NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 25

Rizka menoleh ke arah pintu, matanya mengerjap cepat, bibir mungilnya melongo. 

“Anahhh, kalau ini se bapaknya ikut netek juga gue kasih, Nad,” gumamnya. 

“Mulut loe, gue sumpel kaos kaki, ya?” geram Nadya. 

Rizal yang menyadari kehadiran orang lain di kamar sang putra menatap penuh selidik, alis tebalnya mengerut dalam. “Lagi ada tamu?” tanyanya kemudian. 

Nadya menegakkan punggungnya, tatapannya berpindah ke penampilan Rizal siang itu. 

“Rapi betul, Pak? Mau ke KUA apa bagaimana, tumben betul pake acara dimasukin segala bajunya?” seloroh Nadya.

Rizal berdecak kecil, lalu meletakkan bungkusan kresek yang dibawanya seraya berjalan menghampiri Nadya dan Rizka. “Ck, setiap hari, di rumah juga Abang kalo pake baju selalu rapi begini, Nad. Kamu ini, curiga aja bawaannya.” 

“Aiihhhh, udah macam ala-ala pasangan cemburu, ya shayy, ampe gue di cuekin,” sindir Rizka. 

Nadya melempar lagi bantal sofa yang di pegangnya ke arah Rizka sambil beranjak dari duduknya. “Kenalin itu, Bang, temen saya. Tanya sendirilah namanya, muak saya.” 

Ia kemudian berjalan ke ranjang Adam, pura-pura memeriksa anak susunya demi menghindari celotehan Rizka.  

“Kenalan sini, Bang, Rizka Anastasya sahabat Nadya yang paling cantik paripurna,” seru Rizka seraya mengulurkan tangannya. 

Rizal menyambut uluran tangan Rizal, senyum manis tergaris di wajah tampannya. “Rizal.” 

“Pantes aja, temen gue betah biar di pelosok juga, la yang bawa modelan begini,” seru Rizka sambil menelisik penampilan Rizal. “Kalo ada kenalan, Bang, yang udah setengah baya atau menuju aki-aki juga bolehlah asal duitnya unlimited,” imbuh gadis dengan rambut merah burgundy itu sambil terkekeh pelan. 

Rizal tergelak kecil mendengar gurauan Rizka, lalu duduk di kursi seberang gadis itu. “Ada banyak, mainlah ke rumah, nanti Abang cariin kenalan.” 

Dari balik tirai, Nadya menyahut dengan suara sedikit lantang. “Seng eling, Riz, digantung Andreaz tau rasa loe.” 

“Ck, jangan kau sebut lagi namanya,” decih Rizka, lalu beranjak dari duduknya berniat menghampiri Nadya.  

“Kenape? Ribut lagi loe sama—” 

“Anahhh, Nad! Loe beneran netekin bayi?!” sergah Rizka saat melihat Nadya sedang memangku Adam yang menyusu. 

“Jangan teriak-teriak setan, kaget ntar anak gue,” sahut Nadya. 

Rizka melangkah maju mendekati Nadya, mata gadis itu terbelalak tak percaya, mulutnya sedikit terbuka tanpa sadar. Ia lalu menekan pipi Adam—memastikan bayi itu benar-benar menyesap coco melon Nadya. 

“Nad!” Rizka menarik napas pendek. “Loe cipokkan aja kagak pernah, terus tiba-tiba netekin bayi, belajar dari mana loe?” lanjutnya masih dengan raut tak percaya. 

Mendengar ucapan Rizka, Nadya mendelik seketika, satu tangannya dengan cepat membungkam mulut gadis itu. “Setan, jangan kenceng-kenceng ngomongnya!” 

Sementara itu di luar tirai, Rizal terpaku beberapa saat, bibir laki-laki itu bergumam pelan. 

“Belum pernah? Berarti yang waktu itu …,” Rizal berpikir sejenak, lalu kembali bergumam. “Pantes aja dia sampe mendiamkanku berhari-hari, ternyata aku yang pertama.” 

Ia lalu menunduk sesaat, senyumnya tertahan—tipis namun sulit disembunyikan, kemudian menggeser posisi berdiri seraya berdehem pelan—seolah tak tahu harus bersikap bagaimana. 

Menyadari sikap Rizal, Nadya memejamkan matanya, rahangnya mengeras, tapi bukan karena marah melainkan manahan malu yang tiba-tiba menjalar di wajahnya. 

Ia lalu menggeram pelan sambil menarik telinga Rizka. “Loe kalo banyak bacot mending pulang dari pada gue potong gaji loe bulan ini.” 

“Ah, sakit dodol,” ringis Rizka, satu tangannya menahan tangan Nadya. “Loe kenapa sih, ah elahhh … yang gue bilang emang bener ‘kan, sekujur tubuh loe—” 

Nadya semakin menarik kencang telinga sahabatnya itu, hingga sang sahabat berteriak kesakitan. 

“Adawww, iya … iya, gue diem, ampun!” ringis Rizka. 

Ia kemudian melirik wajah Nadya yang merah dan dada naik turun menahan amarah, alis gadis bertubuh seksi itu mengerut, tatapannya berubah menyelidik. 

“Muka loe ngapa kaya tomat mateng begitu langsungan, Nad, itu musang laki juga ngapa pula cekikikan, jangan bilang kalian berdu—” 

“Rizka!” 

Bugh! Brak!  

Kilau senja menyusup dari jendela kamar VIP lantai tiga rumah sakit kota, memberi cahaya keemasan yang hangat. Aroma antiseptik menguar tipis, bercampur wangi minyak telon milik Adam yang baru saja selesai di lap badannya. 

Di samping bayi gembul itu, Rizka duduk sambil memegangi kepalanya yang benjol akibat terbentur ranjang, setelah mendapat tendangan sakti dari Nadya. 

Bibir gadis berambut merah burgundy itu sesekali mendesis dengan wajah meringis. “Mami kamu memang super women, Dam. Bocor sudah kepala Tante di buatnya. Kamu bilang ke Papimu itu, dak usah laju berani macem-macem kalo dak mau sosisnya terpotong jadi selusin,” oceh Rizka. 

“Loe masih banyak omong lagi, gue sumpel pake diapers Adam, ya?” sungut Nadya. 

Rizka bergidik sambil memeluk Adam, sudut bibirnya menahan tawa. “Lihat itu, Dam, tanduk Mami muncul. Hiiii … takut Tante.”

Dari pintu masuk, Rizal kembali muncul sambil membawa beberapa bungkus makanan. Laki-laki itu menurut saat Nadya memintanya untuk keluar membeli nasi padang. Ia beralasan sudah lapar meski belum jam makan malam. 

Tiga bungkus nasi padang dan beberapa gorengan Rizal bawa, juga es jeruk pesanan Rizka. Laki-laki itu dengan telaten menyiapkan semua makanan yang baru saja dibelinya di meja, lalu melangkah menuju ranjang Adam. 

Sebelum menyibak tirai pembatas, Rizal lebih dulu bertanya pada Nadya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan—misalnya Nadya sedang netekin Adam. 

“Nad, Adam lagi nyusu nggak?” 

“Nggak, masuk aja, kaya nggak pernah liat aja pake acara izin.” Rizka menyahut dengan kekehan kecil di ujung ucapannya. 

“Gue getok lagi, ya loe, Riz.” Ancam Nadya sambil mengarahkan minyak telon milik Adam ke wajah Rizka. 

Melihat polah dua gadis itu, sudut bibir Rizal menyungging tipis, tatapannya teduh ke arah Nadya. 

“Kamu ama Rizka makan dulu, gih, biar Adam Abang yang jaga,” ujarnya kemudian. 

Nadya menoleh sekilas, lalu melanjutkan membereskan baju kotor dan beberapa printilan milik Adam. “Abang dulu aja, ini Adam nenen bentar juga tidur.” 

“Ya udah, Abang tunggu kamu sekalian aja,” sahut Rizal, lalu berjalan kembali keluar tirai. 

“Alahhh, bener-bener vibes pengantin baru ini, mah. Abang aja … nggak, Neng aja … Abang … Eneng … Ab—” 

Plak! 

Rizka kembali terdiam setelah satu keplakan mendarat di bokongnya. 

Di tempat yang berbeda.

Asap rokok mengepul bersama aroma anggur merah bercampur bir hitam. Di ruangan sedikit remang Ilyas Zulkarnaen—Ayah Nadya duduk sambil bertopang kaki. Di depanya Rozali si preman dengan tato di lengan kiri duduk bersandar sambil menyesap gelas anggurnya. 

“Kamu yakin yang kamu lihat itu Nadya?” tanya Ilyas dengan suara parau. 

Rozali mengetukkan pelan ujung rokoknya ke asbak kaca, satu tangannya memutar gelas anggur merah yang baru disesapnya. “Yakin boss, saya lihat sendiri dia makan sama menejer kantor cabang lembah di warung pecel lele pojok lampu merah.” 

Ilyas menghisap dalam rokok di jarinya, satu tangannya mengetuk sandaran kursi. “Kirim anak buahmu ke desa lembah bukit barisan, awasi rumah Rizal Wijaya, kalo memang benar bocah sialan itu ada di kantor cabang sana, aku sendiri yang akan menyeretnya.” 

Ilyas kemudian menekankan putung rokoknya ke asbak kaca, sorot matanya mengilatkan amarah yang tertahan, sudut bibirnya menyeringai seram.

“Kamu pikir bisa kabur jauh dari Papi, Nadya.” Ilyas berdecih kecil. “Cih, kamu dan Mamimu sama saja, keras kepala!” 

Bersambung

Maaf agak telat updatenya, saya baru saja anu ... Itu ... ehm.

Selamat membaca, pembacaku yang baik. Jangan lupa pencet like, ketik komen, klik ingatkan update dan kasih bintang lima.

Tabik pun

Anna🌴

1
haci
aku anterrr padud😩
Anna: Tercium maksud lain🙄
total 1 replies
Yuyun Harti
semangat update kak author
Anna: karna kamu aku semangat 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
pak ilyas ini bener2 iblis berwujud manusia anak swndiri aja mau dia embat
Anna: kira-kira di kasih azab apa enaknya?
total 1 replies
Samsiah Yuliana
knapa pulak ini hah,,,
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Anna: Sudah di jawab sama Andreaz.
total 1 replies
haci
kak lagii tegang kenapa ke skip 😩
Anna: Malem, Kakk ... malem. Buru-buru amat pengen cepet pagi. 🫢🫶
total 3 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho bari baca sedetik sdh bersambung??? macam.mana ni up nya cuma seuprit
Anna: 🫢🫢🫢🫢🫢
total 1 replies
haci
jefri or pak ilyas nii🤣
Ita Nuryani
hayo siap itu ??? bang Rizal bkal cemburu
Anna: cuma panas dingin🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
suara siapa ya.... apakah Rizal kenal??
Anna: Yang jelas bakal bikin Rizal panas dingin 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
Rizaall..... ngga kapok kena bogem lagi ya... 😄😄😄
Anna: udah ganti capitan maut.
total 1 replies
Linceu thea
😂😂 kena deh hasna
Yessi Kalila
wkwk... ketahuan aslinya Hasna... 😄
Anna: Belum semua 🫢
total 1 replies
haci
asikk gosipp kan saja wakk🤣
haci: kapannn upp kak aku bola balee dari pagiii
uda kangenn ihh 😩
total 2 replies
Ita Nuryani
mas duda yg sabar y, jaga iman 🤭
Anna: godaan yang terlalu menggoda. 😖
total 1 replies
SooYuu
waduh
SooYuu
seruuuuu! semangat up thor, selamat sudah berhasil kembali membawa cerita baru. ❤️❤️
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
SooYuu
harus nunggu beberapa bab buat liat garangnya si abang duda ini🤣
SooYuu
owalah yu sar jan😩😩
nayla tsaqif
🤣🤣 Kasihannn bang zal,, pdhl belom setahun lho puasa,, masak gk tahan!
Anna: Namanya juga Kadal. kata Nadya. 🫢
total 1 replies
Rehan Atar
binggung ngk dibaca penasaran dibaca tambah penasarann @efek bersambung rasanya pengen dimumpulin dlu sampe beberapa episode tapii mengatall tak baca lanjutannyaaa 😄😄😄
Anna: harap bersabar, jari sedang berusaha keras. 😖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!