Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Kai kemudian menoleh ke arah langit. Cahaya matahari mulai meredup, digantikan gradasi jingga keunguan yang menandakan senja telah tiba.
Ia kembali melihat ke arah kelompoknya. “Hari juga sudah mulai gelap,” katanya, kali ini dengan suara yang cukup jelas untuk didengar semua orang. “Bagaimana kalau kita berkemah di sekitar sini untuk hari pertama?”
Belum sempat yang lain menanggapi dengan serius, Nia langsung tertawa ringan, tombak di tangannya diputar santai sebelum ditopangkan di bahunya. “Asyik! Kalau begitu ayo kita pesta!”
Beberapa dari yang lain saling berpandangan, lalu mengangkat bahu.
“Benar juga… mungkin sekali-sekali tidak apa,” salah satu dari mereka menambahkan dengan nada setengah setuju.
Nia melirik ke arah mereka dengan senyum jahil yang khas. “Seperti biasa… gampang sekali terpengaruh, ya.”
Kai menggaruk pipinya dengan canggung, masih ada sisa kemerahan di wajahnya. Ia tampak kesulitan merangkai kata, seperti seseorang yang tahu ucapannya bisa disalahartikan kapan saja.
“B-bukan begitu maksudku… hanya saja…” ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada lebih kaku, “H-hanya kita ini sedang dalam misi penting… mengawasi Febriana-sama, kan.”
Ucapan itu membuat suasana berubah seketika.
Febriana yang berdiri tidak jauh dari sana tampak terkejut. Ia mengangkat kedua tangannya, ujung jari-jarinya saling diketukkan pelan dengan gugup. Pipinya merona tipis, matanya sedikit berkilau.
“K-Kai-san… menganggap diriku… sepenting ini…?” suaranya lirih, hampir seperti bisikan.
Di belakangnya, Nia langsung menyeringai lebar, jelas tidak akan melewatkan momen seperti ini. Ia sedikit membungkuk ke arah Febriana, suaranya penuh nada godaan. “Hah? Jadi perasaanmu begitu, ya?”
Sementara itu, Marina hanya berdiri dengan pipi mengembung, tatapannya beralih ke arah lain. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi ekspresinya jelas menunjukkan ketidakpuasan—atau mungkin rasa kesal yang ia tahan sendiri.
Kai yang menyadari arah pembicaraan mulai melenceng langsung panik. Ia melambaikan tangannya cepat-cepat, suaranya meninggi tanpa sadar.
“Bukan begitu maksudnya!” serunya. “Ini kan cuma skenario ujian! Tes yang kalian mulai sendiri, kan?!”
Namun pembelaannya tidak cukup cepat untuk menghentikan suasana yang sudah terlanjur berubah.
Dari samping, langkah pelan terdengar mendekat. Amane dan Cecil berjalan ke arah mereka. Cecil tampak ragu-ragu, sementara Amane…
Wajahnya jelas masih menyimpan sisa kesal.
Tatapannya langsung tertuju pada Kai, tajam dan dingin.
“Jadi… ucapanmu tadi benar-benar hanya karena skenario ujian, ya?” suaranya terdengar tenang, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih berbahaya.
“A-amane-san…” Wajah dan suara sama sama panik melihat itu , namun suaranya terlalu kecil untuk benar-benar menghentikan apa yang akan terjadi.
Amane melanjutkan, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari Kai. “Setiap kali latih tanding… selalu saja mempertontonkan dada orang.” Ia menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu. “Taktik bertarung yang sangat hina, bukan?”
Kai langsung berkeringat dingin. Ia mundur setengah langkah, kedua tangannya terangkat defensif.
“Wah wah wah—tunggu dulu!” katanya cepat. “Dia dendam kesumat soal yang tadi!” gumamnya setengah putus asa. “Sudah kubilang kan itu murni kecelakaan!”
Namun jelas, penjelasan itu tidak banyak membantu.
Beberapa saat kemudian, suasana mulai mereda… setidaknya di permukaan.
Kai kini duduk sendirian di atas batang kayu, sedikit menjauh dari yang lain. Di depannya, api unggun mulai menyala, percikan kecilnya menari di udara malam yang perlahan semakin dingin.
Ia menusukkan sebatang ranting ke dalam api, mengaduknya pelan.
“Cih… nggak usah semarah itu juga kali,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Api unggun berderak kecil.
Kai menghela napas, lalu menyandarkan siku di lututnya. “Yah… tapi emang sih…” lanjutnya dengan nada lebih jujur. “Aku memang bikin bajunya kebuka sampai level yang nggak masuk akal banget sih…”
Ia terdiam sejenak, menatap api yang terus berkedip.
Namun perlahan, ekspresinya berubah.
Dari sekadar canggung… menjadi lebih dalam. Lebih dingin.
‘Tapi kalau begini…’ pikirnya dalam hati.
Api unggun memantulkan cahaya ke matanya, membuat sorotannya terlihat berbeda.
‘Aku bisa menjauh dari White Snow…’
Angin malam berhembus pelan, membuat api sedikit bergoyang.
‘…dan bakal lebih gampang bergerak… sebagai seseorang magician misterius.’
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin