Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
Satu bulan telah berlalu Azka belum juga menemukan kabar istrinya yang tiba-tiba menghilang. Ia sudah menanyakan kepada mertuanya dan kedua orang tuanya tetapi mereka tak mengetahuinya. Bahkan, Azka juga berkali-kali mendatangi kantor istrinya namun jawaban yang sama didapatkannya. Sekretaris pribadi Celina mengatakan bahwa atasannya itu sedang cuti.
Azka coba membujuk dan merayu Andin untuk berkata jujur tetapi wanita paruh baya itu tetap berkata tak tahu dan bilang jika terakhir menghubungi Celina 1 bulan lalu.
Sembari menyeruput kopi dan tampak sedikit frustasi sebab Celina sengaja menjauhinya. Azka berkata lirih, "Hanya karena hal sepele dia sampai melakukan ini!"
Azka tak habis pikir dengan cara istrinya yang seperti anak kecil. Dia ingat sebulan lalu sempat bertikai kecil di toko peralatan wanita hanya membela Elma yang sedang hamil.
"Kenapa mereka tak mau memberitahu aku di mana dia berada? Tidak mungkin mereka tak tahu mengenai keberadaannya!" batin Azka yang terus diselimuti rasa penasaran.
Sejam berada di kafe, Azka pun meninggalkan tempat itu. Mengendarai mobil sendirian, ia mengelilingi kota. Tanpa sengaja matanya menangkap seorang wanita dan pria sama-sama memasuki sebuah toko perlengkapan bayi. Gegas, ia menghentikan laju kendaraannya dan keluar.
Azka masuk ke toko, mengedarkan pandangannya dan meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya adalah istrinya. Benar saja, ia melihat Celina sedang bersama seorang pria memilih pakaian bayi.
Azka yang satu bulan ini terus dibuat penasaran dengan alasan kepergian istrinya gegas mendekat lalu berkata, "Celina, aku senang dapat menemukanmu!"
Celina mendengar suara suaminya lantas menoleh. Ia begitu terkejut dan tak menyangka jika bertemu Azka yang tak tepat waktu.
Memegang kedua lengan istrinya, Azka pun bertanya, "Kau ke mana saja?"
"Aku---"
Azka menoleh ke arah pria yang ada disampingnya dan bertanya. "Siapa dia?"
"Dia Aldi, temanku!" jawab Celina.
"Teman? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Azka kembali, ia menurunkan kedua tangannya dari lengan istrinya.
"Dia menemaniku berbelanja. Kebetulan ada teman yang baru melahirkan," jawab Celina dengan cepat dan berbohong.
"Oh," ucap Azka.
"Kau kenapa ada di sini?" tanya Celina terbata.
"Harusnya aku yang bertanya kepadamu, kemana saja satu bulan ini? Kau menghilang tanpa kabar. Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Kau menghilang begitu saja. Apa kau masih marah karena kejadian itu?" cecar Azka.
"Kita bicara di luar saja!" Celina menarik tangan suaminya berjalan keluar toko.
Keduanya kini sudah berada di halaman toko.
"Aku sengaja menjauhimu. Aku butuh ketenangan. Aku mau kita berpisah baik-baik sesuai keinginan yang aku minta!" kata Celina.
"Berpisah? Kau serius mau berpisah denganku?" Azka memastikan.
"Ya. Bukankah kau juga mau kita berpisah?" Celina balik bertanya.
Azka memeluk Celina dan berkata, "Aku minta maaf. Aku tidak mau berpisah denganmu!"
Celina tak membalas pelukan suaminya, matanya tertuju ke arah sosok pria yang ada dibelakangnya Azka.
Melonggarkan pelukannya dan memegang lengan istrinya, Azka kembali berucap, "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji!"
Celina tersenyum tipis, ia bingung harus berbicara.
"Kita pulang!" kata Azka.
"Aku tidak bisa!" tolak Celina.
"Kenapa?" tanya Azka heran.
"Aku ada urusan di sini," jawab Celina beralasan.
"Urusan apa?" Azka penasaran.
"Kau tidak perlu tahu," kata Celina lagi.
"Kau tidak percaya aku?" Azka menatap istrinya penuh curiga.
"Bukan begitu. Tapi---"
"Apa karena teman priamu itu?" terka Azka.
"Aku akan jelaskan, tapi sekarang belum waktunya!" kata Celina.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Sekarang ayo kita pulang!" Azka memegang tangan istrinya.
"Bagaimana ini?" batin Celina bingung.
"Celina mau ke mana? Apa kita tidak jadi berbelanja?" Aldi mencegah langkah keduanya.
"Dia akan pergi menjenguk temannya itu bersamaku!" ucap Azka dengan cepat.
"Tapi, Celina sudah berjanji dengan saya!" kata Aldi.
"Saya suaminya. Jadi, Celina mau pergi kemanapun maupun bersama dengan temannya harus seijin suaminya!" ucap Azka tersenyum.
Aldi tak dapat berkata-kata.
"Ayo, Celina!" Azka menarik lembut tangan istrinya dan menuntutnya memasuki mobil.