NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekonsiliasi Neraca Membusuk dan Doktrin Tujuh Mazhab

Sisa jelaga dari ledakan Tabir Isolasi Jiwa masih mengambang di udara ketika lift barang bergerak turun, membawa Dika dan Lina membelah isi perut gedung Wijaya Corporindo. Suara gesekan kabel baja lift terdengar seperti rintihan lambung besi yang kelaparan. Di dalam kotak logam yang sempit itu, keheningan mengkristal.

Lina menyandarkan punggungnya pada dinding lift yang dingin, matanya tak lepas dari sosok di sampingnya. Dika kembali menekuk tubuhnya, tangan kirinya menekan pinggang bawah dengan wajah meringis menahan linu. Pendar emas di matanya telah padam sepenuhnya, menyisakan sepasang manik mata kecokelatan yang redup, tipikal pemuda urban yang dunianya habis diperas oleh tenggat waktu dan tumpukan kuitansi kosong.

"Dik," suara Lina memecah kesunyian, bergetar tipis. "Lu... lu beneran Dika yang utang kopi sasetan ke gue minggu lalu, kan?"

Dika menoleh lambat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecut yang dipaksakan.

"Kalau gue bilang gue ini reinkarnasi bendahara Pajak Majapahit yang dikutuk jadi budak korporat abad dua satu, lu bakal anggap gue gila atau langsung nagih bunga utang kopi itu, Lin?"

Lina mendengus, namun ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Ia melihat map hitam Hendra yang dipeluk erat oleh Dika. Segel lilin hitam di atasnya kini tidak lagi mengancam, melainkan terasa seperti bongkahan es yang mengunci rapat seluruh rahasia berdarah yang baru saja mereka renggut dari meja kerja Wijaya.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai basemen tiga—area parkir bawah tanah yang pengap dan minim penerangan. Udara di sini terasa lebih berat, lembap oleh uap bensin dan aroma beton basah yang tak pernah tersentuh matahari. Langkah kaki mereka menggema ganjil di antara deretan tiang-tiang pancang pancasona yang menopang beban gedung pencakar langit di atasnya.

"Kita harus segera keluar dari area kompleks gedung ini," bisik Dika, langkahnya agak terseret.

"Formasi yang gue hancurin tadi itu cuma ujung tentakelnya. Wijaya itu cuma dompet berjalan. Otak dari semua pesugihan ini... mereka nggak akan tinggal diam begitu tahu sapi perah mereka dibikin bangkrut dalam semalam."

"Maksud lu, tujuh dukun Gunung Lawu yang dibilang Wijaya tadi?" Lina mempercepat

langkahnya, menyamai ritme Dika yang ringkih.

"Bukan sekadar dukun, Lin. Di dunia modern ini, mereka nggak pakai kemenyan dan kain kafan lagi. Mereka punya firma hukum sendiri, punya izin operasional, dan beberapa bahkan duduk di dewan komisaris bank-bank besar," Dika terkekeh pahit, sebuah tawa yang terdengar terlalu tua untuk wajah mudanya.

"Mereka menyebut dirinya The Seven Actuaries—Tujuh Aktuaris Gaib yang menghitung nilai premi nyawa manusia untuk ditukar dengan pertumbuhan ekonomi."

Tepat ketika mereka berjarak sepuluh meter dari mobil LCGC perak milik Lina, lampu-lampu neon di langit-langit basemen mendadak berkedip serentak. Suara bzzzzt yang nyaring memekakkan telinga terdengar bergantian, sebelum akhirnya seluruh area itu jatuh ke dalam kegelapan total.

Sunyi yang pekat langsung menyergap.

Lina refleks mencengkeram lengan jaket Dika. "Dik... kok hawanya mendadak dingin banget?"

Bukan sekadar dingin. Hembusan angin sepoi-sepoi yang entah datang dari mana membawa aroma yang sangat spesifik: bau melati yang membusuk, bercampur dengan wangi parfum ruangan aroma kopi yang biasa ditemukan di lobi-lobi bank swasta. Kombinasi distopia yang mengerikan antara mistis kuno dan modernitas.

Dari kegelapan di depan mereka, terdengar langkah kaki yang teratur. Ketukan sol sepatu kulit mahal di atas semen kasar.

Tuk. Tuk. Tuk. Setiap ketukan memicu gelombang riak keperakan di lantai basemen, mirip seperti minyak yang tumpah di atas genangan air.

"Sebuah audit yang sangat impresif, Saudara Dika," sebuah suara bariton yang berat dan tertata rapi mengalun dari kegelapan. Nada bicaranya sangat santun, tipikal direktur hubungan masyarakat yang biasa menghadapi konferensi pers krisis.

Sesosok pria paruh baya berjalan keluar dari balik bayangan tiang beton. Ia mengenakan setelan jas tiga potong (three-piece suit) berwarna abu-abu arang yang sangat rapi. Potongan rambutnya klimis, kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya yang bangir. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gawai lipat premium terbaru, sementara tangan kirinya membawa sebuah tas kerja kulit buaya berwarna hitam.

Dika menghentikan langkahnya, menarik Lina sedikit ke belakang punggungnya. Mata Dika menyipit, mendeteksi aliran energi kelam yang memancar dari balik jas rapi pria itu—sebuah pusaran energi hitam yang menyerupai pusaran angka-angka laporan keuangan yang terus menyusut menuju angka nol.

"Baskoro," desis Dika, suaranya mendadak kembali berat, memicu pendar emas tipis di ujung jemarinya yang gemetar. "Ketua Dewan Komite Audit Spiritual."

Pria bernama Baskoro itu tersenyum ramah, menyapukan pandangannya pada map hitam yang dipegang Dika. "Saya lebih suka disebut sebagai Konsultan Penyelaras Aset, Dik. Dan Anda... Anda telah membuat kekacauan besar dalam struktur portofolio kami. Wijaya Corporindo itu adalah penyumbang likuiditas makro terbesar untuk wilayah Jakarta Barat. Anda menghancurkannya dalam waktu dua puluh empat jam? Itu tindakan yang sangat tidak ramah pasar."

"Pasar kalian dibangun di atas fondasi kuburan anak-anak panti asuhan!" sahut Lina berang, keberaniannya mendadak meletup melampaui rasa takutnya. "Kalian memanipulasi sertifikat tanah, memalsukan tanda tangan orang mati, dan menubalkan karyawan sendiri demi grafik saham yang naik!"

Baskoro tidak marah. Ia justru tertawa kecil, sebuah tawa kering yang terdengar seperti lembaran uang kertas yang saling bergesekan.

"Nona Lina yang manis... di dunia nyata, tidak ada yang namanya memalsukan takdir. Yang ada hanyalah restrukturisasi utang jangka panjang," Baskoro melangkah satu tapak lagi ke depan.

"Setiap manusia yang lahir ke dunia ini membawa neraca awal: jatah umur, jatah rezeki, dan jatah keberuntungan. Wijaya Corporindo hanya memfasilitasi perdagangan aset-aset tersebut. Mereka yang mati kelelahan di meja kerja? Mereka hanya menjual sisa umur mereka untuk ditukar dengan slip gaji bulanan yang menghidupi keluarga mereka. Kami hanya mengambil komisi dari transaksi itu. Adil, bukan?"

"Kalian merampas hak mereka sebelum waktunya!" Dika melangkah maju, menghentakkan kakinya. Gelombang emas tipis menyebar, namun begitu menyentuh jarak satu meter dari Baskoro, gelombang itu langsung terserap habis ke dalam tas kulit buaya yang dipegang sang konsultan.

Baskoro mengangkat alisnya, melihat ke arah tas kerjanya yang tampak sedikit berkilau. "Formasi Penelan Defisit. Dirancang khusus untuk meredam inflasi energi spiritual. Kultivasi Anda memang luar biasa, Dika. Jiwa kuno yang bersemayam di tubuh ringkihmu itu... ia adalah Akuntan Langit dari era Dinasti Sanjaya, bukan? Sang Penjaga Buku Besar Karma."

Dika terdiam, rahangnya mengeras. Rahasia terbesar tentang entitas yang merasuki tubuhnya kini disebut dengan begitu enteng oleh pria di depannya.

"Namun, sayangnya," Baskoro membuka tas kerjanya dengan satu klik yang tajam. Dari dalam tas tersebut, tidak ada berkas atau dokumen, melainkan sebuah proyektor hologram mini yang langsung menembakkan cahaya biru ke udara basemen, menampilkan sebuah bagan struktur organisasi perusahaan yang sangat rumit.

"Anda terlalu fokus pada Wijaya, hingga lupa membaca catatan kaki (footnote) di laporan konsolidasinya,

" Baskoro tersenyum, kilatan matanya di balik kacamata emas tampak begitu dingin dan manipulatif. "Siapakah pemilik saham pengendali sejati dari panti asuhan Hendra? Siapakah yang mendanai operasional panti itu selama lima belas tahun terakhir, hingga tanah itu memiliki nilai spiritual yang begitu tinggi karena doa-doa anak yatim yang terkumpul di sana?"

Dika mengerutkan kening, firasat buruk

mendadak mencengkeram dadanya seperti cakar besi. Ia buru-buru membuka map hitam Hendra, jemarinya dengan cepat membolak-balik lembaran dokumen kuno yang kini aksara emasnya mulai berkedip tidak stabil.

Pada lembar paling belakang—lembar yang sebelumnya tersegel oleh lilin hitam yang mencair ke tangan Lina—terdapat sebuah nama yang tertulis dalam tinta merah darah yang masih basah. Sebuah nama yang membuat seluruh dunia Dika seolah runtuh dan berputar terbalik.

Lina ikut melongok ke arah dokumen tersebut, dan sedetik kemudian, ia membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat, matanya melebar menatap nama yang tertera di sana.

Nama pemilik modal utama dan pendiri panti asuhan Hendra adalah: Dika Pradipta.

Bukan Dika sang Akuntan Langit purba. Melainkan Dika Pradipta, pemuda gagal lulusan akuntansi Universitas Swasta akreditasi C yang saat ini tubuhnya sedang digunapakai.

"T-tidak mungkin..." Dika berbisik, suaranya parau, murni keluar dari pita suara manusianya yang ketakutan. "Gue... gue nggak pernah punya panti asuhan. Gue bahkan nggak bisa bayar kosan tiga bulan!"

"Tentu saja tubuh manusiamu tidak ingat, Dika," Baskoro melangkah mendekat, auranya kini menekan begitu kuat hingga membuat lutut Lina lemas dan terduduk di lantai. "Lima tahun lalu, sebelum kamu mengalami amnesia akibat kecelakaan motor yang kamu kira 'kebetulan' itu, kamu adalah arsitek keuangan terbaik yang pernah kami miliki. Kamu adalah anggota

kedelapan dari kami. Kamu yang merancang seluruh sistem pesugihan korporasi ini!"

Dika menggelengkan kepalanya dengan histeris, rasa sakit yang luar biasa mendadak

menghantam ubun-ubunnya. Memori-memori asing yang terkunci jauh di lubuk kesadarannya mulai mendobrak keluar. Kilasan gambar tentang dirinya yang mengenakan jas mahal, berjabat tangan dengan Wijaya di sebuah ruangan

rahasia, dan menandatangani akta pendirian panti asuhan sebagai 'ladang ternak energi spiritual'—tempat mengumpulkan jiwa-jiwa murni yang nantinya akan dipanen saat jatuh tempo.

"Panti asuhan Hendra itu bukan korban, Dika. Panti itu adalah produk investasi yang kamu ciptakan sendiri untuk membayar utang

karmamu yang menumpuk di masa lalu," Baskoro berbisik tepat di telinga Dika, sementara tas kulit buayanya kini mengeluarkan rantaian rantai besi hitam yang perlahan melilit pergelangan kaki Dika.

"Dan kedatanganmu hari ini ke gedung Wijaya... bukan untuk menegakkan keadilan langit. Kamu datang karena sistem otomatis yang kamu rancang sendiri telah mendeteksi bahwa Wijaya mencoba mengorupsi aset milikmu. Kamu ke sini hanya untuk mengambil kembali modalmu yang hampir dicuri."

Baskoro menjentikkan jarinya, dan seketika itu juga, map hitam Hendra di tangan Dika terlepas, melayang dan mendarat dengan mulus di tangan Baskoro.

"Terima kasih telah melakukan audit internal dan membersihkan Wijaya yang serakah itu untuk kami, Rekan Dika. Sekarang, mari kita bicarakan soal kontrak kerjamu yang baru. Karena di firma kami... tidak ada kata resign bagi mereka yang sudah tahu cara menghitung harga nyawa."

Di bawah temaram lampu basemen yang kembali menyala sepihak, Dika berdiri terpaku. Pendar emas di tangannya lenyap total, digantikan oleh pendar hitam pekat yang mulai merambat dari dadanya—menandakan bahwa akuntan yang ia kira sebagai penegak keadilan langit, ternyata adalah sang pencipta dari neraka korporasi itu sendiri.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!