NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama

...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...

Perlahan, gemetar di tubuh Cherry mulai mereda.

Mamaku sudah mengalami begitu banyak serangan panik selama bertahun-tahun. Di awal-awal, serangannya sangat parah sampai dia pingsan. Tapi gak sekali pun Mama melawanku saat serangan itu terjadi.

Aku harus menahan Cherry dulu sebelum akhirnya bisa menenangkannya. Bahkan saat mengalami serangan panik, dia masih melawan.

Aku mencium lagi kepalanya.

Mimpi buruk tentangku memberi izin pada Luke untuk menikahinya sampai membuatnya bersembunyi di dalam lemari sialan itu.

"Apa yang Luke lakukan sama kamu?" tanyaku. Nada suaraku kasar karena kemarahan yang berputar di kepalaku. Gak ingin dia salah paham dan mengira aku bicara tentang mimpi buruknya, aku menambahkan, "Sebelum aku bawa kamu ke Jakarta."

"Gak ada."

Kemarahan langsung membanjiri dadaku dan aku mengatupkan rahang saat berkata, "Ceritain!"

Cherry bergerak dalam pelukanku. Saat dia turun dari pangkuanku, aku gak menahannya.

"Dia pernah mukul aku beberapa kali." Dia berhenti cukup lama sebelum melanjutkan. "Dulu rambutku panjang. Dan hitam. Dia suka narik rambut aku dan manggil aku hitam cantiknya. Jadi aku potong semuanya dan mengganti warnanya."

Ingin mengetahui semuanya tentang masa lalunya, aku bertanya, "Orang tua kamu?"

Dia menarik lututnya ke dada dan melingkarkan tangan di kaki, terlihat sangat kecil di dekatku.

Mustahil bagi aku hanya duduk diam melihatnya begitu. aku mengulurkan tangan dan menariknya kembali ke pangkuanku.

Saat dia sudah duduk di atasku lagi, aku memegang dagunya dan menatap langsung ke matanya. "Ceritain semuanya."

Lidahnya keluar untuk membasahi bibirnya, lalu dia menghela napas gemetar. Dia mencoba menghindari topik itu lagi.

"Banyak yang harus diceritain . Itu bakal bikin Kamu gak tidur semalaman."

"Jangan buat aku mengulang!" Aku memperingatkan.

Wajahnya menegang sebelum akhirnya dia bergumam, "Mereka sering mukulin aku. aku sering dikunci di kamar selama berhari-hari tanpa makanan."

Kemarahanku bertambah dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dan mengetahui itu membuat otot-ototku menegang.

"Satu bulan sebelum pernikahan dengan Luke diatur, Papa mencoba membunuhku."

Nada suaraku dipenuhi kemarahan saat aku menuntut, "Gimana?"

"Dia mukul aku sebelum melemparku dari balkon lantai dua." Dia tertawa kecil dengan aneh. "Anehnya, aku gak patah tulang."

Tuhan.

"Apa lagi?" geramku.

Saat dia menyilangkan tangan di pinggangnya, aku memegang pergelangannya dan membuka tangannya lagi. Jariku melingkari jari-jarinya yang ramping, dan aku harus benar-benar mengendalikan diri supaya sentuhanku tetap lembut.

"Mereka nyakitin aku setiap hari. Aku gak mau bahas itu lagi," gumamnya dengan nada tegang.

Saatku hanya menatapnya, dia menghela napas dan akhirnya berkata, "Pernah suatu kali Herman mukul aku sampai rahangku terkilir. Papaku mematahkan tulang rusukku berkali-kali. aku hampir selalu kelaparan dan terus dikurung di kamar. Satu-satunya perhatian yang aku dapat dari keluargaku adalah kekerasan."

Tiba-tiba ada ledakan emosi darinya sebelum dia melepaskan tangannya dari aku dan turun dari pangkuanku.

"Udah lah aku gak mau membicarakan ini!"

Saat dia berjalan menuju pintu, aku berkata, "Berhenti."

Aku berdiri dari sofa dan memperkecil jarak di antara kami. aku memegang lengannya dan memutarnya supaya dia menghadapku.

Matanya menatap aku, ekspresinya benar-benar kosong. "Jangan pernah pergi saat kita sedang bicara," kataku pelan sebagai perintah.

Cherry hanya mengangguk. Lebih banyak kemarahan mengalir di dadaku. "Dan jangan pakai topeng sialan itu di depanku."

Kebingungan muncul di wajahnya. "Topeng apa?"

"Topeng di mana gak ada yang bisa menyentuh kamu." Aku membungkuk sedikit, mataku menatap tajam ke matanya. "Jangan sembunyikan sisi rentan Kamu dari aku."

Matanya menyipit saat dia berkata, "Menunjukkan kerentanan itu berarti lemah."

Aku menggeleng. "Gak kalau hanya kita berdua. Di depan orang lain, Kamu boleh sedikit agresif. Tapi dengan aku, Kamu harus jujur dan apa adanya. aku harus tahu trauma apa yang Kamu alami supaya aku tahu bagaimana menanganinya."

Kekhawatiran menggelapkan matanya. "Kamu gak akan memandangku lemah?"

"Gak." Aku mengangkat tangan dan melingkarkan jari di lehernya. "Kamu tunangan aku dan aku harus mengenal setiap bagian dari diri kamu, Cherry."

Tantangan di matanya sedikit memudar. Dengan cahaya dari closet dan kamar, aku bisa melihat setiap lekuk tubuh Cherry. Piyamanya hampir gak menutupi tubuhnya. Putingnya menonjol di balik kain satin, dan celana pendek itu?

Persetan dengan celana pendek itu.

Hasrat mengalir di pembuluh darahku dan membuatku meraih pinggulnya. Aku mengangkatnya, lalu mulutku langsung menangkap bibirnya.

Aku berjalan menuju tempat tidurnya dan menjatuhkannya di atas selimut yang berantakan. Napas kaget keluar dari mulutnya dan aku meneguknya seperti anggur.

Saat tubuhku menutupi tubuhnya, tangan Cherry menekan bahuku. aku menangkap pergelangannya dan menahannya di kedua sisi kepalanya, membuatnya gak punya pilihan selain membuka kakinya untuk menyesuaikan posisi pinggulku.

Aku menikmati mulutnya. Pikiranku dengan cepat dipenuhi rasa lapar yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Lapar yang tak terpuaskan. Dan berbahaya.

Berbahaya karena wanita ini sudah memiliki kendali atas aku yang gak bisa aku lepaskan. Dia sudah berada di bawah kulitku dan merayap di dadaku, di tempat di mana jantung aku seharusnya berada.

Lidahku bertabrakan dengan lidahnya, menghafal mulutnya dan rasa manisnya.

Tanganku turun menyusuri lengannya lalu ke sisi tubuhnya. Saat telapak tanganku menemukan pantatnya, aku menggesekkan batangku yang pada panas tubuhnya.

Kami berdua mengerang dan aku hampir kehilangan kendali. Ciuman itu menjadi liar. Aku mulai mendorong tubuhku ke arahnya.

"Cavell..." erangnya di mulutku.

Dia memegang rahangku, lalu gadis kecilku mulai menciumku kembali dengan gairah yang membuat bintang-bintang seolah meledak di balik kelopak mataku.

Pinggulku terus bergerak, mencari setiap gesekan yang bisa aku dapatkan. Saat Cherry mengangkat pinggulnya untuk menyambut gerakanku, desahan keluar dari bibirnya.

"Ohhh Cavell .... Ouhh!"

Tubuhnya menegang di bawahku. Aku menghentikan ciuman dan menatap wajahnya saat dia larut dalam kenikmatan.

Dia terlihat seperti malaikat. Bibirnya bengkak sedikit terbuka dan matanya berkabut oleh kesenangan.

Gak ada yang bisa menghentikanku saat aku bergerak turun di tubuhnya. aku meraih celana pendeknya dan menariknya ke bawah.

"Lepasin baju kamu," perintahku dengan suara kasar.

Mataku menelusuri setiap inci kulitnya saat dia menuruti perintah itu. Saat tunanganku telanjang di atas seprai putih, sesuatu berubah di dadaku.

Dia benar-benar sempurna.

Aku menurunkan celana trainingku dan mata Cherry melebar saat melihat tubuhku.

Dia perawan.

Pikiran itu melintas di belakang kepalaku saat aku kembali merayap di atas tubuh kecilnya yang masih gemetar oleh kenikmatan yang baru saja dia rasakan.

Apakah itu orgasme pertamanya atau dia pernah merasakannya sebelumnya?

Pikiran itu cepat berlalu saat aku mencium lekukan di antara payudaranya sebelum mulutku menangkap putingnya.

Aku mengisapnya sambil tanganku menikmati kulitnya yang lembut. Sentuhanku menjadi lebih kasar saat telapak tanganku bergerak dari sisi tubuhnya menuju dadanya. Aku mencium jalur lehernya sebelum kembali menangkap bibirnya.

Cherry melingkarkan tangannya di leherku dan saat aku merasakan jarinya menarik rambutku, tubuhku bergetar oleh kepuasan.

Tanganku bergerak turun dan aku menempatkan batangku di pintu rahimnya yang basah.

Sudah terlalu lama sejak terakhir kali aku berhubungan badan. Aku gak akan bertahan lama.

Aku melepaskan bibirnya dan menatap matanya. Saat aku melihat Cherry, tangannya meluncur di bahuku, turun ke dadaku, lalu kembali ke leher aku.

Seharusnya aku lebih lembut. Seharusnya aku bertanya apakah dia siap. Ada banyak hal yang seharusnya aku lakukan. Tapi aku gak punya kendali diri.

Pinggulku bergerak dan langsung menemukan perlawanan kuat dari rahim perawannya.

Aku menahan satu lengan di samping kepalanya sementara tanganku yang lain memegang pinggulnya dengan kuat. Aku mendorong lagi dan berhasil masuk beberapa sentimeter ke dalam panas rahimnya.

Tuha , dia sangat sempit.

Punggung Cherry melengkung dan ototnya menegang. Rasa sakit terlihat jelas di wajahnya.

Aku merasakan dadanya menekan dadaku saat aku masuk lebih dalam. Kali ini dia mengatupkan rahang supaya gak bersuara.

Gak ingin menyiksanya, aku mengangkat kakinya ke pinggulku untuk membuka tubuhnya lebih lebar. Saat aku mendorong lagi, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan saat jeritan keluar dari dirinya.

Persetan.

Persetan.

Persetan.

Batangku terbenam sepenuhnya di dalam rahimnya yang sangat sempit, terasa luar biasa. Aku melepaskan pahanya, lalu mengangkat tangannya dari wajahnya.

"Bernapas, Cherry!" kataku.

Dia tersedak napas saat air mata mengalir dari matanya. Dia mencoba menghapusnya, tapi aku menahan pergelangannya dan menahannya di kedua sisi kepalanya.

Aku mencium air mata di pelipisnya. Gak bisa diam lebih lama lagi, aku melingkarkan satu lengan di bawah tubuhnya dan menariknya erat ke arahku.

"Milikku," geramku sebelum mulai bergerak.

Kenikmatan bisa berada di dalam rahimnya menjadi neraka yang membakar seluruh tubuhku. Aku merasa seperti pria yang kerasukan saat aku terus mendorong, dan aku gak bisa mengendalikan ritmenya.

Sial.

Aku mendengar suara tubuh kami saling bertabrakan. Aku mendengar napas dan erangannya yang penuh rasa sakit.

Dan aku menutup mulutnya dengan ciuman, karena setiap suara yang keluar dari dirinya, sekarang itu juga jadi milik aku.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!