hampir dijual, pernah melawan dengan pisau dapur. Tapi dia memilih tidak menjadi seperti dunia. Rapuh di luar, baja di dalam. Senjatanya cuma diam dan doa.
Lucifer dibesarkan peluru dan darah. Florence dibesarkan air mata dan iman.
Satu mafia yang menantang langit. Satu gadis panti yang menggenggam salib.
Dan neraka mempertemukan mereka.
(Lukisan Florence)
Lucifer Azrael lahir di kanvas. Tampan. Kokoh. Tapi di tangan Florence, tak ada belati di tatapnya. Tak ada musim beku. Yang ada hanya letih—seperti pemuda dua puluh delapan yang dipaksa menghitung cara membunuh sejak lima belas.
Di sudut kanvas, Florence menambahkan setangkai mawar. Tidak merah. Putih. Kelopaknya ia buat sedikit terbuka, seolah baru belajar napas. Duri di batangnya ia lukis tipis, nyaris tak terlihat, tapi ada. Seperti lelaki di depannya: indah sekaligus melukai.
Terima Kasih, Untuk Kalian yang Bertahan di Sangkar Ini
Untuk kalian yang setia membaca Kurungan Sang Mafia Dingin, terima kasih.
Terima kasih sudah ikut menggigil di samping Florence saat dia kedinginan. Terima kasih sudah ikut menahan napas tiap kali mata biru Lucifer menatap tajam. Terima kasih karena tidak pergi, meski cerita ini penuh luka, darah, dan doa yang patah-patah.
Aku tahu Lucifer menyebalkan. Aku tahu Florence terlalu rapuh. Tapi kalian tetap di sini. Membaca. Memaki. Menangis. Mendoakan mereka diam-diam. Kalian yang membuat sangkar ini tidak terasa sepi.
Dan untuk kalian yang sering bilang “kak, aku nggak bisa bayangin wajah mereka”, aku dengar. Aku sudah siapkan visual referensi Florence dan Lucifer. Foto dan gambar ini aku buat khusus untuk kalian, biar saat membaca, kalian bisa benar-benar melihat mereka. Biar tiap kata ‘es’ di mata Lucifer kerasa menusuk, dan tiap ‘hangat’ di mata Florence kerasa menenangkan. Simpan baik-baik ya, itu mereka. Versi yang ada di kepalaku, sekarang jadi milik kalian juga.
Sekali lagi, terima kasih. Untuk waktu kalian. Untuk komentar kalian yang bikin aku melek jam 3 pagi. Untuk voting, share, dan doa baik yang kalian kirim. Kurungan Sang Mafia Dingin ini ada karena kalian masih mau mengetuk pintu kapel ini, meski tahu isinya neraka.
Dari penulis yang juga ikut nangis tiap nulis Lucifer menyakiti Florence,
ELSA SEFIA
P.S. Jangan benci Lucifer terlalu lama ya… dia juga korban. Tapi kalau mau benci sebentar, aku paham. Aku juga.
[Bonus++ ]