Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.
Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketakutan yang Tak Terlihat
Suasana di sekitar kandang VIP berubah mencekam. Tidak ada lagi percakapan santai para pekerja yang biasanya memenuhi area ranch menjelang siang. Tawa-tawa ringan yang tadi masih terdengar kini menghilang tanpa jejak, seolah ditelan oleh ketegangan yang perlahan menyebar ke seluruh penjuru kandang. Bahkan suara langkah kaki pun terdengar lebih pelan dari biasanya, seakan semua orang takut membuat suara yang dapat memperburuk keadaan.
Para pekerja berdiri mengelilingi kandang dengan wajah tegang, beberapa saling bertukar pandang tanpa berani berbicara. Yang lain hanya menatap ke arah pintu kandang Star dengan kecemasan yang semakin sulit disembunyikan. Di antara mereka, Noah berdiri paling depan. Tubuhnya tegak, tatapannya tajam, namun jauh di dalam dirinya ada perasaan tidak nyaman yang perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang jarang ia rasakan yaitu takutan.
Tatapan abu-abunya tidak pernah lepas dari sosok kuda hitam yang berada di balik pagar kandang.
Star tampak sangat berbeda. Bukan seperti saat ia mengamuk di arena latihan, bukan seperti ketika ia menolak perintah para pelatih, bukan pula seperti saat ia menjatuhkan Noah dari pelana beberapa hari lalu.
Kali ini ada sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Star tidak terlihat marah, tidak terlihat agresif, tidak sedang menantang siapa pun. Ia terlihat takut, dan pemandangan itu membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya perlahan meremang.
Tubuh besar kuda juara itu bergetar halus. Getaran kecil yang mungkin tidak akan disadari orang asing, tetapi sangat jelas di mata Noah. Otot-otot di sepanjang leher dan bahunya menegang keras di bawah kulit hitam mengkilapnya. Urat-urat tampak menonjol samar, menunjukkan betapa tegang seluruh tubuhnya saat ini. Dadanya naik turun terlalu cepat. Setiap hembusan napas terdengar berat dan tidak teratur. Udara hangat keluar dari lubang hidungnya dalam semburan pendek yang diselingi dengusan cemas. Sesekali telinganya bergerak liar ke berbagai arah. Mencari dan mendengarkan seolah berusaha menangkap sesuatu yang tidak dapat didengar oleh siapa pun selain dirinya.
Jerami di lantai kandang berantakan akibat injakan kakinya yang terus bergerak tanpa henti. Bekas tendangan terlihat jelas pada papan kayu bagian samping. Beberapa serpihan kayu bahkan terlepas dari dinding kandang akibat benturan yang berulang kali terjadi, namun yang paling membuat Noah merasa tidak tenang adalah mata Star. Mata yang selama ini selalu terlihat tajam dan penuh kepercayaan diri itu kini dipenuhi kegelisahan. Pupilnya membesar, sorotnya tidak fokus, dan sejak tadi terus mengarah ke satu tempat. Sudut paling belakang kandang. Sudut yang kosong tidak ada orang di sana, tidak ada hewan lain, tidak ada benda yang terlihat mencurigakan. Hanya tumpukan jerami dan dinding kayu tua yang sama seperti biasanya. Tetapi Star terus menatap ke sana tanpa berkedip, tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun. Seolah ada sesuatu yang berdiri di tempat itu, sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun selain dirinya.
Sebuah perasaan dingin perlahan merambat di dada Noah. Ia tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Selama hidupnya, ia terbiasa mencari jawaban untuk segala sesuatu. Jika seekor kuda sakit, ada penyebabnya. Jika seekor kuda marah, ada pemicunya. Jika seekor kuda takut, pasti ada sesuatu yang membuatnya takut. Namun kali ini ia tidak menemukan apa pun.
Noah perlahan melangkah mendekat. Satu langkah, lalu satu langkah lagi. Sepatu botnya menggesek lantai kayu dengan suara pelan. Biasanya, saat mendengar langkah Noah, Star akan segera menoleh.
Akan mendekat atau setidaknya menunjukkan bahwa ia menyadari kehadiran pemiliknya. Namun sekarang tidak. Star bahkan tidak berkedip, tatapannya tetap terpaku pada sudut kandang, tubuhnya tetap tegang seolah seluruh dunia telah menghilang dan hanya menyisakan satu titik yang terus menarik perhatiannya.
Pemandangan itu membuat jantung Noah berdetak semakin berat karena semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar perilaku aneh. Bukan suasana hati yang buruk, bukan pula ulah seekor kuda yang sedang mencari perhatian. Ada sesuatu yang salah.
Ia sudah mengenal Star hampir sepanjang hidupnya.
Ia yang memilih kuda itu saat masih muda, ia yang melatihnya, ia yang menemani setiap kemenangan dan setiap kekalahan, ia tahu bagaimana Star bergerak saat terluka, ia tahu bagaimana Star bereaksi saat marah, ia bahkan tahu bagaimana suara dengusan kuda itu ketika merasa bosan.
Tetapi ketakutan seperti ini...Ketakutan yang begitu murni dan begitu nyata. Belum pernah ia lihat sebelumnya, tidak sekali pun. Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, Noah merasakan firasat buruk yang sulit dijelaskan. Seolah apa pun yang sedang terjadi pada Star saat ini bukan lagi sekadar masalah latihan atau kompetisi. Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang dapat mengubah seluruh rencana mereka menjelang Autumn Equestrian Cup.
"Dokter hewan sudah dipanggil?" tanya Noah tanpa mengalihkan pandangan.
Salah satu pekerja segera mengangguk.
"Sudah, Tuan. Mereka sedang dalam perjalanan."
Noah mengangguk pelan.
Namun perasaannya tidak menjadi lebih tenang karena jauh di dalam dirinya, ia yakin ini bukan masalah fisik. Ada sesuatu yang membuat Star tertekan.Sesuatu yang belum mereka pahami.
Di belakangnya, Ellara berdiri diam. Sejak tiba di kandang, ia belum mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya terpaku pada Star. Pada cara kuda itu terus menghentakkan kaki depan ke lantai kayu, pada cara telinganya bergerak gelisah, pada sorot mata yang tampak panik. Dadanya ikut terasa sesak karena melihat Star seperti itu membuatnya merasa tidak nyaman. Seolah ada ikatan tak terlihat yang membuat kegelisahan kuda itu ikut memengaruhi dirinya.
Star kembali menghantam pintu kandang.
BRAK!
Suara benturan keras menggema. Beberapa pekerja refleks mundur. Seekor kuda dengan ukuran dan kekuatan seperti Star bisa mencederai siapa pun jika kehilangan kendali. Namun kali ini Noah justru semakin mengernyit. Karena setiap kali Star menghantam pintu, kuda itu tidak berusaha menyerang. Ia seperti berusaha keluar, berusaha pergi dari sesuatu, atau menuju sesuatu.
Pikiran itu membuat Noah menoleh ke arah Harold yang baru datang bersama beberapa pelatih senior. Wajah pria tua itu langsung berubah serius begitu melihat keadaan Star.
"Sudah berapa lama?"
"Sekitar empat puluh menit," jawab seorang pekerja.
Harold menghela napas panjang. Empat puluh menit terlalu lama. Kuda biasanya tidak mampu mempertahankan tingkat stres setinggi itu tanpa mengalami kelelahan. Namun Star masih terus bergerak, masih terus gelisah, masih terus menatap sudut kandang yang sama.
Suasana menjadi semakin berat. Bahkan angin yang bertiup dari luar terasa dingin. Langit yang sejak pagi cerah perlahan mulai tertutup awan tipis. Dan entah kenapa pemandangan itu membuat perasaan semua orang semakin tidak nyaman. Lalu sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat seluruh kandang mendadak sunyi. Star mengangkat kepalanya tinggi, telinganya bergerak, dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai...
Tatapannya berpindah. Bukan lagi ke sudut kandang, melainkan ke arah Ellara. Kuda hitam itu membeku. Begitu pula semua orang yang menyaksikannya. Seolah sebuah tombol tak terlihat baru saja ditekan. Star tidak lagi menghentakkan kaki, tidak lagi menabrak pintu, tidak lagi mengeluarkan dengusan panik. Ia hanya berdiri diam menatap Ellara.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu perlahan...Tubuhnya mulai rileks. Napasnya yang memburu sedikit melambat, lehernya yang tegang perlahan turun. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka datang, sorot ketakutan di matanya mulai memudar. Tidak sepenuhnya hilang, tetapi cukup untuk membuat semua orang melihat perubahannya.
Beberapa pekerja saling bertukar pandang. Harold mengerutkan kening. Sementara Noah merasakan sesuatu mengendap di dalam dadanya. Perasaan yang semakin hari semakin sulit ia abaikan. Ini bukan kebetulan, tidak mungkin. Terlalu banyak kejadian yang mengarah pada hal yang sama. Star selalu berubah ketika Ellara berada di dekatnya. Dan semakin jelas hubungan itu terlihat, semakin sulit bagi Noah untuk menjelaskan semuanya dengan logika.
Ellara sendiri tampak tidak menyadarinya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Star. Perlahan ia melangkah maju. Satu langkah, lalu satu langkah lagi. Tidak ada seorang pun yang menghentikannya. Semua orang hanya memperhatikan. Menunggu, mengamati. Saat jarak mereka tinggal beberapa meter, Star mendengus pelan. Bukan dengusan marah, bukan pula peringatan, melainkan suara yang terdengar hampir seperti panggilan.
Ellara berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang aneh, sangat aneh. Karena untuk pertama kalinya sejak mengenal Star ia merasa kuda itu sedang mencoba mengatakan sesuatu. Dan saat itulah matanya tanpa sengaja bergerak ke arah sudut kandang yang sejak tadi ditatap Star, ke arah tumpukan jerami yang berada di bagian paling belakang.
Seketika wajahnya berubah. Karena di balik jerami yang berserakan ia melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana. Sesuatu yang membuat darahnya seolah membeku. Ellara langsung memucat, dan sebelum siapa pun sempat bertanya apa yang terjadi ia berbisik lirih,
"Ada seseorang yang masuk ke kandang ini semalam..."
Semua orang membeku. Sedangkan Noah langsung menoleh tajam ke arahnya. Karena dari cara Ellara menatap sudut kandang itu...ia tahu gadis itu baru saja menemukan sesuatu yang bisa mengubah segalanya.